Tangan itu kembali menahan.
Tidak keras, tidak pula tergesa—hanya cukup kuat untuk menjaga Lea tetap berdiri ketika tubuhnya menegang. Alex merapatkan jarak dengan kehati-hatian yang membuat situasi terasa semakin menyesakkan. Punggung Lea menyentuh dadanya; ruang di antara mereka menghilang, digantikan kehangatan yang tak ia minta.
Lea menarik napas pendek. Ia membenci kedekatan itu, membenci ketenangan Alex yang terasa seperti keputusan sepihak. Detak jantung pria itu stabil, seolah ia sepenuhnya menguasai keadaan—dan itulah yang paling mengusik.
“Tolong lepaskan aku,” ucap Lea pelan, suaranya dingin namun tegas.
Alex menunduk sedikit.
Ia tidak menyentuh leher Lea, tidak pula melampaui batas yang kasat mata. Namun napasnya jatuh dekat, hangat, seakan jarak itu dipilih dengan sadar. Kehadiran yang tak menyerang, tapi sulit diabaikan.
Aroma Lea tercium samar—ringan, bersih, menenangkan dengan cara yang tak semestinya. Alex menghela napas perlahan, seolah sedang menahan sesuatu yang ingin ia kendalikan. Ada ketertarikan di sana, tenang namun menetap.
“Kamu membuatku sulit berpaling,” gumamnya rendah.
Lea menegang. Rahangnya mengeras.
“Itu bukan urusanku,” jawabnya singkat.
Tangan Alex bergeser sedikit—bukan untuk menahan lebih kuat, melainkan menyesuaikan, memastikan Lea tak kehilangan keseimbangan. Sentuhan itu terasa terlalu sadar, terlalu terukur, dan justru itulah yang membuat Lea semakin tidak nyaman.
“Aku tidak memintamu mengerti,” lanjut Alex lirih. “Aku hanya mengatakan apa adanya.”
Lea mengembuskan napas pelan, menahan kejengkelan yang naik ke permukaan.
“Kejujuranmu tidak aku perlukan.”
Ia mencoba menjauh, namun dinding menahan langkahnya. Ada kemarahan yang tertata rapi di balik sikapnya—bukan meledak, melainkan dingin dan pasti. Ia membenci situasi ini, membenci cara Alex berdiri begitu dekat seolah semuanya wajar.
“Berhenti,” katanya tenang, namun tak memberi ruang untuk dibantah.
Alex tersenyum tipis—bukan senyum menggoda, melainkan pengakuan yang ia terima tanpa perlawanan. “Bagiku, kamu seperti candu,” ucapnya lembut. “Dan aku tidak pandai menyangkalnya.”
Lea memejamkan mata sesaat.
“Aku membencimu,” katanya jelas, tanpa emosi berlebihan. Kalimat itu jatuh dengan tenang, namun kokoh. “Dan aku tidak akan menjadi bagian dari apa pun yang kamu harapkan.”
Keheningan mengisi lorong.
Tangan Alex akhirnya mengendur, memberi jarak secukupnya. Lea melangkah menjauh setengah langkah, bahunya tetap tegak, tatapannya dingin saat ia berbalik.
Lorong itu kembali sunyi.
Dan di dalam keheningan itu, kebencian Lea berdiri anggun namun tegas—sementara di mata Alex, ketertarikan itu tetap tinggal, diam-diam menguat, tak terbantahkan.
Lea melangkah kembali ke dalam aula dengan langkah tertahan.
Pintu terbuka, dan riuh suara langsung menyambutnya—tawa, bisikan, kursi yang digeser, sisa-sisa antusiasme yang belum sepenuhnya padam. Udara di dalam terasa berbeda sekarang. Lebih dingin. Atau mungkin hanya Lea yang tak lagi sanggup merasakannya dengan cara yang sama.
Pandangan matanya langsung tertuju pada barisan kursi tempat ia tadi duduk.
Tasnya masih di sana, tergeletak di sisi kursi, seolah menunggunya kembali. Lea menghampirinya perlahan, jemarinya meraih tali tas itu dengan gerakan yang lebih berhati-hati dari biasanya, seakan takut jika benda sederhana itu pun bisa terlepas dari genggamannya.
“Kamu dari mana aja?”
Suara itu membuatnya berhenti sesaat.
Cecil berdiri di sampingnya, wajahnya jelas menunjukkan kelegaan yang bercampur kebingungan. Rambutnya sedikit berantakan, matanya menyapu wajah Lea dengan cepat, seolah memastikan temannya itu benar-benar baik-baik saja.
“Aku nyariin kamu dari tadi,” lanjut Cecil, nadanya lebih rendah sekarang. “Kamu keluar tiba-tiba, aku pikir kamu kenapa.”
Lea menggenggam tali tasnya lebih erat.
Ia mengangkat wajah, namun tak benar-benar menatap Cecil. Pandangannya jatuh entah ke mana—ke lantai, ke deretan kaki kursi, ke titik kosong yang tak menuntut jawaban. Bibirnya sedikit terbuka, lalu menutup kembali.
Tak ada kata yang keluar.
Cecil mengernyit, menangkap keheningan itu.
“Lea?” panggilnya pelan. “Kamu nggak apa-apa, kan?”
Lea tetap diam.
Ia hanya menggeleng tipis—gerakan kecil, hampir tak terlihat. Dadanya masih terasa penuh, seolah kata-kata menumpuk di sana tanpa menemukan jalan keluar. Ia tak tahu harus menjelaskan apa, atau dari mana harus memulai. Bahkan untuk dirinya sendiri, semuanya masih terasa terlalu kabur.
Cecil tak memaksa.
Ia berdiri di samping Lea, menyesuaikan langkah ketika Lea mulai berjalan menuju lorong di antara kursi. “Kalau kamu capek, kita bisa keluar lagi,” ucapnya hati-hati. “Atau pulang.”
Lea mengangguk sekali, pelan.
Tas itu kini tergantung di bahunya. Bebannya terasa nyata, menenangkan dengan caranya sendiri. Ia melangkah pergi tanpa banyak bicara, meninggalkan aula yang kembali terasa terlalu bising.
Di belakangnya, Cecil menoleh sekali ke arah podium—lalu kembali menatap punggung Lea dengan dahi berkerut.
Ada sesuatu yang jelas berubah.
Dan meski Lea tak mengucapkan apa pun, keheningan yang ia bawa bersamanya terasa lebih berat daripada penjelasan apa pun.
Lea melangkah lebih dulu, Cecil menyusul di sampingnya.
Mereka meninggalkan aula tanpa menoleh ke belakang. Pintu tertutup perlahan, dan suara riuh di dalam akhirnya teredam sepenuhnya, tergantikan oleh langkah kaki yang bergema pelan di koridor kampus. Lorong itu panjang dan terang, namun bagi Lea, jarak yang mereka tempuh terasa jauh lebih panjang dari biasanya.
Alex menarik napas panjang, lalu melangkah keluar dari lorong. Sepatu menyentuh lantai dengan ritme mantap, meski dadanya masih berdegup karena ketegangan pertemuan singkat tadi. Ia menatap lurus ke depan, menembus cahaya sore yang mulai meredup, menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan kampus.
Dari kejauhan, matanya menangkap dua sosok berjalan beriringan: Lea dan Cecil. Langkah mereka pelan, serasi, namun ada jarak yang menjaga kehati-hatian Lea.
Senyum tipis muncul di bibir Alex, hampir menyerupai smirk—setengah puas, setengah nakal. Ia membayangkan ulang momen tadi: cara Lea menegang, gerakan tubuhnya yang canggung, ketegangan yang tak bisa disembunyikan. Hal-hal yang membuat Lea benci, justru menjadi candu baginya.
Matanya mengikuti mereka hingga mendekati mobil Cecil. Smirk itu tetap melekat, senyum seorang pria yang tahu pertemuan tadi meninggalkan jejak—di hatinya, dan jelas, di hati Lea.
Alex menutup kunci mobil di sakunya, lalu melangkah pergi perlahan, membawa smirk itu bersamanya, menikmati kekacauan yang baru saja ia tinggalkan di lorong kampus.
Dari pinggir gerbang, seorang wanita muncul. Tatapannya langsung jatuh ke Lea, langkahnya cepat dan penuh tujuan.
Alex berhenti, senyum tipis tergambar di bibirnya, tapi rasa penasaran menusuk lebih tajam dari sebelumnya.
Siapa dia? Apa hubungannya dengan Arabella?
Sebelum ia sempat bergerak, wanita itu semakin dekat. Dan di hati Alex, ada satu hal jelas: permainan ini baru saja dimulai.