Dari balik gerbang kampus, langkah wanita itu terdengar mendekat—pelan namun pasti, seolah setiap pijakan membawa beban yang tak terlihat. Tatapannya segera menemukan Lea, dan tak sekalipun goyah sejak detik itu.
Alex menghentikan langkahnya. Senyum tipis yang tadi menghias bibirnya kini memudar, tergantikan oleh rasa ingin tahu yang perlahan berubah menjadi kewaspadaan. Ada sesuatu dalam sorot mata perempuan itu—keteguhan yang dingin, seperti seseorang yang datang bukan untuk meminta, melainkan menagih.
Lea merasakan dadanya mengencang bahkan sebelum wajah itu benar-benar dekat.
Melinda.
Nama itu bergema di benaknya seperti gema masa lalu yang tak pernah sepenuhnya pergi. Wajah ibunya kini berdiri di hadapannya—sama tegasnya, sama tak memberi ruang bagi penolakan. Tak ada pelukan, tak ada sapaan rindu. Hanya jarak yang runtuh oleh kehadiran yang terlalu kuat untuk dihindari.
“Kenapa kamu belum pulang?”
Nada suara Melinda datar, namun di baliknya bersemayam tuntutan mutlak.
Lea mengangkat dagunya. “Aku tidak ingin pulang.”
Kalimat itu meluncur tenang, namun cukup untuk mengoyak kesabaran.
Melinda mengembuskan napas perlahan, senyum tipis tersungging—senyum yang tak menyentuh mata. “Kamu kira ini cuma soal membangkang?” katanya lirih. “Kamu pikir aku datang sejauh ini hanya untuk menjemput anak yang keras kepala?”
Lea menatapnya waspada. “Lalu soal apa?”
Melinda melangkah mendekat, cukup dekat hingga jarak di antara mereka terasa menyempit, seolah udara ikut menahan napas.
“Utang itu,” ucapnya pelan. “Sudah jatuh tempo.”
Jantung Lea berdegup keras.
“Aku tidak tahu apa-apa tentang itu,” sanggahnya cepat. “Aku tidak pernah terlibat.”
Melinda menatapnya lama, sorot matanya mengeras. “Madam Rose tidak sabar, Lea. Dan satu-satunya alasan dia masih menunggu… adalah kamu.”
Nama itu jatuh seperti bayangan hitam di tengah siang hari.
Lea menggigit bibirnya. “Jangan seret aku ke dalam pilihan Ibu. Aku tidak pernah meminta hidup ini.”
“Tidak ada yang meminta,” balas Melinda dingin. “Kita hanya menjalani konsekuensinya.”
Nada itu membuat d**a Lea terasa sesak.
“Jadi sekarang aku yang harus melunasi?” tanyanya, getir. “Karena aku anak Ibu?”
Melinda mengatupkan bibir, jemarinya mencengkeram tas dengan keras. “Selama kamu di rumah, Madam Rose tidak akan menagih dengan caranya sendiri.”
Lea tersenyum pahit. “Caranya, atau cara Ibu mengendalikanku?”
Beberapa mahasiswa mulai melirik, merasakan ketegangan yang menggantung di udara. Namun bagi Lea, dunia seolah menyusut menjadi wajah di hadapannya—wajah yang dulu ia kenal sebagai tempat berlindung, kini menjelma sumber tekanan.
“Aku tidak akan pulang,” kata Lea tegas. “Dan aku tidak akan membayar utang yang bukan milikku.”
Melinda menatapnya lama, seolah mencari sisa-sisa anak yang dulu mudah digenggam oleh rasa bersalah. Yang ia temukan hanyalah keteguhan yang asing.
“Kamu tidak mengerti dengan siapa kita berurusan,” ucap Melinda rendah. “Madam Rose tidak suka ditolak.”
Nama itu membuat udara di sekitar Lea terasa menyesakkan.
Lea mengangguk perlahan. “Mungkin sudah waktunya Ibu berhenti menjadikanku perisai untuk kesalahan yang tak pernah kupilih.”
“Jangan seret aku ke dalam urusan Madam Rose,” suara Lea bergetar, bukan karena takut, melainkan marah yang tertahan. “Itu pilihan Ibu. Bukan pilihanku.”
Melinda menghela napas tajam. “Kamu bagian dari keluarga ini, Lea. Apa pun risikonya—”
“Cukup!” potong Lea.
Untuk pertama kalinya, suaranya meninggi, pecah, menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. Lea menatap ibunya lurus-lurus, matanya memerah, dadanya naik turun menahan sesuatu yang selama ini ia kubur terlalu dalam.
“Apa Ibu tidak tahu,” ucapnya, setiap kata bergetar namun jelas, “apa yang sudah Madam Rose lakukan kepadaku?”
Melinda tidak segera menjawab. Tatapannya menelusuri wajah Lea dengan ketelitian dingin, seolah pengakuan itu bukan jeritan seorang anak, melainkan laporan yang harus dihitung nilainya.
Lea menelan ludah. Dadanya sesak, tenggorokannya perih. Namun kalimat itu tetap ia paksa keluar—kalimat yang selama ini ia kubur paling dalam, bersama rasa malu dan takut.
“Dia menjualku, Bu,” katanya lirih, suaranya retak. “Menjualku pada pria asing.”
Keheningan jatuh.
Detik-detik berlalu lambat dan kejam, menggantungkan kalimat itu di udara seperti vonis yang tak bisa ditarik kembali.
Lalu—sesuatu berubah.
Bibir Melinda melengkung perlahan.
Bukan keterkejutan. Bukan kemarahan.
Melainkan senyum tipis yang tumbuh dengan keyakinan dingin, senyum seseorang yang baru saja memastikan hitungannya tepat.
“Begitu…” gumamnya pelan, hampir terdengar lega.
Lea membeku. Dadanya terasa diremas tangan tak kasat mata, napasnya tersendat.
Melinda mengangguk kecil, seolah potongan terakhir dari sebuah teka-teki akhirnya menemukan tempatnya. “Berarti benar,” katanya tenang. “Utang kita akan berkurang.”
Kalimat itu menghantam Lea lebih keras daripada tamparan mana pun.
“Apa…?” suaranya nyaris tak terdengar, seperti bisikan yang tersesat di antara denyut jantungnya sendiri.
Melinda menatapnya lurus. Senyum itu masih bertahan—dingin, rasional, tanpa sisa empati. “Madam Rose tidak pernah memberi tanpa mengambil. Kalau dia sudah ‘menggunakanmu’, berarti sebagian sudah dibayar.”
Lea mundur setapak. Dunia di sekelilingnya seolah menjauh, suara kampus menghilang, digantikan dengung panjang yang menusuk telinga.
“Jadi… itu saja?” bisiknya. “Aku dijual… dan Ibu tersenyum?”
Melinda menghela napas, seakan Lea terlalu naif untuk memahami kenyataan dunia. “Kamu seharusnya bersyukur,” katanya. “Tidak semua orang bisa sebernilai itu.”
Pada detik itu, sesuatu di dalam diri Lea pecah—bukan dengan ledakan, melainkan dengan sunyi yang mematikan.
Ia menatap ibunya, bukan lagi sebagai anak yang terluka, melainkan sebagai seseorang yang akhirnya melihat kebenaran tanpa tirai.
“Aku bukan nilai,” ucapnya pelan, suaranya bergetar namun tegas. “Aku manusia.”
Melinda mengangkat bahu kecil. “Di dunia ini, Lea, manusia pun bisa dihitung.”
Kata-kata itu menutup pintu terakhir.
Lea tak lagi berkata apa-apa. Tak ada gunanya. Ia hanya berdiri di sana, mata basah, hati mati rasa—menyadari bahwa tempat yang selama ini ia sebut rumah tak pernah benar-benar ada.
Lea tetap berdiri di tempatnya, namun kakinya terasa tak lagi berpijak. Dunia di sekelilingnya bergerak kembali—suara langkah, gumam mahasiswa, derit gerbang kampus—namun semua terdengar jauh, seolah ia berada di balik kaca tebal yang memisahkannya dari kenyataan.
Melinda merapikan tas di bahunya. Gerakan sederhana, praktis, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan urusan penting.
“Kalau begitu, Ibu tidak perlu khawatir lagi,” katanya datar. “Urusan ini hampir selesai.”
Lea menoleh perlahan. Matanya kosong, tapi ada sesuatu yang berkilat di sana—bukan harapan, bukan pula amarah. Hanya kesadaran yang telanjang.
“Jadi aku benar-benar tidak lebih dari itu,” katanya lirih. “Sarana pelunasan.”
Melinda berhenti sejenak, lalu menoleh setengah. “Jangan melodramatis,” jawabnya. “Hidup tidak selalu adil. Kamu hanya harus belajar menerimanya.”
Ia lalu berbalik sepenuhnya, siap melangkah pergi.
Melinda baru sempat melangkah satu tapak ketika sebuah bunyi memecah keheningan.
Pendek. Terlalu tajam untuk diabaikan.
Getaran itu berasal dari saku jaket Lea.
Tubuh Lea menegang. Jemarinya bergerak hampir tanpa sadar, meraih ponsel yang terasa mendadak jauh lebih berat dari sebelumnya. Layar menyala, cahaya dinginnya memantul di wajah pucatnya.
Satu pesan masuk. Nomor tak dikenal.
Kalimatnya singkat—terlalu singkat untuk membawa ancaman sebesar itu.
Madam Rose ingin memastikan. Kamu masih milik kami.
Napas Lea terhenti di tenggorokan. Dadanya seperti diremas dari dalam, denyut jantungnya berdentam liar hingga menenggelamkan suara-suara di sekitarnya.
Angin berembus melewati gerbang kampus, membuat besinya berderit panjang—sebuah suara yang terdengar seperti peringatan yang datang terlambat.
Permainan ini ternyata belum berakhir.
Utang itu belum benar-benar lunas.