Pemilik Kampus Mimpi Burukku

1100 Words
Cecil mendekat, mencondongkan tubuhnya sedikit, lalu berbisik dengan nada penuh gairah gosip. “Wah… aku benar-benar nggak nyangka pemilik kampus kita bakal seganteng itu,” katanya sambil menahan senyum usil. “Wajahnya macho banget. Ternyata gosip itu nggak sepenuhnya bohong.” Ia terkekeh pelan. “Tipe yang kelihatan berbahaya—dan bikin orang bertanya-tanya, seseru apa sisi pribadinya.” Ucapan itu meluncur begitu saja, ringan tapi tajam, seperti percikan api kecil yang siap menyulut imajinasi siapa pun yang mendengarnya. Riuh kekaguman itu belum juga mereda ketika Cecil sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Lea. Suaranya ia rendahkan, namun nada geli tak sepenuhnya bisa disembunyikan. “Fix,” bisiknya sambil melirik ke depan, “gosip kampus bakal meledak hari ini.” Lea tak menjawab. Pandangannya tetap lurus, wajahnya pucat. Cecil melanjutkan, seolah membaca suasana aula yang kian gaduh. “Coba lihat mereka. Paling sore nanti udah muncul judul tak resmi—Putra pemilik yayasan super ganteng bikin mahasiswi histeris.” Ia terkekeh pelan. “Besoknya lanjut lagi, Siapa mahasiswi beruntung yang bakal jadi incaran?” Lea menelan ludah. “Dan percaya deh,” Cecil menambahkan, kini suaranya sedikit lebih serius, “tiap sudut kampus bakal punya versi ceritanya sendiri. Dari yang lebay sampai yang nggak masuk akal.” Lea akhirnya menoleh. Matanya kosong, nyaris tak fokus. “Aku nggak tertarik,” ucapnya lirih. Cecil terdiam sejenak, menangkap sesuatu yang janggal dari nada suara itu. Ia hendak mengatakan sesuatu lagi, namun urung ketika sorak kecil kembali pecah di aula. Alex berdiri tenang di depan sana, membiarkan kekaguman itu mengalir begitu saja. Wajahnya tetap terkendali, seringai tipis bertahan di bibirnya—sebuah ekspresi yang bagi banyak orang tampak memikat, berwibawa, nyaris sempurna. Namun di tengah riuh itu, Lea justru merasa semakin terasing. Semua suara terdengar jauh, seperti tertelan gema. Ia menunduk sedikit, jantungnya berdetak terlalu cepat, telinganya berdenging. Ketampanan yang membuat mahasiswi lain terpesona justru baginya adalah pengingat paling kejam—bahwa wajah yang sama pernah hadir di momen tergelap hidupnya. Napas Lea terasa semakin pendek. Udara di aula mendadak berat, seolah setiap tarikan mengisi dadanya dengan beban yang tak terlihat. Ia mencoba menelan ludah, namun tenggorokannya kering. Pandangannya mengabur, cahaya lampu di langit-langit tampak terlalu terang, terlalu dekat. Getaran kecil merambat dari ujung jarinya. Tidak… batinnya menolak. Aku baik-baik saja. Namun tubuhnya berkata lain. Sorak-sorai kembali meledak, kali ini lebih keras. Nama Alex terdengar disebut-sebut, disusul tawa, bisikan, dan decak kagum yang saling bertindihan. Semua suara itu berkelindan, berubah menjadi dengung panjang yang menusuk telinganya. Lea menutup mata sejenak. Wajah itu kembali muncul di balik kelopak matanya—bukan seperti sekarang, rapi dan berwibawa, melainkan versi lain yang dingin, diam, dan meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Dadanya terasa sesak. Ia berdiri terlalu cepat, kursinya bergeser dan menimbulkan bunyi kecil yang nyaris tenggelam oleh riuh aula. Cecil menoleh refleks. “Lea?” panggilnya pelan, heran. “Kamu kenapa?” Lea tak menjawab. Ia meraih tasnya dengan tangan sedikit gemetar, lalu melangkah pergi, menyusuri deretan kursi tanpa menoleh ke belakang. “Eh—Lea, tunggu!” suara Cecil terdengar lebih keras sekarang, sedikit panik. “Lea!” Beberapa kepala sempat menoleh, namun Lea terus melangkah. Setiap detik di ruangan itu terasa seperti ancaman. Pintu aula di kejauhan tampak seperti satu-satunya jalan keluar—satu-satunya tempat di mana ia bisa bernapas. Begitu pintu terbuka, suara riuh di dalam langsung teredam. Lea melangkah keluar dan berhenti di lorong, bersandar pada dinding dingin. Ia terengah, menarik napas dalam-dalam, seolah baru saja lolos dari tenggelam. Tangannya menekan d**a, mencoba menenangkan jantung yang berdegup liar. Matanya memanas, namun ia menolak air mata itu jatuh. Lea menutup mata, dahinya bersandar pada dinding. Ini nggak mungkin, pikirnya. Bukan dia. Nggak mungkin pria itu ada di sini. Di kampus ini. Di hidupku lagi. Namun kenyataan terlalu keras untuk disangkal. Nama itu. Wajah itu. Tatapan tenang yang barusan ia lihat dari kejauhan—semuanya terlalu nyata. Terlalu sama. Terlalu akrab dengan mimpi buruk yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Kenapa… napasnya bergetar. Kenapa harus dia lagi? Ia menggeleng pelan, seolah gerakan kecil itu bisa mengusir bayangan yang kembali menghantui. Bertahun-tahun ia berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya telah berlalu. Bahwa masa lalu tinggal masa lalu, tak akan berani muncul di kehidupannya yang baru, yang ia susun perlahan dengan susah payah. Tapi kini— Alex. Nama itu bergaung di kepalanya seperti gema yang tak mau berhenti. Dari sekian banyak pria di dunia ini… dari sekian banyak wajah yang bisa berdiri di podium itu… kenapa semesta memilih mengembalikannya tepat ke hadapannya? Apa salahku belum cukup? tanyanya pada diri sendiri. Apa aku masih harus membayar dosa yang bahkan tak pernah kupilih? Dada Lea kembali terasa nyeri. Ada amarah yang tertahan, bercampur takut dan penolakan. Ia membenci dirinya sendiri karena reaksi ini—karena satu kehadiran saja sudah cukup membuat semua pertahanannya runtuh. Aku nggak mau terlibat lagi, tekadnya muncul, rapuh tapi keras kepala. Aku nggak mau dunia gelap itu menyeretku kembali. Namun jauh di lubuk hati terdalam, sebuah kesadaran pahit berbisik pelan— bahwa pertemuan ini bukan kebetulan. Dan bahwa pria itu… mungkin tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Lea terperanjat. Sebuah tarikan napas pendek lolos dari bibirnya ketika sesuatu—atau lebih tepatnya seseorang—menyentuhnya dari belakang. Sebuah tangan kekar melingkar dengan pas di perut rampingnya, menahan tubuhnya yang refleks hendak mundur. Hangat. Kokoh. Terlalu nyata. Dunia seakan berhenti berputar. “Arabella.” Suara itu rendah, dekat sekali dengan telinganya. Bukan suara keras, bukan pula nada memaksa—namun cukup untuk membuat seluruh tubuhnya menegang. Jantungnya seakan jatuh ke perut. Jari-jari itu tak bergerak, tak meremas, hanya bertahan di sana—seolah memberi tahu bahwa ia tak salah merasakan kehadiran ini. Bahwa ini bukan bayangan. Bukan kenangan yang menyusup lagi. Ini nyata. Lea membeku, napasnya tercekat di d**a. Aroma yang samar—maskulin, bersih, dan menyakitkan karena begitu dikenal—menguar pelan. Ingatannya berhamburan, bertabrakan dengan logika yang berusaha keras menyangkal. Tidak… Perlahan, sangat perlahan, ia menurunkan tangannya yang sejak tadi menekan d**a. Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena kenyataan yang kini berdiri tepat di belakangnya. “Lepaskan aku,” ucapnya akhirnya, suaranya nyaris tak lebih dari bisikan. Ada getar yang tak bisa ia sembunyikan. Tangan itu tak langsung pergi. Sebaliknya, cengkeramannya mengendur sedikit—cukup untuk menunjukkan pilihan, bukan paksaan. Cukup untuk membuat Lea sadar bahwa pria itu selalu tahu batas… dan selalu tahu bagaimana membuatnya goyah. “Aku cuma nggak mau kamu jatuh,” jawab suara itu pelan. Kalimat sederhana. Alasan masuk akal. Namun bagi Lea, itu seperti ironi paling kejam yang pernah ia dengar. Karena justru pria inilah… yang dulu membuatnya jatuh ke jurang paling gelap dalam hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD