Sinar matahari siang menembus kaca jendela klinik swasta milik Maya yang terletak di pinggiran kota. Ruang tindakan medis itu terasa amat dingin dan steril, beraroma antiseptik pekat yang menusuk hidung. Shanin berbaring di atas meja periksa dengan posisi kaki terangkat pada penopang besi, persis seperti posisi yang paling ia benci saat berhadapan dengan Bravendra. Namun, kali ini tidak ada ketakutan akan keputusannya. Hanya ada desakan kecemasan dan harapan murni untuk memperjuangkan kebebasan hidupnya. Maya berdiri di antara kedua paha Shanin, mengenakan jas laboratorium putih dengan sarung tangan lateks steril. Di atas troli stainless steel di sampingnya, telah tersusun rapi spekulum medis, klem, gunting jaringan, dan satu set kemasan alat kontrasepsi IUD yang masih terbungkus rapat

