Tunduk Pada Bayangan

1274 Words
Alex tidak menunggu lebih lama. Apa yang runtuh di hadapan gerbang kampus itu telah berbicara cukup lantang. Bukan sekadar konflik ibu dan anak, melainkan wajah asli dari sebuah lingkaran kotor yang sejak awal menjerat Lea—pelan, rapi, dan nyaris tak terlihat, hingga akhirnya menutup seluruh jalan keluarnya. Ia melangkah menjauh dengan ketenangan yang terasa asing bagi situasi sekelam itu. Setiap langkahnya mantap, seolah telah lama diputuskan. Wajahnya kembali datar, terkunci dalam ekspresi netral, namun di baliknya bergerak arus pemikiran yang rumit—rencana demi rencana bertaut. Alex tak menoleh ke belakang. Tangannya menyelip ke saku jas, menemukan ponsel. Cahaya layar menyala, memantul di wajahnya yang mengeras. Jemarinya bergerak tanpa ragu, memilih satu nama yang tersimpan lama—bukan sebagai pengingat, melainkan sebagai pintu terakhir menuju dunia yang lain dari sisi hidupnya. Madam Rose. Alex menarik napas singkat sebelum mengangkat ponsel ke telinga. Nada sambung hanya terdengar sesaat, lalu suara itu hadir—rendah, stabil, dan penuh keyakinan, seperti seseorang yang tak pernah ragu bahwa dunia akan selalu bergerak sesuai kehendaknya. “Tuan Alex,” ucapnya. “Sudah lama.” “Tidak cukup lama,” balas Alex singkat. Suaranya datar, tanpa ruang untuk basa-basi. “Aku menginginkan seseorang malam ini.” Keheningan merambat di seberang sana. Dalam bayangannya, Alex bisa melihat senyum tipis yang perlahan terbit—senyum orang yang terbiasa mengatur dan menikmati jeda sebelum keputusan. “Siapa?” tanya Madam Rose akhirnya. Alex menatap lurus ke depan. Wajah Lea muncul sekilas dalam benaknya—mata kosong itu, tatapan seseorang yang telah kehilangan ilusi terlalu dini, terlalu kejam. “Arabella,” ucapnya pelan, namun nadanya tegas—sebuah keputusan yang tak membuka ruang untuk ditarik kembali. Di seberang sana, terdengar tarikan napas yang nyaris tak kasat telinga. Halus, terukur, dan sarat makna—seperti tawa yang sengaja ditahan oleh seseorang yang sedang menimbang keuntungan. “Tuan Alex berani sekali menyebut namanya.” Alex tidak bereaksi. Suaranya tetap dingin ketika ia menjawab, singkat dan tajam, “Aku tidak menawar. Sebutkan saja harganya.” Keheningan sejenak mengendap sebelum suara itu kembali terdengar, lebih rendah dari sebelumnya. “Dia tidak murah.” “Aku tahu,” jawabnya tanpa memberi ruang jeda. Nada suaranya tenang, pasti—seolah harga, berapa pun besarnya, tak pernah benar-benar menjadi pertimbangan. “Berapapun.” Keheningan kali ini lebih panjang. Bukan kebimbangan, melainkan perhitungan yang teliti. Alex menunggu, tenang dan sabar. Ia paham, bagi orang seperti Madam Rose, kendali harus selalu terasa utuh—meski hanya ilusi. Akhirnya, suara itu kembali hadir di ujung sambungan, rendah dan tenang, seolah keputusan telah lama dibuat. “Lokasinya akan kukirim,” katanya. “Datang sendiri.” Sudut bibir Alex terangkat samar—senyum tipis yang tak membawa kehangatan, tak pula menawarkan janji apa pun. “Tentu,” jawabnya pelan. Panggilan terputus. Alex menurunkan ponsel perlahan. Jemarinya sempat mengencang, lalu mengendur kembali. Di antara desau angin dan langkah-langkah yang lalu-lalang tanpa makna, seringai tipis terbit di wajahnya—perlahan, nyaris tak terlihat, namun sarat niat yang tak bersih. Pikirannya bergerak mendahului malam, menelusuri bayangan pertemuan yang akan datang. Arabella… Nama itu berdenyut di kepalanya—menenangkan sekaligus membakar. Arabella hadir dalam bayangannya: berdiri tegap dengan getar halus yang muncul di sunyi, jemari menggenggam lengan sendiri, napas tertahan saat tatapan bertemu. Detail-detail kecil itu melekat, seperti candu yang ingin ia pelihara. Seringai tipis mengulas bibirnya. Tangan Alex menyelip ke saku, ibu jarinya menggesek ponsel—refleks yang memastikan malam itu. Di tempat lain, sebuah pesan dikirim tanpa keraguan. Layar ponsel Lea menyala, cahaya dinginnya memecah kesunyian. Nama itu muncul sederhana, nyaris tanpa emosi—Madam Rose. Selalu seperti itu. Tak pernah bertanya, tak pernah memberi pilihan. Hotel Virelle. Datang malam ini. Kamar akan diberitahukan setibanya kamu di sana. Arabella menatap pesan itu lebih lama dari seharusnya. Ada jeda tipis sebelum napasnya kembali mengalir, seolah tubuhnya lebih dulu memahami apa yang diminta sebelum pikirannya sempat menolak. Jemarinya mengencang di sisi ponsel, lalu perlahan rileks. Ia mengunci layar. Alamat telah ditetapkan. Malam telah memilih jalannya. Dan sekali lagi, Arabella tahu—ia hanya diminta untuk datang. “Ya Tuhan… aku lelah dengan semua ini,” ucap Lea lirih. Kata-kata itu jatuh begitu saja, tanpa sisa tenaga untuk ditahan. Bahunya bergetar. Ia menunduk, seolah beban di dadanya akhirnya menemukan celah untuk runtuh. Air mata mengalir, mula-mula pelan, lalu tak terbendung membawa serta kepedihan yang terlalu lama ia simpan. Lea menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isaknya tertahan, pecah dalam jeda-jeda pendek yang menyakitkan. Di tengah tangis itu, ia berdiri sendiri—lelah, rapuh, dan untuk pertama kalinya membiarkan dirinya hancur tanpa berusaha terlihat kuat. Tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh bahunya dengan lembut. Lea menoleh, air mata masih mengalir di pipinya. Di sana berdiri Cecil, wajahnya tegas namun sarat perhatian. Tanpa kata banyak, ia merangkul Lea perlahan, memberikan kehangatan yang selama ini hilang. “Hei… tarik napas dulu,” ucap Cecil, suaranya rendah dan menenangkan. “Aku di sini.” Lea tersedu di pundaknya, merasakan sedikit kekuatan dari kehadiran itu. Cecil menatapnya, mata penuh tekad. “Lea… kita bisa melawan ini. Kita bisa pergi ke polisi, melaporkan tentang semua yang telah mereka lakukan kepadamu." Lea menatapnya, napasnya tersengal. Perlahan ia menggeleng. “Tidak, Cecil… kau tidak mengerti. Madam Rose… dia bukan orang biasa. Polisi… mereka tak akan bisa menahan dengan apa yang bisa dia lakukan.” Cecil menelan ludah, wajahnya menegang. “Tapi Lea, ini… ini salah. Kau tak boleh menanggung sendirian.” Lea menggenggam tangannya sendiri, menahan getaran di dadanya. “Aku tahu,” bisiknya, suaranya retak. “Tapi kalau aku mencoba… dia akan tahu. Dan aku… aku tidak bisa mengambil risiko itu.” Cecil terdiam, hanya bisa menatapnya. Ia tidak melepaskan Lea, tetap di sana, menjadi sandaran meski ia tahu, untuk saat ini, menghadapi Madam Rose secara langsung masih mustahil. Lea menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya, tapi dadanya masih terasa sesak. Tangisnya mulai mereda, digantikan oleh kepahitan dan kemarahan yang menggelegak perlahan. Ia menatap jalan sepi di depan kampus, bayangan gerbang, dan keramaian yang kini terasa jauh—seolah dunia itu bukan lagi miliknya. Cecil melepaskan pelukan sebentar, memberi jarak agar Lea bisa berdiri sendiri, namun tetap dekat untuk memberinya keberanian. “Lea… kau tidak harus menyerah. Aku akan tetap di sini. Kita akan mencari jalan, pelan tapi pasti,” ucapnya dengan mantap, berusaha menyalakan secercah keberanian dalam diri Lea. Lea menutup mata sejenak. Ia tahu Cecil benar, tapi rasa takut pada Madam Rose terlalu besar. Setiap kali membayangkan konsekuensi, kengerian itu menelan logikanya. Ia menggigit bibir, menahan amarah sekaligus putus asa. “Kau… yakin kita bisa?” suaranya lirih, nyaris tersedak. Cecil menatap matanya tanpa ragu. “Aku yakin. Tapi kita lakukan selangkah demi selangkah. Tidak terburu-buru. Kau akan tetap aman, dan aku akan pastikan kau tidak sendirian.” Lea menatapnya lama. Air mata masih tersisa di pipinya, tapi perlahan muncul sesuatu—keyakinan rapuh bahwa ia mungkin, hanya mungkin, bisa menghadapi semuanya. Dengan satu tarikan napas dalam, ia mengangguk pelan. Di bawah bayangan malam yang jatuh perlahan, mereka berdiri berdampingan. Dua orang yang tahu pertarungan sesungguhnya baru akan dimulai. Tapi untuk saat ini, setidaknya ada sedikit cahaya di tengah kegelapan yang selama ini menelan Lea. Malam mulai merayap ke kampus. Lea dan Cecil berdiri berdampingan, angin dingin menyisir rambut mereka. Ada rasa lega sesaat, tapi ketegangan tetap membayang: alamat itu, Hotel Virelle, menunggu di malam yang sepi. Lea menelan ludah, dadanya sesak. Ia tahu pertemuan itu bukan sekadar biasa—namun siapa yang akan menunggunya di sana, ia tidak tahu. Cecil menatapnya, menangkap ketakutan yang tak bisa ia hapus. Lea menggenggam tangannya lebih erat, napasnya tersengal. Malam ini… segala sesuatu akan berubah. Dan di hotel mewah itu, sesuatu yang tak ia duga menunggu, tinggal menunggu waktu untuk muncul.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD