Halte Terakhir Sebelum Gelap

1313 Words
“Lea…” suara Cecil nyaris tercekat, matanya membeku dalam ketidakpercayaan. Di hadapannya, Lea meringkuk di bangku halte—tubuhnya dibalut gaun yang terlalu terbuka dan tipis, seolah tak lagi mampu melindunginya dari dingin malam maupun dari pandangan dunia. Hentakan tajam merambat di d**a Cecil, menyesakkan napasnya. Ada sesuatu yang runtuh perlahan di dalam dirinya—campuran amarah yang tak sempat meledak, cemas yang menggigit, dan rasa bersalah yang datang tanpa ampun. Lea yang ia kenal bukanlah perempuan yang akan duduk meringkuk di bangku halte, menunduk seperti ingin lenyap dari pandangan dunia. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Pertanyaan itu bergema di benaknya, namun tak pernah benar-benar menemukan ujung. Pandangannya tertambat pada wajah Lea yang pucat, pada bahu yang bergetar halus seolah menahan dingin sekaligus luka yang tak terucap. Ada dorongan kuat untuk segera mendekat, menyelubungi tubuh rapuh itu, membawa Lea menjauh dari tatapan siapa pun. Di sela kebisuan itu, kesadaran pahit menyusup: ia telah terlambat. Terlalu lama tenggelam dalam dunianya sendiri, hingga tak menyadari kapan Lea mulai jatuh, dan sejauh apa ia terhempas. Cecil akhirnya bergerak. Langkahnya cepat, hampir tergesa, seolah jika ia menunda satu detik lagi, Lea bisa benar-benar hilang di hadapannya. Ia berjongkok, sejajar dengan tubuh Lea yang meringkuk. “Lea…” suaranya lebih pelan sekarang, ditahan agar tak terdengar seperti tudingan. “Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa sampai di sini?” Tak menunggu jawaban, Cecil melepaskan jaketnya. Tangannya sedikit gemetar saat menyampirkannya ke bahu Lea, jaket itu menutup rapat, melindunginya dari dingin dan dari mata-mata yang tak berhak melihatnya seperti ini. “Ayo,” katanya lirih namun tegas, sambil mengulurkan tangan. “Kita pergi dari sini.” Ada jeda singkat sebelum Lea bergerak, namun Cecil tak memaksanya. Ia menunggu, setia di tempatnya, hingga akhirnya Lea meraih jaket itu lebih erat. Cecil membantu Lea, menutupi tubuhnya dengan gerakan hati-hati—seolah Lea terbuat dari kaca yang bisa retak hanya oleh sentuhan kasar. Ia memastikan berdiri, menahan tubuhnya yang terasa ringan dan rapuh di lengannya. Tanpa banyak kata, Cecil menuntunnya pergi dari halte itu—menjauh dari lampu-lampu pucat dan bangku dingin yang menjadi saksi kejatuhan Lea. Dalam langkahnya yang tergesa, hanya satu hal yang memenuhi pikirannya: membawa Lea ke tempat yang aman, ke mana pun itu, selama Lea tak lagi sendirian. Cecil menuntunnya pergi tanpa banyak kata. Ketidaktegaan menekan dadanya setiap kali ia melirik kondisi Lea yang kian rapuh. Tubuh itu bersandar padanya sepanjang jalan, ringan namun sarat luka yang tak terlihat. Maka tanpa ragu, ia membawanya ke apartemennya—satu-satunya tempat yang terasa cukup aman untuk Lea malam ini. Di dalam ruang yang hangat itu, Cecil membantu Lea duduk di sofa. Jaketnya masih menyelimuti tubuh Lea, dan ia tak sanggup menariknya kembali. Ia hanya berdiri sejenak, menatap dalam diam, dengan satu tekad sunyi yang menguat: apa pun yang telah membuat Lea seperti ini, ia tak akan membiarkannya terluka lagi. Lea terdiam cukup lama. Bahunya bergetar pelan, lalu semakin jelas. Tangis itu pecah tanpa suara terlebih dahulu, hanya isak yang tertahan di tenggorokan. Cecil hendak mendekat, namun urung—memberinya ruang yang mungkin lebih ia butuhkan saat ini. “A-aku…” suara Lea bergetar, patah sebelum sempat utuh. Tangannya mencengkeram jaket di dadanya, seolah takut jika ia melepasnya, semuanya akan runtuh. Air mata mengalir tanpa ia sadari, jatuh satu per satu. “Aku kira… aku bisa bertahan,” lanjutnya lirih. Ia menunduk, seakan malu pada kata-katanya sendiri. “Tapi ternyata aku salah.” Tangisnya kembali meninggi, napasnya tersengal. “Aku capek, Cecil… capek pura-pura kuat. Capek sendirian.” Kalimat itu keluar seperti pengakuan yang terlalu lama dipendam. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, namun air mata tak juga berhenti. “Semuanya berantakan. Aku kehilangan arah… dan malam ini, aku bahkan nggak tahu harus pulang ke mana.” Kata-kata itu jatuh di ruang antara mereka, berat dan telanjang. Lea menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis tanpa sisa—dan untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar bercerita. Cecil akhirnya mendekat. Ia duduk di sisi sofa, cukup dekat untuk memberi rasa aman, namun tak memaksa. Tangannya terangkat ragu, lalu berhenti sejenak di udara, seolah meminta izin pada luka yang tak kasatmata itu. Ketika Lea tak menolak, Cecil perlahan meletakkan tangannya di punggungnya. “Tarik napas pelan-pelan,” ucapnya rendah, nyaris berbisik. “Kamu aman di sini, Lea. Nggak ada yang mengejarmu. Nggak ada yang menuntutmu apa pun.” Tangis Lea masih tersengal, tapi ritmenya mulai melambat. Cecil menepuk punggungnya dengan gerakan kecil, berulang, sabar—seperti seseorang yang tak berniat pergi ke mana-mana. “Aku di sini,” lanjutnya, lebih tegas namun hangat. “Kamu nggak harus kuat sekarang. Ceritakan kalau kamu sanggup. Kalau belum… kita diam saja juga nggak apa-apa.” Ia menoleh, menatap Lea dengan kesungguhan yang tak berusaha menghakimi. “Aku ingin mengerti, Lea. Bukan untuk menyalahkan. Aku cuma ingin tahu apa yang sudah kamu lalui.” Ada jeda panjang. Lalu Cecil menambahkan, lebih lirih, “Dan apa pun ceritanya… kamu nggak sendirian lagi.” Lea terdiam lama sebelum akhirnya bicara. Tangisnya belum sepenuhnya reda, namun suaranya mulai menemukan bentuk—rapuh, bergetar, tapi jujur. “Ini… semua bermula dari ibuku,” ucapnya lirih. Kepalanya tertunduk, seolah setiap kata terlalu berat untuk ditatap. “Ia terlilit utang. Jumlahnya besar. Dan entah bagaimana… aku yang dijadikan jaminan.” Cecil membeku, namun ia menahan diri untuk tidak memotong. Tangannya menguat di punggung Lea, memberi isyarat agar ia melanjutkan jika sanggup. “Madam Rose,” lanjut Lea, nyaris berbisik. “Dia bilang aku hanya perlu bekerja. Menemani tamu. Duduk, tersenyum, minum bersama mereka. Katanya itu sementara.” Bibir Lea bergetar. “Aku percaya… karena aku nggak punya pilihan lain.” Napasnya tersendat. Air mata kembali jatuh, lebih deras dari sebelumnya. “Tapi semuanya nggak berhenti di situ.” Ia menggeleng pelan, seolah menolak ingatan yang memaksa muncul. "Batas-batas itu… satu per satu dihapus. Sampai akhirnya—” Suaranya patah. Kata-kata itu seperti melukai lidahnya sendiri. “Aku diperlakukan seperti barang,” ucapnya akhirnya, nyaris tanpa suara. “Kesucianku… dijual. Dan malam itu, aku nggak punya kuasa untuk menolak apa pun.” Tangis Lea pecah sepenuhnya. Cecil menariknya ke dalam pelukan tanpa ragu, menahan tubuh yang gemetar itu erat-erat, seolah ingin menjadi perisai dari semua yang pernah merenggutnya. Di dalam dadanya, amarah dan sakit berkelindan hebat. Namun yang lebih kuat dari semuanya adalah satu kepastian sunyi: Lea bukan bersalah. Lea adalah korban. Dan mulai detik ini, ia tak akan membiarkan siapa pun menyentuh atau menghancurkan Lea lagi. Kata-kata Lea mereda menjadi isak yang lelah. Tangisnya tak lagi meledak, hanya tersisa getaran kecil di tubuhnya, seperti sisa badai yang belum sepenuhnya pergi. Dalam pelukan Cecil, napasnya perlahan memanjang, melemah—hingga akhirnya hanya tinggal embusan halus yang teratur. Lea tertidur di sofa itu, masih memeluk jaket Cecil seolah takut kehilangannya. Wajahnya basah oleh air mata, namun untuk pertama kalinya malam itu, alisnya tak lagi berkerut. Tidurnya rapuh, namun nyata—tidur seseorang yang terlalu lama menahan luka. Cecil tak bergerak. Ia membiarkan Lea bersandar padanya beberapa saat sebelum perlahan merapikan posisinya, menyelimutkan tubuh Lea dengan hati-hati. Ia duduk di sisi sofa, menatap wajah yang kini terlelap itu dengan d**a yang terasa sesak. Di dalam diam apartemen yang sunyi, Cecil tahu satu hal dengan pasti: luka Lea mungkin tak akan sembuh dalam semalam. Namun malam ini, setidaknya, Lea bisa beristirahat—tanpa takut, tanpa paksaan, tanpa dunia yang kembali merenggutnya. Cecil baru saja berdiri ketika suara dering memecah keheningan. Bukan ponselnya—melainkan ponsel Lea, yang tergeletak di sisi sofa. Nada itu terdengar asing, tajam, seolah tak peduli pada tidur rapuh yang baru saja Lea temukan. Cecil menoleh. Layarnya menyala. Madam Rose. Nama itu terpampang jelas, berdenyut seirama dengan dering yang terus berulang. Cecil membeku. Pandangannya beralih pada Lea yang masih terlelap, wajahnya damai untuk pertama kalinya malam itu—tanpa tahu bahwa masa lalunya baru saja menemukan alamatnya. Dering itu tak berhenti. Dan Cecil harus memutuskan—mengangkatnya, atau membiarkan masa lalu mengetuk lebih keras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD