Seseorang Menunggu di Balkon

1155 Words
Lampu-lampu kota menyala perlahan ketika Lea meninggalkan area kampus. Senja telah benar-benar hilang, digantikan malam yang dingin dan pekat—malam yang terasa terlalu sadar akan ke mana ia sedang menuju. Langkahnya ringan, namun dadanya berat, seolah setiap tarikan napas membawa beban yang tak terlihat. Cecil mengantarnya sampai tepi jalan besar. Mereka berdiri berhadapan dalam diam yang canggung. Tak ada kata perpisahan panjang, tak ada janji manis. Hanya tatapan yang menyimpan terlalu banyak kekhawatiran untuk diucapkan. “Hati-hati,” ucap Cecil akhirnya. Singkat, namun tulus. Lea mengangguk pelan. “Aku akan kabari kalau sudah sampai.” Mereka berpisah tanpa pelukan. Ada hal-hal yang terlalu rapuh untuk disentuh. Sebuah taksi berhenti di hadapannya. Lea masuk dan menyebutkan alamat dengan suara datar, Hotel Virelle. Sopir hanya mengangguk, lalu kendaraan melaju menembus jalanan malam. Kota perlahan berubah wajah—gedung-gedung padat berganti ruang terbuka, lampu-lampu jalan berdiri semakin jarang, dan keheningan mulai menguasai. Lea menyandarkan kepala ke kursi. Pantulan wajahnya di kaca jendela tampak asing—pucat, mata sedikit sembap, namun ada kekerasan tipis dalam sorotnya. Sebuah keteguhan yang lahir bukan dari keberanian, melainkan keterpaksaan. Pesan dari Madam Rose kembali berdenyut di kepalanya. Singkat. Dingin. Tak memberi ruang untuk bertanya, apalagi menolak. Ketika hotel itu akhirnya muncul di kejauhan, Lea tanpa sadar meluruskan punggungnya. Hotel Virelle berdiri megah di perbatasan kota, terpisah dari keramaian, seolah sengaja dibangun untuk menyembunyikan segala sesuatu yang tak boleh diketahui publik. Bangunannya menjulang anggun dengan lapisan kaca dan marmer, memantulkan cahaya lampu malam dengan kilau yang dingin dan tak ramah. Pagar besi hitam mengelilinginya, rapi dan kokoh—bukan sekadar pembatas, melainkan pernyataan. Taksi berhenti di pelataran. Lea turun perlahan. Angin malam menyapu rambutnya, membawa aroma bunga taman yang samar—kontras dengan kegelisahan yang mengendap di dadanya. Ia menatap pintu putar di depan lobi. Cahaya hangat dari dalam mengalir keluar, menyambut siapa pun tanpa pernah bertanya siapa mereka, atau apa yang mereka bawa. Lea melangkah masuk. Lobi hotel terasa terlalu tenang untuk tempat semewah itu. Lantai marmer berkilau memantulkan bayangannya, sementara denting piano mengalun pelan dari sudut ruangan, menambah kesan elegan yang hampa. Seorang resepsionis menyambutnya dengan senyum profesional—senyum yang tak pernah benar-benar melihat siapa pun. “Selamat malam. Ada yang bisa kami bantu?” Lea menarik napas singkat. “Saya… diminta datang. Nama saya Arabella.” Tak ada keterkejutan. Resepsionis hanya mengangguk, jemarinya bergerak cekatan di atas layar. Beberapa detik kemudian, sebuah kartu akses hitam digeser ke hadapan Lea. “Silakan naik. Nomor kamar akan diberitahukan oleh staf kami di lantai atas.” Tanpa pertanyaan. Tanpa penjelasan. Lea menerima kartu itu. Ucapan terima kasih nyaris tak terdengar ketika ia berbalik menuju lift. Pintu lift menutup perlahan di belakangnya, memisahkannya dari dunia luar. Angka lantai menyala satu per satu, naik dengan kecepatan yang terasa menyiksa. Di ruang sempit itu, Lea mengepalkan tangan, jantungnya berdetak keras, namun wajahnya tetap tenang. Ia sudah terlalu sering berada di titik ini—di ambang sesuatu yang tidak ia pilih, tetapi harus ia jalani. Lift berhenti. Pintu terbuka ke sebuah koridor panjang yang sunyi. Karpet tebal meredam langkah kakinya, sementara lampu-lampu dinding memancarkan cahaya temaram yang membuat bayangan bergerak lembut di sepanjang lorong. Seorang staf hotel berdiri menunggu, sikapnya sopan, matanya kosong dari rasa ingin tahu. “Silakan ikut saya,” katanya singkat. Lea mengikuti tanpa bertanya. Setiap langkah mendekatkannya pada pintu yang belum ia ketahui nomornya—dan pada malam yang terasa semakin menyesakkan. Ia tidak tahu siapa yang menunggu di balik pintu itu. Tidak tahu apa yang akan diminta darinya kali ini. Yang ia tahu hanya satu: Hotel Virelle bukan tempat untuk berharap. Dan malam ini, di perbatasan kota yang sunyi, takdir kembali menyeretnya ke persimpangan yang tak pernah ia inginkan—namun selalu berhasil menemukannya. Pintu kamar itu terbuka perlahan, nyaris tanpa suara. Lea melangkah masuk dengan ragu, seolah takut kehadirannya akan merusak keheningan yang telah lebih dulu menguasai ruangan. Pintu menutup di belakangnya dengan bunyi lembut yang terasa seperti palu terakhir—memutus jalan keluar, menegaskan bahwa ia kini berada di ruang yang tak memberi banyak pilihan. Kamar itu luas dan redup. Cahaya lampu temaram jatuh lembut di dinding berlapis marmer, sementara aroma anggur dan kayu tua menggantung di udara. Sunyi begitu pekat, seakan ruangan itu sengaja diciptakan untuk menunggu seseorang. Tirai balkon terbuka sebagian, bergoyang perlahan diterpa angin malam. Dari kejauhan, lampu-lampu kota berkilau dingin. Lea berhenti melangkah. Jantungnya berdetak keras, terlalu keras untuk kesunyian seperti ini. “Arabella…” Suara itu datang dari arah balkon. Rendah. Dalam. Penuh hasrat yang tak disembunyikan, seolah namanya adalah sesuatu yang telah lama disimpan di lidah. Tubuh Lea menegang. Perlahan, ia mengangkat pandangannya. Seorang pria berdiri di sana—di ambang balkon—punggungnya setengah membelakangi kamar. Cahaya kota membingkai siluetnya dengan garis-garis tegas. Satu tangan bertumpu santai di pagar, tangan lainnya menggenggam segelas wine. Cairan merah itu berkilau ketika ia memutarnya pelan, seperti seseorang yang tak sedang menunggu, melainkan menikmati kepastian. Pria itu menoleh. Dan napas Lea seketika terhenti. Alex. Tak ada nama lain yang perlu disebut. Wajah itu terlalu ia kenal. Tatapan yang tenang namun mengunci, sikap yang selalu terlihat terkendali, seolah dunia jarang sekali mampu menggoyahkannya. Ia berdiri di sana tanpa tergesa, tanpa ragu—seperti seseorang yang sejak awal tahu Lea akan datang. Lea mundur setengah langkah tanpa sadar. Dadanya mengencang, pikirannya berputar, mencoba memahami bagaimana pertemuan di kampus—yang belum sempat usai—berujung di sini. “Kau…” Suaranya tercekat, rapuh. Alex melangkah masuk dari balkon. Cahaya lampu menyentuh wajahnya sepenuhnya kini—jasnya masih rapi, dasinya sedikit longgar, memberi kesan santai yang justru terasa berbahaya. Ia berhenti beberapa langkah darinya, menjaga jarak yang terasa sengaja. Tatapannya menyapu Lea perlahan, bukan dengan keserakahan, melainkan dengan perhatian yang dalam, seolah sedang membaca sesuatu yang tertinggal. “Tenang,” ucapnya pelan. Suaranya rendah, terkontrol. “Aku tidak berniat mengejutkanmu.” Lea menelan ludah. “Kalau begitu… kenapa aku ada di sini?” bisiknya. Alex mengangkat gelas winenya sedikit, lalu menurunkannya kembali, matanya tak pernah lepas dari Lea. Ada jeda singkat—sebuah tarikan napas yang terasa seperti penahan sesuatu yang lebih besar. “Karena aku ingin bertemu denganmu,” katanya akhirnya. Jujur. Tanpa berputar-putar. “Di kampus tadi… ada banyak hal yang belum selesai.” Kata-kata itu jatuh pelan, namun berat. Seperti pintu yang dibuka ke arah percakapan yang selama ini tertunda—dan sengaja dihindari. Lea menggeleng pelan. “Itu bukan urusanmu, Alex.” Alex tersenyum tipis. Bukan senyum hangat, melainkan senyum seseorang yang tahu batas itu rapuh. “Tadi, di depan gerbang kampus, aku melihat cukup banyak untuk tahu… itu sudah menjadi urusanku.” Angin malam kembali menyusup dari balkon, menggerakkan tirai, membawa hawa dingin yang menyentuh kulit Lea. Ia berdiri di tengah kamar mewah itu, di hadapan pria yang kini tak lagi sekadar pengamat. Pintu telah tertutup. Percakapan telah dimulai. Dan Lea tahu, malam ini bukan tentang panggilan Madam Rose semata—melainkan tentang sesuatu yang sempat terhenti, dan kini menuntut untuk diselesaikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD