Madam Rose memutar kursinya perlahan, lalu duduk dengan anggun. Ia memberi isyarat kecil pada pelayan. Minuman diganti. Gelas kristal beradu pelan, suara yang terdengar terlalu nyaring di telinga Lea.
“Kita luruskan satu hal,” ucap Madam Rose tenang. “Aku tidak tertarik menghancurkan anak orang. Yang kubutuhkan hanyalah… kehadiran.”
Lea menelan ludah. “Kehadiran… seperti apa?”
Madam Rose tersenyum tipis. “Menemani tamu minum. Duduk. Mendengarkan. Tersenyum seperlunya.” Ia menatap Lea lurus-lurus. “Tidak lebih.”
Melinda mendongak cepat. “Benarkah… hanya itu?”
Madam Rose meliriknya singkat. “Aku tidak mengulang aturan dua kali.”
Lea masih berdiri kaku, gaun hitam itu terasa semakin berat. “Kalau saya menolak?” tanyanya lirih, namun jelas.
Madam Rose tidak langsung menjawab. Ia menyesap minumannya, lalu meletakkan gelas dengan hati-hati. “Maka ibumu kehilangan tenggat. Dan kau kembali ke dunia yang tidak akan memaafkan keterlambatan.”
Kalimat itu jatuh tanpa nada ancaman, justru itulah yang membuatnya mengerikan.
Lea memejamkan mata sesaat. Di kepalanya berkelebat wajah-wajah di kampus, bangku kelas, buku-buku yang belum selesai ia baca. Dunia yang tampak aman, dan tiba-tiba terasa rapuh.
“Berapa lama?” tanya Lea akhirnya.
“Satu malam,” jawab Madam Rose cepat. “Kita mulai dari sana.”
Melinda menghela napas lega yang tertahan sejak tadi. “Terima kasih, Madam Rose.”
“Jangan berterima kasih padaku,” potong Madam Rose dingin. “Berterima kasihlah pada anakmu.”
Lea menoleh. Wajah ibunya terlihat pucat, lipstik merah itu kini tampak berlebihan—seperti topeng yang retak.
Seorang pelayan mendekat. “Tamu sudah menunggu di ruang Emerald.”
Madam Rose berdiri. “Baik.”
Ia menoleh pada Lea. “Ingat aturannya. Duduk di sisinya. Minum perlahan. Jangan bertanya lebih dari yang ditanya. Dan... ” ia berhenti sejenak, “jika merasa tidak nyaman, tatap aku. Aku akan tahu.”
Dan namamu disini adalah Arabella."
Lea mengangguk pelan. Entah mengapa, janji itu terdengar seperti satu-satunya pegangan.
Mereka berjalan melewati lorong lain. Musik di ruangan Emerald lebih lembut, lampunya redup kehijauan. Seorang pria berjas abu-abu bangkit saat melihat mereka. Senyumnya sopan, matanya penuh rasa ingin tahu.
“Ini Arabella...” ucap Madam Rose singkat. “Dia yang akan menemanimu minum.”
Pria itu mengangguk hormat. “Senang bertemu.”
Lea duduk. Kursi terasa dingin. Gelas di depannya berkilau, cairan keemasan bergoyang pelan. Ia mengangkatnya, menyesap sedikit, cukup untuk memenuhi aturan.
Percakapan mengalir. Tentang cuaca, tentang bisnis, tentang kota yang tidak pernah tidur. Lea mendengarkan. Sesekali tersenyum. Ia menjawab seperlunya, seperti yang diminta.
Di kejauhan, ia melihat Madam Rose berdiri bersandar, mengamati, bukan sebagai penjaga, melainkan sebagai pemilik panggung. Melinda tidak ada di ruangan itu.
Waktu berjalan aneh. Lambat dan cepat sekaligus. Saat gelas kedua hampir habis, pria itu bangkit. “Terima kasih atas waktunya.”
Madam Rose mengangguk. “Sampai bertemu.”
Lea berdiri dengan kaki sedikit gemetar. Saat pria itu pergi, Madam Rose mendekat.
“Kau melakukannya dengan baik," ucapnya datar.
Lea mengangkat wajah. “Jadi… itu saja?”
“Untuk malam ini.” Madam Rose menatapnya lama. “Kau belajar cepat.”
Lea menarik napas. Namun di baliknya, ada sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat tengkuknya dingin.
“Besok.. kita bicarakan kelanjutannya.”
“Kelanjutan?” suara Lea melemah.
Madam Rose tersenyum kecil. “Jaminan tidak pernah sekali pakai.”
Lampu Emerald meredup sedikit. Musik berganti. Di cermin dinding, Lea melihat pantulan dirinya—masih dengan wajah yang sama, namun mata yang berbeda.
Dan ia tahu, malam ini bukan akhir.
Ini hanya tanda tangan pertama.
Pintu rumah tertutup dengan suara keras.
Lea berdiri beberapa detik di dekat pintu, dadanya naik turun. Rumah itu terasa sempit, seolah udara ikut menghilang bersama langkah mereka. Melinda melempar tas ke sofa. Gerakannya kasar, wajahnya lelah dan tegang.
“Berhenti berdiri seperti itu,” katanya dingin.
“Kamu pikir aku senang melakukan semua ini?” ucap Melinda dengan nada emosi.
Lea mengangkat wajahnya. “Ibu tidak pernah bertanya apa aku mau melakukan hal itu.”
Melinda berbalik cepat. “Karena aku tidak butuh persetujuanmu.”
Kalimat itu membuat Lea terdiam. Jantungnya berdegup keras. “Aku anak ibu, "ucapnya dengan pelan.
Melinda tersenyum sinis. “Dan anak juga harus berguna.”
Lea menggigit bibir. Air mata mulai menggenang. “Jadi… aku cuma alat?”
Melinda mendekat beberapa langkah. “Kalau bukan kamu, siapa lagi? Kamu pikir ada orang yang akan menolong kita dengan cuma-cuma?”
“Aku takut di sana.” suara Lea bergetar. “Aku duduk di samping orang asing. Aku dipaksa tersenyum.”
“Kamu tidak dipaksa,” potong Melinda. “Kamu setuju.”
Lea menggeleng. “Aku setuju karena ibu.”
Melinda menoleh ke arah lain, lalu berkata dengan nada yang lebih tajam. “Kalau aku tidak melakukan itu, kita kehilangan rumah, kamu putus kuliah, dan hidup kita hancur. Apa itu yang kamu mau?”
Lea terdiam. Dadanya terasa sesak. "Sejak kapan ibu memilih jalan ini?” Tanyanya pelan.
Melinda menghela napas kasar. “Sejak aku sadar dunia tidak peduli pada orang lemah.”
Lea menatap ibunya lama. “Kalau suatu hari aku tidak sanggup lagi?”
Melinda menatapnya dingin. “Kamu harus sanggup.”
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diri Lea runtuh. “Berapa lama semua ini akan berlangsung?”
“Sampai utang itu lunas,” jawab Melinda dingin tanpa menatap Lea sedikitpun.
“Dan setelah itu?”
Melinda tidak menjawab. Keheningan itu menjadi jawaban yang paling menyakitkan.
Lea tersenyum pahit. “Madam Rose bilang aku jaminan.”
“Jangan sebut nama wanita itu di rumah ini,” bentak Melinda.
“Kenapa?” Lea memberanikan diri. “Karena ibu berutang padanya?”
Wajah Melinda memerah menahan emosi. “Masuk kamar sekarang juga.”
“Tidak sebelum ibu menjawab satu hal,” ucap Lea. “Kalau aku menolak… ibu akan menghentikannya?”
Melinda membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Lea mengangguk pelan. “Baiklah.. Aku mengerti.”
Ia berjalan menuju kamarnya. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak. “Aku tidak akan melupakan malam ini, "ucapnya lirih.
Pintu kamar itu tak dibuka kembali.
Di dalam, Lea menangis hingga lelahnya mengalahkan suara.
Di luar, Melinda duduk sendirian, tangannya terlipat rapi di pangkuan—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menghancurkan sesuatu.
Malam merambat tanpa saksi.
Tak ada permintaan maaf. Tak ada panggilan nama.
Hanya satu hal yang pasti:
ketika pagi datang,
tak akan ada lagi percakapan yang bisa mengubah keputusan semalam.