Di Antara Penolakan dan Setuju

1940 Words
“Jadi, patuhlah padaku.” Suara Alex jatuh rendah, nyaris tanpa emosi—justru itulah yang membuatnya terasa lebih kejam. Setiap suku kata diucapkannya dengan presisi, seolah bukan sekadar perintah, melainkan hukum yang tak memberi ruang tawar-menawar. “Lakukan tugasmu dengan benar. Simpan penolakan tak bergunamu itu untuk orang lain. Aku ingin setiap detik yang kubeli darimu terasa pantas dengan harga yang sudah kubayar.” Cengkeraman di dagu Lea terlepas, namun tekanan itu tidak benar-benar pergi. Tatapan Alex tetap tertanam, dingin dan telanjang, menguliti lapisan demi lapisan pertahanan yang masih berusaha Lea jaga. Tak ada amarah di sana—hanya kepemilikan yang tenang, dan itulah yang paling menyesakkan. “Sekarang, lepaskan gaun itu.” Nada suaranya lebih pelan, hampir santai. Namun ancaman di baliknya mutlak, tak terbantahkan. “Aku ingin melihat jejak yang kutinggalkan di kulitmu semalam,” lanjutnya, “sebelum aku memutuskan di mana harus membuat yang baru.” Lea tak bergerak. Tubuhnya kaku, seolah sendi-sendinya membeku di tempat. Namun di bawah tekanan yang tak memberi celah bernapas, jemarinya yang gemetar akhirnya patuh. Ia meraba ritsleting di punggung gaunnya—gerakan sederhana yang terasa seperti menarik tuas menuju vonisnya sendiri. Bunyi logam itu bergeser turun, terlalu nyaring di tengah kamar yang sunyi. Di luar, guntur menggelegar, memecah langit malam dan mengguncang kaca jendela. Namun Lea nyaris tak mendengarnya. Amukan badai di luar tak sebanding dengan kesunyian di dalam ruangan ini—kesunyian yang mengikatnya erat di bawah tatapan seorang pria yang, entah sejak kapan, telah berubah menjadi penguasa mutlak atas tubuh dan kehendaknya. Udara di dalam ruangan terasa semakin berat, seolah oksigen tersedot habis oleh intensitas tatapan Alex. Lea bisa merasakan ritsleting dingin itu menyentuh kulit punggungnya, sebuah batas terakhir antara harga dirinya dan d******i pria di depannya. ​Setiap inci kain yang turun terasa seperti pengkhianatan terhadap dirinya sendiri. Alex tidak bergerak. Ia duduk di pinggiran tempat tidur, menumpukan sikunya di atas lutut, mengamati setiap gerakan gemetar Lea dengan ketenangan seorang predator. Ia tidak membantu, tidak pula mendesak dengan kata-kata; keheningan yang ia ciptakan adalah cambuk yang jauh lebih efektif. Saat gaun itu akhirnya luruh ke lantai, meninggalkan Lea yang hanya terbalut cahaya lampu temaram, hawa dingin pendingin ruangan langsung menusuk pori-poryinya. Namun, rasa panas yang membakar justru datang dari arah Alex. ​"Mendekatlah," perintah Alex rendah, hampir menyerupai bisikan. Gaun satin itu meluncur turun, menumpuk di lantai seperti kelopak bunga yang layu, meninggalkan Lea dalam kerentanan yang sempurna. Hawa dingin dari pendingin ruangan segera menyergap kulitnya, namun rasa panas yang terpancar dari tatapan Alex terasa jauh lebih membakar. Pria itu tidak berkedip, matanya menelusuri lekuk tubuh Lea dengan ketelitian seorang kurator yang sedang memeriksa aset berharganya. ​"Kemari," Alex berbisik, sebuah perintah pendek yang tak menerima bantahan. Lea melangkah maju dengan kaki yang terasa berat. Setiap inci jarak yang terpangkas membuatnya semakin tenggelam dalam aroma oud dan maskulinitas yang kuat dari tubuh Alex. Ketika Lea berdiri tepat di hadapannya, Alex mengulurkan tangan. Jemarinya yang panjang dan hangat menyentuh permukaan kulit Lea, tepat di atas memar keunguan di tulang selangkanya—sebuah tanda kepemilikan yang ia tinggalkan beberapa jam lalu. Sentuhan itu membuat Lea berjengit pelan, namun ia tidak mundur. Ia tahu pelarian adalah kemewahan yang tidak lagi ia miliki. ​"Kau gemetar," gumam Alex, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin. Ia menarik pinggang Lea, memaksa wanita itu berdiri di antara kedua kakinya yang terbuka saat ia duduk di tepi ranjang. "Apa yang kau takutkan, Arabella? Bukankah kau sendiri yang membawa dirimu ke sarangku demi menyelamatkan apa yang tersisa dari hidupmu?" Lea memberanikan diri untuk menatap mata pria itu. Di balik genangan air mata yang tertahan, ada kilatan harga diri yang masih berusaha bertahan. "Aku melakukannya karena tidak punya pilihan, Alex." ​"Pilihan selalu ada, Lea. Kau hanya memilih yang paling menyakitkan," sahut Alex datar. Tangannya kini berpindah ke tengkuk Lea, menariknya perlahan hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Napas Alex yang hangat terasa di bibir Lea, menciptakan kontras yang membingungkan dengan kedinginan sikapnya. "Dan karena kau sudah memilihku, pastikan kau tidak mengecewakanku. Karena aku bukan pria yang pemaaf jika menyangkut investasi yang cacat." Tepat saat itu, kilat kembali menyambar di luar, menerangi wajah tajam Alex selama sepersekian detik sebelum kegelapan kembali menguasai ruangan, hanya menyisakan cahaya remang dari lampu nakas yang menyaksikan penyerahan diri Lea seutuhnya. Alex mengunci tengkuk Lea, memastikan wanita itu tidak bisa memalingkan wajah sedikit pun. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap bibir bawah Lea yang sedikit pecah karena gigitannya sendiri—sebuah bentuk perlawanan bisu yang sia-sia. “Jangan menangis,” bisik Alex. Suaranya merendah, mengental di udara seperti geraman yang ditahan. “Air mata tidak akan menghapus kontrak ini.” Ia berhenti sejenak, memberi jeda yang menekan d**a. “Simpan tenagamu—kau akan membutuhkannya untuk hal-hal yang jauh lebih berguna.” Alex menarik tubuh Lea semakin dekat, mematahkan sisa jarak di antara mereka, hingga d**a Lea menekan kemeja hitamnya yang masih licin dan rapi. Benturan antara kulit Lea yang hangat dan kelembutan mahal kain itu melahirkan sensasi asing—menyesakkan, nyaris melumpuhkan. Di balik d**a pria itu, detak jantung Alex berdenyut tenang, teratur, berbanding terbalik dengan jantung Lea yang mengamuk di rongga dadanya, berdegup liar seperti burung kecil yang terperangkap dan tak menemukan jalan keluar. Tangan Alex yang semula bebas meluncur ke pinggang Lea, lalu bergerak perlahan menelusuri garis tulang belakangnya, seakan menghafal setiap lekuk dengan ketelitian dingin. Bagi Alex, sentuhan itu bukan sekadar belaian—melainkan penandaan, seolah tubuh di hadapannya adalah karya yang ia klaim, atau lebih kejam lagi, rampasan yang sah. Di mana pun jemarinya singgah, kulit Lea bergetar halus, meremang tanpa izin, sebuah pengkhianatan sunyi dari tubuhnya sendiri terhadap ketakutan yang membanjiri benaknya. “Semalam kau sempat mencoba melawanku,” bisik Alex tepat di dekat telinga Lea. Suaranya rendah, menggesek kesadarannya hingga Lea terpaksa memejamkan mata, seakan itu satu-satunya cara bertahan. “Malam ini,” lanjutnya pelan, setiap kata jatuh seperti tekanan tak kasatmata, “aku ingin melihatmu menyerah—tanpa sisa. Sepenuhnya.” Pria itu menundukkan wajahnya ke ceruk leher Lea, membenamkan diri di sana, menarik napas dalam-dalam seolah ingin menyerap aroma vanilla yang bercampur dengan jejak ketakutan halus. Lea menggigil ketika kecupan-kecupan kecil mulai jatuh di kulitnya—pelan, nyaris lembut, namun sarat tuntutan. Bibir Alex singgah tepat di atas memar semalam, seakan dengan sengaja menegaskan ulang keberadaannya, menandai kembali setiap inci tubuh Lea sebagai wilayah yang berada di bawah kendali dan kekuasaannya. “Buka matamu, Arabella,” perintah Alex, suaranya dingin dan tak memberi ruang untuk menolak. Dengan kelopak yang masih basah, Lea menuruti. Di cermin besar di sisi tempat tidur, pantulan itu menyambutnya tanpa ampun. Ia melihat dirinya sendiri—mahasiswi teladan yang selama ini ia kenal—kini terperangkap dalam dekapan pria paling berkuasa di dunianya, tampak begitu kecil, begitu rapuh. “Lihat dirimu baik-baik,” ujar Alex, tangannya menahan kepala Lea agar tetap menghadap cermin. “Ingat wajah ini setiap kali kau berpikir untuk membangkang.” Nada suaranya menekan, menancap dalam. “Kau bukan lagi milikmu sendiri, Arabella. Kau milik ruangan ini, milik setiap napas yang kuambil di dalamnya.” Cengkeraman di pinggang Lea mengencang, cukup kuat untuk menarik napas tertahan dari bibirnya. Alex tak menunggu jawaban. Dengan satu gerakan pasti, ia memutar tubuh Lea dan menjatuhkannya ke atas seprai sutra yang terasa dingin, lalu mengungkungnya dengan kehadiran yang tak terbantahkan. Di luar, badai masih mengamuk, menghantam jendela tanpa henti. Namun di dalam ruangan itu, Lea menyadari satu hal dengan kepastian yang menakutkan:badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Lea terengah, punggungnya tenggelam dalam kelembutan seprai yang terasa kontras dengan kekerasan sikap Alex. Di bawah kungkungan pria itu, ia merasa dunianya menyempit, hanya menyisakan aroma parfum Alex yang mahal dan tatapan predator yang tak memberinya ruang untuk bernapas. ​Tangan Alex bergerak dengan presisi yang menyiksa, menekan kedua pergelangan tangan Lea ke atas kepala, menguncinya di sana dengan satu tangan. "Kau tahu apa yang paling kusukai darimu, Lea?" Alex bertanya, suaranya kini serak, sarat dengan keinginan yang tak lagi ia sembunyikan. ​Ia merunduk, membiarkan ujung hidungnya menyentuh leher Lea, menghirup dalam-dalam aroma kulit wanita itu yang memabukkan. "Keheninganmu. Kau sangat tenang, bahkan saat kau hancur. Itu membuatku ingin tahu... seberapa jauh aku harus menekanmu sampai kau memanggil namaku dengan suara yang pecah." ​"Alex... kumohon," bisik Lea parau. Kalimat itu entah sebuah permintaan untuk berhenti atau justru desakan untuk segera mengakhiri antisipasi yang menyiksa ini. “Kumohon?” Alex mengulang kata itu seolah sedang mengecap rasanya. Tubuhnya terangkat sedikit, cukup dekat hingga Lea bisa melihat kilat lapar di matanya—bukan sekadar hasrat, melainkan kemenangan. “Apa yang kau mohonkan, Arabella?” bisiknya, rendah dan menusuk. “Agar aku berhenti? Atau agar aku membuatmu lupa, dengan cara yang lebih kejam?” Pertanyaan itu menghantam Lea lebih keras daripada sentuhan apa pun. Ia membuka mulut untuk menyangkal, untuk berteriak, untuk mempertahankan sisa kendali yang masih ia yakini miliknya. Namun sebelum satu pun kata lahir, Alex telah membungkamnya. Ciuman itu bukan ajakan. Itu penaklukan. Lea merasa dirinya terdesak bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental—seolah ruang di dalam kepalanya menyempit, menyisakan satu pertanyaan yang membuatnya panik: Mengapa aku tidak melawan lebih keras? Tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya, dan pengkhianatan itu membuat dadanya sesak. Ia membenci dirinya sendiri karena napasnya goyah, karena sebagian dirinya justru ingin lari dari rasa takut itu—bukan dengan melawan, tetapi dengan menyerah. Sentuhan Alex menyusuri tubuhnya dengan kepastian seseorang yang tahu persis apa yang ia lakukan. Setiap gerakan seakan berkata: Aku mengenalmu lebih baik daripada dirimu sendiri. Lea memejamkan mata, mencoba memisahkan apa yang ia rasakan dari apa yang ia inginkan, namun batas itu kabur. Terlalu kabur. Ini salah, pikirnya berulang kali, seperti doa yang kehilangan makna karena tak lagi diyakini. “Lihat?” Alex berhenti sejenak, memberi ruang hanya untuk membuatnya sadar. Tatapannya menelanjangi Lea lebih telak daripada sentuhan apa pun. “Tubuhmu tidak pandai berbohong,” katanya, puas. “Tidak seperti kau.” Kata-kata itu menancap dalam. Lea ingin membantah, ingin membuktikan bahwa dirinya bukan sekedar reaksi, bukan sekadar raga yang bisa diarahkan sesuka hati. Namun saat Alex kembali mendekat, keyakinan itu runtuh sedikit demi sedikit. Ia merasa seperti sedang kehilangan pijakan—bukan karena didorong, tetapi karena sebagian dirinya melepaskan pegangan itu sendiri. Saat pergelangan tangannya dilepas, Lea sempat berpikir itulah kebebasan. Namun kenyataannya jauh lebih kejam: ia kini dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia minta—melawan dengan tubuh yang sudah lelah, atau menyerah pada arus yang menjanjikan pelarian. “Cengkeram aku, Arabella,” perintah Alex, suaranya rendah dan pasti, napasnya menggantung di ruang sempit di antara mereka. “Tunjukkan mana yang lebih jujur—kebencianmu atau keinginanmu.” Kalimat itu bukan godaan, melainkan jebakan; apa pun yang ia lakukan akan dibaca sebagai pengakuan. Lea membeku, menyadari kendali telah bergeser bahkan sebelum ia memilih, dan yang tersisa hanyalah ketakutan yang dingin: bukan pada Alex, melainkan pada kenyataan bahwa sebagian dari dirinya sedang dipaksa untuk setuju. Lea merasakan jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sakit di tulang rusuknya. Panggilan nama aslinya—Arabella—yang diucapkan Alex dengan nada penuh otoritas itu seolah mempreteli topeng terakhir yang ia kenakan. Nama itu terdengar seperti mantera yang mengikat, merantai jiwanya tepat di saat raganya sedang dipaksa menyerah. ​Tangan Alex yang besar dan hangat kini tidak lagi hanya menuntut; ia membimbing jemari Lea yang kaku untuk mencengkeram bahunya yang kokoh. Lea bisa merasakan otot-otot Alex yang menegang di bawah kulitnya, sebuah kekuatan mentah yang siap menghancurkannya kapan saja. ​"Kau tidak bisa berbohong lagi, Arabella," Alex berbisik, bibirnya menyapu daun telinga Lea, mengirimkan gelombang listrik yang membuat seluruh tubuh wanita itu bergetar hebat. "Kebencianmu punya rasa yang sama dengan gairahmu. Keduanya membakar, dan malam ini, aku akan membiarkanmu hangus di dalamnya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD