BRAKKKK!!!
Satu dentuman fisik yang luar biasa keras menghantam pintu ruangan itu hingga daun pintu kayu jati yang kokoh itu terlempar dari engselnya, hancur berkeping-keping di atas lantai.
Pria itu tersentak hebat. Gairahnya seketika sirna, digantikan oleh keterkejutan murni yang membuatnya terhuyung ke samping. Ia melepaskan cengkeraman mautnya pada paha Lea, membuat gadis itu terkapar di lantai dalam kondisi setengah polos dan gemetar hebat.
Di ambang pintu, di bawah cahaya remang, berdiri Alex.
Wajah yang biasanya dingin itu kini berubah menjadi topeng kemarahan yang mengerikan. Matanya yang gelap berkilat tajam saat melihat gaun Lea yang robek dan bahunya yang terekspos. Aura Alex saat itu tidak lagi seperti pria m***m yang selama ini menjamah Lea; ia tampak seperti predator yang siap mencabik siapa pun yang berani mengusik miliknya.
"b******k! Apa yang kau lakukan disini?!" pria besar itu mencoba menggertak meski suaranya bergetar ketakutan sambil berusaha menarik celananya.
Alex tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju dengan kecepatan yang mematikan. Dalam satu gerakan cepat, ia mencengkeram kerah kemeja pria besar itu dan menghantamkan wajahnya ke meja marmer hingga suara tulang patah terdengar jelas.
"Kau..." suara Alex terdengar rendah dan bergetar karena amarah yang ditahan, "telah menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak pernah kau lihat."
Lea meringkuk di sudut, menutupi dadanya dengan tangan yang gemetar hebat, melihat Alex yang kini bertindak begitu brutal demi melindunginya. Namun, ketika Alex menoleh, tatapannya tidak memberikan ketenangan yang Lea harapkan.
Alex menatap Lea dengan sepasang mata yang berkilat tajam, nyaris liar. Tidak ada kelembutan di sana; yang ada hanyalah intensitas yang membuat bulu kuduk Lea meremang. Tatapan itu menyapu tubuh Lea yang setengah terbuka, dari bahunya yang gemetar hingga jemari kakinya yang meringkuk di atas lantai dingin.
Napas Alex memburu, berat dan pendek, membuat dadanya naik-turun dengan cepat di bawah kemejanya yang kini tampak tegang. Amarah karena melihat Lea dilecehkan tampaknya bercampur dengan sesuatu yang lain—sesuatu yang jauh lebih primitif dan berbahaya.
Lea terkesiap, merasa seolah oksigen di ruangan itu baru saja habis. Ia belum pernah melihat Alex seperti ini. Alex tampak seperti sedang berperang dengan dirinya sendiri, mencoba menekan insting gelap yang muncul saat melihat kondisi Lea yang hancur sekaligus... menggoda di mata predatornya.
"Jangan bergerak," geram Alex, suaranya parau dan dalam.
Setiap embusan napas Alex yang memburu seolah memenuhi ruangan, menekan Lea hingga ia merasa tidak bisa bernapas. Pria besar yang tersungkur di lantai diabaikannya begitu saja; bagi Alex saat ini, satu-satunya hal yang ada di dunia ini hanyalah Lea yang sedang gemetar di depannya—mangsa yang baru saja hampir dirampas dari tangannya.
Alex tak lagi memedulikan pria yang merintih di lantai itu. Bagi dirinya, sosok itu sudah lenyap—tak lebih dari sisa gangguan yang tak layak diingat. Seluruh fokusnya terkunci pada satu titik: Arabella.
Tanpa sepatah kata pun, ia meraih jas hitam yang tergeletak di kursi. Gerakannya kasar saat menyentakkan kain tebal itu ke bahu Lea, membungkus tubuh mungil itu dengan paksa—seperti seseorang yang menutup rapat sesuatu yang hanya boleh ia miliki. Tidak ada kelembutan dalam sentuhannya. Hanya klaim.
“Jangan. Bersuara,” desisnya tepat di depan wajah Lea.
Suara itu rendah dan parau, bergetar oleh sisa amarah dan adrenalin yang masih membara. Cengkeramannya pada lengan Lea mengeras ketika ia memaksa gadis itu berdiri. Satu tangan melingkar kuat di pinggangnya, terlalu erat untuk disebut pelukan—lebih menyerupai belenggu. Alex menarik Lea keluar dari ruangan utama itu tanpa menoleh lagi.
Dengan aura predator yang mengancam, Alex menembus lautan manusia di nightclub yang sedang menggila. Dentuman musik techno menghantam d**a, lampu strobe berkilat liar, dan tubuh-tubuh asing bergesekan tanpa arah. Lea menunduk di balik jas Alex, bahunya gemetar, wajahnya tersembunyi, seolah hanya sehelai bayangan yang diseret paksa melewati hiruk-pikuk.
Setiap kali ada tangan asing terlalu dekat, Alex menarik Lea lebih rapat ke sisinya. Napasnya memburu di dekat telinga gadis itu, hangat dan menekan. Aroma parfumnya yang pekat bercampur dengan panas tubuhnya, membuat ruang di sekitar Lea terasa semakin sempit, semakin menyesakkan.
Alex tidak membiarkan sedikit pun jarak tercipta antara dirinya dan Lea. Setelah membelah kerumunan klub yang bising dengan langkah predator, ia menarik Lea menuju mobil sedan mewah berwarna hitam yang sudah menunggu dengan mesin menyala di depan lobi.
Seorang sopir dengan setelan serba hitam segera turun dan membukakan pintu belakang. Alex mendorong Lea masuk ke dalam kabin yang kedap suara itu, lalu ia ikut masuk dan duduk tepat di sampingnya. Begitu pintu tertutup dengan dentuman berat, kebisingan dunia luar lenyap seketika, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.
"Jalan," perintah Alex singkat tanpa menoleh pada sopir di depan.
Sopir itu hanya mengangguk kecil dan segera memacu mobil membelah jalanan kota yang temaram. Di dalam kabin belakang, suasana terasa jauh lebih sempit dan panas. Alex tidak duduk dengan tenang; ia justru menggeser duduknya, menghimpit Lea hingga gadis itu terdesak ke sudut kursi kulit yang mahal.
Alex menatap Lea dengan intensitas yang mengerikan, napasnya masih memburu dan berat, memenuhi ruang sempit di antara mereka. Ia tidak peduli pada kehadiran sopir di depan yang hanya dipisahkan oleh sekat kaca tipis. Tangannya yang besar kembali merayap, mencengkeram rahang Lea dengan kasar agar gadis itu menatap matanya yang gelap.
"Kau gemetar, Arabella," bisik Alex, suaranya rendah dan serak, bergetar karena amarah yang kini berubah menjadi damba yang liar.
Jemarinya yang lain mulai bergerak di balik jas yang menutupi tubuh Lea, menjamah kulit bahu Lea yang masih sensitif dengan gerakan yang menuntut. Setiap embusan napas Alex yang panas menyapu wajah Lea, menciptakan ketegangan yang membuat jantung Lea berdegup kencang. Di bawah remang lampu jalanan yang masuk lewat jendela, wajah Alex tampak seperti iblis yang sedang menagih janji.
"Sopir itu tidak akan berani menoleh ke belakang," geram Alex lagi, sambil mendekatkan wajahnya ke leher Lea, "jadi jangan coba-pikir untuk meminta tolong."
Kesunyian di dalam kabin mobil yang mewah itu justru membuat setiap suara terasa seribu kali lebih intim. Suara deru mesin yang halus seolah tenggelam oleh suara napas Alex yang semakin berat dan tidak beraturan. Di bawah temaram lampu jalanan yang berkelebat masuk lewat jendela, kewarasan Alex benar-benar menguap.
Alex tidak bisa lagi menahan diri. Dengan satu gerakan dominan, ia menarik Lea ke atas pangkuannya, mengabaikan fakta bahwa mereka berada di dalam kendaraan yang sedang melaju kencang. Jas yang menutupi tubuh Lea tersingkap, mengekspos kembali kulit halus yang tadi sempat dinodai pria lain.
"Aku mencium aroma pria itu di kulitmu... dan itu membuatku ingin menghancurkan segalanya," geram Alex.
Suaranya pecah menjadi erangan rendah saat ia membenamkan wajahnya di d**a Lea. Tangannya merayap liar, meremas panggul Lea dengan tenaga yang nyaris membuat gadis itu memekik. Alex tidak peduli jika sopir di depan mendengar suara gesekan kulit atau guncangan di kursi belakang; fokusnya hanya satu: menghapus sisa-sisa trauma Lea dengan gairahnya sendiri yang jauh lebih membakar.
Alex mulai menciumi leher Lea dengan kasar, meninggalkan tanda-tanda merah yang baru di atas bekas-bekas yang lama. "Ahhh... Ara...Bella...ssshh..." desah Alex, suaranya parau oleh damba yang sudah mencapai puncaknya. Ia menarik pinggul Lea agar menekan kuat pada bagian intinya yang sudah sangat tegang di balik celana kainnya.
Lea terengah, tangannya mencengkeram bahu kokoh Alex untuk mencari keseimbangan saat mobil berbelok tajam. "Al-Alex... jangan di sini... ahhh!" rintih Lea, namun suaranya justru memicu adrenalin Alex.
Alex justru semakin menggila. Ia melepaskan kancing kemejanya dengan satu tangan sementara tangan lainnya bekerja di bawah jas yang membungkus Lea, memberikan stimulasi yang begitu intens hingga tubuh Lea melengkung dan gemetar hebat.
Di tengah kecepatan mobil yang membelah malam, Alex terus mengerang dan mendesah, menjamah Lea dengan cara yang paling posesif seolah-olah dunia luar sudah tidak ada lagi, hanya tersisa mereka berdua dalam pusaran nafsu yang gelap di kursi belakang.
Udara di dalam kabin belakang sudah benar-benar tidak tertahankan. Panas, pekat dengan aroma maskulin Alex dan gairah yang meledak-ledak. Tubuh Lea yang gemetar hebat di atas pangkuan Alex membuat pria itu mencapai batas kesabarannya. Namun, ia tidak memerintahkan mobil untuk berhenti.
Alex justru semakin tertantang oleh situasi ini. Meski ada sopir di balik sekat kaca tipis di depan, Alex tidak peduli. Ia ingin Lea merasakan sensasi terlarang ini; diklaim secara brutal di tengah kendaraan yang melaju membelah jalanan kota.
Tanpa membuang waktu, Alex membuka ritsleting celananya. Tangannya yang besar mencengkeram pinggul Lea, mengangkat tubuh gadis itu sedikit, lalu menurunkannya kembali dengan satu sentakan yang dalam dan brutal.
"AAAHHHH...!" Lea memekik, suaranya tertahan saat ia merasakan Alex memenuhi dirinya sepenuhnya dalam satu dorongan tanpa ampun. Tubuhnya menegang, kakinya melingkar erat di pinggang Alex demi mencari tumpuan saat mobil berguncang melewati jalanan yang tidak rata.
"Ssshhh... diam, Arabella... nikmati saja," desis Alex, wajahnya menegang dengan urat-urat yang menonjol di lehernya. Ia memejamkan mata erat, menikmati jepitan yang luar biasa dari milik Lea.
Di tengah kecepatan mobil yang konstan, Alex memulai pergerakan yang liar dan cepat. Guncangan mobil bercampur dengan hentakan bertenaga dari Alex, menciptakan irama yang kacau namun memabukkan. Setiap kali Alex menghujam dalam, Lea hanya bisa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alex, melepaskan desahan-desahan pendek yang tersengal.
"Nghhh... ahhh... sssshhh... katakan kau milikku, Arabella!" geram Alex, napasnya menderu tepat di telinga Lea.
Tangannya meremas d**a Lea yang terekspos di balik jas, sementara ia terus memacu ritmenya tanpa memedulikan sopir di depan yang mungkin bisa merasakan guncangan tak wajar dari kabin belakang. Setiap hentakan membuat punggung Lea menghantam sandaran kursi kulit, menciptakan suara debuman yang intim dan berulang di tengah kesunyian perjalanan itu.
"Ahhh... Arabella... sedikit lagi... hhh... Ahhh!" geram Alex dengan napas yang tersengal hebat.
Tubuh Lea melengkung lemas, jemarinya yang gemetar mencengkeram erat bahu Alex. Saat sensasi luar biasa itu menghantam, Lea tidak lagi berteriak; ia hanya mampu membisikkan rangkaian desahan halus yang sangat intim di sela napasnya yang tersengal.
"Nghhh... ahhh... s-sttt... A-alex... hhh... pelan-pelan... ughhh... m-milikmu... hhh..."
Suaranya nyaris hilang, tertelan oleh deru napas Alex, menyisakan rintihan lembut yang gemetar saat ia akhirnya terkulai pasrah di pelukan pria itu.
Keheningan segera menyergap kabin mobil, hanya menyisakan aroma parfum yang bercampur dengan keintiman yang baru saja usai.
Alex menatap wajah Lea yang terlelap dalam pelukannya—begitu rapuh, namun kini sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Di tengah kesunyian kabin yang hanya diisi oleh deru napas Lea yang teratur, Alex menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Ia menatap lekat-lekat wajah gadis di pelukannya, jemarinya menelusuri garis rahang Lea dengan sentuhan yang nyaris posesif sekaligus memuja.
"Kau adalah racun yang paling manis, Arabella," bisik Alex, suaranya terdengar begitu parau dan dalam, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Ia memejamkan mata sejenak, menghirup aroma tubuh Lea yang kini bercampur dengan aromanya sendiri—sebuah perpaduan yang membuatnya merasa begitu berkuasa sekaligus terikat.
"Aku sudah mencoba menahan diri, mencoba menjauh... tapi setiap kali aku melihatmu, semua kewarasanku seakan terbakar habis." Alex terkekeh rendah, sebuah tawa getir yang dingin.
"Kau membuatku melakukan hal-hal yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh iblis sekalipun. Aku tidak hanya menginginkan tubuhmu, aku menginginkan jiwamu hingga tidak ada lagi ruang untuk orang lain di sana."
Ia mencium puncak kepala Lea dengan lama, mendekap tubuh lemas itu seolah ingin menyatukannya ke dalam dadanya sendiri.
"Ini bukan lagi sekedar keinginan, Arabella. Ini adalah candu. Dan aku tidak punya niat sedikit pun untuk sembuh darimu. Kau akan tetap di sini, di sisiku, sampai kau lupa bagaimana rasanya kebebasan tanpa namaku di telingamu."