Antara Perlindungan dan Kepemilikan

1241 Words
Alex memiringkan kepalanya sedikit, seolah menimbang kata-kata berikutnya dengan hati-hati. Ia meletakkan gelas wine di meja samping, bunyinya nyaris tak terdengar—namun cukup untuk menandai bahwa percakapan ini bukan basa-basi. “Kau tidak di sini karena Madam Rose,” katanya pelan. “Setidaknya, bukan hanya karena itu.” Lea mengeraskan rahangnya. “Jangan berpura-pura tahu tentang hidupku.” “Aku tidak berpura-pura.” Alex melangkah setengah langkah lebih dekat, berhenti sebelum jarak itu berubah menjadi ancaman. “Aku menghubungi orang-orangku sore tadi. Lingkaran yang menekanmu—kontrak, janji, ‘undangan’ yang tak bisa ditolak—aku tahu polanya.” Lea tertawa kecil, getir. “Dan apa yang kau harapkan? Aku berterima kasih?” “Tidak.” Tatapannya mengeras, namun suaranya tetap tenang. “Aku ingin kau berhenti berjalan sendirian ke tempat-tempat seperti ini.” Sunyi kembali turun, berat dan menyesakkan. Lea menatap lantai marmer, pantulan dirinya terpecah oleh cahaya temaram. “Kau tidak berhak memintaku apa pun.” Alex mengangguk pelan, menerima batas itu. “Benar. Karena itu aku tidak meminta.” Ia menghela napas, sejenak memalingkan wajah ke balkon, lalu kembali menatap Lea. “Aku menawarkan jalan keluar.” Lea hanya terdiam. Tatapan matanya tetap mengarah pada Alex. Alex mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, layar menyala singkat. “Kontrak yang menjeratmu—aku bisa mematahkannya. Legal. Bersih. Tanpa drama.” Ia mengunci layar kembali. “Tapi ada satu hal yang harus kau lakukan.” Lea menegang. “Apa?” Alex terdiam beberapa detik lebih lama dari sebelumnya. Keheningan itu terasa berbeda—lebih berat, lebih jujur, seolah ia akhirnya memutuskan untuk berhenti menyembunyikan sesuatu. Ia melangkah ke meja, bukan untuk mengambil wine, melainkan menegakkan tubuhnya. Ketika menoleh kembali pada Lea, tatapannya tak lagi sekadar tenang. Ada sesuatu yang lebih gelap di sana—kesadaran penuh akan apa yang akan ia tawarkan, dan konsekuensinya. “Aku bisa menarikmu keluar dari Madam Rose,” katanya akhirnya. Lea membeku. Alex melanjutkan, datar namun tegas. “Bukan sementara. Bukan penundaan. Aku akan memutus seluruh aksesnya padamu. Kontrak, tekanan, orang-orangnya—semua.” Lea bangkit berdiri. Napasnya terdengar. “Dan kau mengharapkan aku percaya begitu saja?” “Tidak.” Alex mendekat satu langkah. “Aku mengharapkan kau memahami harga yang selalu ada.” Jarak mereka kini terlalu dekat untuk diabaikan. Lea bisa mencium aroma kayu dan anggur di tubuhnya—bukan menenangkan, melainkan mengingatkan bahwa ia sedang berhadapan dengan pria yang terbiasa mendapatkan apa yang ia mau. “Apa harganya?” tanya Lea, suaranya rendah. Alex tidak langsung menjawab. Ia menatap Lea lama—terlalu lama—seolah memastikan bahwa apa pun yang ia ucapkan setelah ini tak bisa ditarik kembali. “Kau,” katanya akhirnya. “Waktumu. Kehadiranmu.” Lea mengernyit. “Maksudmu—” “Aku tidak ingin kau menjadi simpanan,” potong Alex cepat, tegas. “Aku juga tidak membeli tubuhmu.” Ia berhenti tepat di hadapan Lea. “Tapi aku ingin kau bersamaku. Di sisiku. Di ranjangku. Bukan sekali. Bukan sesekali.” Kata-kata itu jatuh tanpa nada menggoda—justru dingin, seperti kesepakatan bisnis yang diselimuti kejujuran brutal. “Setiap saat aku membutuhkannya,” lanjut Alex. “Selama aku melindungimu.” Lea mundur satu langkah, dadanya naik turun. “Jadi ini saja bentuk kebebasan yang kau tawarkan?” Alex tidak menyangkal. “Dari satu jerat ke jerat lain?” Ia mengangguk pelan. “Ya. Tapi jeratku tidak akan menyakitimu. Aku tidak akan menyerahkanmu. Dan kau tidak akan pernah dipaksa melayani siapa pun selain aku.” Sunyi menghantam ruangan itu. Lea tertawa pelan—bukan karena lucu, melainkan karena pahit. “Kau bahkan tidak mengucapkannya dengan kata-kata manis.” Alex menatapnya lurus. “Aku tidak ingin kau salah paham.” Lea menatap lantai, lalu ke balkon, lalu kembali padanya. “Dan kalau aku menolak?” Alex menjawab tanpa ragu, “Malam ini kau tetap keluar dari sini dengan selamat. Tapi besok, Madam Rose akan kembali menagih. Lebih keras.” Kata besok terasa seperti ancaman. Lea menatap Alex lama sekali. Terlalu lama hingga keheningan di kamar itu berubah dari canggung menjadi tajam, seperti ujung pisau yang menunggu ditekan. “Tidak,” katanya akhirnya. Satu kata. Pendek. Jelas. Alex tidak langsung bereaksi. Wajahnya tetap tenang, tetapi ada sesuatu yang mengeras di rahangnya—bukan marah, melainkan terkejut oleh keteguhan yang tak ia perkirakan. “Kau bahkan belum—” “Aku sudah mendengar cukup,” potong Lea pelan, namun suaranya tak goyah. “Kau menawarkan perlindungan dengan harga yang sama seperti mereka. Hanya kemasannya yang lebih rapi.” Alex menghela napas. “Ini bukan soal memiliki—” “Ini soal kontrol,” Lea mengangkat wajahnya, menatap lurus. “Madam Rose mengikatku dengan rasa takut. Kau mengikatku dengan rasa aman. Keduanya tetap ikatan.” Sunyi jatuh berat di antara mereka. Lea melangkah mundur satu langkah, menciptakan jarak yang sengaja. “Aku lelah menjadi sesuatu yang ditukar agar bisa bernapas.” Alex menatapnya dalam, seolah mencoba menemukan celah—keraguan, retak kecil, apa pun yang bisa membuatnya berubah pikiran. Tapi yang ia temukan hanya kelelahan yang matang, bukan kelemahan. “Kalau kau keluar dari sini sekarang,” katanya pelan, “kau tahu apa yang menunggumu.” “Aku tahu,” jawab Lea tanpa ragu. “Dan itu tetap lebih baik daripada bangun setiap hari di ranjang seseorang karena aku tidak punya pilihan.” Kata ranjang menggantung sebentar di udara, lalu jatuh tanpa suara. Alex mengalihkan pandangan ke balkon. Lampu kota berkilau dingin, seperti saksi bisu dari keputusan yang jarang benar-benar bersih. “Kau membuat ini lebih sulit dari yang seharusnya.” Lea tersenyum tipis—senyum yang tak bahagia, tapi jujur. “Hidupku memang tidak pernah mudah, Alex. Tapi setidaknya malam ini, keputusannya milikku.” Ia meraih tasnya. Tangannya sedikit gemetar, namun langkahnya mantap ketika berjalan menuju pintu. Alex menoleh kembali. “Jika kau berubah pikiran—” Lea berhenti di depan pintu, tanpa menoleh. “Kalau suatu hari aku menerima tawaran seperti itu,” katanya pelan, “itu berarti aku sudah berhenti menjadi diriku sendiri.” Ia menekan gagang pintu. “Dan aku belum sejauh itu.” Tanpa aba-aba Alex menarik tangan Lea, menggendongnya, lalu membaringkannya di atas ranjang king size kamar itu. Detik berikutnya, kesabaran yang sejak tadi ia jaga runtuh tanpa sisa. Ia menunduk, mencium Lea lama—ciuman yang penuh hasrat, seakan menyatukan segala kegelisahan yang ia pendam. Tatapan matanya menyala, menyimpan keinginan yang ingin dituntaskan, tak lagi disamarkan oleh jarak atau ragu. Napas mereka berbaur, waktu seperti berhenti di sela detak jantung yang kian cepat. Alex merengkuh wajah Lea, sentuhannya tegas namun tetap berhati-hati, seolah takut kehilangan momen yang telah lama ia tahan. “Aku sudah menahannya sedari tadi,” bisiknya lirih, suara serak oleh emosi yang menumpuk. “Tapi kamu… kamu menjadi candu tersendiri bagiku.” Kata-kata itu menggantung di udara, meninggalkan getar yang tak perlu dijelaskan—cukup dirasakan. Alex bergeser, berdiri di sisi ranjang. Jemarinya naik ke kancing kemeja, membukanya satu per satu dengan gerakan tenang namun sarat makna. Kain itu meluncur turun, menyingkap tubuh kekarnya yang terbentuk oleh disiplin dan keteguhan—sebuah siluet kekuatan yang kini tak lagi disembunyikan. Lea memalingkan wajah sesaat, napasnya tertahan oleh gelombang perasaan yang menyerbu bersamaan: gugup dan ketakutan yang samar. Cahaya lampu membingkai mereka dalam keheningan yang berdenyut. Alex mendekat, berhenti cukup dekat untuk membuat jarak itu bermakna. Suaranya rendah, nyaris bisikan, namun tegas dalam kejujuran yang tak mencari pembenaran. “Arabella,” katanya, menyebut nama itu seperti doa yang tertahan, “aku menginginkanmu saat ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD