Tamu di Ardent Lounge

1230 Words
Ponsel Lea berdering nyaring, memecah kesunyian kamar sempit yang nyaris tak menyisakan ruang untuk bernapas. Getarannya terasa berlebihan di tangannya. Di layar, sebuah nama menyala—nama yang selama ini menjadi sumber ketakutannya, menekan dadanya sebelum ia sempat menarik napas. Madam Rose Sebuah nama yang sanggup meruntuhkan paginya yang hangat, mengganti cahaya dengan dingin, dan ketenangan dengan rasa cemas yang perlahan merayap, tanpa suara. Lea terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menggeser layar itu. “Ya…” suaranya keluar lirih, seolah takut terdengar oleh dirinya sendiri. “Datang ke Ardent Lounge.” Suara Madam Rose menyusup dari seberang, tenang dan dingin, tanpa ruang untuk penolakan. “Aku sedang menerima tamu. Dia ingin bertemu denganmu.” Jantung Lea berdegup lebih cepat. Ujung jarinya mengeras mencengkeram ponsel. “Sekarang?” tanyanya, meski ia sudah tahu jawabannya. “Sekarang,” ulang Madam Rose singkat. “Jangan membuatku menunggu. Dan jangan membuat tamuku kecewa.” Nada itu menutup semua kemungkinan. Sambungan terputus begitu saja. Lea menatap layar yang telah menggelap. Kamar sempit itu terasa semakin pengap, seakan dinding-dindingnya mendekat perlahan. Pagi yang tadi hangat kini lenyap, tergantikan oleh firasat buruk. Ia tahu, panggilan itu bukan sekadar undangan, melainkan panggilan takdir yang tak bisa ia tolak. Lea beranjak dari ranjang dengan gerakan pelan, seolah tubuhnya ikut menimbang keputusan yang tak pernah benar-benar ia miliki. Kakinya menyentuh lantai dingin, dan rasa itu menjalar naik, menyadarkannya bahwa waktu tak akan menunggu. Ia membersihkan diri sekadarnya, membasuh wajah yang masih menyisakan sisa hangat pagi yang kini telah mati. Di cermin kecil yang menggantung miring, Lea menatap pantulan dirinya sendiri—mata yang terlalu waspada untuk seseorang yang belum sepenuhnya terjaga. Ia merapikan rambut, memilih pakaian sederhana namun rapi. Tidak mencolok. Tidak memberi celah untuk dibaca. Sebelum pergi, langkahnya terhenti. Melinda. Nama itu melintas begitu saja, namun cukup untuk membuat dadanya menegang. Lea mengambil tasnya, lalu melangkah keluar kamar. Di ruang depan, Melinda sudah ada di sana, duduk dengan postur santai yang terasa dibuat-buat. Senyumnya terangkat ketika melihat Lea, terlalu cepat, terlalu siap. “Mau pergi pagi-pagi begini?” tanya Melinda ringan, seakan tak ada apa pun yang perlu dicurigai. Lea mengangguk singkat. “Ada urusan.” Tatapan Melinda menyapu Lea dari ujung kepala hingga kaki, sekilas saja—namun cukup tajam untuk disadari. “Urusan dengan Madam Rose?” Nada suaranya terdengar biasa, tapi pertanyaan itu jatuh terlalu tepat. Lea membeku sesaat. Ia tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan rapi. “Ibu selalu suka menebak.” Melinda terkekeh kecil, namun matanya tak ikut tersenyum. “Aku hanya penasaran.” Lea melangkah mendekat ke pintu. Ada sesuatu yang mengganjal, sebuah rasa tak nyaman yang sulit ia beri nama. Cara Melinda menatapnya, cara ia tahu terlalu banyak, terlalu cepat. Seolah panggilan itu bukan hanya sampai ke satu ponsel. Perjalanan terasa lebih panjang dari biasanya. Lea duduk diam sepanjang jalan, menatap keluar jendela mobil yang memantulkan bayangannya sendiri—wajah yang tenang di luar, namun penuh riuh di dalam. Ardent Lounge menjulang dengan kemewahan yang dingin, seolah berdiri terpisah dari dunia pagi yang baru saja ia tinggalkan. Begitu melangkah masuk, aroma mahal dan cahaya temaram langsung menyambutnya. Seorang staf menuntunnya tanpa banyak bicara, melewati lorong sunyi hingga ke sebuah ruangan privat. Madam Rose sudah menunggu. Perempuan itu duduk anggun di sofa, kaki disilangkan, jemarinya bertumpu santai di sandaran. Senyumnya terangkat saat melihat Lea—senyum tipis yang tak pernah benar-benar ramah. “Kau datang tepat waktu,” ujarnya, suaranya halus namun penuh kendali. Lea menunduk singkat. “Madam memanggil saya.” Madam Rose berdiri, mendekat perlahan, menatap Lea seolah sedang menilai sebuah barang berharga. “Bukan dengan penampilan itu.” Ia memberi isyarat pada pintu kecil di sisi ruangan. “Ganti baju. Aku sudah menyiapkannya.” Lea mengerutkan kening. “Untuk apa?” “Untuk tamu yang akan kau temui,” jawab Madam Rose singkat. “Mereka punya selera. Dan aku tak ingin kesan pertama yang keliru.” Tak ada ruang untuk membantah. Lea melangkah ke ruang ganti dengan perasaan tak nyaman yang semakin menebal. Di dalam, sebuah gaun telah tergantung rapi—indah, mahal, dan terasa asing di matanya. Ia menyentuh kain itu dengan ujung jari, lalu menghela napas pelan. Lea menatap pantulan dirinya di cermin ruang ganti itu lebih lama dari yang ia sadari. Gaun tersebut melekat sempurna di tubuhnya—terlalu sempurna hingga terasa salah. Potongannya menyingkap lebih banyak daripada yang biasa ia perlihatkan, membuatnya merasa seakan bukan dirinya sendiri yang berdiri di sana, melainkan sosok lain yang asing dan rapuh. Ia menarik ujung kainnya, seolah berharap bisa menutup rasa tak nyaman yang menjalar di kulit. Napasnya terasa sempit. Ada rasa terpapar yang membuat dadanya sesak, seperti setiap sudut ruangan itu sedang mengamatinya tanpa suara. “Ini bukan aku,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. Namun cermin tak memberi jawaban. Hanya menampilkan seorang perempuan yang dipoles sesuai keinginan orang lain. Lea memejamkan mata sejenak, menguatkan diri. Ia tahu, ketidaknyamanan ini bukan sekadar soal pakaian—melainkan tentang bagaimana kendali atas tubuh dan pilihannya kembali direnggut, pelan tapi pasti. Dengan langkah ragu, ia meraih gagang pintu. Apa pun yang menantinya di luar, ia harus menghadapinya dengan perasaan yang belum juga ia menangkan. Lea akhirnya membuka pintu dan melangkah keluar. Cahaya ruang privat itu menyentuhnya pelan, seakan ikut menilai. Madam Rose menoleh—lalu tatapannya berhenti. Ada jeda singkat sebelum senyum itu terbit. Bukan senyum ramah, melainkan senyum puas. Bangga. “Lihat,” ujar Madam Rose pelan, matanya berkilat. “Kau selalu tampak sempurna jika mau menurut.” Lea menelan ludah. Tangannya refleks merapatkan kain di dadanya. “Aku tidak nyaman dengan ini,” katanya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. “Gaunnya terlalu... ” “... Terlalu tepat,” potong Madam Rose ringan. Ia melangkah mendekat, membetulkan sedikit posisi bahu Lea, seolah merapikan properti. “Ketidaknyamananmu bukan hal yang perlu dibahas.” Lea mundur setengah langkah. “Setidaknya dengarkan aku... ” Madam Rose sudah berbalik, mengambil ponselnya, seakan keluhan itu tak pernah ada. "Tamu kita menunggu,” katanya singkat. “Dan kau tidak boleh mengecewakan.” Kata-kata itu jatuh seperti palu. Lea terdiam. Protesnya menguap di udara, tak pernah sampai ke siapa pun. Di balik senyum bangga Madam Rose, ia kembali menyadari posisinya—sebuah peran yang harus dimainkan, dengan tubuhnya sebagai kostum, dan diam sebagai satu-satunya pilihan. Lea melangkah mengikuti Madam Rose melewati lorong panjang yang diselimuti cahaya temaram. Setiap langkah terasa berat, seolah gaun yang dikenakannya menahan kakinya untuk maju. Denting hak sepatunya bergema lirih, beradu dengan degup jantungnya yang kian tak beraturan. Pintu besar di ujung lorong terbuka perlahan. Madam Rose melangkah lebih dulu, lalu berhenti di sisi pintu. “Masuk,” ujarnya singkat. Lea menarik napas, lalu melangkah masuk. Dan seketika, langkahnya terhenti. Wajahnya memucat saat pandangannya bertabrakan dengan sosok yang duduk santai di dalam ruangan itu. Tubuhnya menegang, napasnya tercekat. Dunia seolah menyempit hanya pada satu titik—pada tamu yang sama sekali tak ia duga akan ditemuinya di tempat ini. “Alex…?” Suaranya nyaris tak keluar. Tatapan itu terangkat, bertemu dengan mata Lea. Ada ekspresi sulit dibaca, disusul dengan senyuman tipis penuh arti. Di belakangnya, Madam Rose tersenyum kecil, puas melihat reaksi itu. “Sepertinya kalian sudah saling mengenal,” ucapnya ringan, seakan tengah menyaksikan adegan yang telah lama ia rencanakan. Lea menggenggam jemarinya sendiri, berusaha tetap berdiri tegak. Kini ia mengerti—panggilan ini, gaun itu, dan keheningan Madam Rose sejak tadi bukan kebetulan. Ini jebakan. Dan ia baru saja melangkah tepat ke tengahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD