Aroma Citrus dan Wangi Hujan

2019 Words
Lantai kayu di ruangan itu berderit saat pintu terbuka sepenuhnya. Sosok yang melangkah masuk tidak mengenakan setelan jas kaku seperti Alex, melainkan kemeja flanel gelap dengan lengan yang digulung hingga siku—penampilan yang jauh lebih santai, namun membawa aura ancaman yang berbeda. ​Danu berdiri di sana. Mantan dosen senior di kampus Lea, pria yang dulu dikenal karena kecerdasan dan keramahannya, kini menatap Lea dengan sorat mata yang haus akan sesuatu yang lebih gelap dari sekadar gairah. Ia tidak langsung menyerbu. Danu menutup pintu dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat untuk meneror, lalu bersandar di sana sembari melipat tangan. Matanya menyapu penampilan Lea, dari ujung rambut hingga gaun hitam yang kini terasa seperti beban. ​"Atau harus kupanggil 'Arabella' sekarang?" Danu melempar senyum getir. "Nama yang cantik untuk seseorang yang baru saja dibuang oleh pelindungnya." ​Lea mundur hingga pinggulnya menabrak meja rias. "Pak Danu... apa yang Bapak lakukan di sini?" Tawa pendek yang kering lolos dari bibir Danu. "Bapak? Sebutan itu sudah mati sejak Alex menghancurkan karierku hanya karena aku memesanmu malam itu. Padahal aku hanya ingin membuktikan rumornya. Tapi dia? Dia menuduhku macam-macam, menyeret namaku ke lumpur, dan memastikan tidak ada satu pun institusi di negeri ini yang sudi menoleh padaku." Danu melangkah maju, memangkas jarak hingga ia bisa melihat tanda kemerahan di leher Lea. Seringai sinisnya makin melebar. ​"Dia menghancurkan reputasiku, Lea. Dia mematikan masa depanku hanya karena ego dan kecemburuannya yang sakit. Alex pikir uang bisa membeli segalanya, tapi dia lupa satu hal." Danu mencengkeram dagu Lea. Gerakannya tidak sekasar Alex, namun terasa jauh lebih merendahkan. "Cara terbaik untuk menghancurkan pria sombong seperti dia bukan dengan mencuri hartanya, tapi dengan merusak barang favoritnya." ​"Alex pikir dia bisa memiliki segalanya dengan uang. Tapi dia lupa satu hal," Danu mencengkeram dagu Lea, kali ini gerakannya tidak sekuat Alex, namun terasa lebih merendahkan. "Cara terbaik untuk menghancurkan pria sombong itu bukan dengan merebut hartanya, tapi dengan merusak barang favoritnya." Ia mendekatkan wajah, berbisik tepat di telinga Lea hingga gadis itu bisa merasakan napasnya yang panas. "Bayangkan wajahnya saat dia melihat mantan dosenmu melakukan apa yang tidak sempat dia selesaikan dengan lembut. Dia punya mata-mata di mana-mana, bukan? Biarkan dia menonton." Lea memejamkan mata rapat-rapat, dadanya sesak. Ia merasa seperti kancil yang terjebak di antara dua serigala; satu menghancurkannya karena obsesi, dan yang lain ingin merusaknya demi balas dendam. Air mata yang sempat mengering kini kembali mengalir, menganak sungai di pipinya. ​"Ini gila, Pak! Kalau Alex yang menghancurkan Anda, lawan dia! Jangan gunakan saya!" teriak Lea dengan suara parau. ​Danu tertawa, namun matanya tetap dingin. "Lawan dia? Dengan apa, Lea? Uang? Koneksi? Dia punya segalanya, sementara aku tidak punya apa-apa lagi selain kemarahan ini. Kau adalah satu-satunya kelemahannya, dan itu adalah tiketku untuk melihatnya berlutut." ​"Saya bukan barang!" Lea mencoba berdiri tegak, meski kakinya lemas. "Anda selalu bicara tentang integritas saat di kelas. Mana integritas itu sekarang? Anda tidak lebih baik dari Alex jika melakukan ini!" ​"Jangan bicara soal moral padaku!" Danu membentak, membuat Lea tersentak. "Moral tidak membayarku saat aku terusir dari kampus. Sekarang, diam dan turuti permainanku." ​Saat Danu teralih sejenak untuk menyiapkan ponsel di atas meja, Lea melihat celah. Tanpa berpikir dua kali, ia memutar tubuh dan berlari sekencang mungkin. Tangannya yang gemetar menyentak gagang pintu kayu besar itu. Berhasil. Ia menghambur ke lorong yang remang-remang. ​"Tolong! Siapa saja!" teriak Lea sambil terus berlari, napasnya tersengal. ​Namun, baru beberapa langkah ia berlari, langkah kaki berat mengejarnya dari belakang. Sebelum Lea sempat mencapai ujung lorong, sebuah tangan besar mencengkeram bahunya dengan kasar. ​"Mau lari ke mana kau, Arabella?!" geram Danu. ​"Lepaskan! Lepaskan aku!" Lea meronta, kukunya mencoba mencakar lengan Danu, namun pria itu jauh lebih kuat. ​Danu melingkarkan lengannya di pinggang Lea, mengangkat tubuh gadis itu hingga kakinya menendang-nendang udara. Dengan tenaga yang dipicu oleh dendam, Danu menyeret Lea kembali ke dalam kamar. Lea mencoba berpegangan pada kusen pintu, namun jari-jarinya terlepas saat Danu menyentakkan tubuhnya masuk. ​Lea meronta sekuat tenaga, jemarinya mencakar udara, mencoba mencari pegangan pada apa pun saat Danu menyeretnya kembali ke dalam kamar. Namun, saat Danu menyentakkan tubuhnya dengan kasar untuk kedua kalinya, keseimbangan Lea hilang sepenuhnya. Ia terlempar ke arah pintu yang sedikit terbuka—namun ia tidak jatuh ke lantai. ​Bugh! ​Tubuh Lea menghantam d**a bidang seseorang yang berdiri tepat di ambang pintu. Pria itu tidak goyah sedikit pun; ia justru dengan sigap melingkarkan tangannya di pinggang Lea, menahan gadis itu agar tidak jatuh tersungkur. ​Aroma yang tercium sangat berbeda—bukan cendana Alex yang menyesakkan, melainkan aroma citrus yang segar bercampur dengan wangi hujan yang menenangkan. Lea mendongak dengan napas tersengal, dan matanya langsung terpaku pada seraut wajah yang asing namun luar biasa tampan. ​Pria itu tampak seumuran dengan Alex, namun auranya jauh lebih santai. Ia hanya mengenakan kemeja katun tipis berwarna biru navy yang lengannya digulung asal hingga siku, dipadukan dengan celana chino yang memberikan kesan casual namun mahal. Rambutnya sedikit berantakan, membingkai sepasang mata cokelat madu yang kini menatap Lea dengan sorot penuh rasa ingin tahu—dan sedikit rasa iba. ​"Hei, hati-hati," suara pria itu halus namun tegas. ​Danu, yang masih memegang pergelangan tangan Lea, menyipitkan mata dengan penuh kebencian. "Siapa kau? Jangan ikut campur! Ini bukan urusanmu!" ​Pria itu tidak lagi bersantai. Aura ramah yang sempat terlihat saat menolong Lea menguap sepenuhnya, digantikan oleh tatapan yang begitu dingin hingga mampu membungkam kebisingan di lorong itu. ​"Lepaskan tanganmu, Anak Muda! Ini urusan pribadi!" bentak Danu, mencoba menarik kembali pergelangan tangan Lea. ​Adrian tidak bergerak satu inci pun. Ia justru mempererat perlindungannya pada Lea, membuat Danu terpaksa melepaskan cengkeramannya karena tekanan yang tak kasat mata. ​"Urusan pribadi tidak dilakukan di lorong umum dengan cara menyeret wanita yang gemetar ketakutan," suara Adrian rendah, nyaris tanpa emosi, namun setiap katanya terasa seperti hantaman beton. ​"Kau tidak tahu apa-apa!" Danu mendesis, wajahnya merah padam oleh amarah dan rasa malu. "Wanita ini adalah alat untuk membalas dendam pada pria yang menghancurkan hidupku! Dia hanya bayaran yang pantas untukku!" ​Adrian menarik napas pendek, lalu mengembuskannya dengan nada menghina. "Bayaran? Kau bicara seolah kau punya harga diri yang tersisa." Mata cokelat madunya menatap Danu dari atas ke bawah dengan tatapan yang sangat merendahkan. "Hanya pria pecundang yang menjadikan wanita sebagai tameng untuk kegagalannya sendiri. Siapa pun pria yang kau benci itu, dia pasti tertawa melihatmu sekarang—berkelahi dengan seorang gadis karena tidak berani menghadapi lawan yang sebenarnya." ​"Kau—!" Danu melangkah maju, tangannya mengepal siap memukul. ​"Coba saja," potong Adrian dengan suara yang sangat tenang namun mematikan. Ia tidak mengangkat tangan untuk membela diri, ia hanya berdiri tegak dengan tatapan yang tidak goyah. "Lakukan satu gerakan bodoh, dan aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa berdiri tegak lagi di kota ini. Aku tidak peduli siapa kau atau masalah apa yang kau bawa, tapi di hadapanku, kau hanya seorang pengganggu." ​Adrian merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna perak gelap dengan logo minimalis yang sangat elegan. Ia tidak memberikannya, melainkan hanya menyodorkannya di depan wajah Danu. ​"Aku tidak tahu siapa 'pria' yang kau maksud, dan aku tidak peduli," lanjut Adrian, suaranya kini sekeras es. "Tapi jika kau memilih untuk tetap di sini dan terus menggonggong, aku akan memastikan sisa hidupmu dihabiskan dengan ditolak oleh setiap institusi di negeri ini—bahkan untuk pekerjaan paling rendah sekalipun. Aku punya kuasa untuk itu." ​Adrian menjeda sesaat, membiarkan ancamannya meresap ke dalam logika Danu yang mulai goyah. ​"Pilihannya simpel: ambil kartu ini, pergi sekarang, dan coba perbaiki hidupmu yang berantakan itu besok pagi di kantorku. Atau tetap di sini, dan aku akan menghancurkan apa pun yang tersisa dari dirimu dalam hitungan detik. Pilih." ​Danu terdiam. Matanya terpaku pada kartu nama itu, lalu pada wajah Adrian yang tak menyisakan ruang untuk negosiasi sedikit pun. Keberanian Danu runtuh seketika saat menyadari bahwa pria di depannya ini adalah predator yang jauh lebih berbahaya daripada Alex. ​Dengan sentakan kasar, Danu menyambar kartu itu, memberi tatapan benci terakhir pada Lea, lalu berbalik dan menghilang di kegelapan lorong dengan langkah terburu-buru. Pria itu tetap berdiri tegak hingga bayangan Danu benar-benar hilang di balik tikungan lorong. Ketegangan yang tadi memancar dari tubuhnya perlahan meluruh, meski sisa-sisa otoritas yang dingin masih menggantung di udara. ​Ia melepaskan tangannya dari pinggang Lea dengan gerakan yang sangat sopan, seolah sadar bahwa sentuhan pria asing hanya akan menambah trauma gadis itu. Ia mundur selangkah, memberi ruang bagi Lea untuk bernapas. ​"Kau aman sekarang," gumamnya. Suaranya tidak lagi setajam belati seperti saat menghadapi Danu; kini terdengar seperti bariton rendah yang menenangkan. ​Pria itu adalah Adrian Mahendra. Di usianya yang baru menginjak 28 tahun, ia telah memegang kendali atas berbagai portofolio investasi besar yang membuatnya disegani di kalangan elit. Namun, berbeda dengan pria-pria di lingkaran Alex yang memamerkan kekuasaan lewat arogansi, Adrian adalah definisi dari ketenangan yang misterius. ​Ia sering terlihat di klub eksklusif ini, namun bukan untuk menyesap sampanye mahal atau dikelilingi wanita. Bagi Adrian, tempat-tempat dengan musik berdentum dan cahaya remang hanyalah pelarian sementara—sebuah cara untuk menulikan telinga dari suara-suara luka masa lalunya yang belum sembuh benar. ​Adrian menatap Lea yang masih menyandarkan punggung di kusen pintu, wajah gadis itu pucat pasi dengan mata yang masih berkaca-kaca. ​"Kau butuh air? Atau udara segar?" tanya Adrian lembut. Ia tidak mencoba mendekat secara agresif. Ia hanya berdiri di sana, mengamati Lea dengan mata cokelat madunya yang dalam, seolah ia bisa melihat bahwa di balik gaun hitam dan nama 'Arabella' itu, ada jiwa yang sama hancurnya dengan jiwanya sendiri. ​Lea mencoba mengatur napasnya yang masih tersengal. "Kenapa... kenapa Anda melakukan itu? Anda bahkan tidak mengenal saya. Dan kartu itu... Anda benar-benar memberinya kesempatan?" ​Adrian memasukkan tangan ke saku celana chinonya, sebuah senyum tipis yang getir menghiasi bibirnya. "Terkadang, memberikan seseorang harapan adalah cara tercepat untuk menghentikan kegilaan mereka. Lagipula, aku tidak suka melihat seseorang dirusak hanya untuk memuaskan dendam pria lain." ​Ia berhenti sejenak, lalu menatap Lea lebih intens. "Siapa namamu? Nama aslimu. Bukan nama yang pria tadi teriakan." ​Lea ragu sejenak, namun kejujuran di mata Adrian membuatnya menyerah. "Lea, Eleanor Arabella" bisiknya parau. ​"Lea," ulang Adrian, mencicipi nama itu di lidahnya. "Nama yang jauh lebih cocok untukmu daripada Arabella." Adrian sedikit memiringkan kepalanya, sorot matanya yang tenang seolah sedang menyaring setiap suku kata dari nama itu. "Eleanor Arabella," gumamnya pelan. "Nama yang mengandung kehormatan, namun tampaknya kau sedang diperlakukan seolah kau tidak memilikinya." ​Ia melepaskan kancing kemeja biru navy-nya yang paling atas, memberikan kesan sedikit lebih santai guna mengurangi ketegangan yang masih menyelimuti Lea. Adrian Mahendra adalah pria yang sangat berhati-hati dengan kata-kata, namun di hadapan Lea, ada sesuatu yang memicu empati di balik topeng misteriusnya. ​"Aku Adrian," ucapnya singkat tanpa embel-embel nama besar keluarganya. "Dan aku tidak tahu siapa pria yang kau sebut Alex itu, tapi jika keberadaannya hanya membuatmu gemetar seperti ini di lorong gelap, kurasa kau berada di tempat yang salah, Lea." ​Lea menunduk, jemarinya meremas kain gaun hitamnya yang terasa semakin menyesakkan. "Ini bukan tempat yang bisa aku pilih, Pak Adrian." ​"Jangan panggil aku 'Pak'. Aku tidak sedang mengajar di kelas, dan aku tidak setua pria pecundang tadi," potong Adrian dengan nada sedikit bergurau, mencoba mencairkan suasana yang kaku. ​Namun, senyum tipis itu tidak bertahan lama. Adrian kembali menatap ke arah ujung lorong tempat Danu menghilang tadi. Luka masa lalunya sendiri—ingatan tentang kehilangan kendali dan pengkhianatan—membuatnya sangat peka terhadap aura penderitaan orang lain. Ia bisa melihat Lea bukan sebagai objek, melainkan sebagai seseorang yang sedang berusaha bertahan hidup di antara ego pria-pria berkuasa. ​"Kau ingin pergi dari sini?" tanya Adrian tiba-tiba. Suaranya rendah, menawarkan sebuah pilihan yang mungkin tidak pernah dimiliki Lea sebelumnya. "Aku tidak menjanjikan keselamatan abadi, tapi untuk malam ini, aku bisa membantumu menghilang sebentar dari radar mereka." ​Baru saja Lea hendak membuka mulut untuk menjawab, getaran ponsel milik Lea yang terjatuh di lantai kamar terdengar nyaring. Di layar yang retak itu, sebuah nama muncul, memecah keheningan yang baru saja mereka bangun. ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD