"Arabella" bukan Lea

1647 Words
Mobil Cecil membawa Lea kembali ke apartemennya. Sepanjang perjalanan, keduanya tenggelam dalam keheningan yang canggung. Saat turun dari mobil, mereka berjalan beriringan dengan langkah gontai, seolah beban di kepala masing-masing ikut menyeret kaki mereka. Cecil beberapa kali melirik Lea, ingin bertanya tentang keadaannya, namun kata-kata itu selalu tertahan di ujung lidah. Sementara Lea sendiri larut dalam kekacauan pikirannya—bingung, lelah, dan tak tahu harus mulai dari mana untuk merapikan semuanya. Cecil berhenti di depan pintu apartemen Lea. Ia menarik napas dalam, menatapnya dengan lembut tapi penuh pertanyaan. “Lea… apa yang sebenarnya terjadi?” suaranya rendah, hampir bergetar. Matanya mencoba menembus dinding yang ia rasakan di wajah Lea, mencari celah untuk mengerti. Lea menunduk, bibirnya gemetar. Air mata mulai mengalir deras, kata-kata tak sanggup keluar. Seluruh tubuhnya gemetar, seakan hanya bisa mengekspresikan rasa sakit melalui tangis. Cecil mendekat perlahan. Tangannya ragu menyentuh bahu Lea, selembut mungkin, memberi tanda bahwa ia ada tanpa memaksa. “Kau tidak harus menanggung semua sendiri,” bisiknya. “Aku di sini… aku ingin tahu semuanya.” Lea menekuk tubuhnya sedikit ke arah sentuhan itu, membiarkan tangisnya lepas. Cecil tetap di sampingnya, diam, menahan diri untuk tidak menekan, hanya menjadi sandaran yang ia perlukan. Keheningan itu penuh—bukan kosong—dengan pemahaman, perhatian, dan kehangatan yang tak perlu diucapkan. Setelah beberapa saat, tangisan Lea mulai mereda, meski tubuhnya masih gemetar. Perlahan, ia menurunkan tangan dari wajahnya, menatap sedikit ke arah Cecil, masih dengan mata merah dan basah. Suaranya gemetar saat akhirnya kata-kata keluar, tipis dan rapuh. Lea menunduk, tubuhnya gemetar hebat seperti daun dihantam angin ribut. Suaranya pecah, tersendat di tenggorokan kering saat ia mulai berbicara, kata-katanya mengalir seperti darah dari luka terbuka. “Aku… dia menyentuhku lagi,” bisiknya, suaranya retak. “Aku tidak bisa menolak… semua jalan terasa buntu. Tidak ada jalan untuk kembali. Aku hanya bisa patuh… patuh pada aturan Madam Rose.” Cecil menatapnya, hatinya tercekat seperti dihantam palu. Ada rasa marah yang mendidih, sedih yang menusuk, dan tak berdaya yang melumpuhkan—semua bercampur di matanya yang berkaca-kaca—tapi ia tetap menahan diri, tak ingin menekan Lea yang rapuh. Ia hanya ingin Lea tahu bahwa ia ada untuknya, seperti jangkar di lautan badai. Ingatan itu datang tanpa permisi, menerjang Lea seperti ombak hitam yang pekat. ​Ia kembali merasakan sentuhan pria itu—jemari kasar yang menjelajahi kulitnya dengan kelancangan yang tak terkendali. Dalam ingatan itu, Lea lumpuh. Ia tak mampu melawan, karena setiap sudut pelariannya terasa seperti labirin buntu tanpa pintu keluar. Tak ada jalan pulang, yang ada hanyalah kepatuhan buta di bawah titah Madam Rose yang mencekik napas dan martabatnya. ​Tubuh Lea berguncang hebat di depan Cecil. Setiap tarikan napasnya seolah menyeret beban keputusasaan yang telah lama mengendap di dasar dadanya. Dalam kepanikan yang lahir dari rasa frustrasi dan ketidakberdayaan yang memuncak, ia menyentakkan pakaiannya ke bawah—sebuah gerakan kasar yang putus asa, seolah dengan menelanjangi luka itu, ia bisa melepaskan diri dari jeratan tak terlihat yang mengurungnya. Cecil terpaku, dadanya dihantam rasa sesak yang hebat. Tak ada nafsu di matanya, hanya kengerian saat melihat "peta penderitaan" di tubuh Lea. Goresan dan lebam di sana adalah saksi bisu atas penyerahan paksa yang tak pernah ia inginkan. Lea menunduk, menutup wajahnya dengan tangan, napasnya tersendat, air mata mengalir deras. “Aku… aku merasa jijik… dengan diriku sendiri,” bisiknya, suaranya pecah. “Aku… aku hanya bisa patuh… karena tidak ada jalan lain. Tidak ada jalan untuk kembali.” Cecil terdiam sejenak, lalu dengan gerakan yang sangat perlahan—seolah takut hembusan napasnya saja bisa melukai Lea lebih dalam—ia mendekat. Ia tidak menyentuh kulit Lea yang terbuka; alih-alih, ia meraih tepian pakaian yang meluruh itu dan menariknya kembali ke atas dengan lembut, menyelimuti tubuh wanita itu dengan penuh penghormatan. ​"Jangan," suara Cecil rendah, berat oleh emosi yang tertahan. "Jangan memandang dirimu melalui tangan mereka yang menyakitimu, Lea." ​Ia berlutut di depan Lea, memastikan pandangan mereka sejajar, namun tetap memberikan ruang agar Lea tidak merasa terpojok. Cecil memberanikan diri menggenggam jemari Lea yang gemetar, menjauhkannya perlahan dari wajah yang basah itu. ​"Kau tidak kotor. Kau hanya sedang bertahan hidup di tempat yang kejam," lanjut Cecil, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Lea yang hancur. "Lihat aku. Di mataku, tidak ada yang menjijikkan darimu. Yang ada hanya keberanian seorang wanita yang dipaksa memikul beban yang seharusnya tidak pernah ada." ​Lea tertegun, isakannya mereda meski napasnya masih tersengal. Untuk pertama kalinya, seseorang menatap lukanya bukan dengan nafsu atau penghinaan, melainkan dengan pemahaman yang tulus. Perlahan, benteng pertahanan yang selama ini dibangun Lea runtuh. Alih-alih menarik diri, ia justru memajukan tubuhnya yang masih gemetar. Dengan gerakan ragu, ia melingkarkan lengannya di pinggang Cecil, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu. ​Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Lea tidak memeluk untuk melayani; ia memeluk untuk bertahan hidup. ​Cecil sempat tersentak kecil, namun sedetik kemudian ia membalas dekapan itu. Ia memberikan kehangatan yang stabil, menjadi sandaran bagi seluruh beban yang selama ini dipikul Lea sendirian. Wangi tubuh Cecil yang menenangkan perlahan mengusir aroma keputusasaan yang tadinya menyesakkan d**a Lea. ​"Aku takut..." bisik Lea di balik d**a Cecil, suaranya teredam namun terdengar lebih nyata. "Aku takut jika aku berharap, kenyataan akan menghancurkanku lagi." ​Cecil mengusap punggung Lea dengan gerakan ritmis yang menenangkan. "Maka jangan berharap pada dunia," sahutnya lirih. "Berharaplah pada keyakinan dirimu sendiri. Kamu kuat Lea, aku yakin kamu bisa menghadapinya." Semburat mentari pagi menyapu jalanan menuju kampus, menawarkan kesegaran yang kontras dengan apa yang dirasakan Lea. Baginya, udara terasa pekat, seolah paru-parunya dipaksa menghirup sisa-sisa trauma semalam. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seperti terseret oleh rantai tak kasat mata yang terhubung langsung pada memori tentang rasa takut, jijik, dan kepedihan yang masih basah. ​Di sampingnya, Cecil melangkah dengan ritme yang lebih ringan, meski matanya tak henti mencuri pandang ke arah Lea. Ada kekhawatiran yang tulus di sana. ​"Kau... yakin baik-baik saja?" tanya Cecil, suaranya lembut, nyaris berupa bisikan yang tertelan kebisingan jalanan. ​Lea menarik napas panjang, mencoba memaksakan oksigen masuk ke dadanya yang sesak. Matanya menatap lurus ke depan, enggan menunjukkan kerapuhan yang sedang menggerogotinya. "Aku akan baik-baik saja," jawabnya dengan suara setipis kertas. "Hanya... sedikit sulit, itu saja." ​Mereka mulai memasuki lorong kampus yang riuh oleh langkah kaki mahasiswa. Namun, dunia Lea seakan mendadak berhenti berputar saat netranya menangkap sosok pria yang berjalan beberapa meter di depan mereka. Detak jantungnya berhenti seketika, sebelum kemudian berpacu liar menghantam rongga dadanya. ​Seluruh saraf di tubuhnya menegang kaku. Ia terpaku, terperangkap dalam badai emosi yang menghantam tanpa ampun—kaget, muak, dan gelisah yang menguar hebat. ​Kontras dengan kegelapan yang menyergap Lea, Cecil justru menghentikan langkah dengan binar di mata. "Wah... lihat dia!" seru Cecil tertahan, nadanya dipenuhi kekaguman yang jujur. "Dia terlihat luar biasa, bukan?" ​Lea menelan ludah yang terasa pahit di kerongkongannya. Ia segera menunduk, berusaha menyembunyikan getar ketakutan yang merambat ke ujung jemarinya. "Iya... luar biasa," sahutnya lirih. Suaranya gemetar, kalah jauh dengan dentum kebingungan yang memekakkan telinganya sendiri. ​Cecil masih di sana, terpana pada sosok itu seolah melihat sebuah mahakarya yang turun ke bumi. "Aku selalu takjub setiap melihat orang dengan aura seperti dia. Serius, dia sangat keren," gumam Cecil, matanya terkunci pada siluet pria itu, sama sekali tidak menyadari bahwa sahabat di sampingnya sedang berjuang agar tidak jatuh tersungkur. ​Lea terus berjalan dengan tatapan kosong, mencoba mengatur napas yang kian pendek. Meski kepalanya tertunduk, diam-diam matanya tetap mengikuti pergerakan pria itu dari sudut pandang yang kabur. Di dalam dirinya, sebuah badai kecil berkecamuk hebat—perpaduan antara kebencian, ketidakberdayaan, dan trauma yang kembali bangkit, tepat di saat sahabatnya justru memuja sumber dari segala ketakutannya tersebut. Langkah pria itu melambat, seolah merasakan sepasang mata yang menguliti punggungnya. Sebelum Lea sempat membuang muka sepenuhnya, pria itu menoleh. ​Pandangan mereka beradu di tengah riuhnya lorong kampus. Bagi dunia, itu mungkin hanya tatapan sekilas yang tak sengaja, namun bagi Lea, itu adalah hantaman godam yang menghancurkan dinding pertahanan yang baru saja ia bangun. Pria itu sedikit menyunggingkan sudut bibirnya—sebuah seringai tipis yang hampir tidak terlihat, namun di mata Lea, itu adalah sebuah klaim kemenangan. ​"Dia melihatku," jerit batin Lea. Darahnya terasa membeku, menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Rasa jijik itu kembali naik ke kerongkongan, persis seperti rasa mual yang ia rasakan malam itu. Ia ingin berlari, ingin berteriak agar Cecil berhenti memuja sosok di depan mereka, namun suaranya tertahan di pangkal tenggorokan. ​"Ya ampun, Lea! Dia menoleh ke arah kita!" Cecil menyenggol lengan Lea dengan antusias, wajahnya merona kemerahan. "Apa aku bilang? Auranya benar-benar berbeda. Rasanya seperti dia punya kendali penuh atas ruangan ini." ​Kendali. Kata itu menghunjam jantung Lea. ​Lea mengepalkan tangan di balik saku jaketnya, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga terasa pedih. Ia merasa kotor. Pujian Cecil terasa seperti garam yang ditaburkan di atas luka terbuka. Bagaimana mungkin orang yang dianggap "keren" dan "luar biasa" oleh sahabatnya adalah sosok yang sama dengan monster yang menghantuinya dalam kegelapan? ​Dunia terasa begitu tidak adil. Di sini, di bawah cahaya lampu kampus yang terang, pria itu tampak seperti pahlawan yang dikagumi, sementara Lea merasa seperti korban yang harus bersembunyi di balik bayang-bayangnya sendiri. ​"Cecil, ayo cepat," bisik Lea, suaranya kini lebih tegas meski masih bergetar. Ia tidak menunggu jawaban. Ia menarik lengan Cecil, memaksanya berjalan lebih cepat, melewati pria itu tanpa berani menatap lagi. ​Saat mereka berpapasan, Lea mencium aroma parfum pria itu—maskulin, dingin, dan tajam. Aroma yang sama yang menyesaki indranya saat ia memohon untuk dilepaskan semalam. Lea memejamkan mata sesaat, menahan isak tangis yang mendesak keluar, sementara di belakangnya, ia bisa merasakan tatapan pria itu masih tertuju pada punggungnya, tenang dan mematikan. Napas Lea tercekat saat sebuah suara berat, namun lembut, tiba-tiba memecah keriuhan lorong. "Arabella? Sudah lama tidak bertemu." ​Itu suara pria itu. Jantung Lea serasa runtuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD