Jaminan

1282 Words
Rumah itu menyambut Lea dengan sunyi yang aneh. Tidak ada suara televisi. Tidak ada aroma masakan. Hanya pintu yang tertutup rapat dan udara panas yang terjebak di balik dinding-dinding yang kusam. Lea melangkah masuk perlahan. Sepatunya dilepas dan ditata dengan rapi. Kebiasaan lama yang entah kenapa masih ia lakukan, seolah kerapian kecil bisa menunda sesuatu yang buruk. “Bu… aku pulang,” ucapnya dengan sedikit berteriak. Namun hanya sepi. Tak ada jawaban. Jam di dinding menunjukkan pukul dua lewat dua puluh. Masih ada waktu. Lea masuk ke dalam kamarnya. Tas ia letakkan di atas kasur, lalu duduk di tepinya. Tangannya gemetar saat membuka kancing seragam kampus. Bukan karena lelah, melainkan karena perasaan yang menggerogoti dadanya sejak pagi. Ingat jam tiga sore. Bukan permintaan. Bukan ajakan. Melainkan sebuah perintah. Lea berganti pakaian seadanya. Kemeja lengan panjang warna pucat dan celana kain yang sudah agak kebesaran. Ia menatap bayangannya di cermin, wajah muda yang terlalu sering memikul beban orang dewasa. “Aku cuma ikut ketemu,” gumamnya pelan. “Cuma sebentar.” Namun suaranya sendiri terdengar tidak yakin. Pintu kamar terbuka dari luar. Lea tersentak. Melinda masuk dengan langkah cepat. Wajahnya rapi, lipstik merah menyala, dan parfum menyengat yang jarang ia pakai kecuali saat ingin terlihat “meyakinkan”. “Kamu sudah siap?” tanya Melinda tanpa basa-basi. Lea berdiri. “Siap… ke mana, Bu?” Melinda menatapnya singkat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ada kerutan tidak puas di dahinya. “Ganti jaket. Jangan kelihatan seperti anak kampung.” Kalimat itu menusuk, tapi Lea tidak membantah. Ia meraih jaket tipis, lalu mengikuti ibunya keluar rumah. Mereka berjalan berdampingan tanpa saling bicara. Jarak di antara mereka terasa lebih lebar dari trotoar yang mereka lewati. “Bu…” Lea akhirnya memberanikan diri. “Teman ibu itu… sebenarnya siapa?” Melinda berhenti sejenak. Menoleh, lalu tersenyum sesaat. Senyum penuh kepalsuan yang membuat perut Lea terasa mual. “Orang penting,” jawabnya singkat. "Orang yang bisa bantu kita keluar dari masalah.” “Kita?” ulang Lea lirih. “Iya,” sahut Melinda cepat. “Kamu dan ibu. Mereka naik taksi. Lea duduk kaku, menatap jalanan yang berlalu. Toko-toko, lampu lalu lintas, orang-orang yang tertawa. Semuanya tampak jauh, seperti dunia lain yang tidak lagi bisa ia sentuh. Taksi berhenti di Pusat Kota. Sebuah bangunan yang menjulang tinggi. Di depannya yang dikelilingi lampu yang berkilau. Dentuman musik yang sangat keras terdengar dari balik dinding tebal. Sebuah papan nama elegan menyala di atas pintu, Madam Rose Club. Lea menelan ludah. “Bu… ini...” “Club,” potong Melinda cepat. “Tenang saja.” Dua pria berjas hitam membuka pintu. Aroma parfum mahal bercampur asap tipis dan musik mengalir keluar. Interiornya gelap namun mewah, lampu merah keunguan, sofa beludru, dan kilau kristal di langit-langit. Jam dinding di dekat bar menunjukkan pukul tiga lewat lima menit. Seorang wanita berdiri di tengah ruangan VIP, seolah panggung memang diciptakan untuknya. Gaunnya hitam berpotongan tegas, senyumnya tenang dan penuh kuasa. “Melinda,” sapa wanita itu ringan. “Akhirnya kau datang juga.” Melinda menunduk sedikit. “Maaf menunggu, Madam Rose.” Lea membeku menatap Madam Rose. Tatapan Madam Rose beralih padanya. Tajam, menilai, lalu berhenti sejenak di mata Lea. “Ini putrimu?” “Iya,” jawab Melinda cepat. “Lea ... Eleanor Arabella." Madam Rose melangkah mendekat, sepatu haknya nyaris tak bersuara. Ia tersenyum tipis. “Cantik. Terlalu polos untuk tempat seperti ini.” Lea ingin membantah, namun kata-katanya hanya menguap di tenggorokan. “Bawa dia ke belakang,” ujar Madam Rose pada seorang pelayan. “Dan ...” tatapannya kembali ke Lea, “Ganti bajunya. Yang pantas.” Jantung Lea berdegup keras. “Ganti… baju?” ucap Lea terbata. Otaknya seolah tidak mampu untuk mengartikan ucapan Madam Rose. Madam Rose mengangguk ringan. “Tenang. Tidak vulgar. Elegan. Di sini, kesan adalah segalanya.” Melinda menatap Lea tajam. “Turuti saja ucapan Madam Rose.” Langkah Lea menuju lorong belakang terasa berat. Musik di luar meredam pikirannya, sementara di ruang kecil beraroma parfum mahal, sebuah gaun hitam sudah tergantung rapi dengan bahu terbuka, potongan sederhana, namun tegas. Saat Lea kembali ke ruang VIP, Madam Rose mengamatinya lama. “Sekarang ... kau terlihat seperti seseorang yang siap memasuki dunia baru.” Madam Rose berdiri terlalu dekat. Jarak yang seharusnya membuat Lea mundur, justru membuat dadanya berdebar tak karuan. Madam Rose tidak langsung berbicara. Ia hanya memutar tubuh sedikit, mengambil gelas kristal di meja, lalu menyesap minumannya perlahan. Tatapannya tetap melekat pada Lea. Seolah sedang menilai barang berharga yang baru saja dipoles. “Kau tahu.. " ucapnya dengan suaranya tenang namun tajam. "Kesalahan paling umum orang tua adalah mengira anak mereka terlalu lemah untuk dunia seperti ini.” Lea menegang. Tangannya terkepal di sisi gaun hitam yang terasa asing di kulitnya. Melinda tersenyum kaku. “Lea anak yang penurut, Madam Rose. Dia hanya perlu… diarahkan.” Madam Rose terkekeh pelan. “Penurut atau terpaksa?” Senyum Melinda mengeras. “Kami tidak punya banyak pilihan.” Lea menatap ibunya. Dadanya terasa sesak. “Pilihan?” suaranya bergetar. “Jadi ini… pilihan ibu?” Melinda menoleh tajam. “Jangan bersuara seperti itu. Kamu tidak tahu seberapa besar masalah yang kita hadapi.” “Kita?” ulang Lea lirih. “Atau ibu?” Madam Rose melangkah mendekat, berdiri di antara mereka. Kehadirannya seperti dinding tak kasat mata yang memisahkan ibu dan anak itu. “Tenang... " katanya lembut, namun nada itu justru membuat Lea semakin takut. “Tidak ada yang dipaksa di sini. Semua yang terjadi selalu atas dasar… kesepakatan.” Ia menatap Lea lurus. “Dan kesepakatan terbaik selalu dibuat oleh orang yang paham nilainya sendiri.” “Apa nilai saya?” tanya Lea spontan, suaranya nyaris pecah. Madam Rose tersenyum. “Itu yang sedang kita bicarakan.” Melinda melangkah maju. “Madam Rose, kami sepakat dengan syaratnya. Lea hanya perlu ... " “Diam... ” potong Madam Rose ringan, tanpa menaikkan suara. Melinda terdiam seketika. Lea terkejut. Untuk pertama kalinya, ia melihat ibunya bungkam dan tak berdaya di hadapan wanita ini. Madam Rose menoleh pada Lea. “Aku tidak menyukai transaksi yang dipenuhi kebohongan,” katanya pelan. “Anak ini belum tahu apa yang kau janjikan atas namanya.” Melinda menelan ludah. “Aku hanya... melindunginya.” “Tidak,” sahut Madam Rose dingin. “Kau menyelamatkan dirimu sendiri.” Kata-kata itu menghantam Lea lebih keras dari tamparan. “Bu…?” bisiknya. Melinda memalingkan wajah. “Kalau bukan begini, kita kehilangan segalanya.” “Dan kalau begini?” tanya Lea, air matanya mulai menggenang. “Apa yang akan hilang dariku?” Madam Rose memperhatikan momen itu dengan mata tajam—bukan tanpa empati, tapi penuh perhitungan “Kepolosan,” jawabnya jujur. “Keamanan. Dan ilusi bahwa dunia ini adil.” Ia mendekat, menurunkan suaranya. “Sebagai gantinya, kau akan mendapatkan kekuatan. Uang. Kendali. Hal-hal yang ibumu gagal pertahankan.” Lea menggigit bibir. Dadanya naik turun. “Aku tidak ingin ini, "ucapnya lemah. Madam Rose mengangguk, seolah sudah menduga. “Tak ada yang ingin masuk ke dunia malam dengan sadar. Mereka hanya terlalu takut untuk menolak.” Ia menoleh pada Melinda. “Dan orang-orang sepertimu… menggunakan ketakutan itu sebagai mata uang.” Melinda menutup mata sejenak. Bahunya bergetar, namun ia tetap berdiri. “Aku ibunya,” ucapnya lirih. “Aku berhak menentukan.” Madam Rose tersenyum tipis. “Di luar sana, mungkin. Tapi di sini... ” ia mengetukkan kukunya ke meja kristal, “Aku yang memegang kendali.” Sunyi menyelimuti ruangan. Lea berdiri di antara dua wanita yang sama-sama memegang hidupnya. Satunya yang melahirkannya, Dan yang lain siap membentuknya kembali. Dan untuk pertama kalinya, Lea menyadari sesuatu yang membuatnya menggigil: Ia bukan tamu di tempat ini. Ia bukan pilihan Ia adalah jaminan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD