Di antara Ujian dan Jam Tiga Sore

1081 Words
Pagi datang tanpa permisi... Cahaya matahari menyusup melalui celah jendela yang tirainya sudah lama pudar, menyentuh wajah Lea yang pucat. Ia terbangun dengan kepala berat, seolah semalam tak hanya tidurnya yang direnggut, tetapi juga ketenangannya. Detak jam dinding terdengar terlalu keras, berdetak seperti hitungan mundur yang kejam. Hari ujian... Hari yang seharusnya penting. Hari yang selama ini ia persiapkan dengan begadang, catatan penuh coretan, dan doa-doa kecil yang ia bisikkan diam-diam sebelum tidur. Namun pagi ini, semua itu terasa hambar—seperti mimpi yang tak lagi memiliki arti. Lea bangkit perlahan dari kasur sempitnya. Kakinya menyentuh lantai dingin, membuatnya menggigil. Ia meraih seragam kampus yang tergantung rapi di balik pintu. Menatapnya lama, seolah benda itu bisa memberinya kekuatan. “Aku masih punya ujian. Aku masih punya hak atas mimpiku,” bisiknya pada diri sendiri. Memberi semangat namun entahlah semangatnya akan bertahan sampai kapan. Di luar kamar, suara piring beradu terdengar singkat. Melinda sudah bangun lebih dulu. Selalu begitu, ibunya jarang tidur nyenyak bukan karena memikirkan anaknya, melainkan karena pikirannya tak pernah lepas dari uang dan ambisi. Lea keluar dari kamar. Dapur tampak sederhana, nyaris kosong. Melinda berdiri membelakanginya, menuang kopi hitam ke dalam cangkir. Tidak ada sapaan pagi. Tidak ada senyum. Hanya jarak yang semakin lebar di antara mereka. “Aku berangkat ujian dulu, Bu,” ucap Lea pelan. Melinda menoleh sekilas. Tatapannya dingin dan menusuk. “Ingat jam tiga sore,” katanya singkat. “Jangan membuatku menunggu.” Lea mengangguk. Ia tahu, perlawanan hanya akan memperburuk situasi. Ia meraih tasnya, lalu melangkah keluar rumah tanpa menoleh lagi. Udara pagi terasa lembap. Jalanan mulai ramai oleh orang-orang yang berangkat bekerja, oleh tawa pelajar, oleh kehidupan yang terus berjalan seolah tak peduli pada badai yang berkecamuk di dadanya. Lea berjalan cepat, menahan air mata yang mengancam jatuh. Di dalam bus, ia membuka buku catatan. Huruf dan angkah menari di depan mata, tak mau fokus. Kepalanya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berputar. Teman ibunya macam apa yang harus kutemui sore nanti? Ia menutup buku catatan itu. Menarik napas panjang. “Fokus,” katanya dalam hati. “Setidaknya pagi ini… biarkan aku menjadi diriku sendiri.” Sekitar empat puluh menit kemudian, Lea memasuki area kampus. Menatap bangunan tinggi itu dengan menghela nafas panjangnya. Seolah baru saja lolos dari sebuah pertempuran kecil. “Tumben agak siangan datangnya?” Sebuah suara menyapanya. Lea menoleh. Cecil sudah berdiri di sana, menyandarkan tubuhnya di pilar gedung, dengan raut wajah penuh rasa ingin tahu. Sahabatnya itu selalu peka pada perubahan kecil, bahkan pada hal-hal yang coba Lea sembunyikan. “Macet di jalan atau di rumah?” lanjut Cecil, menyipitkan mata, setengah bercanda namun sarat makna. Lea tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya. Ia mengalungkan tas ke bahu, lalu berjalan pelan mendekati Cecil. “Dua-duanya,” jawabnya singkat. Jakarta lagi senang bikin orang sabar hari ini.” Cecil terkekeh kecil, tapi tawanya mereda saat melihat ekspresi Lea yang lelah. “Kamu kenapa, Le? Kelihatan capek banget. Biasanya juga macet, tapi nggak sampai bikin muka kamu kayak habis begadang semalaman.” Lea terdiam sejenak. Pandangannya menerawang ke arah halaman kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa lain. Ia ingin bercerita, ingin mengeluh, tapi kata-kata itu seolah tersangkut di tenggorokan. “Nanti aja ceritanya. Kepalaku lagi penuh,” ucapnya akhirnya. Cecil mengangguk paham. Ia menepuk bahu Lea pelan. “Ya sudah. Kita ke kelas dulu. Jangan sampai dosen killer itu datang duluan.” Lea mengangguk, lalu melangkah berdampingan dengan Cecil menuju gedung perkuliahan. Di balik langkahnya yang terlihat tenang, Lea tahu satu hal pasti. Kampus mungkin memberinya jarak dari rumah, tapi tidak pernah benar-benar membebaskannya dari beban yang ia bawa sejak pagi. Eh, katanya hari ini ada putra pemilik yayasan dari pusat yang mau berkunjung," ucap Cecil dengan nada dibuat - buat penuh sensasi. “Katanya sih… tampan. Dan hot banget.” Lea menoleh, alisnya terangkat. “Hot? Maksudmu gimana?” ucap Lea dengan nada penuh kebingungan. Cecil refleks mencondongkan tubuhnya, suaranya diturunkan. “Husshhtt… jangan keras-keras. Katanya dia itu pemain wanita. Pasti ....” Cecil menyeringai penuh makna." ... panas juga permainannya di ranjang.” Plak! Sebuah buku mendarat tepat di lengan Cecil. Lea mendengus kesal. “Ngaco kamu. Sok tahu amat. Emangnya kamu tahu hot dari mana? Kamu aja juga belum pernah ngerasain,” ledek Lea sambil tertawa mengejek. Cecil berpura-pura meringis, lalu nyengir lagi. “Aku sih rela bin ngarep kalau bisa sama yang hot kayak gitu. Pasti permainannya ...” Belum sempat Cecil menyelesaikan kalimatnya, Lea sudah berdiri dan berbalik pergi. Ia melangkah cepat menuju ruang kelas. Ujian akan segera dimulai, dan ia tak punya waktu untuk mendengarkan omong kosong sahabatnya. Memasuki kelas, Lea disambut dengan hiruk-pikuk khas hari ujian. Wajah-wajah tegang, bisikan rumus, dan langkah-langkah tergesa. Lea duduk di bangkunya, menatap lembar soal yang dibagikan dosen. Tangannya gemetar saat memegang pulpen. Soal pertama ia jawab dengan ragu, soal kedua sedikit lebih lancar. Perlahan, pikirannya mulai teralihkan. Semua yang ia pelajari seperti kembali padanya seakan ilmu itu menolak pergi, menolak menyerah bersama nasibnya. Waktu berjalan. Detik demi detik. Namun di sela fokus itu, bayangan wajah ibunya menyelinap. Nada dingin itu. Kata-kata tentang “Tugas perempuan itu hanya menyenangkan suaminya. Dan untuk itu, pendidikan tinggi tidak ada gunanya.” Tentang pendidikan yang tidak lagi penting bagi dirinya. Dadanya kembali sesak. Bel tanda akhir ujian berbunyi. Lea menatap lembar jawabannya lama, lalu menyerahkannya dengan perasaan campur aduk—lega, takut, dan hampa sekaligus. Di luar ruang ujian, teman-temannya tertawa kecil, membahas soal. Lea hanya tersenyum tipis, lalu pamit. Ia tidak ingin ditanya. Tidak ingin dikasihani. "Lea.. makan dulu yuk.. laper," ucap Cecil yang mengejarnya. "Sorry.. aku harus pergi. Ada janji dengan ibuku," ucapnya dengan ekspresi menyesal. "Aku buru-buru. Bye ..." Lea berlari meninggalkan Cecil sendirian. Cecil hanya bisa menatap punggung Lea yang semakin jauh meninggalkannya. Pukul menunjukkan hampir jam dua. Lea berdiri di halte, menatap langit siang yang terlalu cerah untuk perasaannya yang gelap. Tangannya menggenggam tali tas erat-erat, seolah itu satu-satunya pegangan yang ia miliki. “Jam tiga sore,” gumam Lea, mengunci waktu itu di kepalanya. Ia berjalan pulang dengan langkah ringan yang menipu, masih menyimpan keyakinan kecil bahwa segalanya akan baik-baik saja. Ia tak tahu bahwa keyakinan itu adalah kemewahan terakhir yang ia miliki. Di suatu tempat, seseorang telah duduk menunggu. Sebuah keputusan hampir diucapkan. Dan sebuah nama siap dilepaskan dari identitasnya. Di bawah matahari yang terlihat biasa, sore itu takdir bergerak tanpa suara dan saat jarum jam menyentuh angka tiga, Lea tidak sedang pulang ke rumah, melainkan melangkah menuju hidup yang tak pernah ia pilih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD