Lorong Kampus, Private Suite

1479 Words
Langkah Lea membeku di atas lantai koridor yang mendadak terasa dingin menusuk. Panggilan itu—nama yang hanya digunakan di balik dinding beludru hitam milik Madam Rose—seolah-olah merobek kenyataan yang sedang ia bangun di kampus. Di sini ia adalah Lea, mahasiswi biasa. Namun, pria itu baru saja menyeret "Arabella" ke bawah lampu neon lorong kampus yang terang benderang. ​Cecil ikut berhenti, wajahnya yang tadi penuh kekaguman kini berubah menjadi kebingungan yang murni. Ia menoleh bergantian antara Lea dan pria asing itu, lalu beralih pada Lea dengan kening berkerut. ​"Arabella?" Cecil mengulang nama itu dengan nada heran. "Tunggu, dia memanggilmu apa? Bukankah namamu Lea?" ​Darah Lea seakan berhenti mengalir. Pertanyaan Cecil yang lugas itu terasa lebih tajam daripada ancaman apa pun. Di hadapannya, Alex berdiri dengan keangkuhan yang tenang, menikmati setiap detik kehancuran mental yang dialami Lea. ​Cecil menyenggol lengan Lea, matanya melebar saat menyadari sesuatu. "Lea, ada apa denganmu? Bukankah ini pertama kalinya kau bertemu dengan pemilik kampus? Kenapa dia memanggilmu dengan nama lain?" ​Dunia Lea serasa runtuh. Pemilik kampus? Pria yang semalam merenggut martabatnya, pria yang tangan kasarnya masih meninggalkan jejak lebam di tubuhnya, ternyata adalah orang yang memegang otoritas tertinggi di tempat ia menuntut ilmu. ​Alex melangkah maju satu langkah. Jarak mereka kini begitu dekat hingga aroma parfum tajam itu kembali membungkus indra Lea, membuatnya merasa sesak. ​"Oh, maafkan saya," Alex berkata dengan nada yang begitu santun, namun matanya yang gelap mengunci Lea dengan intensitas yang mengerikan. "Mungkin aku salah mengenali orang. Tapi... wajahmu begitu familier. Kau sangat mirip dengan seseorang yang kutemui di sebuah... acara eksklusif semalam." ​Lea merasa mual yang hebat di ulu hatinya. Cecil menatapnya dengan rasa ingin tahu yang semakin besar, sementara Alex sedang menyudutkannya ke tepi jurang tanpa harus menyebut nama aslinya. ​"Kenalkan, namaku Alex," ucapnya tenang, suaranya berat dan penuh wibawa. "Sepertinya temanmu ini sedang kurang sehat, Nona...? Wajahnya pucat sekali. Mungkin ia butuh udara segar agar bisa mengingat kembali di mana kami pernah bertemu." ​Alex menatap Lea dengan sorot mata yang seolah mengatakan bahwa ia memegang kendali penuh atas rahasianya. Ia sengaja membiarkan identitas asli wanita itu tetap menggantung di antara mereka—sebuah permainan kucing dan tikus yang mematikan di wilayah kekuasaannya sendiri. ​"Kami... kami harus segera masuk kelas," suara Lea akhirnya keluar, pecah dan hampir tak terdengar. ​Ia tidak menunggu reaksi Alex. Lea menyambar lengan Cecil dan menariknya dengan tenaga yang tidak pernah ia sangka ia miliki. Ia berjalan setengah berlari, mengabaikan bisikan Cecil yang masih tak percaya bahwa mereka baru saja berbicara dengan sang pemilik kampus. ​Lea terus memacu langkahnya tanpa berani menoleh ke belakang, namun ia bisa merasakan sepasang mata Alex masih menancap di punggungnya seperti belati. Dan tepat sebelum mereka berbelok di ujung koridor, sebuah bisikan yang sangat halus namun tajam seolah merambat di udara, mampir tepat di telinganya: ​"Sampai jumpa nanti malam, Arabella. Jangan biarkan Madam Rose menunggumu terlalu lama." Langkah Lea baru terhenti setelah mereka mencapai area taman belakang yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk mahasiswa lain. Ia melepaskan cengkeraman tangannya pada Cecil, lalu bersandar pada pilar beton yang dingin, mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin. Dadanya naik-turun dengan cepat, sementara telinganya masih berdenging oleh suara Alex yang menyebut nama rahasianya. ​Cecil berdiri mematung di depannya. Kekaguman yang tadi terpancar di wajahnya telah menguap sempurna, digantikan oleh keraguan yang mendalam dan kecemasan yang mendesak. ​"Lea," suara Cecil memecah keheningan, kali ini lebih berat. "Jelaskan padaku. Kenapa pemilik kampus memanggilmu 'Arabella'? Dan kenapa kau terlihat seolah baru saja melihat iblis?" ​Lea menggeleng pelan, matanya menatap kosong ke arah deretan tanaman yang bergoyang ditiup angin. "Dia... dia hanya salah orang, Cil. Sudah kubilang, dia salah orang." ​"Salah orang tidak akan menatapmu seolah dia sedang menelanjangimu dengan matanya, Lea!" Cecil maju selangkah, suaranya naik satu oktaf karena frustrasi. "Dan nama itu... Arabella. Itu bukan nama yang umum." ​Tepat saat itu, ponsel di saku jaket Lea bergetar. Getaran itu terasa seperti sengatan listrik yang menyambar jantungnya. Dengan tangan yang masih gemetar, Lea merogoh ponselnya. Sebuah pesan masuk muncul di layar. ​Madam Rose ​Lutut Lea terasa lemas. Wajahnya yang sudah pucat kini memutih, seputih kertas. Di layar ponselnya, pesan dari Madam Rose terpampang seperti vonis mati: "Jam 9 malam ini, private suite. Alex tidak suka menunggu. Jangan buat aku harus mengingatkanmu soal konsekuensinya." ​Singkat. Dingin. Dan mutlak. ​Cecil, yang berdiri cukup dekat, menangkap perubahan drastis pada raut wajah sahabatnya. Matanya tertuju pada ponsel yang digenggam erat oleh tangan Lea yang gemetar hebat. ​"Siapa itu?" tanya Cecil, suaranya tiba-tiba merendah, penuh kecurigaan. "Lea... apakah itu dari Madam Rose?" ​Pertanyaan itu menghantam Lea lebih keras daripada tamparan. Ia tersentak, segera menyembunyikan ponselnya ke balik punggung, namun matanya yang memerah dan basah tidak bisa berbohong. ​"Bukan... bukan dari dia," bisik Lea, suaranya pecah. "Ini bukan urusanmu, Cecil. Tolong, biarkan aku sendiri." ​"Bagaimana mungkin ini bukan urusanku?" Cecil mendekat, matanya mulai berkaca-kaca melihat kehancuran di wajah Lea. "Kau ketakutan, kau gemetar, dan pria yang memegang kekuasaan di kampus ini baru saja memanggilmu dengan nama panggilan yang diberikan wanita itu! Katakan padaku, apa yang Alex minta darimu?" ​Lea memundurkan langkahnya, punggungnya menempel pada tembok pilar yang dingin. Ia merasa terpojok antara tuntutan kejujuran Cecil dan ancaman mematikan dari Madam Rose yang kini melibatkan sang pemilik kampus. ​"Aku tidak bisa mengatakannya, Cil," isak Lea, air mata kini mengalir deras tanpa terbendung. "Jika aku bicara, semuanya akan berakhir. Dia... dia punya segalanya. Dia bisa menghancurkan hidupku, masa depanku, bahkan juga hidupmu hanya dengan satu jentikan jari." ​Lea menarik napas tersedu, lalu dengan gerakan putus asa, ia membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin, meninggalkan Cecil yang mematung dalam kebingungan dan kemarahan yang membara. Malam itu, hujan turun membasuh kota dengan ritme monoton, seolah ikut meratapi nasib Lea. Di depan pintu kayu jati yang kokoh di lantai teratas hotel mewah milik sang konglomerat, Lea berdiri mematung. Gaun sutra pemberian Madam Rose menempel dingin di kulitnya—indah, mahal, dan terasa seperti belenggu yang tak terlihat. ​Tangannya terangkat, gemetar hebat di depan gagang pintu emas. Di balik pintu itu, Alex—pria yang siang tadi menyapanya dengan begitu sopan di koridor kampus—telah menanti. Setiap inci kulitnya seolah masih berdenyut, mengingat rasa sakit dari malam sebelumnya. Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, Lea akhirnya mengetuk pelan. ​"Masuk," suara berat itu terdengar dari dalam, tenang namun penuh otoritas yang tak terbantahkan. ​Lea mendorong pintu. Ruangan itu luas, remang-remang, dan beraroma parfum maskulin yang tajam—aroma yang sama yang menghantuinya sepanjang hari. Alex duduk di sofa kulit, segelas wiski di tangannya, menatap pemandangan kota dari balik jendela besar. Ia tidak menoleh, namun Lea tahu pria itu sedang mengawasinya melalui pantulan kaca. ​"Kau tepat waktu, Arabella," gumam Alex tanpa mengalihkan pandangannya dari kerlip lampu kota. "Atau… lebih nyaman kupanggil Lea?” ​Dunia Lea seakan berhenti. Nama itu jatuh seperti vonis. Ia menelan ludah, lututnya melemah. “Tuan… aku mohon,” bisiknya, suara itu lahir dari keputusasaan, bukan permintaan. ​Alex berdiri dan melangkah mendekat. Setiap langkahnya terukur, tenang—dan menekan. “Tenang,” katanya. “Di ruangan ini, kita tak membawa peran dari luar. Tidak ada kampus. Tidak ada gelar.” Ia berhenti beberapa langkah darinya. “Hanya ada aturan. Dan pilihan-pilihan yang sudah ditentukan.” Alex berdiri tepat di hadapan Lea, begitu dekat hingga panas tubuhnya sanggup mengusir dingin yang dibawa gaun sutra itu. Mata gelapnya mengunci netra Lea yang bergetar. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan kuat menyentuh dagu Lea, memaksa wanita itu untuk tidak lagi menunduk. ​“Jangan memanggilku dengan sebutan formal itu,” bisik Alex, suaranya kini lebih dalam dan parau, menyerupai geraman halus yang mengirimkan gelombang trauma sekaligus sensasi aneh ke tulang belakang Lea. “Panggil aku seperti kau memanggilku malam itu. Saat kau memohon di bawah kendaliku. Saat tubuh kita tidak menyisakan jarak sedikit pun.” ​Lea memejamkan mata erat-erat, mencoba menghalau bayangan kilas balik yang menyakitkan. Bayangan tentang bagaimana Alex menguasainya dalam kegelapan, tentang bagaimana nama pria itu menjadi satu-satunya kata yang sanggup keluar dari bibirnya yang kelu. ​“Panggil namaku, Arabella,” tuntut Alex, jemarinya kini berpindah, mengelus leher Lea dengan sentuhan yang posesif. ​“Alex…” bisik Lea akhirnya. Nama itu terdengar rapuh, seolah akan hancur begitu menyentuh udara. ​Alex tersenyum tipis—sebuah senyum kemenangan yang membuat Lea merasa benar-benar tidak berdaya. Ia menarik tubuh Lea hingga menempel pada kemeja putihnya yang kaku. Aroma wiski dan parfum maskulin itu kini mengepung indra Lea sepenuhnya. ​“Bagus,” bisik Alex tepat di telinga Lea, bibirnya nyaris menyentuh daun telinganya. “Kau harus tahu, tubuhmu adalah candu bagiku. Dan aku sudah membayar sangat mahal kepada Madam Rose untuk memilikimu.” Napas Lea tertahan. Kata "membayar" itu seolah menegaskan bahwa ia hanyalah sebuah barang mewah yang berpindah tangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD