Permainan Yang Tak Pernah Ia Pilih

1726 Words
“Alex…” suara Lea tercekat di tenggorokannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, membasahi pipinya tanpa bisa ia cegah. Dadanya terasa sesak, seolah udara di ruangan itu mendadak menipis. “Cukup… hentikan,” serunya dengan suara bergetar, rapuh oleh rasa takut yang kini tak lagi tersembunyi. Kata-kata itu meluncur terbata, lebih menyerupai jeritan minta dilepaskan daripada perlawanan yang sungguh-sungguh. Dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan, Lea mencoba bangkit dari pangkuan Alex. Gerakannya tergesa dan canggung, seakan setiap usaha menjauh membutuhkan tenaga yang jauh lebih besar dari yang ia miliki. Tubuhnya gemetar, antara dorongan untuk melarikan diri dan kesadaran pahit bahwa situasi ini telah lama keluar dari kendalinya. Ucapan Alex kembali terngiang di telinganya, bergema tanpa ampun di kepalanya. "Aku sangat menginginkanmu, Arabella. Puaskan aku saat ini…" Lea menelan ludah, dadanya terasa mengencang. Ia paham betul makna di balik kalimat itu—terlalu jelas untuk disalahartikan, terlalu berat untuk diabaikan. Nada Alex yang tenang justru membuatnya semakin gamang, seolah permintaan itu bukan sekadar keinginan, melainkan tuntutan yang telah lama menunggu jawaban. Itu bukan ajakan untuk sekadar ditemani minum. Bukan pula permintaan akan kehadiran semu. Alex menginginkan sesuatu yang jauh melampaui itu—sebuah penyerahan yang membuat Lea menyadari betapa tipis batas antara pilihan dan keterpaksaan dalam permainan yang sedang ia jalani. “Maaf, Alex,” ucap Lea lirih seraya memaksa tubuhnya bangkit dari pangkuannya. Suaranya bergetar, namun ada keteguhan yang ia kumpulkan dari sisa keberanian terakhirnya. “Aku bukan wanita seperti itu.” Ia tak menunggu respons. Dengan langkah tergesa, Lea menjauh, meninggalkan Alex yang masih diam di tempatnya. Jantungnya berdegup liar saat ia melangkah menuju pintu kamar, seolah setiap detik yang berlalu mempersempit ruang napasnya. Tangannya terulur, jemarinya gemetar saat menggenggam gagang pintu dan memutarnya dengan cepat. Terkunci. Napasnya tertahan. Lea mencoba sekali lagi, lebih keras, lebih panik—namun hasilnya sama. Pintu itu tetap tak bergeming, dingin dan bisu, seolah menertawakan usahanya untuk melarikan diri. Keheningan di belakangnya mendadak terasa menekan, jauh lebih menakutkan daripada suara apa pun. Lea membalikkan badan dengan napas tersengal. Namun keterkejutannya membeku seketika—Alex sudah berdiri tepat di belakangnya. Terlalu dekat. Terlalu senyap. Ia tersenyum simpul, senyum tipis yang tak pernah benar-benar hangat. Ada kilat kepuasan di matanya, seperti seseorang yang baru saja memastikan bahwa jalan keluar memang tak pernah ada sejak awal. Bukan senyum kemenangan yang meledak-ledak, melainkan ketenangan dingin milik pemburu yang tahu buruannya telah terpojok. “Kau terlalu terburu-buru,” ucap Alex pelan, nyaris santai. Nada suaranya rendah, terkendali, seolah situasi ini sepenuhnya berada dalam genggamannya. “Ruangan ini… selalu mengunci diri ketika tamu belum selesai.” Lea menelan ludah. Jarak di antara mereka terasa semakin menyempit, meski Alex tak bergerak satu langkah pun. Keheningan itu kembali bekerja—menekan, membelit, memaksa Lea menyadari satu hal yang membuat tengkuknya meremang: ia tidak sedang dikejar. Ia sedang ditunggu. Tanpa memberi kesempatan Lea bereaksi, Alex bergerak cepat. Lengannya melingkar, mengangkat tubuh Lea begitu saja—ringan, seolah perlawanan itu tak pernah diperhitungkan. Dunia terasa miring bagi Lea saat kakinya terlepas dari lantai, napasnya tercekat oleh kejutan dan ketakutan yang menyergap bersamaan. Ia digendong ala pengantin, namun tak ada kelembutan di sana. Hanya kendali yang dingin, langkah yang mantap, dan keheningan yang menekan. Lea membeku di pelukannya, tubuhnya kaku, pikirannya berputar mencari celah yang tak kunjung ada. Alex melangkah menuju ranjang mewah di tengah kamar itu—ranjang yang kini menjelma simbol kurungan. Setiap langkahnya terasa seperti hitungan mundur, membawa Lea semakin jauh dari pintu yang terkunci, semakin dekat pada sesuatu yang tak sanggup ia namai selain rasa takut yang mengeras di dadanya. “Alex…” suara Lea pecah di udara. “Aku mohon—jangan lakukan ini.” Ucapannya meninggi, nyaris teriakan, namun rapuh oleh ketakutan yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Refleks, tangannya menutup bagian depan tubuhnya, seolah gestur kecil itu mampu melindunginya dari sesuatu yang kian tak terelakkan. Jantungnya berdegup liar, memukul-mukul dadanya tanpa ritme. Tangis itu menguap tanpa gema. Alex tidak menoleh, tidak pula menunjukkan tanda bahwa suara itu pernah sampai kepadanya—atau mungkin ia memang memilih untuk menutup telinga dari apa pun yang tak lagi penting. Wajahnya tetap tenang. Terlalu tenang. Ketenangan yang bukan lahir dari kendali diri, melainkan dari keputusan yang telah bulat, final, dan tak menyisakan ruang bagi penyesalan. Seperti seseorang yang bukan hanya telah menentukan pilihan, tetapi juga memutuskan untuk memutuskan segalanya—tanpa perlu menoleh ke belakang. Ia merenggangkan kerah kemejanya, lalu menarik dasi itu lepas dengan gerakan lambat, nyaris penuh perhitungan. Tidak ada ketergesaan di sana, apalagi luapan hasrat—hanya ketenangan dingin yang disengaja. Justru sikap itulah yang membuat udara di dalam ruangan terasa kian menekan, seolah dinding-dindingnya perlahan bergerak mendekat. “Kau membuatku semakin b*******h, Arabella,” ucapnya rendah, nyaris seperti bisikan yang disengaja—bukan untuk didengar sebagai pengakuan, melainkan sebagai tekanan halus yang menyusup perlahan dan menolak untuk diabaikan. Alex melangkah mendekat, bayangannya menelan ruang di hadapan Lea hingga ia nyaris tak punya tempat untuk bernapas. Kedekatan itu terasa memaksa, menekan, seperti candu yang telah berubah menjadi ancaman. Tangannya terangkat, menyentuh garis bibir Lea dengan kasar—bukan sebagai belaian, melainkan penegasan kuasa. Sorot matanya mengeras, menyimpan niat yang tak diucapkan, hasrat yang ingin dituntaskan tanpa peduli pada apa pun selain kehendaknya sendiri. Beberapa detik berlalu dalam jarak yang menipis itu, hingga napas Alex terasa terlalu dekat. Lea meronta, berusaha memutus kedekatan yang menekan dirinya, mendorong d**a itu menjauh dengan sisa tenaga yang ia punya. Namun setiap perlawanan justru seperti memperkeruh keadaan—membuat rahang Alex mengeras, tatapannya semakin gelap. Lea berusaha melawan, mendorong dan menghentikan kedekatan itu dengan sisa tenaga yang ia punya. Namun setiap geraknya justru disalahartikan—membuat rahang Alex mengeras, tatapannya semakin gelap. Perlawanan itu tidak meredamnya; sebaliknya, ia menangkapnya sebagai pemicu, sesuatu yang mengobarkan dorongan liar yang kian sulit ia kendalikan. “Aah…” desah itu meluncur lirih, sarat oleh gairah yang tak ia sembunyikan. Alex menunduk, lalu sebuah sentakan kasar mendarat di bibir Lea, memaksanya terbuka. Kedekatan itu menyesakkan—menekan, menguasai—hingga Lea kehilangan ruang untuk menghindar. Ia tak mampu membalas apa pun. Air matanya jatuh perlahan, satu-satunya respons yang tersisa ketika keberanian dan suaranya terkunci oleh ketakutan. Bibir Alex bergerak turun dari sana, menyusuri leher Lea dengan kedekatan yang membuatnya menggigil. Sentuhan itu meninggalkan bekas—bukan sekadar di kulit, melainkan sebagai penanda kuasa yang tak ia minta. Tidak ada jeda, tidak ada ruang untuk bernapas; semuanya berlangsung dalam arus yang kian tak terkendali. Yang terdengar di telinga Lea hanyalah napas Alex yang memburu, dekat dan menekan, sementara dirinya terperangkap dalam diam yang basah oleh air mata. Dengan satu gerakan tegas, kain itu terlepas dari tubuh Lea dan jatuh ke lantai, tak bersuara, seolah turut menyerah pada keadaan. Alex terdiam sesaat. Pandangannya mengunci, tajam dan dingin, seperti seseorang yang tengah menatap sesuatu yang sejak lama ia klaim sebagai miliknya. Lea tak bergerak. Tubuhnya kaku, rapuh di bawah sorot mata itu—terasa asing, tak lagi sepenuhnya ia miliki. Rasa malu dan takut menyatu, menekan dadanya hingga ia hanya mampu terdiam, terkurung dalam keheningan yang menolak memberinya jalan keluar. Alex menunduk, menekan wajahnya ke lekuk tubuh Lea dengan kedekatan yang menyesakkan. Sentuhannya berpindah tanpa ritme yang bisa ia tebak, menuntut dan tak memberi ruang untuk menghindar, hingga Lea hanya mampu terdiam, tubuhnya menegang di bawah perlakuan yang kian tak terkendali. "“Ah—hentikan… Lex…” suaranya pecah di antara isak, lirih dan gemetar. Permohonan itu nyaris tak berbentuk kata, lebih menyerupai desahan putus asa yang tenggelam oleh ketakutan. Napas Lea terengah, tersendat oleh sensasi asing yang menjalar tanpa ia mengerti sepenuhnya. Jari-jarinya mencengkeram seprai, berusaha menahan gejolak yang berputar liar di dalam dirinya—sebuah tekanan ganjil, mendesak, seolah ada sesuatu yang menuntut lepas sementara ia belum siap menghadapinya. Kau menikmatinya?” ucapnya rendah, nyaris tanpa emosi, seolah kata-kata itu hanya alat untuk menekan. Sebuah jeda menyusul—terlalu lama, terlalu sengaja—sebelum ia menambahkan, pelan dan menyesakkan, “Bersabarlah…” "Tak lama lagi,” bisiknya rendah, sarat penekanan, “aku akan membawamu ke batas yang tak pernah kau bayangkan.” Alex memaksakan jarak itu terbuka, sebuah tindakan yang membuat Lea menegang seketika. Pandangannya turun, menilai dengan ketertarikan yang dingin, seolah menemukan sesuatu yang kini ia anggap sebagai miliknya. Sentuhan itu datang tanpa peringatan—asing, mengusik—membuat Lea terperanjat oleh reaksi tubuhnya sendiri. Bagi Alex, momen itu seperti penemuan baru, sesuatu yang menyalakan kesenangan gelap yang kini ia niatkan untuk ia kuasai sepenuhnya. Alex menatap tubuh Lea dengan sorot yang membuatnya merinding. Gerakannya cepat dan kasar, seolah kesabaran telah habis; pakaian itu disingkirkan begitu saja, jatuh entah ke mana tanpa ia pedulikan. Lea memalingkan wajahnya, jantungnya berdegup liar. Ada sesuatu dalam tatapan dan posturnya yang membuat rasa ngeri menjalar—ancaman yang tak perlu diperlihatkan untuk bisa dirasakan. Membayangkannya saja sudah cukup membuat tubuh Lea bergetar, ketakutan menekan napasnya hingga nyaris habis. Lea refleks menutup dirinya, berusaha bangkit dari ranjang itu dengan sisa kekuatan yang tersisa. Namun upaya itu terhenti seketika. Alex lebih cepat—menariknya kembali dengan paksa, memutus setiap kemungkinan untuk melarikan diri. Tubuh Lea kembali terhempas, ruang geraknya direnggut sepenuhnya. Posisi itu membuatnya terperangkap, napasnya tercekat ketika ia menyadari betapa dekat ancaman itu kini berada. Dunia seolah menyempit, menyisakan ketakutan yang menekan tanpa ampun, sementara air mata mengalir tanpa suara. Tanpa aba-aba, Alex membenamkan wajahnya di sela kaki Lea. Lidahnya bermain dengan begitu liar. Menyesap, melumat hingga sapuan bersih ia berikan pada bagian inti tubuh Lea. Kepala Lea terangkat tanpa ia sadari, seolah tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya. Jemarinya mencengkeram apa pun yang terjangkau—bantal, seprai—seakan benda-benda itu satu-satunya penahan agar ia tak terhanyut sepenuhnya. Napasnya tersengal, terputus-putus, mengikuti degup jantung yang berpacu tak terkendali. Ada sensasi asing yang menyergapnya, baru, membingungkan, dan terlalu kuat untuk ia pahami. Untuk pertama kalinya, tubuhnya merespons dengan cara yang tak pernah ia kenal, meninggalkan dirinya terombang-ambing di antara takut, terkejut, dan keterasingan yang menyesakkan. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang berat. Tubuh Lea terkulai, napasnya masih bergetar, sementara kesadarannya berusaha mengejar kembali kendali yang terasa tercerai-berai. Namun sebelum ia sempat berpikir—sebelum dunia benar-benar kembali ke tempatnya—bayangan Alex kembali menutup pandangannya. Tatapan itu masih ada. Tetap gelap. Tetap lapar. Dan saat Lea menyadari bahwa semua ini belum berakhir, satu hal menghantam pikirannya dengan dingin: apa yang baru saja terjadi bukanlah akhir—melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD