Jam sembilan tepat.
Lea berdiri sejenak di depan pintu ruang utama, menenangkan napasnya sebelum masuk. Gaun yang ia kenakan sederhana, gelap, tanpa perhiasan berlebihan—seperti yang disarankan Madam Rose. Tidak mencolok, namun cukup tegas untuk mengatakan bahwa ia hadir dengan kesadaran penuh.
Ia mendorong pintu.
Di sana duduk seorang pria berbadan besar. Tatapannya tajam, menatap terlalu lama pada Lea, membuat napasnya tersangkut di d**a dan tubuhnya menegang tanpa ia sadari.
Selama ini, hanya Alex dan satu pria lain yang pernah menjadi tamunya—usia mereka tak jauh darinya. Kali ini berbeda. Wajah itu dipahat waktu, garis-garisnya tegas, usianya lebih pantas menjadi ayahnya.
Kesadaran itu turun seperti beban. Dingin merambat di punggung Lea. Ia tahu—ini bukan sekadar pertemuan, melainkan batas yang sengaja didorong, untuk melihat apakah ia akan mundur atau tetap berdiri.
Tiba-tiba tangan itu meraih Lea.
Tarikannya kasar dan tak memberi waktu untuk menolak. Keseimbangan Lea runtuh—tubuhnya terhuyung, lalu jatuh ke pangkuan pria itu dengan napas tersentak. Detak jantungnya memukul keras di telinga sendiri.
Aroma alkohol yang pekat langsung menyergap, menusuk hidungnya, membuat kepalanya sedikit pening. Bau itu bercampur dengan kehangatan tubuh asing yang terlalu dekat, terlalu memaksa.
“Arabella…”
Namanya diucapkan lambat, berat, seolah sedang dicicipi.
Lea membeku. Bahunya kaku, punggungnya menegang, seluruh tubuhnya menolak—namun posisinya terlanjur terperangkap. Tangannya mencengkeram ujung gaunnya tanpa sadar, mencari pegangan pada sesuatu yang terasa nyata.
“Kau memang benar-benar cantik,” lanjut pria itu, suaranya rendah, serak oleh alkohol. Ada jeda singkat, tatapannya menyapu tanpa malu.
“Dan juga… menggairahkan.”
Kata-kata itu membuat d**a Lea mengencang. Bukan karena pujian, melainkan karena cara ia diucapkan—seperti hak, bukan kekaguman.
Untuk pertama kalinya malam itu, Lea merasakan ketakutan yang murni.
Bukan ketakutan akan permainan.
Bukan ketakutan akan sistem.
Melainkan ketakutan karena jarak yang seharusnya ada… telah direnggut begitu saja.
Udara di dalam ruangan itu seolah semakin menipis, menyisakan kesunyian yang mencekam sekaligus intim. Pria itu menurunkan wajahnya, membiarkan ujung hidungnya menyesap aroma kulit Lea di sepanjang garis rahang, sebelum akhirnya bibirnya mendarat tipis di ceruk leher gadis itu.
Sentuhan bibir yang dingin namun menuntut itu membuat tubuh Lea menegang sempurna. Ia berusaha mendorong diri ke atas untuk bangkit, namun gerakan itu justru menjadi kesalahan fatal. Tekanan tubuh Lea—yang berjuang untuk lepas—malah menekan tepat pada bagian sensitif pria tersebut.
Lea tersentak. Melalui lapisan tipis gaunnya, ia bisa merasakan perubahan fisik pria itu yang mulai mengeras di bawah tubuhnya. Realitas itu menghantamnya seperti gelombang es; sebuah pengingat bahwa posisinya saat ini benar-benar berbahaya.
Pria itu melepaskan sebuah desahan pelan, suara rendah yang bergetar tepat di kulit leher Lea. Itu bukan desahan lembut, melainkan suara penuh kepuasan predator yang merasakan mangsanya semakin terpojok. Ia merapatkan panggulnya, memastikan Lea merasakan setiap inci ketegangan yang ia ciptakan sendiri melalui gerakannya tadi.
"Kau merasakannya, hm?" bisiknya, suaranya kini terdengar lebih parau, beradu dengan detak jantung Lea yang liar. "Bagian ini... seolah terhimpit olehmu. Dan ia sangat menyukainya."
Tangan pria itu yang berada di pinggang Lea kini berpindah menekan punggung bawah gadis itu, memastikan tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka. Tekanan itu membuat Lea terpaksa mengikuti ritme napas pria itu yang mulai memberat.
Sentuhan itu terasa panas di kulit Lea, seolah meninggalkan bekas terbakar di tempat jemari pria itu menekan. Ketakutan yang tadinya membeku di dalam d**a kini berubah menjadi insting untuk bertahan hidup.
Lea meletakkan kedua telapak tangannya di bahu lebar pria itu, berusaha mendorong tubuhnya sendiri menjauh. Namun, alih-alih memberinya ruang, cengkeraman di pinggangnya justru semakin mengunci. Jemari pria itu menekan lekuk pinggangnya dengan kekuatan yang membuat Lea meringis tertahan.
Saat ia mencoba memutar tubuh, ibu jari pria itu bergerak naik. Tanpa peringatan, jemari kasar yang berbau tembakau dan alkohol itu mengusap bibir Lea. Bukan usapan lembut, melainkan tekanan paksa yang membuat bibirnya sedikit terbuka, memamerkan kerapuhan yang justru semakin menyulut api di mata sang pria.
"Ah... gerakanmu semakin menuntutku untuk memakanmu, Arabella," bisik pria itu, suaranya kini terdengar seperti geraman rendah di dekat telinga Lea.
Napas Lea memburu, matanya bergetar menatap wajah yang terpahat oleh waktu itu. Garis-garis di sekitar mata pria itu melengkung dalam kepuasan predator.
"Tolong... lepaskan," suara Lea keluar, namun nyaris menyerupai bisikan yang hilang ditelan kebisingan samar di luar ruangan.
"Lepaskan?" Pria itu terkekeh, getaran tawanya merambat masuk ke sumsum tulang Lea. "Kau tidak tahu betapa mahalnya harga untuk mendudukkanmu di sini, Arabella. Di dunia ini, tidak ada yang dilepaskan begitu saja setelah tertangkap."
Pria itu semakin menekan telapak tangannya pada pinggang ramping Lea, menariknya hingga tidak ada lagi celah udara yang tersisa. Saat tubuh mereka bergesekan karena usaha Lea yang ingin bangkit, pria itu mendongakkan kepalanya sedikit, melepaskan desahan panjang yang terdengar sangat dalam dan serak.
"Sssshhh... ahhh..."
Suara itu keluar bersamaan dengan embusan napas panas yang menyapu kulit leher Lea. Desahan itu terdengar sangat puas, sebuah suara yang menandakan bahwa ia sedang menikmati betapa eratnya tubuh Lea menghimpit bagian intinya yang kini benar-benar mengeras dan menuntut.
Dengan sisa keberaniannya, Lea menyentak tubuhnya ke depan, mencoba melompat turun dari pangkuan yang terasa seperti jeruji besi itu. Namun, pria itu seolah sudah memprediksi gerakannya. Lengan besarnya yang kokoh melingkar lebih kencang di pinggang ramping Lea, menariknya kembali dengan sekali sentakan kuat hingga punggung Lea menghantam d**a bidang pria itu.
"Jangan mencoba lari, Arabella," geram pria itu, suaranya kini lebih serak dan berat.
Lea tidak menyerah. Ia terus meronta, pinggulnya bergerak gelisah mencoba mencari celah untuk meloloskan diri. Kakinya menendang lantai secara tidak teratur, sementara tangannya terus mendorong d**a pria itu dengan tenaga penuh.
Namun, alih-alih melepaskan, perlawanan Lea justru memicu sesuatu yang lebih gelap dalam diri pria itu. Napas pria itu menjadi pendek dan panas, berembus di ceruk leher Lea.
Cengkeramannya yang kasar kini berpindah, satu tangannya meremas paha Lea sementara tangan lainnya menekan tengkuk gadis itu, memaksanya untuk tetap menempel.
"Kau tidak sadar, hm?" bisik pria itu tepat di telinga Lea, membuat tubuh gadis itu bergetar hebat. "Setiap sentakanmu... setiap usahamu untuk menjauh... justru membuatku semakin ingin menghancurkanmu."
Tatapannya yang tajam kini berubah menjadi liar. Ia seolah menikmati perjuangan Lea, seolah ketakutan dan perlawanan gadis itu adalah bumbu yang membuat "hidangan" di depannya semakin menggoda. Pria itu mengunci pergerakan kaki Lea dengan kedua kakinya sendiri, membuat Lea benar-benar tak berkutik di bawah dominasinya.
"Setiap inci gerakanmu," pria itu berbisik, bibirnya nyaris tidak bergerak saat ia menatap bibir Lea yang gemetar. "Hanya memberiku lebih banyak alasan untuk tidak membiarkanmu keluar dari ruangan ini dalam keadaan utuh."
Ketakutan Lea kini bukan lagi sekadar rasa waswas, melainkan horor yang melumpuhkan. Ia merasa seperti seekor burung kecil yang sayapnya baru saja dipatahkan di bawah cengkeraman predator. Napasnya pendek-pendek dan tersengal, sementara air mata yang sedari tadi ia tahan mulai menggenang, membuat pandangannya terhadap ruangan mewah itu menjadi kabur dan menyimpang.
"Tolong... jangan..." bisik Lea dengan suara yang pecah.
Bibirnya bergetar hebat, dan ia bisa merasakan jantungnya berdegup begitu kencang di balik dadanya, seolah-olah organ itu ingin melompat keluar demi menghindari situasi ini. Ia mencoba menjauhkan lehernya, namun pria itu justru menggunakan tangannya untuk menahan punggung Lea, memaksanya untuk tetap merasakan setiap getaran gairah yang keluar dari tenggorokan pria itu.
Lea memejamkan matanya erat-erat, membiarkan satu tetes air mata jatuh melewati pipinya. Ia terjepit di antara aroma alkohol yang tajam, desahan yang memburu, dan kenyataan bahwa malam ini, batas yang ia jaga dengan susah payah telah hancur sepenuhnya.
Pria itu tidak lagi memberikan ruang untuk bernapas. Dengan gerakan yang penuh perhitungan dan dingin, jemarinya yang kasar mulai merayap ke arah resleting di punggung gaun Lea. Setiap sentuhan kulitnya terasa seperti sengatan listrik yang menyakitkan bagi Lea.
"Ssshh... diamlah," bisik pria itu, meredam isakan Lea dengan napasnya yang berat.
Terdengar suara resleting yang ditarik turun perlahan—sebuah suara yang sangat nyaring di telinga Lea, menandakan runtuhnya pertahanan terakhirnya. Udara dingin ruangan langsung menyentuh kulit punggungnya yang polos, kontras dengan panas yang memancar dari tubuh pria di bawahnya.
Pria itu kembali mendesah, "Ahhh...", suara itu terdengar lebih serak saat ia merasakan kain gaun itu mulai melonggar di tubuh Lea. Ia menekan pinggang Lea lebih keras, membuat gesekan di bagian intinya semakin intens hingga ia memejamkan mata dengan ekspresi yang nyaris kesakitan karena nikmat.
"Kau benar-benar luar biasa," gumamnya di depan bibir Lea yang pucat.
Tangannya yang besar kini menyusup ke dalam gaun yang sudah terbuka itu, menyentuh kulit punggung Lea yang halus secara langsung. Lea merasa dunianya runtuh. Ia mencoba meronta sekali lagi, namun pria itu justru menggunakan berat tubuhnya untuk mengunci Lea, memaksanya tetap berada di pangkuan yang semakin menuntut itu.
Ketakutan Lea telah berubah menjadi mati rasa yang mengerikan. Ia melihat pria itu mulai menurunkan tali gaun dari bahunya, mengungkap kerentanan yang selama ini ia sembunyikan. Pria itu menatap bahu Lea yang gemetar dengan tatapan lapar yang tak terpuaskan, seolah-olah ia siap untuk benar-benar "memakan" Lea detik itu juga.
Pria itu sudah berada di puncak kegilaannya, napasnya menderu seperti binatang buas tepat di depan wajah Lea. Ia menyentakkan panggulnya ke depan, memposisikan bagian intinya yang sudah sangat tegang untuk melakukan penetrasi final yang akan menghancurkan Lea sepenuhnya.
Namun, tepat saat tekanan itu mulai terasa nyata dan Lea memejamkan mata dalam keputusasaan yang paling dalam...
BRAKKKK!!!
Dentuman keras menghantam ruangan, cukup kuat untuk membuat lantai bergetar. Kayu berderak, debu beterbangan, dan waktu seakan terhenti di satu tarikan napas yang patah.
Lea tersentak.
Pria itu membeku.
Di ambang kehancuran pintu, sesuatu—atau seseorang—telah masuk. Dan apa pun yang baru saja melangkah ke dalam ruangan itu, telah mengubah arah malam ini sepenuhnya.