Topeng Kesempurnaan

1953 Words
Adrian melirik ke arah lantai, tempat ponsel dengan layar retak itu bergetar hebat. Nama "Cecil" berkedip di layar, memecah keheningan yang sempat tercipta antara dirinya dan Lea. ​Adrian membungkuk, mengambil ponsel itu dengan gerakan tenang. Ia sempat menatap layar sejenak sebelum menyodorkannya pada Lea. "Temanmu sepertinya tidak akan berhenti sampai kau menjawabnya," ucapnya pelan. ​Lea menerima ponsel itu dengan jemari gemetar. Ia ragu sejenak, namun akhirnya menggeser layar dan menempelkannya ke telinga. ​"Lea?! Kau di mana?! Jawab aku!" suara Cecil memekik cemas di seberang sana. "Aku sudah di parkiran bawah. Aku nekat ke sini karena kau tidak masuk kampus kemarin dan tidak bisa dihubungi seharian. Aku cemas setengah mati, Lea! Katakan kau ada di mana sekarang, aku akan menjemputmu!" ​Lea memejamkan mata rapat-rapat, dadanya berdenyut nyeri mendengar suara sahabatnya yang tulus. "Cil... aku... aku baik-baik saja," bisiknya parau, mencoba menahan isak tangis agar tidak terdengar. ​"Suaramu tidak terdengar baik-baik saja! Pokoknya aku tidak akan pergi dari sini sebelum melihatmu masuk ke mobilku. Cepat turun, Lea!" Cecil menutup teleponnya dengan nada tegas yang tak terbantahkan. ​Lea menurunkan ponselnya, menatap Adrian dengan sorot mata yang penuh kegelisahan. "Temanku... dia datang menjemputku. Dia cemas karena aku menghilang dari kampus sejak kemarin. Aku harus segera menemuinya." ​Adrian tidak langsung membiarkan Lea pergi. Ia menangkap sisa-sisa trauma di wajah gadis itu—rambut yang sedikit berantakan dan gaun yang tampak seperti beban. "Jika kau turun lewat lobi utama dengan kondisi kacau seperti ini, kau hanya akan menarik perhatian orang-orang yang tidak perlu. Terutama pria-pria yang mungkin mengenal dosenmu tadi." ​Adrian melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Lea bisa kembali mencium aroma citrus dan hujan yang menenangkan dari tubuhnya. "Biarkan aku membantumu. Ada lift khusus di ujung lorong ini yang langsung menuju akses parkir privat. Jauh lebih tenang dan kau bisa menghindari kerumunan." ​"Tapi... Cecil menunggu di parkiran umum," ujar Lea ragu. ​"Kirimkan pesan padanya sekarang. Suruh dia menyetir ke arah pintu keluar zona B. Aku akan memastikan aksesnya dibuka sehingga dia bisa menjemputmu tepat di depan pintu lift," perintah Adrian dengan nada tenang namun penuh otoritas. ​Adrian Mahendra bukan sekadar tamu di tempat ini; posisinya sebagai investor memberikan akses yang tidak dimiliki banyak orang. Baginya, membantu Lea adalah cara untuk meredam kebisingan di kepalanya sendiri, mencari tujuan kecil di tengah kehampaan hidupnya yang selama ini hanya diisi oleh angka dan investasi. ​Lea dengan cepat mengetik pesan singkat kepada Cecil. Setelah memastikan pesan terkirim, ia mendongak menatap Adrian. "Kenapa Anda melakukan semua ini? Anda bahkan tidak mengenalku." ​Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang menyimpan banyak rahasia di balik mata cokelat madunya yang dalam. "Mungkin karena aku juga sedang mencari alasan untuk merasa menjadi manusia lagi malam ini, Lea. Dan terkadang, membantu orang asing adalah pelarian yang paling efektif dari luka kita sendiri." ​Ia mengulurkan tangannya—sebuah ajakan yang terasa seperti tali penyelamat. "Ayo. Sebelum tempat ini membuatmu semakin sesak." ​Lea menarik napas panjang, lalu meletakkan tangannya di atas telapak tangan Adrian. Saat jemari mereka bersentuhan, Lea merasakan kehangatan yang asing namun memberikan rasa aman yang tak terduga. ​Mereka melangkah cepat menyusuri lorong yang remang menuju lift servis di ujung bangunan. Adrian memastikan langkahnya tetap stabil, menjaga Lea di sisi dalamnya seolah-olah ia adalah perisai yang tak terlihat. Saat pintu lift berdenting terbuka di area parkir bawah tanah yang sunyi, mobil Cecil sudah tampak melaju pelan memasuki Zona B sesuai instruksi Lea. ​"Itu temanmu," ucap Adrian pelan saat melihat mobil Cecil berhenti. ​Lea berbalik menatap Adrian untuk terakhir kalinya malam itu. "Terima kasih, Adrian. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika Anda tidak muncul." ​Adrian mengangguk pelan, tangannya kembali masuk ke saku celana. "Pergilah. Dan Lea... jangan biarkan siapapun membuatmu merasa kecil lagi." ​Lea berlari kecil menuju mobil Cecil yang sudah terbuka pintunya. Namun, di tengah langkahnya, ia baru menyadari bahwa syal kecil yang tadi melingkar di tangannya terjatuh tepat di depan kaki Adrian. Adrian membungkuk, mengambil kain lembut itu, dan menatap kepergian mobil Cecil dengan tatapan yang sulit diartikan. ​Mobil sedan putih milik Cecil perlahan memasuki Parkir Zona B, sebuah area yang jauh lebih sunyi dan privat dibandingkan lobi utama. Lampu remnya menyala saat ia berhenti tepat di depan akses lift servis yang pintunya baru saja terbuka. ​Lea melangkah keluar dari lift dengan tubuh yang masih bergetar, diikuti oleh Adrian yang menjaganya dari belakang. Begitu melihat sosok Lea, Cecil langsung menghambur keluar dari mobil. Ia sempat tertegun melihat pria asing di belakang Lea, namun rasa cemasnya jauh lebih besar. ​"Lea! Masuk, cepat!" bisik Cecil seraya menarik sahabatnya. ​Lea menoleh sejenak pada Adrian, lalu masuk ke dalam mobil. Cecil segera menginjak gas, meninggalkan siluet Adrian yang masih berdiri tegak di sana, menatap kepergian mereka dengan syal Lea yang masih tertinggal di tangannya. ​Begitu mobil keluar dari area klub, Cecil tidak bisa lagi menahan rentetan emosinya. "Lea, aku cemas setengah mati sejak kemarin! Kau menghilang begitu saja, dan keadaan di sana benar-benar kacau. Rumor tentangmu dan Alex sudah menyebar ke mana-mana!" ​Lea menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap lampu jalanan yang kabur oleh air matanya. ​"Dan yang paling membuatku tidak percaya... itu si Rian," suara Cecil terdengar muak. "Dia dan gengnya benar-benar jahat, Lea. Mereka yang pertama menyebar kabar kalau kau adalah simpanan Alex demi nilai dan uang. Kemarin di kantin, Rian bahkan terang-terangan menghinamu di depan orang banyak. Dia bilang dia menyesal pernah menyukaimu karena ternyata kau hanya wanita yang bisa dibeli." ​Hati Lea mencelos. Rian—pria yang dulu ia pikir adalah teman baiknya—kini justru menjadi pemimpin dari mereka yang merajam harga dirinya di kampus. Bayangan bullying itu memicu kilas balik yang jauh lebih mengerikan di benak Lea. ​Ingatannya tersedot kembali ke malam itu. Di ruangan tertutup yang berbau alkohol, Danu—dosen yang dulu ia hormati—telah kehilangan akal sehatnya. Dengan tangan gemetar karena amarah dan obsesi, Danu menyerahkan sebotol wiski yang tutupnya sudah terbuka. ​"Siramkan ke tubuhmu, Lea!" bentak Danu dengan mata merah yang mengerikan. "Siram, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah lulus dari kampus ini!" ​Dalam tangis yang pecah, Lea terpaksa membasahi gaun dan kulitnya dengan cairan menyengat itu. Saat itulah Danu menerjangnya, melakukan perbuatan keji yang menghancurkan seluruh sisa rasa aman Lea. Danu mencoba memperkosanya di tengah bau wiski yang memuakkan, hingga tiba-tiba pintu terbanting terbuka. ​Alex datang. Bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai api yang menyulut kemarahan lebih besar. Alex tidak hanya menghentikan Danu, ia menghajar pria itu hingga berdarah-darah di depan mata Lea yang trauma. Bukannya menenangkan Lea, Alex justru memaki Danu, mengatakan bahwa Lea adalah 'properti' miliknya yang tidak boleh disentuh siapa pun. Kejadian malam itu adalah awal dari pengurungan Lea dalam sangkar emas Alex. ​"Lea? Kau baik-baik saja?" Cecil menyentuh tangan Lea yang dingin, menyadari sahabatnya itu sedang bergelut dengan trauma hebat. ​"Aku tidak tahu, Cil," sahut Lea lemah, suaranya hampir hilang. "Rasanya semua orang ingin menghancurkanku dengan cara mereka masing-masing." ​"Siapa pria di parkiran tadi?" tanya Cecil pelan, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Dia terlihat sangat berbeda. Bukan seperti orang-orang Alex yang kaku dan kasar." ​"Adrian," bisik Lea. "Namanya Adrian Mahendra. Dia satu-satunya yang memperlakukanku seperti manusia malam ini, Cil. Bukan sebagai barang dagangan." Mobil terus melaju membelah keheningan malam Jakarta yang mulai mendingin. Di dalam kabin yang sempit itu, Cecil sesekali melirik Lea yang masih tampak kosong, menatap keluar jendela seolah jiwanya tertinggal di lorong-lorong gelap klub tadi. ​"Lea," panggil Cecil lembut, suaranya kini lebih tenang namun menyimpan nada penuh harap. "Pria tadi... Adrian Mahendra... aku tahu siapa dia. Dia bukan sembarang orang. Namanya sering muncul di majalah bisnis sebagai investor bertangan dingin, tapi yang aku dengar, dia jauh dari skandal." ​Lea tidak menyahut. Ia hanya merapatkan pelukannya pada tubuhnya sendiri, merasa sisa bau wiski dari ingatan traumatisnya masih menempel di kulit, meski sebenarnya ia sudah berganti pakaian. ​"Kenapa kau tidak mencoba mengenalnya lebih jauh?" lanjut Cecil hati-hati. "Mungkin ini jalanmu untuk lepas dari pengaruh Alex dan fitnah-fitnah Rian di kampus. Adrian punya kekuatan untuk melindungimu. Jika kau bersamanya, tak akan ada yang berani menyentuhmu lagi, bahkan Alex sekalipun." ​Mendengar itu, Lea tertawa getir. Tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Mengenalnya? Cecil, kau lihat aku sekarang? Aku hanya sisa-sisa kehancuran yang diperebutkan oleh pria-pria egois." ​"Jangan bicara begitu, Lea. Adrian menolongmu karena dia melihat sesuatu yang berbeda padamu." ​"Dia menolongku karena kasihan, Cil," potong Lea cepat, suaranya bergetar hebat. "Bagaimana mungkin aku bisa bersanding dengan pria sesempurna Adrian? Dia bagaikan langit, sementara aku..." Lea menunduk, air matanya jatuh membasahi telapak tangannya. ​"Aku kotor, Cil. Sangat kotor," bisik Lea parau. "Tubuhku, namaku, reputasiku... semuanya sudah hancur. Di kampus, aku dianggap wanita simpanan. Di mata Danu, aku hanya objek pelampiasan. Dan Alex... dia menjadikanku propertinya. Jika Adrian tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu—tentang wiski itu, tentang perbuatan Danu—dia pasti akan memandangku dengan jijik, sama seperti yang lain." ​Cecil menepikan mobilnya di bahu jalan yang sepi, lalu berbalik memeluk sahabatnya erat-erat. "Kau bukan barang rusak, Lea! Kau korban! Apa yang dilakukan mereka padamu tidak menentukan siapa dirimu." ​"Tapi dunia tidak melihatnya begitu," isak Lea di bahu Cecil. "Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan Alex menjamahku masih terasa. Aku juga masih merasakan tangan Pak Danu. Bagaimana aku bisa membawa beban seberat ini ke hadapan pria seperti Adrian? Aku tidak pantas mendapatkan kebaikan siapa pun. Aku hanya ingin menghilang." ​Cecil menghela napas panjang, mencoba menenangkan Lea, namun sisi wanitanya tidak bisa menahan kekaguman yang sejak tadi membuncah di dadanya. Ia kembali menginjak gas, melajukan mobil perlahan sambil terus terbayang sosok pria yang berdiri di zona B tadi. ​"Tapi jujur ya, Lea," suara Cecil sedikit berubah, ada nada antusias yang tak bisa ia sembunyikan. "Aku belum pernah melihat pria seperti Adrian Mahendra secara langsung. Dia... dia seperti keluar dari halaman majalah high-end. Kau lihat tidak bagaimana dia berdiri tadi? Bahunya sangat tegap, seolah dia bisa memikul beban dunia tanpa goyah." ​Lea tetap diam, namun jemarinya meremas ujung gaunnya dengan kuat. ​"Dan dadanya..." Cecil melanjutkan dengan mata sedikit berbinar, "Bahkan di balik kemeja mahalnya, kau bisa tahu dia punya fisik yang terlatih. Belum lagi rahangnya, Lea! Garis rahangnya begitu tajam, sangat tegas. Wajahnya benar-benar simetris sempurna, seperti pahatan patung dewa Yunani yang sangat mahal. Dia punya aura otoritas, tapi matanya... matanya terlihat begitu tenang." ​Lea mendengus pelan, sebuah tawa sinis yang hampir tak terdengar keluar dari celah bibirnya. Ia menoleh ke arah Cecil dengan tatapan jengah yang dingin. ​"Semua pria terlihat sempurna dari luar, Cil," ucap Lea datar, memutus euforia sahabatnya. "Alex juga punya bahu yang lebar. Pak Danu punya tutur kata yang sangat sopan dan wajah yang terlihat bijaksana sebagai dosen. Rian? Dia punya senyum paling manis yang pernah kukenal sebelum dia memakiku 'wanita murah' di depan semua orang." ​Lea memalingkan wajahnya kembali ke jendela, melihat bayangan dirinya yang pucat di kaca yang gelap. ​"Terakhir kali aku mengagumi kesempurnaan fisik seorang pria, aku berakhir di ruangan berbau wiski itu," lanjut Lea dengan suara yang mencekik. "Bagiku, ketampanan dan kegagahan itu hanya topeng. Semakin sempurna bungkusnya, biasanya semakin busuk isinya. Adrian Mahendra mungkin terlihat seperti malaikat penolong sekarang, tapi siapa yang tahu kapan dia akan berubah menjadi iblis seperti yang lainnya? Aku tidak punya energi lagi untuk tertipu oleh rahang tegas atau bahu yang tegap." ​Cecil terdiam, merasa tertampar oleh realitas pahit yang dihadapi sahabatnya. Ia ingin membela Adrian, ingin meyakinkan Lea bahwa tidak semua pria sama, namun ia sadar bahwa bagi seseorang yang jiwanya baru saja dicabik-cabik, "kesempurnaan" justru adalah hal yang paling mencurigakan dan menakutkan. ​"Aku hanya ingin pulang, Cil," bisik Lea menutup percakapan. "Tolong, jangan bicarakan pria itu lagi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD