Keesokan harinya, Lea melangkah memasuki gerbang kampus dengan pertahanan diri yang sudah dibangun setinggi mungkin. Ia siap untuk dihancurkan lagi oleh tatapan sinis atau makian dari kelompok Rian. Namun, saat ia melintasi koridor, suasana terasa mencekam.
Tidak ada bisikan. Tidak ada tawa yang mengejek.
Semua mahasiswa yang berpapasan dengannya mendadak menepi, menundukkan kepala seolah-olah Lea adalah sosok yang membawa maut. Rian dan teman-temannya, yang biasanya paling vokal, duduk di sudut kantin dengan wajah yang tidak hanya pucat, tetapi tampak babak belur. Rian bahkan tidak berani mendongak; tangannya yang terbalut perban gemetar saat memegang gelas plastik.
Lea merasa ada yang tidak beres. Kesunyian ini bukan karena mereka sadar akan kesalahan mereka, melainkan karena mereka ketakutan.
"Lea, kau sudah dengar?" Cecil menarik tangan Lea masuk ke dalam toilet, suaranya nyaris hilang karena ngeri. "Semua orang yang mem-bully kau kemarin... Alex mendatangi mereka satu per satu semalam. Bukan lewat telepon, tapi dia datang langsung."
Lea membeku. "Maksudmu?"
"Rian... dia dihajar habis-habisan di depan orang tuanya. Dan anak-anak lain? Alex membeli seluruh kontrak kerja sampingan orang tua mereka. Jika mereka berani menyebut namamu sekali lagi, keluarga mereka akan diusir ke jalanan hari ini juga." Cecil menelan ludah. "Alex menghapus semua jejak digitalmu di server kampus. Dia bertindak seperti Tuhan, Lea. Tapi harganya..."
Cecil ragu sejenak, lalu menunjukkan layar ponselnya. Ada sebuah pesan masuk yang dikirimkan ke seluruh mahasiswa sebagai 'peringatan'.
"ELEANOR ARABELLA ADALAH MILIK EKSKLUSIF ALEXANDER EMIR BASKARA. SIAPA PUN YANG MENYENTUHNYA DENGAN KATA-KATA, AKAN MEMBAYAR DENGAN MASA DEPAN MEREKA."
Lutut Lea lemas. Ini bukan perlindungan. Ini adalah pengumuman kepemilikan. Alex baru saja menandai wilayahnya dengan cara yang paling brutal, mengisolasi Lea dari dunia luar karena sekarang semua orang terlalu takut bahkan untuk sekadar menyapanya.
Sore harinya, saat Lea baru saja keluar dari gerbang kampus, sebuah mobil Range Rover hitam yang sangat ia kenali sudah menunggu. Pintu belakang terbuka secara otomatis.
Di dalam sana, Alex duduk dalam kegelapan, menyesap wiski dari gelas kristal. Aroma cendana yang menyesakkan langsung menyambut Lea.
"Masuk," suara Alex rendah, namun mengandung otoritas yang mutlak.
Lea masuk dengan tubuh gemetar. Begitu pintu tertutup, Alex meletakkan gelasnya dan menatap Lea dengan sorot mata predator yang puas. Ia mengulurkan tangan, mengusap pipi Lea dengan punggung jarinya.
"Kau lihat, Arabella? Aku sudah membersihkan dunia kecilmu dari kecoak-kecoak itu," bisik Alex. "Tidak akan ada lagi yang berani menghinamu. Tidak ada lagi yang berani menatapmu dengan rendah."
"Kau menghancurkan hidup mereka, Alex..." suara Lea parau.
"Aku melindungi milikku," potong Alex tajam. Ia menarik dagu Lea agar menatapnya langsung. "Tapi kau tahu, tidak ada yang gratis di dunia ini. Aku sudah memberimu ketenangan di kampus, jadi sekarang... kau harus membayar harga untuk kebebasan yang aku berikan."
"Dan aku menginginkanmu melayaniku saat ini, Arabella. Di dalam mobil ini," desis Alex, suaranya kini seberat logam yang bergesekan, mengirimkan gelombang horor ke sekujur tubuh Lea.
Tanpa menunggu jawaban, Alex merenggut tengkuk Lea, menariknya dengan paksa hingga wajah mereka terpaut tipis. Ia melumat bibir Lea dengan kasar—sebuah penaklukan yang brutal. Lea mencoba memalingkan wajah, namun cengkeraman Alex di rambutnya semakin erat, memaksanya menerima lumatan yang terasa pekat oleh aroma cendana yang tajam.
Tangan Alex yang bebas tidak tinggal diam. Dengan gerakan yang efisien namun kasar, ia menyibak paksa kedua kaki Lea di atas jok kulit Range Rover yang mewah.
"Alex, tolong... kita masih di area kampus," rintih Lea di sela-sela ciuman paksa itu, air matanya mulai luruh membasahi pipi.
"Justru itu poinnya, Arabella," bisik Alex tepat di depan bibir Lea yang bengkak. "Aku ingin kau tahu bahwa tidak ada tempat yang aman bagimu untuk bersembunyi dariku."
Jemari Alex yang dingin merangsek masuk, menjamah dengan gerakan yang kasar dan menuntut. Serangan itu begitu tiba-tiba hingga Lea tersentak, punggungnya menabrak pintu mobil dengan keras.
"Ah... Alex..." desah Lea keluar tanpa bisa ia bendung. Itu bukan desahan nikmat, melainkan perpaduan antara rasa sakit, terkejut, dan kepasrahan yang hancur. Tubuhnya bereaksi di luar kendali akalnya, gemetar hebat di bawah sentuhan yang begitu dominan.
Alex mengerang rendah, sebuah suara kemenangan yang parau keluar dari tenggorokannya saat ia merasakan reaksi tubuh Lea. "Kau dengar itu, Arabella? Tubuhmu bahkan tahu siapa tuannya," desahnya di ceruk leher Lea, napasnya memburu dan panas.
Cengkeraman Alex pada paha Lea semakin kuat, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras dengan kulit putih gadis itu. Erangan Alex terdengar semakin dalam dan intens, menandakan kepuasan yang gelap saat ia terus memacu ritme jemarinya dengan liar. Ia tidak peduli pada air mata Lea; baginya, desahan pasrah gadis itu adalah bukti kepemilikan yang mutlak.
Mobil Range Rover itu terus melaju menembus kegelapan jalanan kota dengan tirai jendela yang tertutup rapat, menciptakan ruang kedap suara yang mencekam di bagian belakang. Alex tidak menunggu hingga mereka sampai di rumah; kedinginannya telah berubah menjadi api obsesi yang harus segera ia padamkan.
"Kau berhutang terlalu banyak padaku, Arabella. Dan aku tidak suka menunggu bayaranku," desis Alex.
Dengan satu gerakan kasar, Alex menarik tubuh Lea ke atas pangkuannya. Ia menyibak gaun Lea hingga robek di bagian jahitan, sama sekali tidak memedulikan kehancuran pakaian itu. Ia menghimpit tubuh mungil Lea di antara d**a bidangnya dan jok kulit mobil yang dingin.
"Alex... stop... sopirmu bisa melihat kita dari spion," rintih Lea dengan suara gemetar, matanya melirik cemas ke arah sekat tipis yang memisahkan mereka dengan bagian depan.
"Biarkan dia melihat bagaimana tuannya menjinakkan miliknya," jawab Alex dingin tanpa sedikit pun rasa malu.
Tanpa peringatan lebih lanjut, Alex melakukan penyatuan yang kasar dan mendalam di atas jok mobil yang terus berguncang mengikuti laju kendaraan. Lea tersentak hebat, kepalanya mendongak menghantam langit-langit mobil saat rasa sesak yang tajam seketika berubah menjadi gelombang sensasi panas yang membakar seluruh sarafnya.
"Ahhh... Alex! A-ah..." desah Lea keluar dengan napas yang memburu dan pendek. Matanya terpejam rapat, tangannya kini beralih mencengkeram kemeja Alex, mencari pegangan di tengah guncangan liar yang menghancurkan sisa harga dirinya.
Alex tidak memberikan ruang untuk bernapas. Ia justru semakin menggila, menghujam Lea dengan ritme yang menuntut dan tanpa ampun. Di tengah deru napas yang menyesakkan, Alex menarik kepala Lea, membisikkan pertanyaan yang merendahkan tepat di telinganya.
"Katakan, Arabella... apa kau menikmatinya?" desis Alex dengan suara bariton yang sangat serak dan parau.
"Katakan padaku seberapa besar tubuhmu menyukai perlakuan kasarku ini, bahkan saat ada orang lain yang mendengarmu."
Lea hanya bisa mengerang, tidak mampu menjawab karena sensasi yang tumpang tindih di kepalanya. Namun Alex tidak puas. Ia menyentakkan pinggulnya lebih keras, memancing reaksi yang lebih kuat dari Lea.
"Jawab aku, Arabella! Apa kau menikmatinya?" erang Alex lebih keras, suaranya bergetar oleh gairah yang mencapai puncak.
"A-ahhh... i-iya... aku... aku menikmatinya, Alex..." rintih Lea akhirnya, sebuah pengakuan yang membuat harga dirinya luruh sepenuhnya. Tubuhnya bereaksi liar terhadap d******i Alex, melengkung pasrah mengikuti setiap hentakan yang semakin liar.
Alex mengerang semakin keras, sebuah suara kemenangan yang dalam dan gelap keluar dari tenggorokannya saat ia merasakan tubuh Lea bergetar hebat dalam puncak pelepasan yang dipaksakan. "Uhh... damn, kau memang milikku," desahnya kasar di ceruk leher Lea, sembari memacu ritmenya hingga ke titik terakhir yang menyiksa.
Setelah mencapai puncak ledakannya dengan erangan panjang yang penuh kuasa, Alex membiarkan tubuhnya bertumpu sejenak pada Lea yang sudah lemas tak berdaya. Ia menarik diri dengan dingin, merapikan pakaiannya seolah tidak terjadi apa-apa, sementara Lea masih terbaring lemah di jok mobil dengan napas tersengal dan pandangan kosong.
"Bersihkan dirimu. Kita hampir sampai," ucap Alex datar, kembali ke sosoknya yang semula—dingin dan tak tersentuh.
Range Rover itu akhirnya berhenti dengan mulus di depan lobi mansion pribadi Alex yang megah namun terasa dingin. Mesin mobil mati, meninggalkan kesunyian yang memekakkan telinga di dalam kabin, hanya menyisakan suara napas Lea yang masih tersengal.
Alex merapikan kancing kemejanya dengan tenang, gerakannya sangat presisi dan dingin, seolah-olah gairah menggila yang baru saja ia tumpahkan di atas tubuh Lea tidak pernah terjadi. Ia melirik Lea yang masih terbaring lemah di jok kulit, pakaiannya berantakan dan matanya kosong menatap langit-langit mobil.
"Turun," perintah Alex pendek. "Atau kau ingin aku menyuruh pengawal menyeretmu masuk?"
Lea memaksakan tubuhnya untuk duduk. Rasa perih di sekujur tubuhnya menjadi pengingat nyata atas perlakuan brutal Alex. Dengan tangan gemetar, ia mencoba merapikan gaunnya yang robek, berusaha menutupi jejak-jejak kepemilikan Alex yang memerah di kulitnya.
Begitu pintu mobil dibuka oleh sopir—yang tetap menunduk dengan wajah tanpa ekspresi—Alex melangkah keluar terlebih dahulu. Ia tidak membantu Lea. Ia berdiri di sana, menunggu dengan tangan masuk ke saku celana, mengawasi setiap langkah limbung Lea saat keluar dari mobil.
"Bawa dia ke kamar atas," ucap Alex kepada seorang kepala pelayan wanita yang sudah menunggu di pintu masuk. "Mandikan dia. Pastikan tidak ada satu pun jejak kekacauan ini yang tersisa saat dia makan malam bersamaku nanti."
"Baik, Tuan Alexander," jawab pelayan itu patuh.
Lea dibawa melewati lorong-lorong mansion yang luas dan sunyi. Setiap langkahnya terasa berat. Saat ia melewati cermin besar di koridor, ia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Rambutnya berantakan, bibirnya bengkak, dan ada binar ketakutan yang permanen di matanya.
Di dalam kamar mandi utama yang lebih luas dari apartemennya, pelayan itu mulai menjalankan perintah Alex. Lea hanya bisa terdiam saat air hangat membasuh tubuhnya, namun rasa hangat itu tidak mampu mencairkan kedinginan yang sudah merasuk hingga ke tulang-tulangnya.
Satu jam kemudian, Lea sudah mengenakan gaun sutra tipis berwarna hitam, warna yang dipilihkan Alex secara khusus. Ia duduk di depan meja rias, menatap pantulan dirinya yang kini tampak seperti boneka cantik namun tak bernyawa.
Pintu kamar terbuka. Alex masuk, aroma cendananya kembali memenuhi ruangan. Ia berdiri di belakang Lea, menatap pantulan gadis itu di cermin. Tangan Alex bergerak perlahan memasang sebuah kalung berlian, mengusap leher Lea yang kini dihiasi sebuah kalung dengan liontin inisial "A".
"Cantik," bisik Alex, suaranya kembali rendah dan mengandung otoritas yang mematikan. "Kalung ini adalah tanda bahwa kau tidak lagi bebas, Arabella. Di kampus, di jalan, atau di tempat tidur ini... kau adalah milikku."
Ia mencium puncak kepala Lea dengan posesif. "Sekarang, turunlah. Kita punya tamu malam ini, dan aku ingin kau menunjukkan pada dunia betapa bahagianya kau di bawah perlindunganku."
Lutut Lea kembali lemas. Tamu? Dalam kondisi seperti ini, ia dipaksa untuk berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja di depan orang lain.
Lea baru saja akan melangkah ketika jemari Alex mengetat di bahunya. Pria itu berhenti di depan cermin besar di aula, menatap pantulan mereka berdua.
"Satu hal lagi, Arabella," Alex merapikan helai rambut Lea dengan gerakan yang hampir menyerupai belaian pisau. "Tamu kita malam ini adalah seseorang yang sangat kau kenal. Cobalah untuk tidak terlihat terlalu... terkejut, saat melihat siapa yang duduk di meja makan kita."