Satu Malam, Tiga Kendali

1158 Words
Lea terpaku seorang diri di kamar itu. Lampu temaram memantulkan cahaya pucat di dinding berlapis krem, sementara seprai yang kusut dan ranjang yang berantakan menjadi saksi bisu dari malam yang meninggalkan terlalu banyak sisa. Tubuhnya terasa remuk redam, berat, seolah setiap otot menolak untuk bergerak. Dengan gerakan perlahan, tangannya terulur mengambil ponsel yang tergeletak di lantai. Layar menyala di telapak tangannya yang dingin. Ia menelusuri daftar kontak, berhenti pada satu nama yang membuat dadanya mengencang. Cecil. Lea menatapnya sejenak, lalu menekan ikon panggil. Nada sambung berdetak di telinganya—satu, dua—hingga akhirnya terjawab. “Lea?” Suara Cecil terdengar waspada, seolah sudah menduga ada yang tak beres. Lea memejamkan mata. “Cecil… kamu bisa jemput aku?” pintanya lirih, hampir tak terdengar. “Di mana kamu?” tanya Cecil, kini tegas. “Hotel Virelle,” jawabnya pendek. “Aku kirim lokasinya.” “Aku berangkat sekarang,” kata Cecil tanpa ragu. “Tunggu di lobi.” Panggilan terputus. Lea menurunkan ponsel, menarik napas panjang, lalu bangkit perlahan. Ia merapikan diri sekadarnya, melangkah menuju pintu kamar. Langkahnya masih goyah, tetapi untuk pertama kalinya malam itu, ia tahu ada seseorang yang sedang menuju padanya. Pintu putar Hotel Virelle berdesis pelan saat Cecil melangkah masuk. Aroma kopi dan karpet mahal bercampur di udara, kontras dengan detak jantungnya yang masih berpacu. Pandangannya langsung menyisir lobi—dan berhenti. Lea sudah duduk di salah satu sofa dekat jendela. Tubuhnya sedikit membungkuk, tangan menggenggam ponsel yang layarnya telah padam. Rambutnya berantakan, helai-helai lepas membingkai wajah yang pucat dan sembab, seolah ia baru saja keluar dari badai yang tak terlihat. Mata itu—yang biasanya jernih dan tajam—kini tampak redup, memikul sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan. Cecil berdiri sesaat, dadanya mengencang. Ada dorongan untuk berlari, namun ia menahan langkahnya agar tetap tenang saat mendekat. Setiap detail menampar perhatiannya: bahu Lea yang tegang, napas yang dangkal, cara ia menatap lantai seolah takut menoleh. “Lea,” panggilnya lembut. Ia mengangkat kepala. Sekilas, ada kelegaan yang menembus raut letih itu—tipis, namun nyata. Cecil duduk di hadapannya, tak banyak bicara. Ia hanya membuka telapak tangannya di antara mereka, menawarkan kehadiran tanpa tuntutan. “Kita pulang,” katanya pelan, bukan perintah, melainkan janji. Lea mengangguk kecil. Dan untuk pertama kalinya sejak ia duduk menunggu di lobi itu, bahunya turun—seolah beban yang menghimpitnya menemukan tempat untuk disandarkan. Lea berdiri dengan langkah goyah. Cecil segera menahan sikunya, membantunya berjalan tanpa banyak bicara. Di luar hotel, udara malam terasa dingin. Cecil membukakan pintu mobil, menunggu hingga Lea duduk, lalu menutupnya perlahan. Mesin menyala. Keheningan mengisi ruang di antara mereka. “Kamu aman sekarang,” ucap Cecil singkat. Lea menatap ke luar jendela. “Aku ingin pulang,” katanya lirih. Cecil mengangguk, memutar kemudi tanpa bertanya. Ia menyerahkan jaketnya. Lea mengenakannya, bersandar, dan untuk pertama kalinya malam itu, napasnya terasa sedikit lebih tenang. Mobil melaju menembus jalanan yang lengang. Lampu kota berpendar samar di kaca, memantul di mata Lea yang kini setengah terpejam. Cecil tak memaksa percakapan. Ia hanya menurunkan kecepatan, memberi ruang pada sunyi. Beberapa menit kemudian, Lea bersuara, hampir seperti bisikan. “Maaf… merepotkan.” Cecil menggeleng, meski tahu Lea tak melihatnya. “Kamu tak perlu minta maaf.” Lea menelan ludah, lalu bersandar lebih dalam ke kursi. Jaket Cecil menutupinya seperti pelindung tipis. Di tengah deru mesin dan malam yang terus bergerak, satu keputusan kecil menguat di dadanya: malam ini, ia akan beristirahat. Esok—baru ia hadapi semuanya. Sementara itu, di sisi lain kota, pintu apartemen Alex terbuka dengan satu tarikan pasti. Lampu otomatis menyala, menyambut langkahnya yang tenang dan terukur. Ia melepas jas, menggantungkannya rapi, lalu melonggarkan dasi seolah malam ini hanyalah satu agenda lain yang telah diselesaikan. Bayangannya melayang—pada Lea yang meronta di bawah kungkungannya, napasnya terpecah, tubuhnya tegang melawan lalu melemah. Pada desah tertahan yang menggantung di udara, dan terutama tatapan itu: memohon, terjepit antara penolakan dan ketidakberdayaan. Kenangan itu membuat sudut bibir Alex terangkat tipis. Bagi dirinya, kendali telah ditegaskan—dan itu cukup. Alex berhenti di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Suaranya keluar rendah, nyaris seperti pengakuan yang hanya pantas didengar dinding-dinding apartemen itu. “Kau sangat menggairahkan, Arabella,” gumamnya. “Entah kenapa, setiap kali bersamamu, tubuhku selalu bereaksi… selalu menuntut lebih.” Ia menarik napas pelan, senyum tipis kembali terbit—dingin, yakin—lalu memalingkan wajah, seolah pikiran itu cukup untuk menenangkan hasrat yang masih berdenyut di bawah kendalinya. Alex menghela napas panjang. Di balik keyakinan yang ia pamerkan, ada retakan tipis yang tak ingin ia akui. Sekilas, bayangan wajah Lea yang rapuh menyusup—tatapan lelah itu, jeda napas yang terlalu sunyi. Ada rasa kasihan yang mengendap, samar namun nyata, seperti bayangan yang menolak pergi. Namun dorongan lain segera menindihnya. Keinginan untuk menuntaskan, untuk memastikan semuanya tetap berada dalam kendalinya. Ia mengepalkan rahang, menepis keraguan itu dengan logika dingin yang selalu ia gunakan. Baginya, perasaan hanyalah gangguan—dan gangguan harus disingkirkan. Alex memalingkan wajah dari cermin. Peperangan batin itu berakhir tanpa pemenang yang jelas, kecuali satu keputusan yang kembali ia pilih: melangkah maju, seolah tak ada apa pun yang perlu disesali. Alex kembali menatap layar ponselnya yang telah gelap. Di benaknya, bayangan lain menyusup—kampus dengan lorong-lorong sunyi, ruang kerjanya yang tertutup rapat. Ia membayangkan pertemuan yang tampak biasa, senyum singkat, percakapan formal yang berujung pada pintu yang terkunci. Arabella hadir dalam pikirannya, langkahnya ragu saat memasuki ruang itu. Alex membayangkan kedekatan yang ia ciptakan, kendali yang perlahan ia rapatkan, permainan psikologis yang ia kuasai sepenuhnya. Bukan sentuhan yang ia pikirkan, melainkan d******i—cara membuat seseorang bergantung, menunggu isyarat darinya. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Ia berbisik pada bayangan itu, suara rendah penuh keyakinan, “Ahh… setelah ini, kau akan ketagihan padaku.” Pikiran itu membuatnya tenang. Rencana telah tersusun rapi—dan ia berniat menikmatinya, setahap demi setahap. Di tempat lain, jauh dari sunyi apartemen Alex, layar ponsel Madam Rose menyala di tengah ruang kerjanya yang wangi dupa. Satu notifikasi masuk—jumlahnya tak kecil. Senyum perlahan mengembang di bibirnya, terukur dan penuh perhitungan. Ia menyesap tehnya dengan tenang, menatap angka itu seolah membaca pesan tak tertulis di baliknya. “Tepat waktu,” gumamnya pelan. Jemarinya bergerak cepat membalas singkat, formal, tanpa emosi berlebih—sebuah konfirmasi yang dingin namun saling memahami. Madam Rose memiringkan ponselnya, memastikan angka itu nyata. Senyumnya melebar, kali ini tanpa ditahan. Ia bangkit, berjalan pelan menuju jendela, lalu tertawa kecil—pendek, puas. “Arabella…” gumamnya, seolah menyebut nama sebuah investasi yang menjanjikan. “Kehadiranmu benar-benar membawa keberuntungan.” Ia mengetukkan kuku jarinya ke bingkai jendela, mata berkilat penuh perhitungan. “Selama kau ada di sini, aliran uangku tak akan pernah kering.” Senyum itu mengeras, berubah dingin. “Sumber mata uang yang manis.” Madam Rose kembali duduk, menyimpan ponsel. Baginya, semuanya sederhana: orang datang dan pergi, tapi nilai—nilai harus diperas hingga tuntas. Dan malam itu, ia merasa yakin permainan masih jauh dari selesai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD