Claim Mutlak Sang Pewaris

1935 Words
Pintu kayu mahoni itu masih bergetar hebat pada engselnya, menyisakan gema hantaman yang baru saja membelah kesunyian ruangan. Di ambang pintu, Alex berdiri tegak. Ekspresinya tampak begitu tenang—sebuah ketenangan absolut yang justru menjadi pertanda akan datangnya badai mematikan. Matanya yang tajam bak elang segera memindai pemandangan memuakkan di atas meja kaca: Danu yang tampak kacau, dan Lea yang tergeletak lemas. Gaun merah gadis itu koyak, menyisakan jejak basah alkohol yang beraroma tajam. ​Danu tersedak oleh ludahnya sendiri. Nyalinya menciut seketika. Ia buru-buru melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Lea, mencoba merapikan kemejanya dengan gerakan kikuk yang menyedihkan. ​"A-Alex? Kau... apa yang kau lakukan di sini?" Suara Danu mencicit. Wibawa sang dosen yang beberapa saat lalu tampak perkasa kini menguap tak berbekas. ​Alex tak bergeming. Ia melangkah masuk dengan langkah santai namun pasti. Setiap ketukan pantofelnya di lantai marmer terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi karier Danu. Ia berhenti tepat di depan meja, menatap Lea sejenak. Ada amarah yang berkilat di sana, namun terselip pula kepuasan gelap saat melihat pemandangan di depannya. ​"Aku tidak menyangka, Pak Dosen," Alex akhirnya bersuara. Nadanya rendah, halus, namun mengandung ancaman. "Ternyata 'pelajaran tambahan' yang kau berikan jauh lebih mahal daripada biaya kuliah di kampusku. Menggunakan meja kaca klub sebagai papan tulis, hm?" ​"Alex, dengar, ini tidak seperti yang kau lihat! Gadis ini... dia yang menggodaku!" ​PLAK! ​Satu tamparan keras mendarat di wajah Danu hingga pria itu tersungkur ke lantai. Alex mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, mengusap tangannya dengan gestur jijik seolah baru saja menyentuh onggokan sampah. ​"Jangan berbohong padaku, Danu. Aku pemilik yayasan tempatmu mencari makan," bisik Alex sambil berjongkok, mencengkeram kerah baju Danu hingga pria itu kesulitan bernapas. "Aku ingin tahu seberapa munafik pria yang tadi siang mengusir 'milikku' dari kelasnya atas nama moralitas, sementara malam ini kau justru menjilat wiski dari kulitnya." ​Di atas meja, Lea terisak. Ia mencoba menutupi tubuhnya dengan sisa kain gaun yang basah dan dingin. Tubuhnya menggigil hebat—bukan hanya karena alkohol, tapi karena kesadaran pahit bahwa ia hanyalah bidak dalam permainan kekuasaan dua pria ini. ​Alex bangkit, mengabaikan Danu yang memohon-mohon di lantai. Ia mendekati Lea, lalu melepaskan jas hitamnya yang mahal dan menyampirkannya ke bahu gadis itu. Aroma parfum kayu cendana milik Alex seketika membungkus Lea, mengusir bau wiski yang memuakkan. ​"Bangun, Arabella," perintah Alex. Suaranya tidak lagi kasar, tapi penuh dengan kepemilikan yang mutlak. ​Lea mendongak dengan mata sembab. "K-kau... kau tahu aku di sini?" ​Alex tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang kejam. "Aku tahu segalanya tentangmu, Arabella. Dan sekarang kau punya dua pilihan." ​Alex menunjuk ke arah Danu yang masih bersimpuh. ​​"Pilihan pertama: Kau keluar dari sini, melaporkannya, dan aku akan memastikan beasiswamu tetap hilang karena semua orang sudah percaya kau adalah p*****r. Kau akan hancur bersama pecundang ini." Alex menjeda, matanya mengunci manik mata Lea." "Pilihan kedua: Kau ikut denganku sekarang. Aku akan mengurus pengunduran diri Pak Danu, dan jejakmu di klub ini akan kuhapus selamanya. Tapi harganya... kau tahu sendiri." ​Sesuatu di dalam diri Lea patah. Mengingat penghinaan di kelas tadi siang dan perlakuan Danu malam ini, ia merasa tak punya jalan pulang. Ia meraih tangan Alex, membiarkan pria itu menariknya dari meja kaca yang licin. ​"Bawa aku pergi dari sini," bisik Lea tanpa nyawa. ​Alex merangkul pinggang Lea dengan protektif, menuntunnya keluar melewati Danu yang hancur. Sebelum benar-benar keluar, Alex berhenti sebentar dan menoleh ke arah Danu. ​"Besok pagi, pastikan mejamu sudah kosong, Danu. Dan jangan pernah berani menatapnya lagi jika kau masih ingin melihat matahari." Baru saja Alex merangkul pinggang Lea untuk keluar, pintu ruangan itu tertahan. Madam Rose berdiri di sana. Wajahnya datar, tanpa emosi, dengan tatapan sedingin es yang menunjukkan bahwa ia tidak terkesan dengan kekuasaan Alex. ​"Tuan Alex," suara Madam Rose tenang namun sangat tajam. "Kau tidak bisa membawa 'aset' utamaku tanpa prosedur. Di sini, aturan tetap aturan." Madam Rose menatap Lea dengan mata yang hampa, seolah sedang melihat benda mati. "Kalaupun kau menginginkannya, kau harus membookingnya seperti tamu yang lainnya. Tidak ada pengecualian. Kau harus bersabar seperti yang lain, Alex. Kau harus mengantre." ​"Jika kau membawanya sekarang," Madam Rose berujar tanpa nada, tatapannya beralih dari Lea ke wajah Alex yang kaku. "Maka besok pagi, seluruh jajaran direksi yayasan kampusmu akan menerima kiriman menarik. Foto-foto pemilik yayasan yang terhormat sedang menjemput 'perempuan malam' di ruang VVIP klubku." ​Madam Rose melangkah satu titik lebih dekat, suaranya merendah namun tajam seperti sembilu. ​"Dunia pendidikan sangat sensitif, Tuan Alex. Bagaimana jadinya jika pewaris utama mereka ternyata adalah pria yang tergila-gila dengan perempuan malam sampai harus membuat keributan di tempat sampah seperti ini? Kau mungkin punya uang, tapi kau tidak bisa membeli kembali martabat yayasanmu yang akan hancur jika skandal ini meledak." ​Wajah Alex mengeras. Aura di sekelilingnya mendadak membeku, bukan karena takut pada ancaman itu, melainkan karena Madam Rose baru saja menyentuh harga diri kekuasaannya. ​"Kau berani mengancam posisiku untuk sesuatu yang sudah aku klaim?" desis Alex. Alex melepaskan cengkeraman tangannya dari pinggul Lea, lalu melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Madam Rose. Ketegangan di antara mereka begitu pekat, seolah satu percikan saja bisa meledakkan seluruh ruangan itu. ​"Kau bermain api, Rose," desis Alex, suaranya rendah namun bergetar oleh amarah yang tertahan. "Kau pikir yayasan itu adalah hidupku? Aku bisa menutup kampus itu besok pagi dan membangun kasino di atas tanahnya jika aku mau. Jangan pernah merasa kau punya kartu as untuk melawanku." ​Madam Rose tidak mundur setapak pun. Ia justru tersenyum tipis, sebuah seringai dingin yang penuh ejekan. "Oh, aku tahu kau bisa menghancurkan kampusnya, Alex. Tapi bisakah kau menghancurkan ego Tuan Besar di keluargamu? Jika berita ini sampai ke telinga ayahmu—bahwa putranya yang paling berbakat sedang bertukar air liur dengan p*****r kelas teri di bawah lampu remang-remang—kursi pewarismu akan goyah dalam semalam." ​"Tutup mulutmu!" Alex mencengkeram rahang Madam Rose dengan satu tangan, memaksa wanita itu mendongak. "Kau hanya seorang mucikari yang merasa punya kuasa karena memegang rahasia pria-pria lemah. Namun, aku bukan salah satu dari mereka." ​"Kalau begitu buktikan," sahut Madam Rose dengan napas yang tercekik namun matanya tetap tajam. "Lepaskan gadis itu. Biarkan dia melayani tamu yang sudah membookingnya untuk sisa malam ini, dan aku akan menghapus semua file itu. Jadilah pria bisnis yang logis, Tuan Alex. Jangan biarkan nafsumu menghancurkan pencapaianmu selama ini." Alex menatap Madam Rose dengan kebencian yang membeku. Ia tidak berniat membeli gedung ini atau bernegosiasi panjang lebar. Baginya, ini hanyalah masalah angka dan kepemilikan sementara yang mutlak. ​"Kau ingin aku mengantre?" suara Alex rendah, nyaris seperti bisikan yang mematikan. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, menekan beberapa digit dengan gerakan yang sangat tenang. ​"Cek rekening pribadimu, Rose. Sekarang." ​Madam Rose merogoh saku gaunnya dan mengeluarkan ponsel. Matanya yang dingin tidak berubah, namun alisnya sedikit terangkat saat melihat notifikasi transfer yang masuk. Angka yang tertera di sana sangat tidak masuk akal—bahkan untuk seorang 'Bintang Utama' di klub VVIP. ​"Itu untuk dua puluh empat jam ke depan," ucap Alex tanpa nada. "Aku baru saja menyewa seluruh waktunya, seluruh tubuhnya, dan setiap napasnya untuk satu hari penuh. Tanpa gangguan, tanpa tamu lain, dan tanpa aturan bodohmu." ​ Madam Rose menyimpan ponselnya kembali, wajahnya kembali datar seperti porselen. "Harga yang sangat murah hati untuk sebuah obsesi, Tuan Alex." Ia menyingkir dari ambang pintu, memberikan jalan dengan gerakan tangan yang kaku. "Dia milikmu sampai matahari terbenam besok. Pastikan kau mengembalikannya dalam keadaan... utuh, jika itu memungkinkan." Alex melemparkan tatapan terakhir yang mematikan sebelum menarik Lea keluar dari ruangan pengap itu. ​Lea hanya bisa pasrah, kakinya terasa berat saat Alex menuntunnya melewati lorong-lorong klub yang remang menuju lobi pribadi. Di luar, sebuah Bentley hitam sudah menunggu dengan mesin yang halus. Alex membukakan pintu, mendorong Lea masuk ke dalam kabin yang beraroma kulit mewah dan kayu cendana, lalu duduk di sampingnya dengan aura yang masih mendingin. Di dalam mobil yang melaju membelah malam, keheningan terasa mencekam. Alex tidak menoleh sedikit pun pada Lea yang masih menggigil di balik jas besarnya. Ia meraih sebuah botol air mineral dari console box, membukanya dengan bunyi klik yang tajam, lalu menyodorkannya. ​"Minum," perintah Alex singkat. "Aku tidak ingin kau pingsan dan merusak malamku." ​Lea menerimanya dengan tangan gemetar. Rasa haus yang membakar akibat wiski paksa dari Danu membuatnya meminum air itu hingga separuh botol. Ia tidak tahu bahwa air jernih itu telah dicampur dengan substansi kimia cair yang didesain khusus untuk meruntuhkan dinding pertahanan mental dan memicu saraf sensorik hingga ke titik tertinggi. ​Sepuluh menit berlalu. Mansion megah milik Alex yang terisolasi di atas perbukitan mulai terlihat. Bersamaan dengan itu, Lea merasakan gelombang panas yang tidak wajar merambat dari perut bawahnya. Napasnya mulai pendek, dan setiap helai kain kemeja yang ia kenakan terasa seperti sentuhan api yang membakar kulitnya yang mendadak menjadi sangat sensitif. Begitu mereka memasuki kamar utama yang luas, Alex melepaskan jasnya dan membiarkannya jatuh ke lantai. Ia memperhatikan Lea yang kini mulai gelisah, jemari gadis itu meremas kain jas Alex yang masih tersampir di bahunya. ​"Alex... panas... kenapa ruangan ini begitu panas?" bisik Lea. Suaranya tidak lagi bergetar karena takut, melainkan mulai terdengar serak, lembut, dan mendayu. ​Alex mendekat, menatap bagaimana wajah Lea merona hebat dan matanya mulai berkabut. "Itu adalah harga yang harus kau bayar karena telah membuatku mengeluarkan banyak uang malam ini, Arabella." ​Alex duduk di tepi ranjang, memerhatikan Lea yang mulai meliukkan tubuhnya dengan gerakan halus di atas sprei sutra. Logika Lea telah lumpuh; yang tersisa hanyalah tubuh yang menuntut sentuhan pria di hadapannya. ​"Kau terlihat menyedihkan," desis Alex dingin sambil mencengkeram dagu Lea, memaksa gadis itu menatap matanya yang gelap. "Tapi tubuhmu tidak bisa berbohong. Kau menginginkan ini lebih dari apa pun sekarang." Tanpa aba-aba, Alex menarik Lea ke dalam pelukannya dan menyatukan tubuh mereka dalam satu dorongan yang dalam dan penuh kuasa. Tubuh Lea tersentak hebat, kepalanya tertelentang ke belakang dengan mata terpejam rapat saat sensasi yang memenuhi rongga tubuhnya meledak seketika. ​"Ahhh... hhh... Alex... mmmph... penuh... rasanya begitu penuh..." ​Suara Lea pecah menjadi desahan-desahan halus yang sangat sensual. Ia tidak lagi pasif; kedua kaki Lea melingkar erat di pinggang Alex, menarik pria itu lebih dalam, menuntut lebih banyak hantaman gairah yang sedang melumat habis sisa martabatnya. ​"Hhh... nghhh... mmm... Lihat dirimu, Arabella... kau begitu indah saat menyerah dan hancur seperti ini," erang Alex rendah. Suaranya yang dingin kini terdengar parau, bergetar hebat di telinga Lea. ​Alex memacu ritmenya dengan intensitas yang brutal. Lea tidak lagi melawan; ia membalas setiap dorongan dengan liukan pinggul yang provokatif, mengeluarkan lenguhan panjang yang sangat dalam, "Nghhh-ahhh-aaaaahhh..." Malam itu seolah tidak memiliki ujung. Di bawah cahaya lampu temaram yang memantul di dinding kamar, Alex terus memacu ritmenya dengan d******i yang mutlak, seolah sedang menghukum Lea sekaligus memujanya dalam satu waktu. Setiap sentakannya adalah proklamasi kepemilikan, dan setiap desahan Lea adalah pengakuan atas kekalahan martabatnya. "Katakan padaku, Arabella," bisik Alex, suaranya serak dan berbahaya di ceruk leher Lea. "Siapa yang memilikimu malam ini? Apakah dosen pengecut itu? Atau klub murah milik Rose?" ​Lea tidak bisa berpikir. Efek zat kimia itu membuat kesadarannya melayang, hanya menyisakan rasa lapar akan sentuhan Alex. Ia mencengkeram sprei sutra hingga buku-buku jarinya memutih. "Kau... nghh... hanya kau, Alex... ahhh!" ​Mendengar pengakuan itu, Alex semakin kehilangan kendali. Ia membalikkan tubuh Lea, menekannya ke atas kasur dengan posisi yang lebih intimidatif. Ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Lea di atas kepala, mengunci pergerakan gadis itu sepenuhnya. ​"Bagus," geram Alex. "Karena aku sudah membayar mahal untuk setiap jengkal kulitmu malam ini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD