Gosip Lebih Tajam dari Pisau

2253 Words
Udara di dalam kamar itu terasa makin menipis, pengap oleh aroma keringat dan gairah yang tidak mengenal batas. Alex tidak membiarkan Lea memiliki sedetik pun untuk mengumpulkan kewarasannya. Cahaya pagi yang semakin terang menyinari setiap detail pergulatan mereka di atas ranjang yang kini sudah tidak lagi berbentuk. Alex mencengkeram rahang Lea, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang gelap dan penuh kilat obsesi. Ia tidak memberikan ruang napas, setiap gerakannya adalah intimidasi yang nyata. ​"Katakan padaku, Arabella," geram Alex, napasnya yang panas menerpa wajah Lea. "Setelah semua yang kulakukan semalam, setelah aku merenggutmu dari meja kaca itu... apakah kau masih merasa punya harga diri di hadapanku?" ​Lea mencoba memalingkan wajah, namun cengkeraman Alex pada rahangnya mengeras. "Kau... kau hanya ingin menghancurkanku, Alex... Nghhh!" ​Jeritan kecil tertahan di tenggorokan Lea saat Alex tiba-tiba menarik kedua kakinya dan melingkarkannya erat ke pinggang tegapnya, lalu melakukan penyatuan yang lebih dalam dan bertenaga dari sebelumnya. Tubuh Lea tersentak hebat, matanya terbelalak saat merasakan setiap inci dari Alex mengisi kekosongan di dalam dirinya dengan cara yang begitu dominan. ​"Aku tidak menghancurkanmu," bisik Alex parau, suaranya bergetar di telinga Lea yang memerah. "Aku sedang membentukmu kembali sebagai milikku. Kau adalah mahakarya yang kubeli dengan harga sangat mahal, dan aku berniat menikmatinya sampai ke tetes terakhir." Lea mencengkeram lengan Alex yang berurat, kukunya menekan dalam saat Alex memacu ritmenya tanpa ampun. "Ahhh! Alex... pelan... hhh... kumohon..." ​"Kau tidak benar-benar menginginkanku pelan, bukan?" Alex menyeringai kejam, merasakan bagaimana tubuh Lea menjepitnya dengan erat sebagai reaksi alami terhadap stimulasi yang ia berikan. "Lihat bagaimana tubuhmu menyambutku. Kau memintaku berhenti dengan mulutmu, tapi pinggulmu terus bergerak menuntut lebih. Katakan yang sejujurnya, Arabella!" ​"Nghhh... tidak... ahhh... ya! Aku... aku menginginkanmu... Alex!" teriak Lea akhirnya, air matanya jatuh saat ia menyerah pada sensasi yang melumpuhkan logikanya. Mendengar pengakuan itu, kendali Alex runtuh sepenuhnya. Ia memacu gerakannya dengan brutal dan penuh tenaga, seolah ingin mematri namanya ke dalam jiwa Lea melalui setiap hantaman yang ia berikan. Ranjang itu berderit keras mengikuti irama yang tak terkendali. ​Lea melenguh panjang, kepalanya tertelentang ke belakang dengan punggung yang melengkung tajam. Dunia di sekitarnya seolah meledak menjadi jutaan kepingan cahaya saat ia mencapai puncak yang menyiksa sekaligus memabukkan. Di saat yang sama, Alex mengerang rendah, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Lea saat ia memberikan segalanya, mengunci tubuh gadis itu dalam pelukan yang nyaris meremukkan tulang. ​"Kau milikku," napas Alex memburu, berat dan panas di kulit Lea yang basah. "Ingat itu, Arabella. Sampai kapan pun, kau tidak akan pernah bisa lepas dari bayang-bayang pagi ini." Keheningan yang datang setelah badai itu terasa jauh lebih menyakitkan bagi Lea. Suara napas Alex yang berat dan perlahan mulai teratur di ceruk lehernya menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi kamar luas itu. Perlahan, Alex melepaskan beban tubuhnya, namun tetap membiarkan lengannya yang kokoh mengunci pinggang Lea, seolah mengingatkan bahwa pelarian adalah hal yang mustahil. Seiring dengan detak jantungnya yang melambat, kabut zat kimia dan adrenalin yang tadi menguasai otak Lea mulai menguap. Realita menghantamnya seperti air es yang disiramkan ke seluruh tubuh. Lea menatap kosong ke langit-langit kamar. Kata-katanya sendiri tadi terus terngiang, berputar-putar seperti ejekan yang kejam. “Ya! Aku... aku menginginkanmu... Alex!” ​Wajahnya yang semula merona karena gairah kini berubah menjadi pucat pasi. Ia baru saja mengakui keinginan pada pria yang telah membelinya, pria yang secara sistematis menghancurkan hidupnya demi sebuah obsesi. Ia merasa mual pada dirinya sendiri. Tangannya yang gemetar perlahan meraba sprei yang basah dan robek, berusaha menutupi tubuhnya yang penuh jejak kemerahan. Alex bangkit, duduk di tepi ranjang dengan punggung tegap tanpa cela. Ia melirik Lea melalui bahunya, matanya kembali dingin dan penuh perhitungan, seolah pria yang baru saja mengerang liar itu telah menghilang. ​"Kenapa diam, Arabella?" tanya Alex, suaranya kembali datar namun tajam. "Baru beberapa menit yang lalu kau memohon padaku dengan sangat manis. Sekarang kau menatap langit-langit seolah kau adalah martir yang sedang disiksa." ​Lea menarik napas gemetar, suaranya serak. "Kau... kau menggunakan obat itu padaku. Itu bukan aku, Alex. Itu hanya... reaksi kimia." ​Alex terkekeh, sebuah tawa kering yang meremehkan. Ia berbalik sepenuhnya, menumpukan sikunya di lutut dan menatap Lea dengan intensitas yang membuat Lea ingin menghilang ke dalam bumi. ​"Obat itu hanya meruntuhkan dinding pertahananmu, Lea. Ia tidak menciptakan keinginan yang tidak ada," desis Alex sambil menyentuh pipi Lea dengan jarinya yang dingin. "Apa yang kau katakan tadi adalah kebenaran yang selama ini kau sembunyikan di balik topeng mahasiswi teladanmu. Kau membenciku, tapi kau haus akan sentuhanku. Bukankah itu sebuah ironi yang indah?" Lea memejamkan mata erat-erat, air mata mengalir dari sudut matanya, membasahi bantal sutra. Ia merasa kotor, bukan hanya karena apa yang dilakukan Alex padanya, tapi karena bagian dari dirinya—bagian primitif yang tak bisa ia kendalikan—ternyata menikmati penaklukan itu. ​"Aku membencimu," bisik Lea dengan suara pecah. ​"Benci dan gairah itu hanya berbeda tipis, Arabella," sahut Alex bangkit dari ranjang, tidak terpengaruh sedikit pun. "Sekarang, bersihkan dirimu. Kita punya jadwal di kampus. Aku ingin melihat bagaimana kau menatap teman-temanmu dengan rahasia yang kita simpan di bawah pakaianmu ini." Langkah Lea di koridor kampus terasa sangat berat. Meskipun ia mengenakan sweter berleher tinggi untuk menyembunyikan "tanda" yang ditinggalkan Alex, ia merasa seolah-olah seluruh kulitnya sedang terbakar. Berita tentang pengunduran diri Danu yang mendadak telah menyebar seperti api di atas bensin, namun alih-alih meredakan situasi, hal itu justru memicu spekulasi yang lebih liar dan berbahaya. Di tengah lobi fakultas, sekelompok mahasiswa berkumpul di depan papan pengumuman. Begitu Lea melintas, suara bisik-bisik yang semula gaduh mendadak sunyi, digantikan oleh tatapan-tatapan tajam yang penuh penghakiman. ​"Lihat, si 'bintang utama' sudah datang," sindir salah satu mahasiswi dengan suara yang cukup keras untuk didengar Lea. ​"Kalian dengar tidak? Pak Danu mengundurkan diri karena diancam oleh Pak Alex," sahut yang lain, sambil menunjukkan layar ponselnya. "Katanya Alex memergoki mereka di klub, lalu menggunakan kekuasaannya untuk menendang Pak Danu supaya dia bisa memiliki Lea sendirian. Jadi sebenarnya, Lea itu bukan korban, dia cuma pindah tangan ke penawar yang lebih tinggi." ​Lea mempercepat langkahnya, jantungnya berdegup kencang. 'Pindah tangan'. Kata-kata itu menghujam jantungnya. Kebenaran yang diputarbalikkan oleh Alex ternyata menciptakan monster baru yang lebih mengerikan. Saat Lea masuk ke ruang kelas, suasana terasa mencekam. Di kursi paling depan, Maya—saingan beasiswa Lea—berdiri dengan senyum sinis. ​"Hebat ya, Lea. Tidak kusangka cara mempertahankan beasiswamu adalah dengan merangkak di bawah meja pemilik yayasan," cetus Maya di depan semua orang. "Pak Danu memang b******k, tapi setidaknya dia tidak punya kuasa untuk membungkam kita semua. Berapa harga yang dipasang Pak Alex untuk mulut bungkammu, Lea? Atau haruskah aku tanya, berapa ronde yang kau berikan untuk surat pengunduran diri Pak Danu?" ​"Tutup mulutmu, Maya!" suara Lea bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. ​"Kenapa? Takut rahasiamu terbongkar?" Maya melangkah maju, suaranya merendah namun tajam. "Semua orang tahu Pak Alex masuk ke club setelah Pak Danu masuk semalam. Dan pagi ini, Pak Danu menghilang seperti ditelan bumi. Kau pikir kami bodoh? Kau menggunakan tubuhmu untuk menghancurkan karier orang lain agar kau tetap terlihat suci." ​Lea melarikan diri ke kamar mandi, mencoba membasuh wajahnya yang memucat. Namun, di sana ia justru terpojok. Maya dan dua temannya masuk, langsung mengunci pintu dari dalam. ​Maya menyeringai, menatap pantulan wajah Lea di cermin dengan jijik. "Tadi malam pasti sangat sibuk ya, Lea? Menjilat wiski dari meja, lalu menjilat sepatu Pak Alex agar namamu bersih?" ​"Aku tidak melakukan itu, Maya! Aku korban!" teriak Lea, suaranya pecah. ​"Korban? Korban tidak pulang dengan mobil Bentley pribadi pemilik yayasan, Lea," Maya melangkah maju, mendorong bahu Lea hingga punggungnya menghantam tembok yang dingin. "Seluruh kampus tahu Pak Danu hancur karena kau 'melayani' Alex dengan sangat baik sampai pria itu mau membereskan sampahmu. Kau bukan korban. Kau adalah p*****r kelas atas yang sedang bermain peran sebagai mahasiswi yang polos." ​Maya tertawa sinis, matanya berkilat penuh kebencian. "Semua orang membicarakanmu, Lea. Tentang bagaimana kau mendesah di bawah Pak Alex hanya supaya beasiswamu tetap aman. Pak Danu kehilangan segalanya karena napsu sesaat padamu, sementara kau? Kau malah mendapatkan 'perlindungan' dari penguasa. Berapa harga tubuhmu, Lea? Apakah cukup untuk membangun gedung perpustakaan baru?" Lea terisak, menutupi telinganya dengan tangan. Namun, kata-kata Maya tetap menembus pertahanannya. Ia teringat kembali bagaimana tadi pagi ia menyerah pada sentuhan Alex, bagaimana ia mengakui bahwa ia menginginkan pria itu. ​Semua gosip itu... meski diputarbalikkan, ada bagian pahit yang terasa benar. Ia memang berada di bawah kuasa Alex. Ia memang telah 'dijual'. ​"Kau tahu apa yang paling menjijikkan?" Maya berbisik tepat di telinga Lea. "Bahkan jika namamu bersih secara hukum, baumu tetap bau p*****r. Dan kami semua bisa menciumnya setiap kali kau lewat." Maya dan kawan-kawannya keluar dengan tawa yang menggema di dinding toilet yang dingin, meninggalkan Lea yang merosot ke lantai marmer. Ia memeluk lututnya, berusaha meredam isak tangis yang mulai menyakitkan dadanya. Kata-kata Maya seperti belati yang dikuliti satu per satu ke harga dirinya. ​Bau p*****r. Lea mengendus lengannya sendiri secara impulsif. Yang tercium hanyalah aroma maskulin kayu cendana yang mahal—aroma Alex. Tapi justru itu yang membuatnya merasa mual. Aroma itu adalah rantai yang kasat mata. Lea berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya untuk berdiri. Jemarinya yang gemetar merapikan sweter leher tingginya, memastikan tak ada satu inci pun kulit yang memperlihatkan dosa yang dipaksakan Alex padanya. Namun, saat ia melangkah keluar dari kamar mandi, lorong kampus yang biasanya terasa seperti rumah kini berubah menjadi arena eksekusi. Langkah Lea terhenti seketika. Di ujung lorong, sekelompok mahasiswa yang dulu sering belajar bersamanya di perpustakaan—teman-teman yang ia kira adalah tempat amannya—sedang berdiri melingkar. Begitu melihat Lea, tawa mereka pecah, jenis tawa yang kering dan penuh racun. ​"Eh, lihat. Sang 'Mahakarya' sudah keluar dari persembunyiannya," sindir Rian, pria yang dulu pernah meminjamkan catatan kuliahnya pada Lea. Kini, tatapannya hanya berisi penghinaan. ​"Bagaimana rasanya, Lea?" tanya Shinta, teman sebangkunya selama dua semester terakhir. Ia melangkah mendekat, memutar-mutar botol air mineral di tangannya. "Kami dengar Alex tidak hanya memberimu perlindungan, tapi juga 'uang saku' yang sangat besar. Pantas saja kau tiba-tiba bisa masuk ke mobil mewah itu. Ternyata harga diri bisa ditukar dengan kenyamanan, ya?" ​"Aku tidak... kalian tidak mengerti," suara Lea parau, hampir tidak terdengar. ​"Tidak mengerti apa? Bahwa kau membiarkan Pak Danu hancur demi menyelamatkan dirimu sendiri?" Rian maju selangkah, mengintimidasi. "Kami semua berjuang mati-matian untuk nilai dan beasiswa, sementara kau hanya butuh satu malam di atas meja kaca untuk mengamankan semuanya. Kau membuat kami semua terlihat bodoh!" ​Tiba-tiba, Shinta menyiramkan sedikit air dari botolnya ke arah sepatu Lea. "Bersihkan dirimu, Lea. Kau bau kemunafikan. Kau bilang kau benci orang-orang yang menggunakan kekuasaan, tapi nyatanya kau adalah orang pertama yang berlutut di depan kekuasaan itu." ​"Aku tidak punya pilihan!" teriak Lea, air mata kembali tumpah. ​"Pilihan itu selalu ada, Lea. Kau hanya memilih yang paling empuk bagi pinggulmu," sahut suara lain dari belakang kelompok itu. ​Mereka mulai mengerumuninya, melemparkan kata-kata pedas seperti batu yang menghantam jiwanya. Lea merasa sesak, dinding-dinding lorong itu seolah menghimpitnya. Setiap pasang mata yang menatapnya adalah cermin yang memantulkan sosok p*****r yang baru saja dituduhkan padanya. Lea berdiri terpaku, dikelilingi oleh tatapan-tatapan yang menghakimi. Namun, Rian tidak puas hanya dengan kata-kata. Pria itu melangkah maju, mempersempit jarak hingga Lea bisa merasakan napas Rian yang berbau kopi pahit. ​"Kenapa kau gemetar, Lea?" tanya Rian dengan nada rendah yang licik. Matanya menyusuri tubuh Lea dari atas ke bawah, seolah sedang menilai barang dagangan. "Tadi malam kau pasti sangat berani, kan? Kenapa sekarang pura-pura suci?" ​Tanpa peringatan, Rian mengulurkan tangannya yang kasar. Ia mencengkeram tengkuk Lea, memaksa gadis itu mendekat hingga wajah mereka hampir bersentuhan. Lea tersentak, tangannya berusaha mendorong d**a Rian, namun pria itu jauh lebih kuat. ​"Lepaskan aku, Rian! Apa yang kau lakukan?!" jerit Lea tertahan. ​"Aku hanya penasaran," bisik Rian, tangannya yang lain dengan lancang meraba kerah sweater tinggi Lea, lalu menariknya dengan kasar hingga jahitan kain itu koyak. "Apa yang membuat Alex sampai tergila-gila padamu? Apakah kulitmu memang semahal itu?" ​Rian dengan sengaja menyentuh kulit leher Lea yang terbuka, tepat di atas bekas kemerahan yang ditinggalkan Alex tadi pagi. Ujung jarinya menekan bekas itu dengan kasar, membuat Lea memekik kesakitan. ​"Ah! Sakit!" ​"Oh, lihat ini!" Rian tertawa keras, memamerkan tanda itu kepada teman-temannya yang lain. "Tanda kepemilikan. Kau benar-benar sudah ditandai seperti binatang ternak, Lea. Jika kau mau melayani pria tua seperti Danu atau monster seperti Alex, kenapa kau tidak melayani teman-teman lamamu saja? Kami mungkin tidak punya Bentley, tapi kami bisa memberimu 'pelajaran' yang lebih berkesan." ​Rian merunduk, mencoba mencium paksa ceruk leher Lea. Bau keringat Rian membuat Lea mual, sangat kontras dengan aroma cendana Alex yang mahal namun tetap menjeratnya. ​"Jangan sentuh aku!" Lea berhasil menyentakkan tubuhnya dan mendaratkan tamparan keras di pipi Rian. ​Lorong itu serasa menahan napas. Rian menoleh ke arah suara klakson yang panjang dan dingin. Sebuah mobil hitam mengilap berhenti tepat di depan gerbang, lampunya menyala silau, seolah sengaja menantang siapa pun yang berdiri di sana. Pintu belakang terbuka perlahan. Kerumunan spontan mundur satu langkah. Sosok di dalam mobil belum terlihat jelas—hanya sepatu kulit mahal yang menyentuh lantai, lalu bayangan tinggi yang turun dengan tenang, penuh kendali. Rian menegang. Rahangnya mengeras, bukan karena marah… melainkan karena pengenalan yang tak terbantahkan. Suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. “Aku harap,” ucap suara rendah dan dingin itu, “kau belum menyentuh milikku.” Rian menelan ludah. Dan sebelum siapa pun sempat berbalik— nama itu disebutkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD