"P-Pak Alex..." Rian tergagap, wajahnya yang tadi penuh amarah kini pucat pasi. Ia mundur dua langkah hingga punggungnya menabrak pilar gedung. "Saya... saya tidak bermaksud... saya hanya..."
Alex tidak membalas sapaan itu. Ia berhenti tepat di samping Lea, matanya yang sedingin es menyapu wajah Lea yang masih syok, sebelum akhirnya terkunci pada Rian. Alex melingkarkan lengannya di pinggang Lea—sebuah gerakan yang tenang namun penuh klaim kepemilikan. Aroma cendana yang mewah segera menyapu indra penciuman Lea, menenangkan rasa mualnya.
"Kau punya keberanian yang besar, Anak Muda," ujar Alex datar. Suaranya rendah, namun bergema di lorong yang sunyi itu. "Atau mungkin kau hanya terlalu bodoh untuk menyadari posisi siapa yang sedang kau usik."
Lutut Rian tampak melemas. Ia menundukkan kepala sedalam-dalamnya, tidak berani membalas tatapan pria yang memegang kendali atas masa depan karier dan hidupnya itu. "Maaf, Pak. Saya khilaf. Saya benar-benar tidak tahu kalau Lea—maksud saya, Nona Lea—adalah..."
"Adalah milikku?" potong Alex dengan nada tajam yang membuat Rian tersentak kaget.
Alex mengeluarkan sapu tangan sutra dari saku jasnya. Dengan gerakan perlahan dan penuh perhatian, ia menyeka leher Lea yang tadi sempat didekati Rian, seolah sedang menghapus noda menjijikkan dari sana.
"Pergilah dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran untuk tidak menghancurkanmu malam ini juga," ucap Alex tanpa nada.
Tanpa perlu perintah kedua, Rian berbalik dan lari setengah tersandung menuju kegelapan lorong, meninggalkan kerumunan yang masih terpaku melihat kekuasaan mutlak seorang Alex.
Alex kemudian menunduk, menatap Lea dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Masuk ke mobil, Arabella. Kita perlu bicara."
Pintu mobil ditutup dengan dentuman berat yang seolah memutus akses Lea ke dunia luar. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa mencekam. Aroma cendana yang biasanya menjadi favorit Lea kini terasa menyesakkan, seolah setiap partikel udara di sana milik Alex.
Alex duduk tegak di sampingnya, matanya lurus menatap jalanan kampus yang mulai menjauh melalui kaca jendela. Rahangnya yang terkatup rapat mengisyaratkan badai yang siap pecah kapan saja.
"Sejak kapan kau membiarkan sampah seperti dia mendekatimu di kampus?" tanya Alex. Suaranya rendah, tanpa emosi, namun sanggup membuat Lea menggigil.
"Aku tidak membiarkannya, Alex. Dia hanya teman seangkatan yang terus menggangguku setelah kelas berakhir—"
"Teman seangkatan?" Alex terkekeh sinis, suara yang lebih terdengar seperti geraman predator. Ia menoleh perlahan, menatap Lea dengan mata yang menyipit tajam. "Anak itu tidak akan punya nyali untuk mengejarmu sampai ke parkiran jika kau tidak memberinya harapan. Berapa kali kau duduk bersamanya di kantin? Atau kau sengaja membiarkannya mendekat supaya aku melihatnya?"
Lea terbelalak. Rasa panas menjalar di pipinya karena marah dan rasa tidak percaya. "Apa yang kau katakan? Dia baru saja hampir menciumku paksa, dan kau malah menyalahkanku?"
Alex condong ke arahnya, mempersempit ruang di kursi belakang mobil hingga Lea terdesak ke pintu. Ia mencengkeram dagu Lea dengan jari-jarinya yang kuat, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam obsidian matanya yang kelam.
"Aku tahu caramu, Arabella," desisnya. "Kau suka melihat anak ingusan itu memujamu, bukan? Kau ingin melihat seberapa jauh aku akan bertindak untuk 'menyelamatkan' mahasiswi kesayanganku ini. Kau sedang menguji batas kesabaranku?"
"Kau gila, Alex," bisik Lea dengan suara bergetar karena emosi. "Lepaskan, ini sakit."
Mobil tidak berbelok menuju rumah Lea, melainkan menderu masuk ke jalur tol menuju arah Puncak. Lea menyadari perubahan rute itu saat lampu kota mulai menjauh dan jalanan mulai menanjak dengan kabut tipis yang menyelimuti kaca.
"Alex, ini bukan jalan pulang," suara Lea bergetar, tangannya mencengkeram sabuk pengaman.
Alex tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang dingin dan tak tersentuh. Keheningan di dalam mobil terasa begitu padat hingga Lea bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar.
Satu jam kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah villa mewah yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan pinus. Tanpa kata, Alex turun dan membukakan pintu untuk Lea.
Namun, sebelum Lea sempat bertanya, Alex sudah mencengkeram pergelangan tangannya, menariknya masuk ke dalam bangunan besar yang terasa sunyi dan mencekam itu.
"Lepaskan, Alex! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" jerit Lea saat mereka sampai di sebuah kamar luas dengan balkon yang langsung menghadap ke jurang gelap.
Alex menyentakkan tangan Lea hingga gadis itu terduduk di tepi ranjang. Ia kemudian berbalik, mengunci pintu kamar dengan bunyi klik yang final, lalu memasukkan kuncinya ke dalam saku jas.
Udara dingin Puncak merembes masuk melalui celah jendela, namun suasana di dalam kamar itu justru terasa panas dan menyesakkan. Alex melemparkan jasnya ke lantai, menyisakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya sudah terbuka, memperlihatkan gurat kemarahan yang menjalar hingga ke lehernya.
"Alex, tolong... jangan seperti ini," isak Lea, mundur perlahan hingga punggungnya membentur kepala ranjang yang dingin.
"Kau ingin disentuh, bukan? Kau membiarkan bocah itu mendekat karena kau haus akan sentuhan?" Alex merangkak naik ke atas ranjang, gerakannya tenang namun mematikan, seperti predator yang telah memojokkan mangsanya.
"Mari kita lihat apakah kau sanggup menerima apa yang kau minta."
Tanpa peringatan, Alex menyentakkan tubuh Lea ke bawahnya. Ciumannya jatuh dengan kasar, bukan sebuah rayuan, melainkan sebuah penaklukan. Tidak ada aroma cendana yang menenangkan kali ini; yang ada hanyalah aroma d******i yang menyesakkan. Lea mencoba mendorong d**a bidang Alex, namun kedua tangannya segera dikunci di atas kepala dengan satu tangan besar pria itu.
"Alex, sakit!" teriak Lea tertahan.
"Rasa sakit ini tidak sebanding dengan kemarahan yang kau ciptakan di kepalaku, Arabella!" geram Alex di depan wajahnya. Matanya gelap, benar-benar kehilangan kendali diri yang biasanya ia banggakan.
Lampu kamar yang temaram menjadi saksi bisu bagaimana Alex kehilangan seluruh kendali dirinya. Ia tidak lagi peduli pada rintihan kecil Lea; baginya, malam ini adalah tentang penegasan kuasa. Ruangan itu dipenuhi oleh suara napas yang memburu dan gesekan kulit yang intens, menciptakan atmosfer yang menyesakkan sekaligus intim secara paksa.
Setiap gerakan Alex terasa seperti hantaman gelombang yang tak terbendung. Ia mencengkeram sprei dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengunci tubuh Lea agar tetap berada di bawah kendalinya. Saat badai itu mencapai puncaknya, pertahanan Alex runtuh sepenuhnya.
"Arabella... damn it... kau milikku..."
Suaranya pecah menjadi erangan rendah yang dalam dan parau. Sebuah erangan yang mencerminkan rasa frustrasi, kemarahan, sekaligus kepuasan yang meledak secara bersamaan. Tubuh tegapnya menegang kaku, otot-otot punggungnya mencuat saat ia mencapai titik tertinggi dalam penyatuan yang brutal itu. Erangannya bergema di sudut-sudut kamar yang dingin, sebuah suara kemenangan dari seorang predator yang telah berhasil menandai wilayahnya.
Ia membenamkan wajahnya di antara rambut Lea, napasnya yang panas dan tidak teratur menerpa kulit leher gadis itu yang kini penuh dengan jejak kemerahan. Alex terengah-engah, membiarkan berat tubuhnya menindih Lea sejenak, seolah ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar tidak bisa bergerak ke mana pun.
Setelah keheningan perlahan kembali merayap, Alex mengangkat kepalanya sedikit. Matanya masih tampak gelap dan berkabut, menatap wajah Lea yang basah oleh air mata dengan tatapan yang sulit diartikan—antara pemujaan yang sakit dan d******i yang mutlak.
"Jangan pernah bermimpi untuk lari," bisiknya dengan suara yang masih bergetar sisa erangan tadi. "Karena aku akan selalu menemukanmu, dan aku akan selalu menghancurkan siapa pun yang mencoba menyentuh apa yang menjadi hakku."
Keheningan yang mematikan menyelimuti kamar itu setelah bisikan Alex berakhir. Alex bangkit, merapikan kemejanya tanpa riak penyesalan sedikit pun, meninggalkan Lea yang masih gemetar di atas ranjang yang berantakan.
Namun, ketenangan itu pecah saat ponsel Alex bergetar di atas nakas. Ia mengangkatnya, dan sedetik kemudian, rahangnya mengeras. Suara di seberang telepon itu adalah suara yang paling tidak ingin ia dengar malam ini: Madam Rose.
"Kau melampaui batas, Tuan Alex," suara Madam Rose terdengar dingin dan tajam melalui loudspeaker. "Gadis itu adalah investasiku yang paling berharga. Kau membelinya untuk satu malam, bukan untuk merusaknya di villa puncakmu."
Alex terkekeh sinis, "Dia milikku sekarang, Rose. Berapa pun harganya, akan kukirimkan ceknya besok."
"Ini bukan soal uang," potong Madam Rose dengan nada mutlak. "Kontraknya menyatakan dia harus kembali ke club milikku sebelum malam. Kirim dia kembali sekarang, atau aku akan memastikan Tuan Besar tahu bagaimana cara seorang Alex memperlakukan "aset pinjaman."
Wajah Alex mengeras, urat-urat di lehernya menegang saat mendengar ancaman itu. "Tuan Besar" bukanlah sosok yang bisa ia lawan dengan uang. Dengan satu sentakan kasar, ia memutus sambungan telepon dan membanting benda itu ke atas nakas.
Ia melirik Lea yang masih meringkuk di sudut ranjang. Tatapan Alex tidak lagi membara oleh gairah, melainkan oleh perhitungan dingin seorang pria yang baru saja dipaksa menyerahkan bidak caturnya.
"Bangun," perintahnya singkat.
Lea tidak bergerak. Jiwanya seolah telah terbang meninggalkan raga yang kini penuh dengan jejak kekuasaan Alex.
"Aku bilang bangun, Arabella!" Alex menyentak selimut yang menutupi tubuh Lea, memaksanya menghadapi kenyataan pahit. "Kau harus kembali ke tempat asalmu. Madam Rose membutuhkanmu."
Lantai marmer koridor terasa membeku di bawah telapak kaki Lea yang tak beralas. Setiap detak langkahnya adalah gema dari kehancuran yang baru saja ia lalui.
Madam Rose berdiri di tengah ruangan yang remang, diselimuti aroma mawar yang memuakkan dan asap tipis dari pipa rokok peraknya. Ia tampak seperti ratu kegelapan yang sedang memeriksa barang jarahan yang baru saja dikembalikan.
"Selamat datang kembali ke rumah, Sayang," desis Madam Rose. Suaranya halus, namun membawa kedinginan yang sanggup membekukan darah.
Ia melangkah mendekat, mengikis jarak hingga aroma tembakaunya menusuk indra penciuman Lea. Dengan gerakan yang lambat dan sengaja, jemarinya yang dingin dengan kuku-kuku panjang mengelus jejak kemerahan di leher Lea—tanda kepemilikan brutal yang ditinggalkan Alex.
"Tuan Alex sepertinya bermain terlalu kasar," gumamnya dengan senyum tipis yang tak pernah mencapai mata. "Kau tampak... rusak. Benar-benar seperti barang yang habis dipakai dan dibuang begitu saja."
Lea hanya bisa menunduk. Rambutnya berantakan, dan mantel besar yang ia kenakan tak mampu menyembunyikan getaran hebat di bahunya. Ia merasa seperti kaca yang telah hancur berkeping-keping, dan setiap kepingannya kini diinjak-injak oleh kenyataan bahwa ia hanyalah sebuah "aset."
Di ambang pintu, Alex masih berdiri sejenak. Rahangnya terkatup rapat, tangannya terkubur dalam di saku jas seolah sedang menahan diri untuk tidak menarik Lea kembali. Namun, egonya menang. Obsesi dan kemarahannya pada "pengkhianatan" Lea mengalahkan sisa nuraninya.
"Dia sudah kembali," ujar Alex datar, suaranya terdengar asing di telinga Lea. "Pastikan Tuan Besar tidak mengetahui apa pun tentang malam ini. Aku tidak ingin ada komplikasi dalam bisnis kita."
Madam Rose terkekeh, suara tawa yang kering dan penuh ejekan. "Oh, tentu saja, Tuan Alex yang terhormat. Rahasiamu aman bersamaku. Tapi kau tahu aturannya, bukan? Siapa pun yang ingin mencicipi mawar terindahku harus melalui jalur resmi. Booking dan mengantre. Tidak ada pengecualian, bahkan untuk pria sepertimu."
Tanpa kata pamit, tanpa pandangan terakhir yang penuh penyesalan, Alex berbalik. Langkah sepatunya yang mantap di atas lantai lorong terdengar seperti hitungan mundur yang menandai akhir dari perlindungannya terhadap Lea. Ia pergi, meninggalkan Lea dalam cengkeraman wanita yang tak memiliki belas kasihan.
Madam Rose mematikan rokoknya dengan gerakan tenang, lalu berdiri. Suaranya jatuh datar, nyaris lembut—namun tak memberi ruang untuk dibantah.
“Siapkan Arabella. Tamu kita sudah dalam perjalanan.”
Di ruang lain, waktu terasa melambat. Gaun hitam itu tergantung rapi, menunggu tubuh yang akan memakainya. Lampu diredupkan, tirai ditutup, parfum mahal menyelimuti udara hingga membuat d**a Lea terasa sesak. Tangannya bergetar saat kancing terakhir dirapikan—terlalu pelan, terlalu pasti.
Di balik pintu, langkah kaki terdengar semakin dekat. Satu hentakan, lalu berhenti. Keheningan mengeras, menekan napas.
Gagang pintu bergerak.
Dan tepat sebelum pintu terbuka, sebuah suara rendah menyusup dari balik kayu itu—asing, namun entah mengapa membuat jantung Lea terjerat rasa takut yang familiar.
“Bagaimana kabarmu hari ini, Arabella?"