Gerbang besi raksasa Mansion Baskara berderit pelan, terbuka otomatis seolah menyambut kepulangan sang penguasa ke benteng pribadinya. Di balik kemegahannya yang terisolasi, kediaman itu berdiri angkuh bak kastil tua yang memendam ribuan rahasia di tiap sudut pilar marmernya.
Begitu mobil berhenti di lobi yang luas, sopir bergegas membukakan pintu. Tanpa sepatah kata pun, Alex keluar sambil menggendong Lea dalam dekapan bridal style. Jas hitamnya masih membungkus tubuh polos gadis itu, menyembunyikan sisa-sisa klaim brutal yang seharusnya tak dilihat oleh mata dunia
Langkah Alex mantap menaiki tangga marmer menuju kamar utamanya di lantai atas. Ruangan itu luas dan temaram, diselimuti aroma kayu cendana yang menenangkan—kontras dengan badai yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.
Alex melangkah tegap, langkah sepatunya bergema di sepanjang tangga marmer menuju kamar utama. Ruangan itu luas, namun terasa intim dengan pencahayaan redup dan aroma kayu cendana yang menenangkan saraf.
Ia membaringkan Lea di atas tempat tidur king-size dengan gerakan yang sangat hati-hati—seolah gadis itu adalah porselen langka yang bisa hancur hanya dengan satu sentuhan kasar. Alex menanggalkan jasnya, menggantinya dengan selimut sutra tebal yang menyelimuti Lea hingga ke dagu.
Setelah memastikan napas Lea teratur dalam tidur yang dalam, Alex melangkah keluar menuju balkon. Udara malam yang dingin menyentuh kulitnya, namun tidak mampu meredam bara amarah di matanya. Ia mengeluarkan ponsel, mendial nomor yang sudah sangat ia kenal.
Hanya dua nada sambung sebelum suara serak yang elegan menjawab.
"Tuan Alex. Kau membawa gadisku pergi tanpa izin. Itu sangat tidak profesional."
"Tutup mulutmu!" geram Alex, suaranya rendah dan penuh ancaman. "Kau membiarkan tangan kotor itu menyentuh Arabella. Kau sengaja melemparkannya ke serigala, hah?!"
Alex mencengkeram pagar balkon hingga urat-urat di tangannya menonjol, seolah ingin meremukkan besi itu. Bayangan air mata Lea di klub tadi terus menghantuinya.
Di seberang telepon, Madam Rose tidak bergeming. Suaranya terdengar setajam pisau bedah—dingin, kering, dan tanpa empati.
"Jangan berlagak seperti pahlawan, Tuan Alex. Kau tahu persis tempat apa ini," ucap Madam Rose dengan nada yang sangat rendah. "Arabella adalah aset bisnis terbaikku. Di mataku, Dia adalah komoditas dengan label harga tinggi. Selama kau tidak membayar untuk hak eksklusif malam ini, dia adalah milik siapa pun yang membawa tawaran tertinggi. Itu aturan mainnya, dan kau sudah tahu itu sejak awal."
"Dia bukan barang dagangan yang bisa kau lelang setiap malam!" bentak Alex.
“Bagi dunia ini, dia memang barang,” balas Madam Rose tanpa ragu. “Aku tidak akan menjualnya secara permanen—termasuk kepadamu. Dia terlalu menguntungkan. Dia akan tetap berada di bawah kendaliku, melayani siapa pun yang sanggup membayar, selama aku menginginkannya."
Darah Alex berdesir hebat mendengar pernyataan itu. Kalimat 'melayani siapa pun' memicu ledakan amarah yang tak terkendali di kepalanya.
"PERSETAN DENGAN ATURANMU!" raung Alex.
Alex membanting ponselnya ke lantai marmer hingga hancur berkeping-keping—sama seperti kesabarannya yang sudah habis. Ia terengah, dadanya naik turun. Tatapannya kembali ke arah kamar, ke tubuh Lea yang terlelap. Jika dunia menganggapnya komoditas, maka Alex akan berhenti menawar. Ia akan mengambil. Tanpa harga. Tanpa izin.
Malam terus berjalan. Alex tidak kembali tidur. Wiski dituangkan ke dalam gelas kristal, cairannya membakar tenggorokan namun gagal memadamkan api di dalam dirinya. Matanya tak pernah lepas dari Lea—dari tarikan napasnya, dari kerut halus di dahi gadis itu, dari gerakan kecil jemarinya di balik selimut.
Semakin lama ia menatap, semakin runtuh kendalinya.
Amarah berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. Lebih berbahaya.
Alex mendekat. Ranjang berderit pelan ketika ia naik, gerakannya senyap, nyaris seperti bayangan. Ia merengkuh Lea dari belakang, menarik tubuh rapuh itu ke dalam lingkarannya. Dingin kulit Lea bertemu panas tubuhnya, menciptakan ketegangan yang menyesakkan..
Dalam cahaya rembulan yang menyelinap lewat celah tirai, Alex kehilangan batas terakhir kewarasannya. Tubuhnya menekan Lea ke kasur empuk—kontras antara kekuatan dan kerapuhan, antara d******i dan ketidakberdayaan.
"Nghhh... Arabella..." desis Alex parau.
"Kau tidak tahu betapa menyiksanya memilikimu seperti ini."
Ia membenamkan wajah di ceruk leher Lea, menghirup aroma yang selalu mengacaukan logikanya. Tangannya menjelajah di balik selimut, merasakan panas yang merambat dari kulit halus gadis itu.
"Lihatlah dirimu... tetap tertidur saat aku hampir mati menginginkanmu," bisiknya dengan tawa getir. "Sial... kenapa kau harus terasa senikmat ini?"
Dengan gerakan yang sangat lembut namun penuh penekanan, Alex melakukan penyatuan. Ia bergerak sesenti demi sesenti, tenggelam ke dalam kehangatan Lea yang memabukkan. Rahangnya mengeras saat ia merasakan sensasi yang menjepit kewarasannya.
Lea tidak terbangun, namun tubuhnya memberikan respons instingtif. Punggungnya melengkung halus mengikuti irama Alex. Dari bibirnya, sebuah desahan panjang meluncur.
"Ahhh... nnghh..."
Rintihan tak sadar itu menjadi bensin bagi api Alex. "Hanya aku, Arabella... hanya aku yang boleh memilikimu seperti ini," bisiknya penuh obsesi.
Ia mengerang pelan saat ia sengaja menekan panggulnya lebih kuat pada tubuh Lea, mencari kepuasan dari gesekan yang terbatas. "Ahhh... sssh... kau benar-benar candu yang mematikan, Arabella. Aku bisa menghancurkanmu sekarang juga jika aku tidak ingat betapa rapuhnya kau malam ini."
Ketegangan itu mencapai titik nadir. Alex memacu ritmenya, setiap hujamannya terasa lebih dalam dan posesif, seolah ingin menyatukan eksistensinya ke dalam jiwa Lea.
"Nghhh... Arabella... kau milikku!"
Suara Alex pecah menjadi raungan pembebasan saat ia mencapai puncaknya. Tubuhnya yang kekar bergetar hebat di atas Lea saat ia melepaskan seluruh gairahnya. Ia tidak segera menjauh; ia membiarkan berat tubuhnya tetap mengukung Lea, menikmati detik-detik saat detak jantung mereka menyatu.
Ia mencium kening Lea dengan lembut, namun sebuah kilat posesif masih membekas di matanya. Malam ini bukan sekadar pemuasan hasrat bagi Alex; ini adalah upacara penyegelan. Meskipun Lea tidak sadar, Alex tahu bahwa mulai detik ini, tidak ada lagi ruang bagi dunia luar untuk menyentuh miliknya.
Berjarak beberapa kilometer dari ketenangan Mansion Alex, suasana di Club Madam Rose sedang membara. Madam Rose menghempaskan gelas kristalnya ke dinding di belakang bar pribadi.
Prang!
Serpihan kaca berserakan, mencerminkan amarah yang meledak setelah perdebatan sengitnya dengan Alex terkait kepemilikan Arabella. Ia tidak akan membiarkan Alex memenangkan aset paling berharga sekaligus sumber kekayaan pribadinya itu begitu saja.
Perdebatan sengit dengan Alex tadi sore masih terngiang di telinganya. Alex secara terang-terangan meminta—bahkan mengancam—agar Arabella dibebaskan dari kontraknya di Club Madam Rose.
"Arabella adalah ciptaanku!" geram Rose sembari menyalakan rokok panjangnya. "Alex pikir dia bisa datang dengan tumpukan uang dan membawa pergi aset terbaikku begitu saja? Dia tidak tahu apa yang sudah kukorbankan untuk gadis itu."
Madam Rose tahu ada sesuatu yang lebih dari sekadar kontrak. Ia melihat cara Alex menatap Arabella—tatapan penuh proteksi yang membuatnya merasa otoritasnya atas gadis itu terancam.
Madam Rose menarik napas dalam-dalam, mencoba menekan gejolak di dadanya. Ia memutar kursi ke arah Marco, orang kepercayaannya yang selalu berdiri di kegelapan sudut ruangan. Matanya menyipit tajam, penuh dengan strategi baru yang lebih licin.
"Awasi semua pergerakan Alex dan Arabella," perintahnya dingin. "Aku akan membawa asetku kembali ke tempat yang seharusnya."
Cahaya matahari pagi menerobos paksa celah gorden blackout yang tak tertutup sempurna, jatuh tepat di kelopak mata Lea yang sembap. Kesadarannya datang perlahan, disertai pening yang menekan pelipis dan rasa nyeri asing yang menjalar ke sekujur tubuhnya, berdenyut pelan namun tak terelakkan.
Ia mengerang lirih, mencoba menggerakkan kaki—dan tersentak.
Ada beban hangat yang menindihnya.
Saat matanya terbuka sepenuhnya, napas Lea tercekat. Ia tidak berada di kamar sempitnya. Ia terbaring di ruang luas yang asing, dengan dinding-dinding elegan dan aroma kayu cendana bercampur parfum maskulin yang seketika memicu naluri bahaya dalam dirinya.
Kesadaran berikutnya menghantam lebih keras.
Ia polos di balik selimut sutra.
"Kau sudah bangun, Arabella?"
Suara rendah itu bergetar di telinga Lea, membuatnya meremang. Ia menoleh kaku—Alex ada di sana, menatapnya tanpa berkedip, seolah semalam dihabiskan hanya untuk mengawasi.
Senyum tipis dan dingin terbit di bibirnya. Jemarinya menyingkirkan rambut Lea dengan gestur yang terasa seperti klaim..
Apa kau tidak ingin berterima kasih soal kemarin?” suara Alex menyeret, dingin.
Bibir Lea bergetar. “Berterima kasih? Kau membawaku paksa—”
“Aku menyelamatkanmu,” potong Alex datar, jemarinya mencengkeram rahang Lea, memaksanya menatap. “Tanpaku, kau masih ditawar. Di sini, kau aman.” Ia merendahkan suara. “Dan di sini, kau milikku.”
Lea mencoba melawan, namun tekanan Alex justru menguat, menegaskan d******i yang tak memberi celah. Nyeri yang tertinggal menjadi penanda pahit bahwa apa yang ia sebut penyelamatan hanyalah penjara dengan wajah yang lebih mewah.
“Jangan pernah berpikir untuk lari, Arabella,” bisik Alex rendah. “Mulai hari ini, duniamu hanya sejauh dinding mansion ini.”
Lea memejamkan mata. Air mata jatuh membasahi sprei sutra, sementara sesak di dadanya menekan napas. Di tengah gelap yang mengurungnya, satu hal ia tahu—ia tidak boleh sepenuhnya menyerah.
"Alex... kumohon," bisik Lea dengan suara serak, nyaris tenggelam dalam keheningan kamar. "Biarkan aku pulang. Aku punya kuliah, aku punya kehidupan... aku tidak bisa tinggal di sini seperti ini."
Alex tertawa rendah tanpa humor. Cengkeramannya lepas, berganti sentuhan ringan di leher Lea—cukup untuk membuat denyut takutnya terasa.
“Kuliah? Kehidupan?” ulangnya dingin. “Itu sudah mati sejak kau masuk ke klub itu. Di luar sana kau mangsa. Di sini—kau ratu dalam sangkar emas.”
Lea menggeleng pelan, isaknya tertahan. “Ini bukan rumah. Ini penjara.”
Alex mendekat, menatap lurus ke mata Lea yang basah. Suaranya tenang—terlalu tenang.
“Kau ingin pulang?” katanya pelan. “Kau ingin kebebasanmu kembali?”
"Kau ingin pulang? Kau ingin kebebasanmu kembali?" tanya Alex dengan nada yang mendadak tenang—namun Lea tahu, ketenangan Alex jauh lebih berbahaya daripada amarahnya.
"I-iya... kumohon," rintih Lea.
Alex menyandarkan punggungnya, melipat tangan di depan d**a sambil terus mengamati Lea dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kalau begitu, memohonlah dengan benar, Arabella."
Lea terpaku. Ia paham—Alex tidak menginginkan janji, melainkan penyerahan. Pengakuan atas otoritasnya. Pembongkaran sisa harga diri yang masih ia pertahankan.
Dengan tangan gemetar, Lea bangkit perlahan. Di bawah tatapan Alex yang tak berkedip, ia berlutut di atas sprei sutra yang dingin, menundukkan kepala hingga rambutnya menutupi wajah yang memanas oleh rasa malu.
"Alex... Tuan..." suara Lea tercekat, nyaris tak terdengar. "Tolong... biarkan aku pergi. Aku akan melakukan apa pun, tapi tolong... lepaskan aku."
Alex terdiam, menikmati pemandangan itu dengan kepuasan dingin. Ia mengangkat dagu Lea, memaksa tatapan mereka bertaut.
"Apa pun, hm?" Alex menyeringai, matanya berkilat penuh rencana. "Mari kita lihat sejauh mana kau bisa membuktikan kata-katamu itu."
Suasana di dalam kamar itu mendadak menjadi sangat kedap, hanya menyisakan suara napas Lea yang memburu dan detak jantungnya yang seolah ingin melompat keluar. Alex tidak bergerak, ia hanya menunggu dengan kesabaran seorang pemburu yang tahu mangsanya tidak punya jalan keluar.
Alex mendengus pelan, lalu dengan satu gerakan sentakan yang kuat namun terukur, ia menarik pinggang Lea, menyeret tubuh mungil itu hingga terduduk paksa di atas pangkuannya. Lea memekik pelan, tangannya secara insting bertumpu pada bahu lebar Alex untuk menjaga keseimbangan.
Posisi ini jauh lebih intim, sekaligus jauh lebih menghancurkan. Lea bisa merasakan panas tubuh Alex yang kontras dengan kulitnya yang mendingin karena trauma.
"Kau memohon seolah aku adalah orang asing, Arabella," bisik Alex, suaranya kini serendah geraman. Ia melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Lea, mengunci gadis itu agar tidak bisa bergeser satu sentimeter pun.
Tangan Alex yang lain naik, menyelipkan jemarinya ke tengkuk Lea, memaksanya untuk mendekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Napas Alex yang beraroma mint dan tembakau mahal menyapu wajah Lea.
"Kata-kata saja terlalu murah. Aku ingin merasakan ketulusanmu," ucap Alex dingin. Matanya turun menatap bibir Lea yang sedikit terbuka dan gemetar.
"Sekarang, memohonlah dengan bibirmu, Arabella. Tunjukkan padaku seberapa besar keinginanmu untuk kulepaskan."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Lea. Ia tahu persis apa maksud pria kejam ini. Alex ingin dia menyerahkan diri secara fisik, menciumnya bukan karena cinta, melainkan sebagai bentuk persembahan seorang tawanan kepada tuannya.
"Alex... jangan lakukan ini," bisik Lea, air matanya kembali luruh, jatuh tepat di pipi Alex.
"Pilihan ada di tanganmu, Arabella," tantang Alex tanpa belas kasihan. "Gunakan bibirmu untuk membujukku, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari di luar mansion ini lagi selamanya."
“Waktu berjalan,” bisiknya.
Lea memejamkan mata dan menghela napas, menyisakan satu keputusan yang belum terucap, dan nasib yang menggantung di ujung detik berikutnya.