Pewaris dan Rahasia

1123 Words
Hingga tak lama kemudian, dering ponsel itu terputus dengan sendirinya. Layarnya kembali gelap, menyisakan keheningan yang terasa ganjil. Namun belum sempat ia menghela napas lega, beberapa detik berselang layar ponsel itu menyala lagi. Di layar ponsel itu, satu nama tertera—tegas, dingin, dan seolah tak memberi ruang untuk ditawar. Madam Rose. Di bawahnya, sebuah pesan singkat muncul. Datang ke club besok malam. Akan ada tamu. Cecil menatap layar itu tanpa berkedip. Ada sesuatu yang mengeras di rahangnya, sementara jemarinya mencengkeram ponsel seakan benda itu adalah satu-satunya penahan amarah yang mendidih di dadanya. Kebencian mengalir perlahan, pekat, memenuhi setiap ruang di kepalanya. Jadi ini orangnya… Orang yang telah menyeret Lea ke titik ini. Yang mengubah senyum itu menjadi kosong, yang merenggut cahaya dari matanya. Nama itu kini bukan sekadar pengirim pesan. Ia adalah sumber dari semua yang terjadi—bayangan gelap yang selama ini tak terlihat namun nyata keberadaannya. Cecil menarik napas dalam-dalam, menahan gejolak yang nyaris meluap. Besok malam. Dua kata itu menggantung seperti vonis. Dan Cecil tahu, setelah ini, tak akan ada lagi langkah yang mundur. Pagi menyapa dengan wajah yang nyaris sempurna. Langit biru terbentang bersih, matahari menggantung rendah dengan cahaya lembut yang jatuh perlahan ke permukaan jalan. Udara pagi beraroma segar, menenangkan—terlalu menenangkan, seolah dunia bersekongkol menutupi kegelisahan yang tertinggal dari malam sebelumnya. Lea melangkah keluar lebih dulu. Ransel sederhana bertengger di punggungnya, rambutnya tergerai rapi, wajahnya tenang, meski ada bayang redup yang tak sepenuhnya sirna dari sorot matanya. Cecil menyusul, langkahnya terjaga, pandangannya sempat tertahan pada punggung Lea sebelum akhirnya ia berjalan sejajar. Mereka berangkat kuliah bersama. Tak banyak kata terucap. Hanya suara langkah yang beradu dengan aspal, berpadu dalam irama yang pelan namun selaras. Keheningan di antara mereka bukan lagi jarak, melainkan ruang aman yang tak perlu diisi. Sesekali Cecil melirik ke samping, memastikan Lea benar-benar ada—berjalan di sisinya, bernapas di pagi yang sama. Lea menangkap tatapan itu dan membalas dengan senyum tipis. Senyum yang sederhana, nyaris rapuh, namun cukup untuk berkata bahwa ia masih bertahan. Di bawah pagi yang tampak indah itu, mereka melaju seperti dua mahasiswa pada umumnya. Padahal, jauh di balik cahaya dan kesegaran udara, malam telah menanti—membawa kebenaran yang perlahan, namun pasti, akan menuntut kehadiran mereka. Gerbang kampus menyambut mereka dengan hiruk pikuk yang tak biasa. Lea melangkah masuk lebih dulu, matanya menangkap kerumunan yang mengalir ke satu arah. Bisik-bisik terdengar di mana-mana, potongan kalimat terlempar tanpa kejelasan, namun cukup untuk menimbulkan rasa penasaran. Spanduk belum terpasang, pengumuman resmi pun belum terpampang—namun suasana sudah terasa berbeda. “Semua mahasiswi diminta berkumpul di aula utama.” Pengumuman itu menggema melalui pengeras suara, memantul di dinding gedung-gedung fakultas. Langkah-langkah spontan terhenti, lalu berbelok, mengikuti arus yang sama. Lea ikut terbawa, ranselnya ia benahi di bahu, dadanya terasa sedikit mengencang tanpa alasan yang jelas. Aula kampus perlahan dipenuhi. Deretan kursi tersusun rapi, sementara para mahasiswi memenuhi setiap sudut dengan wajah penuh tanya. Ada yang berbisik penasaran, ada pula yang sibuk mengeluarkan ponsel, mencoba mencari kabar. “Katanya ada kunjungan dadakan,” terdengar suara di belakang Lea. “Dari siapa?” “Entahlah. Katanya penting.” Lea duduk, menyandarkan punggungnya, berusaha menenangkan detak jantung yang mendadak tak beraturan. Di benaknya, bayangan pesan semalam melintas sekilas—kata tamu itu bergaung tanpa sebab yang pasti. Di balik pintu aula yang tertutup rapat, langkah-langkah mulai terdengar mendekat. Dan tanpa ia sadari, pagi yang tampak biasa itu perlahan berubah menjadi awal dari sesuatu yang tak lagi bisa ia hindari. Pintu aula terbuka dengan gerakan tergesa. Beberapa orang penting kampus memasuki ruangan hampir bersamaan—rektor, wakil rektor, dan sejumlah pejabat fakultas. Wajah-wajah mereka tampak tegang, langkah mereka cepat, seolah ada sesuatu yang tak boleh tertunda. Suasana aula yang semula riuh perlahan meredup, bisik-bisik mereda, digantikan keheningan yang menggantung. Namun perhatian Lea justru tertarik pada sosok yang berjalan di belakang mereka. Seorang pria. Langkahnya tenang, berlawanan dengan kegelisahan orang-orang di depannya. Tubuhnya tinggi, bahunya tegap, setelan gelap yang ia kenakan tampak sederhana namun berwibawa. Wajahnya sebagian tertutup bayangan, sorot matanya tajam, dingin—seolah tengah mengamati ruangan tanpa benar-benar terlibat di dalamnya. Lea menahan napas. Ada sesuatu dari kehadiran pria itu yang membuat udara di aula terasa berubah. Bukan karena siapa ia, melainkan karena cara ia melangkah—penuh kendali, seakan semua mata yang terarah padanya adalah hal yang sudah biasa. Beberapa mahasiswi saling bertukar pandang, rasa penasaran berubah menjadi bisik yang tertahan. Sementara para petinggi kampus telah mengambil tempat di depan, pria misterius itu berhenti sejenak, menoleh singkat ke arah deretan kursi. Dan entah mengapa, pada detik itu, pandangannya terasa seolah menembus kerumunan—lurus ke arah Lea. Pria itu berhenti melangkah. Di tengah aula yang dipenuhi ratusan pasang mata, sorot matanya mengunci satu titik. Lea. Tatapan itu tajam—terlalu tajam untuk sekadar kebetulan. Seakan ia telah mengenal wajah itu jauh sebelum hari ini, seakan kehadirannya di tempat itu bukan untuk siapa pun selain dirinya. Lea merasakan tengkuknya meremang, napasnya tertahan tanpa ia sadari. Bibir pria itu terangkat sedikit. Senyuman tipis. Dingin. Berbahaya. Bukan senyum ramah seorang tamu kampus, melainkan senyum seorang pemburu yang akhirnya menemukan buruannya setelah lama mengintai. Ada kepuasan samar di sana, sesuatu yang membuat d**a Lea mengencang oleh rasa tak nyaman yang tak bisa ia jelaskan. "Alex... " ucapnya lirih. Ia ingin memalingkan wajah, namun tubuhnya seolah membeku. Tatapan itu menembus kerumunan, menembus jarak, menekan dirinya tanpa satu kata pun terucap. Sementara di depan aula, salah satu petinggi kampus mulai membuka acara dengan suara formal yang terdengar samar di telinga Lea. Suara rektor kembali menggema, kali ini dengan nada yang lebih penuh kehati-hatian—seolah setiap kata telah ditimbang matang. “Mohon perhatian,” ucapnya. Aula perlahan kembali hening. “Hari ini kita mendapat kehormatan atas kehadiran perwakilan yayasan yang menaungi universitas kita.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lantang. “Perkenankan saya memperkenalkan Tuan Alexander Emir Baskara, putra dari pemilik yayasan sekaligus penerus yang dipercaya untuk mewakili keluarga Baskara.” Tepuk tangan kembali memenuhi aula, riuh dan panjang. Nama itu bergaung di udara, disambut wajah-wajah penuh kekaguman. Beberapa mahasiswi berbisik antusias, sebagian lain menatap ke depan dengan mata berbinar—terpukau oleh nama besar yang disematkan padanya. Alexander melangkah maju satu langkah. Posturnya tegap, gesturnya tenang, senyum tipis terukir di wajahnya—senyum yang tampak pantas bagi seorang pewaris yayasan besar. Namun bagi Lea, nama itu tak membawa wibawa. Ia hanya membawa ingatan. Alex—pria yang sama—berdiri di sana dengan gelar terhormat yang dielu-elukan, sementara sorot matanya tetap mengarah padanya, tajam dan tak bergeser. Di balik tepuk tangan dan formalitas itu, Lea tahu satu hal yang tak diketahui siapa pun di ruangan ini— Ia bukan sedang menatap seorang putra pemilik yayasan. Ia sedang berhadapan dengan pria yang memburunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD