Bayaran yang Tak Pernah Usai

1975 Words
Langkah kaki Lea terasa berat dan goyah saat ia memasuki ruang makan yang megah, di mana cahaya lampu kristal memantul dingin pada peralatan perak di atas meja. Di ujung meja panjang yang penuh dengan hidangan mewah itu, seorang pria duduk dengan bahu merosot dan tubuh yang bergetar hebat. ​Itu adalah Rian. ​Wajah tampan yang biasanya penuh keangkuhan itu kini hancur; lebam keunguan membengkak di sekitar matanya, sementara perban melilit pelipis dan rahangnya. Begitu Lea melangkah mendekat, Rian sempat mendongak, namun detik saat matanya bertemu dengan tatapan Lea, ia segera menunduk dengan ketakutan yang murni. Baginya, menatap Lea saat ini terasa seperti mengundang maut. ​"Ah, lihat siapa yang datang," suara Alex memecah kesunyian, begitu tenang namun setajam sembilu. ​Tanpa melepaskan pandangannya dari Rian, Alex menarik kursi di sampingnya, mengisyaratkan Lea untuk duduk. Begitu Lea patuh, tangan Alex langsung melingkar posesif di pinggangnya, menarik tubuh mungil itu hingga merapat tanpa celah pada tubuh bidangnya. Jemari Alex yang panjang mulai memainkan liontin berlian berinisial "A" di leher Lea, sengaja memamerkan tanda kepemilikan itu tepat di hadapan Rian yang malang. ​"Rian datang ke sini untuk meminta maaf secara resmi padamu, Arabella," ucap Alex sembari menyesap anggur merahnya dengan santai. "Bukan begitu, Rian?" ​Rian tersentak, seolah baru saja dicambuk. Dengan sisa tenaganya, ia berdiri dari kursi. Tubuhnya gemetar hebat, dan suaranya terdengar parau saat ia bicara. "L-Lea... aku... aku minta maaf. Aku tidak seharusnya menyentuhmu. Aku tidak seharusnya menghinamu. Tolong... ampuni aku." ​Lea terpaku di tempatnya. Pria yang kemarin menjadi mimpi buruknya di kampus kini tampak tak lebih dari sekadar sampah di kaki Alex. Namun, bagi Alex, pengakuan itu belum cukup untuk memuaskan egonya. ​"Kurang jelas, Rian," desis Alex dingin. Ia menarik dagu Lea, memaksa wajah gadis itu mendekat, lalu mencium lehernya dengan suara yang sengaja dipertegas—meninggalkan tanda merah baru tepat di depan mata Rian. "Katakan padanya, siapa dia sekarang." ​Rian menelan ludah dengan susah payah, air mata mulai mengalir melewati luka di pipinya. "Lea... kau adalah milik Tuan Alexander. Kau... kau suci bagi kami semua. Kami tidak akan pernah berani menatapmu lagi." ​Alex tersenyum—sebuah seringai predator yang mengerikan. Ia kemudian menoleh pada Lea, tangannya merambat naik untuk mencengkeram rahang gadis itu dengan lembut namun penuh ancaman. "Kau lihat, Sayang? Kecoak ini sekarang sudah tahu tempatnya. Dan itu semua bisa terjadi karena kau memberikan 'bayaran' yang sangat memuaskan tadi di mobil." ​Hati Lea hancur berkeping-keping. Di depan orang yang pernah merendahkannya, Alex justru menelanjangi martabatnya dengan cara yang paling halus namun mematikan. Rian dipaksa menyaksikan bagaimana Lea kini telah menjadi tawanan emas yang tunduk sepenuhnya pada pria yang jauh lebih kejam darinya. ​"Sekarang, keluar dari sini sebelum aku berubah pikiran soal masa depanmu," usir Alex tanpa sedikit pun menoleh. ​Rian segera berlari keluar dari ruangan itu seolah nyawanya sedang dipertaruhkan. Begitu pintu besar itu tertutup rapat, Alex perlahan memutar kursi Lea agar menghadapnya sepenuhnya. Suasana di ruang makan yang tadinya mencekam karena ketakutan Rian, kini berubah menjadi hening yang menyesakkan. Alex menatap Lea dengan intensitas yang seolah bisa membakar kulitnya. Jemarinya masih bermain di rahang Lea, mengagumi sisa-sisa trauma yang terpancar dari netra gadis itu. ​"Nah, sekarang tamu kita sudah pergi," bisik Alex, suaranya kembali memberat oleh gairah yang belum tuntas. "Masih ada sisa bayaran yang harus kau tuntaskan malam ini, Arabella. Dan kali ini, aku tidak ingin mendengar satu pun suara... kecuali namaku." Lea memundurkan wajahnya, suaranya parau dan pecah. "Kau gila, Alex... Aku capek. Aku sudah tidak sanggup lagi," rintihnya dengan napas tersengal, air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya luruh membasahi gaun sutra hitamnya. ​Bukannya merasa iba, Alex justru membeku. Tatapannya yang tajam perlahan menggelap, berubah menjadi sesuatu yang lebih primitif dan berbahaya. Ia menarik napas dalam, aroma tangisan Lea justru seperti bahan bakar bagi obsesinya yang menyimpang. ​"Capek?" Alex mengulang kata itu dengan nada rendah yang menggetarkan udara di antara mereka. ​Ia berdiri menyeret paksa tubuh Lea memasuki kamarnya. ​"Aku yang menentukan kapan kau boleh merasa lelah, Arabella," desis Alex tepat di bibirnya. "Selama kau masih memakai kalung dengan inisial namaku, setiap sisa tenagamu adalah hakku." ​Alex menyapu air mata di pipi Lea dengan ibu jarinya, namun gerakannya sama sekali tidak lembut. Ia menekan rahang Lea, memaksanya menatap langsung ke dalam obsidian matanya yang tak punya belas kasih. ​"Kau ingin berhenti? Silakan," Alex berbisik, suaranya mendadak tenang namun sangat mematikan. "Tapi ingat, begitu kau berhenti melayaniku, aku akan berhenti melindungi orang-orang yang kau sayangi. Ingin tahu seberapa cepat Cecil atau ibumu bisa hancur tanpa perlindunganku?" ​Lea memejamkan mata, isak tangisnya tertahan di tenggorokan. Ancaman itu selalu menjadi rantai yang paling kuat. ​"Buka matamu," perintah Alex, nadanya kini berat oleh gairah yang kembali menyulut. "Katakan namaku. Katakan kau milikku, dan buktikan bahwa kau masih sanggup, atau kau akan melihat dunia di sekitarmu runtuh malam ini juga." ​Dengan pasrah, Lea membuka matanya yang sembab, menatap pria yang telah menjadi mimpi buruk sekaligus penguasanya. "A-Alex... aku... aku milikmu," bisiknya lemah, menyerahkan sisa harga dirinya ke dalam kegelapan yang ditawarkan pria itu. ​Alex mengerang puas, sebuah suara bariton yang serak. Ia tidak lagi menunggu; ia menyambar tengkuk Lea dan kembali melumat bibirnya, menyeretnya menuju kehancuran yang lebih dalam di kamar yang dingin itu. Alex tidak memedulikan rintihan lemas itu. Baginya, penolakan Lea hanyalah gangguan kecil yang justru memicu insting predatornya untuk berkuasa lebih jauh. Dengan kasar namun efisien, ia menyambar pinggang Lea dan menghempaskannya ke atas tempat tidur king size yang luas. ​Lea mencoba merangkak mundur, namun Alex lebih cepat. Ia menindih tubuh Lea, mengunci pergerakan gadis itu dengan berat tubuhnya yang bidang. Alex mulai melepas dasi sutra hitam yang melingkar di lehernya dengan gerakan yang tenang namun mengancam. ​"Kau bilang kau tidak sanggup lagi?" bisik Alex, suaranya sangat serak tepat di telinga Lea. "Maka aku akan membantumu untuk tetap diam dan menerima semuanya." ​Tanpa membuang waktu, Alex menarik kedua tangan Lea ke atas kepala. Ia melilitkan dasi sutra itu dengan kuat pada pergelangan tangan Lea, mengikatnya pada pilar tempat tidur yang kokoh. Lea memekik, mencoba memberontak, namun sutra itu terasa begitu kencang dan mustahil untuk dilepaskan. ​"Alex, kumohon... jangan seperti ini," isak Lea, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. ​Alex menatap hasil karyanya dengan binar kepuasan yang gelap. Ia membelai tanda merah di pergelangan tangan Lea yang mulai muncul akibat lilitan dasi itu. "Sekarang kau tidak perlu repot-repot menggunakan tenagamu, Arabella. Kau hanya perlu berbaring dan membiarkanku mengambil apa yang sudah menjadi hakku." ​Ia merobek gaun hitam Lea hingga tak bersisa, membiarkan tubuh gadis itu terekspos sepenuhnya di bawah sorotan lampu kamar yang temaram. Alex merangsek maju, melakukan penyatuan yang mendalam dan tanpa ampun. Lea mendongak, punggungnya melengkung menghantam seprai sutra yang dingin, sementara tangannya yang terikat ditarik paksa oleh setiap gerakan Alex yang liar. ​"Ahhh... Alex! A-ahh..." desah Lea pecah bersamaan dengan air mata yang terus mengalir. Suara denting dasi yang tertarik pada pilar tempat tidur beradu dengan erangan berat Alex yang memenuhi ruangan. ​Alex mengerang panjang, sebuah suara bariton yang parau dan penuh kemenangan. "Uhh... damn, Arabella... kau jauh lebih nikmat saat kau tidak bisa bergerak," desahnya kasar sembari menciumi leher Lea dengan rakus, meninggalkan tanda-tanda baru yang menumpuk di atas tanda yang lama. ​Ritme Alex semakin menggila, tidak memberikan ruang bagi Lea untuk sekadar menarik napas. Ia memacu gairahnya hingga ke titik puncak, membiarkan erangan panjangnya bergema di kamar yang luas itu saat ia mencapai pelepasan. Alex jatuh menindih Lea sejenak, deru napasnya yang panas membakar kulit Lea yang basah oleh keringat dan air mata. Setelah keheningan yang dingin itu menyergap, Alex tidak benar-benar pergi meninggalkan Lea dalam kehancurannya. Ia berdiri sejenak di tepi tempat tidur, mengancingkan celananya dengan gerakan mekanis, namun matanya tak pernah lepas dari sosok Lea yang masih terikat dan bergetar di bawahnya. ​Alih-alih menjauh, Alex justru kembali merebahkan tubuhnya di samping Lea. Dengan satu gerakan yang kuat namun penuh kendali, ia menarik tubuh lemas Lea ke dalam dekapannya. Ia menghirup aroma keringat dan sisa wangi mawar dari rambut Lea yang berantakan, mengabaikan fakta bahwa gadis itu masih terisak pelan di dadanya. ​Alex melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Lea, memeluknya begitu erat seolah-olah Lea adalah harta yang bisa menguap kapan saja jika ia melonggarkan pegangannya sedikit saja. Ia membiarkan wajahnya tenggelam di ceruk leher Lea, tempat di mana ia baru saja meninggalkan tanda-tanda kemerahan yang baru. ​"Jangan mencoba untuk melepaskannya," bisik Alex parau, merujuk pada ikatan dasi di tangan Lea yang masih terpaut pada pilar tempat tidur. "Tetaplah di sini, tepat di mana aku bisa merasakannya." ​Mata Alex perlahan terpejam, namun pelukannya justru semakin mengunci. Dalam tidurnya, ia tetap menjadi sosok yang posesif; tangannya mencengkeram kain seprai dan sebagian kulit Lea, memastikan tidak ada ruang udara yang memisahkan mereka. Ia tertidur dengan napas yang berangsur stabil, namun tetap dengan kewaspadaan seorang predator yang menjaga mangsa berharganya. ​Lea hanya bisa mematung dalam dekapan yang terasa seperti penjara hangat itu. ​Malam semakin larut, dan di bawah remang cahaya lampu tidur, pemandangan itu tampak begitu kontradiktif: sebuah pelukan yang tampak intim namun penuh dengan paksaan, di mana sang penguasa tertidur lelap sembari merantai miliknya dalam kegelapan. Suasana kamar itu kini hanya menyisakan suara detak jam dinding yang berat dan isak tangis Lea yang tertahan. Suara tangisnya terdengar tipis dan pilu, sebuah melodi keputusasaan yang pecah di tengah kesunyian malam. Setiap kali bahunya terguncang oleh isak itu, lilitan dasi sutra di pergelangan tangannya justru terasa semakin mencekik, mengingatkannya bahwa ia tidak lebih dari sekadar tawanan di atas ranjang mewah ini. ​Alex tidak terusik. Ia justru semakin mempererat pelukannya, seolah isak tangis Lea adalah pengantar tidur yang mengonfirmasi bahwa gadis itu masih berada dalam jangkauannya. Napas hangat Alex yang teratur menyapu tengkuk Lea, sangat kontras dengan badai emosi yang menghancurkan jiwa gadis itu. ​Di dalam kepalanya yang riuh, Lea memulai monolognya yang getir. ​‘Lihat dirimu, Lea...’ batinnya sembari menatap kosong ke arah tirai jendela yang tertutup rapat. ‘Kemarin kau masih memikirkan ujian semester dan masa depan yang cerah. Sekarang? Kau hanyalah barang seharga miliaran rupiah yang diperebutkan seorang monster.’ Ia merasakan detak jantung Alex yang tenang di punggungnya, dan rasa benci yang amat sangat menjalar di nadinya. ​‘Dia memelukku seolah dia mencintaiku, tapi dia merantaiku seolah aku ini binatang. Dia bilang dia melindungiku, tapi dialah yang pertama kali menghancurkanku. Ayahnya ingin aku mati, dan pria ini ingin aku hidup hanya agar dia bisa terus menguliti harga diriku setiap malam.’ ​Air mata Lea kembali mengalir, jatuh membasahi bantal sutra yang dingin. ​‘Sampai kapan? Berapa lama lagi aku bisa bertahan di dalam sangkar emas yang pengap ini? Jika kematian di tanganku adalah jalan keluar, apakah itu lebih baik daripada hidup sebagai bayang-bayang obsesi Alex? Aku lelah... aku benar-benar tidak sanggup lagi bernapas di bawah bayang-bayang namanya.’ ​Lea memejamkan mata dengan rapat, berusaha mengusir rasa perih yang menjalar di sekujur tubuhnya. Namun, setiap kali ia mencoba menjauh sedikit saja, pelukan Alex secara refleks menguat, seolah bahkan dalam tidurnya pun, Alex tidak sudi memberikan Lea satu inci pun kebebasan. Di kamar yang megah itu, Lea terkubur hidup-hidup dalam dekapan pria yang telah menjadikannya pusat dari dunianya yang gila. Cahaya fajar yang pucat menyelinap di sela gorden, menyinari kamar yang masih pengap oleh sisa gairah dan air mata. Lea sama sekali tidak memejamkan mata; ia terjaga dalam siksaan ikatan sutra dan dekapan posesif Alex yang tak melonggar sepanjang malam. ​Getaran itu berhenti—lalu berdering lagi, lebih lama, lebih mendesak. Alex menatap layar beberapa detik terlalu lama, rahangnya mengeras. Lea merasakan dekapan di pinggangnya menegang, seperti besi yang dikunci. Ia menekan tombol hijau. “Alex,” suara di seberang sana dingin dan tenang, terlalu tenang untuk pagi seperti ini. “Kau tahu jam berapa sekarang? Dalam waktu tiga puluh menit kau harus sudah sampai di hadapanku." ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD