Tanggung Jawab Atau Kendali

1263 Words
Lea melangkah masuk ke dalam rumah yang tenggelam dalam gelap. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi lirih, nyaris tak berniat mengganggu siapa pun, terrmasuk dirinya sendiri. Langkahnya tertatih setiap pijakan terasa seperti hukuman kecil yang terlambat ia sadari. Tumitnya berdenyut nyeri, disiksa oleh high heels yang sejak awal lebih peduli pada penampilan daripada belas kasihan. Ia berhenti di tengah ruang tamu, membiarkan gelap memeluk tubuhnya. Udara dingin merayap, membawa aroma debu dan kesunyian yang akrab. Lea tak menyalakan lampu. Cahaya hanya akan memaksanya terlihat baik-baik saja, sementara malam ini ia tak ingin berbohong. Dengan gerakan lelah, ia melepaskan sepatu itu, membiarkannya jatuh ke lantai seperti melepas peran yang sepanjang hari ia mainkan. Saat Lea melangkah ke ruang tengah, cahaya lampu tiba-tiba menyala, menyergapnya tanpa aba-aba. Gelap yang tadi setia menutupinya runtuh seketika, meninggalkan tubuhnya telanjang di hadapan terang. Lea tersentak, jantungnya berdegup lebih cepat, seolah rahasia-rahasia kecil di dadanya ikut tersulut oleh nyala itu. Di sofa, Melinda telah duduk menunggu. Punggungnya tegak, tangan terlipat rapi, namun sorot matanya tajam, dingin, penuh perhitungan. Tatapan itu menancap pada Lea, tak berkedip, seperti sedang menimbang kesalahan yang belum sempat diucapkan. "Kenapa lama sekali?” tanyanya, suaranya lembut namun beracun. Sudut bibirnya terangkat, membentuk smirk tipis yang tak pernah sampai ke mata. “Apa kau lupa jalan untuk pulang?” Ia memiringkan kepala, menatap Lea seolah sedang mengamati sesuatu yang cacat. “Atau…” jedanya panjang, disengaja, “…kau terlalu menikmati peranmu di sana?” Tatapan Melinda menancap tajam, menelusuri wajah Lea yang pucat, pakaian yang masih rapi namun menyimpan kelelahan. Senyum itu tetap bertahan bukan senyum seseorang yang menunggu jawaban, melainkan milik orang yang sudah lebih dulu memutuskan kesalahan apa yang akan ia tuduhkan. “Itu bukan urusan ibu,” jawabnya singkat, dingin, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Melinda. Nada suaranya seperti pintu yang ditutup perlahan, rapat, tanpa ruang untuk disusupi. Melinda berdiri dari sofa. Gerakannya tegas, nyaris menghantam udara. Tumitnya menghentak lantai saat ia melangkah mendekat, sorot matanya mengeras, menembus punggung Lea yang kaku. “Selama kamu masih di rumahku,” ucapnya, menekan tiap kata, “kamu adalah tanggung jawabku.” Lea mengembuskan napas pelan, seolah menahan sesuatu yang berdesak di dadanya. Ia berbalik. Tatapan mereka bertubrukan, api dengan api. “Tanggung jawab?” Lea terkekeh hambar. “Atau kendali, Bu?” Wajah Melinda menegang. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya berdenyut. “Jangan ajari aku makna kata itu. Aku memberimu atap, makan, dan nama baik.” “Dan sebagai gantinya?” Lea melangkah maju setengah langkah. “Aku harus diam? Menunduk? Mengorbankan hidupku agar ibu merasa berkuasa?” Kata berkuasa jatuh seperti tamparan tak terlihat. Melinda mendesis, matanya berkilat. “Kau tidak tahu apa-apa. Dunia di luar sana tidak ramah pada gadis sepertimu.” “Lebih tidak ramah lagi tinggal di tempat yang mengekang,” balas Lea cepat, suaranya bergetar antara marah dan luka. “Ibu menyebut ini perlindungan, tapi rasanya seperti penjara.” Keheningan membeku. Detik-detik menggantung berat di udara. Melinda mengangkat tangannya, ragu sepersekian detik, lalu kemarahan menguasai. Plak. Bunyi itu pecah di ruang tengah. Lea terhuyung, pipinya memanas, matanya berkaca-kaca. Ia tak menangis. Hanya menatap Melinda dengan tatapan yang retak bukan oleh sakit, melainkan oleh kekecewaan yang tak lagi bisa disembuhkan. “Mulai hari ini... ,” suara Lea rendah, patah namun teguh, “aku akan memilih jalan hidupku sendiri.” Melinda tidak mundur. Justru langkahnya makin mendekat, seolah ingin menelan jarak yang tersisa di antara mereka. Wajahnya mengeras, bukan lagi wajah seorang ibu, melainkan seseorang yang tak terbiasa dibantah. “Kau kira setelah bicara seperti itu semuanya selesai?” suaranya dingin, berlapis ancaman. “Jangan lupa satu hal, Lea. Segala yang kau miliki sekarang, sekolahmu, uangmu, bahkan nama yang kau bawa ituu semua dariku.” Lea menelan ludah. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kuku menekan telapak hingga nyeri. Namun ia tak berpaling. “Aku bisa mencabutnya kapan saja,” lanjut Melinda, lebih pelan, lebih kejam. “Satu kata dariku, dan dunia yang kau impikan itu akan menutup pintunya rapat-rapat. Kau akan tahu rasanya berdiri sendirian, tanpa siapa pun.” Melinda mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di depan wajah Lea. “Jangan paksa aku menunjukkan betapa kecilnya dirimu tanpa perlindunganku.” Dada Lea naik turun. Ada ketakutan yang merayap, namun di baliknya tumbuh sesuatu yang lain. Sesuatu yang keras dan pahit. “Ancaman tidak akan membuatku kembali tunduk, Bu,” ucapnya lirih, suaranya bergetar namun tidak runtuh. “Itu hanya membuktikan bahwa ibu takut kehilangan kendali.” Tamparan kedua nyaris terjadi. Tangan Melinda terangkat, gemetar lalu berhenti di udara. Matanya menyipit, senyum tipis yang berbahaya terukir di bibirnya. “Kita lihat saja,” katanya dingin. “Berapa lama keberanianmu bertahan saat aku mulai bertindak.” Melinda berbalik, meninggalkan Lea berdiri sendiri di tengah ruang. Namun ancaman itu tidak ikut pergi. Ia menetap di udara, di dinding, dan di d**a Lea menjadi bayang-bayang panjang dari perang yang baru saja dimulai. Lea tidak menjawab. Bibirnya bergetar, napasnya tercekat oleh sesuatu yang terlalu penuh untuk diucapkan. Ia berbalik, langkahnya tergesa namun tertahan, seolah setiap pijakan menuntut keberanian yang tersisa. Begitu pintu kamarnya tertutup, dunia runtuh. Tubuhnya meluncur turun menyusuri daun pintu, hingga ia terduduk di lantai. Isak itu pecah bukan keras, melainkan tertahan, seperti tangis yang terlalu lama disembunyikan. Tangannya menutup mulut, menekan suara agar tak lolos keluar, seolah rumah ini masih punya telinga. Air mata mengalir deras, membakar pipinya yang masih terasa perih. Lea memeluk lututnya, membungkuk, bahunya terguncang. Dalam gelap kamar, keberanian yang tadi ia pamerkan luruh menjadi serpihan kecil. “Capek…” bisiknya pada dirinya sendiri. Satu kata yang memuat segalanya. Ia menangisi mimpi yang selalu ditawar dengan ancaman, menangisi rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, namun berubah menjadi medan perang. Di balik dinding itu, Melinda mungkin masih berdiri dengan egonya; di dalam kamar ini, Lea hanya gadis yang ingin dimengerti. Tangisnya pelan-pelan mereda, berganti dengus napas yang patah. Lea menyeka air mata dengan punggung tangan. Di balik luka yang menganga, ada tekad yang mulai mengeras kecil, rapuh, namun nyata. Ia bangkit perlahan, menyandarkan punggung ke ranjang. Mata merahnya menatap langit-langit, kosong namun penuh janji yang belum ia ucapkan. Melinda berdiri kaku di ruang tengah. Sunyi kali ini terasa berbeda bukan sekadar sepi, melainkan tekanan yang menekan dadanya perlahan. Lorong menuju kamar Lea tampak seperti mulut gelap yang menelan sesuatu dari dirinya. “Sejak kapan kau berani menatapku seperti itu…?” gumamnya lirih. Tangannya bergetar saat ia meraih sandaran sofa. Bukan marah yang mendominasi, melainkan sesuatu yang lebih asing takut. Keberanian Lea tadi bukan keberanian kosong. Ada tekad di sana. Dan itulah yang membuat Melinda merasa terancam. “Tidak,” bisiknya cepat, seolah menolak pikiran itu. “Itu hanya emosi sesaat.” Namun pantulan di kaca jendela membantahnya. Wajahnya sendiri tampak terusik. Retak. Seolah untuk pertama kalinya, kekuasaannya tidak sepenuhnya utuh. Jika Lea bisa berkata tidak hari ini, maka besok ia bisa pergi. Jika ia berani melawan, maka semua yang selama ini Melinda bangun aturan, kendali, rasa aman palsunbisa runtuh. “Aku yang memegang arahmu,” ucapnya tegas, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku yang menentukan batas.” Nada itu terdengar dipaksakan. Melinda menelan ludah, dadanya sesak oleh bayangan kehilangan bukan kehilangan seorang anak, melainkan kehilangan posisi, peran, dan kendali yang selama ini membuatnya merasa berkuasa. Keberanian Lea adalah celah. Dan celah selalu berbahaya. Melinda memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemetar di dadanya. “Aku tidak boleh lengah,” gumamnya. “Sekali saja aku melemah, kau akan lepas.” Saat matanya terbuka kembali, sorot itu berubah lebih waspada, lebih berhitung. Bukan lagi kemarahan yang membara, melainkan ketakutan yang telah menemukan bentuknya. Dan dari ketakutan itulah, keputusan-keputusan paling kejam biasanya lahir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD