Arabella

1828 Words
Hening yang mencekam itu perlahan terkikis oleh deru napas yang mulai menyatu. Lea menyadari bahwa memohon tidak akan membuahkan hasil. Dengan sisa keberanian yang ia miliki, ia mengikis jarak yang tersisa. Ia bisa melihat kilat kemenangan di mata gelap Alex saat bibir Lea yang dingin dan bergetar akhirnya menyentuh sudut bibirnya—sebuah ciuman yang sarat akan keputusasaan dan kehancuran jiwa. Lea mendaratkan bibirnya ke bibir Alex—awalnya ragu dan seringan bulu. Namun, Alex tidak membiarkannya bermain aman. Tangan pria itu merengkuh tengkuk Lea, menariknya paksa hingga tubuh mereka merapat tanpa celah. ​"Nnghh..." sebuah desahan rendah dan berat lolos dari tenggorokan Alex saat ia merasakan kelembutan bibir Lea yang akhirnya menyerah. Suara kecupan yang basah dan ritmis mulai mengisi keheningan kamar. Alex menyesap bibir bawah Lea dengan intensitas yang lapar, seolah ingin melahap seluruh pertahanan gadis itu. Lea hanya bisa terdiam dengan mata terpejam erat, sementara Alex semakin tenggelam dalam sensasi itu. "Hhngh..." Alex mengerang lagi, kali ini lebih dalam, saat ia memperdalam tautan lidahnya, menikmati rasa manis dan ketakutan yang bercampur menjadi satu dari mulut Lea. Suara napas Alex yang memburu memenuhi rungu Lea, memberikan kesan betapa pria ini sangat menikmati kemenangannya atas harga diri Lea. Setelah beberapa saat, Alex melepaskan tautan itu dengan enggan. Napasnya masih menderu berat, menatap bibir Lea yang kini bengkak dan kemerahan akibat ulahnya. Ada kilat kepuasan yang berbahaya di matanya. ​"Kau cukup penurut hari ini, Arabella," bisiknya dengan suara serak yang masih dipenuhi gairah. ​Lea menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan kekacauan di dadanya, meraih kembali sisa martabat yang tercerai-berai. “Aku sudah memohon seperti yang kau mau,” ucapnya lirih, suaranya nyaris retak. “Sekarang biarkan aku melanjutkan kuliahku. Jangan kurung aku di sini.” Alex terdiam. Tatapannya mengunci Lea, dingin dan menimbang, seolah gadis di hadapannya hanyalah sebuah keputusan yang harus ia tentukan nilainya. Ibu jarinya terangkat, mengusap sisa kelembapan di bibir Lea—sentuhan sederhana yang justru terasa menandai kepemilikan. “Bersiaplah sekarang, Arabella,” katanya akhirnya, suaranya berat dan mutlak. “Kau kembali ke kampus pagi ini.” Lea terpaku. Untuk sesaat, harapan menyala di matanya—rapuh, nyaris tak berani bernapas—bahwa janji itu benar-benar ditepati. Namun cahaya itu kembali meredup ketika Alex melanjutkan dengan nada rendah yang mengikat. “Tapi ingat,” ucapnya pelan, nyaris seperti peringatan, “kendalimu tetap ada di tanganku.” Pagi itu, sedan mewah melaju membelah jalanan kota menuju kampus, menggilas jarak dengan kecepatan yang stabil. Namun di dalam kabin, udara terasa berat dan menyesakkan. Di kursi belakang yang terisolasi oleh sekat kedap suara, Lea duduk tegak, diam—mencoba menciptakan jarak dengan caranya sendiri. Alex tidak membiarkannya bertahan lama dalam ilusi ketenangan itu. Ia menarik tubuh Lea hingga terduduk di atas pangkuannya, memaksa gadis itu menghadapnya dalam posisi yang begitu intim. ​"Alex, kumohon... kita hampir sampai di kampus," rintih Lea, tangannya menahan d**a bidang Alex saat ia merasakan pria itu kembali menuntut penyatuan. ​"Kau ingat syaratnya, Arabella? Kau tetap dibawah kendaliku," bisik Alex parau. Ia tidak membuang waktu, melakukan penyatuan dengan satu gerakan yang dalam dan posesif tepat saat mobil berbelok tajam. ​Di tengah guncangan mobil dan ritme Alex yang semakin liar, ponsel Lea yang berada di saku tasnya bergetar hebat. Alex meraihnya, melihat nama "Cecil" di layar, dan dengan seringai dingin, ia menekan tombol pengeras suara. ​"Lea! Kau di mana? Aku sudah di depan gerbang kampus!" suara Cecil terdengar panik dan terengah. "Tempo hari ponselmu mati setelah kamu menemuinya di hotel. Apa kau baik-baik saja? Apa pria itu menyakitimu? Jawab aku!" ​Alex justru semakin memperdalam gerakannya, membiarkan urat-urat di rahangnya menonjol saat ia menahan nikmat yang luar biasa."Jawab temanmu, sayang," desisnya tepat di bibir Lea. ​Lea mencengkeram bahu jas Alex, berusaha menahan suara agar tidak pecah. Namun, dorongan Alex yang tanpa ampun membuatnya kehilangan kendali. ​"Ce-Cecil... ahhh... aku... ngghhh... sebentar lagi sampai... ssshhh-ahh!" ​Suara Lea pecah dalam desahan panjang yang sangat sensual, beradu dengan suara napas berat Alex yang memenuhi kabin mobil. Di seberang telepon, Cecil terdiam, napasnya terdengar tercekat seolah menyadari apa yang sedang terjadi di balik suara-suara itu. ​"Lea? Suara apa itu? Kau... kau sedang apa? Tunggu, apa pria itu bersamamu sekarang?! Lea!" ​Alex tidak membiarkan Cecil mendengar lebih banyak. Dengan satu gerakan jari yang dingin, ia memutus sambungan telepon itu secara sepihak dan melempar ponsel Lea ke lantai mobil. ​"Sudah cukup untuk pahlawan kecilmu itu," geram Alex. Ia mempercepat ritmenya, mencapai puncak penaklukannya tepat saat mobil perlahan memasuki area parkir kampus yang mulai ramai. Ia mengerang rendah, melepaskan seluruh gairahnya ke dalam diri Lea sementara gadis itu hanya bisa melenguh panjang—"Nnnngghhhhh..."—sembari menyembunyikan wajahnya yang merah padam di d**a Alex. Mobil mewah itu akhirnya berhenti sempurna di sudut parkiran yang agak tersembunyi. Suasana di dalam kabin masih terasa panas dan sesak, kontras dengan udara pagi kampus yang mulai ramai. Alex melepaskan cengkeramannya, lalu dengan gerakan tenang yang hampir terlihat santun, ia merapikan rok Lea dan kemejanya sendiri yang sempat berantakan. ​"Turunlah. Aku akan tetap berada di kampus ini," bisik Alex, suaranya kembali dingin seolah badai gairah beberapa menit lalu hanyalah imajinasi. "Dan ingat, Arabella... jangan coba-coba menghapus jejakku dari pikiranmu." Lea menarik napas panjang yang gemetar, mencoba merapikan pakaiannya dengan tangan yang masih mati rasa. Rasa nyeri yang berdenyut di pangkal pahanya membuat langkah pertamanya terasa begitu berat dan canggung. Ia harus berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak jatuh terjerembap. Baru beberapa meter ia melangkah, sosok Cecil muncul dari balik pilar gedung. Wajah sahabatnya itu pucat pasi, matanya membelalak menatap Lea yang tampak seperti baru saja keluar dari sebuah medan perang yang brutal. ​"Lea!" Cecil berlari menghampiri, suaranya parau oleh kecemasan. ia segera menangkap bahu Lea yang goyah. "Astaga, Lea... kau... suara di telepon tadi..." ​Cecil terdiam, kata-katanya tertahan di tenggorokan saat ia melihat kerah kemeja Lea yang sedikit tersingkap, memamerkan tanda kemerahan yang pekat dan segar di leher jenjang itu. Itu bukan sekadar tanda; itu adalah segel kepemilikan yang baru saja dicapkan beberapa menit lalu. ​"Dia melakukannya padamu? Di dalam mobil itu?" bisik Cecil dengan nada horor. "Pria itu benar-benar iblis, Lea! Bagaimana bisa dia melakukan hal seperti itu di mobil?" ​Lea tidak mampu menjawab. Ia hanya bisa menunduk, bahunya bergetar saat air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Di belakang mereka, kaca film gelap mobil Alex perlahan turun sedikit, menunjukkan sepasang mata elang yang mengawasi mereka dengan tatapan posesif yang tak tergoyahkan. ​"Cecil, kumohon... jangan tanya apa-apa sekarang," rintih Lea, suaranya nyaris hilang. ​"Aku harus masuk kelas, Cecil..." rintih Lea lirih, suaranya hampir hilang. ​"Masuk kelas? Kau bahkan hampir tidak bisa berdiri, Lea!" Cecil menatapnya dengan pandangan tidak percaya. "Ayo, aku akan membawamu ke toilet. Kita harus menutupi tanda-tanda ini sebelum orang lain melihatnya." Langkah kaki Lea terasa sangat berat saat ia memasuki ruang kelas. Dengan bantuan Cecil, ia berhasil duduk di barisan tengah, berusaha menyembunyikan lehernya di balik helai rambut dan kerah kemeja yang ia tarik setinggi mungkin. Namun, ketenangan yang ia harapkan tidak pernah datang. ​Baru sepuluh menit dosen memulai materi, pintu ruangan terbuka dengan sentakan pelan namun tegas. Keheningan seketika menyergap. Sosok tinggi tegap Alex melangkah masuk dengan aura otoritas yang begitu pekat, membuat seisi ruangan seolah kehilangan oksigen. Alex tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Tatapannya yang tajam langsung mengunci sosok Lea yang tampak mengecil di kursinya. Suara sepatu pantofelnya yang beradu dengan lantai keramik menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar, menciptakan ketegangan yang mencekam. ​Ia berhenti tepat di samping meja Lea. Tanpa memedulikan tatapan melongo sang dosen maupun bisik-bisik yang mulai menjalar di antara mahasiswa lainnya, Alex meletakkan sebuah ponsel di atas meja Lea dengan gerakan pelan yang disengaja. ​"Ponselmu tertinggal di mobilku tadi, Arabella," ucap Alex dengan suara rendah yang berat, namun cukup jelas untuk ditangkap oleh telinga setiap orang di ruangan itu. Nama itu jatuh seperti palu godam. Arabella. Lea membeku. Udara terasa tersedak di paru-parunya, seolah satu kata itu cukup untuk menelanjangi rahasia yang selama ini ia kubur rapat. Beberapa kepala menoleh, alis berkerut—nama itu asing, namun cara Alex mengucapkannya terlalu intim untuk dianggap salah sebut. Alex sedikit mencondongkan tubuhnya, cukup dekat hingga Lea bisa mencium aroma dingin yang selalu mengiringinya. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum, melainkan peringatan. "Aku menantikanmu... " Tubuh ​Lea mematung, jantungnya berpacu liar hingga terasa menyakitkan. Ia tidak berani mendongak, namun ia bisa merasakan puluhan pasang mata kini tertuju padanya dengan pandangan yang menghakimi. Kata"tertinggal di mobil" seolah menjadi bensin yang menyulut api spekulasi di dalam kelas. Suasana kelas yang tadinya tenang kini berubah menjadi sarang lebah yang terusik. Suara bisik-bisik itu tidak lagi terdengar seperti gumaman samar, melainkan tajam seperti sembilu yang menyayat martabat Lea. Gosip-gosip murahan mulai terbang ke udara, saling bersahutan tanpa memedulikan perasaan sang gadis yang semakin menunduk dalam. ​"Mobil? Jadi benar mereka berangkat bersama?" ​"Lihat betapa berantakannya Lea... mungkinkah mereka melakukannya sebelum kelas?" ​"Bukankah itu pemilik kampus ini? Pak Alex?" ​"Pantas saja nilai-nilainya selalu stabil," cibir seorang mahasiswi di barisan belakang sambil melirik sinis. "Ternyata dia punya 'jalur khusus' langsung ke meja pemilik kampus." ​"Atau mungkin bukan di meja," sahut temannya dengan tawa tertahan yang menjijikkan. "Ingat kata Pak Alex tadi? Di kursi belakang mobil. Bayangkan saja apa yang sudah dia berikan agar bisa diantar sampai depan gedung." ​Lea mencengkeram ujung roknya hingga buku-buku jarinya memutih. Suara-suara itu seolah sengaja dikeraskan agar ia mendengarnya. ​"Dulu penampilannya sok polos," timpal yang lain dari sudut ruangan. "Ternyata dia pintar juga cari mangsa. Langsung dapat sugar daddy level pemilik yayasan. Lihat saja rambutnya yang berantakan itu, jelas sekali mereka habis 'main' sebelum kelas dimulai." ​"Dasar p*****r berkedok mahasiswa," desis sebuah suara yang begitu dekat, membuat tubuh Lea tersentak kecil. Gosip itu berkembang cepat menjadi narasi yang kotor. Mereka mulai membahas merk syal yang dipakai Lea, menduga-duga itu adalah hadiah dari Alex setelah malam yang panjang, hingga menyebut Lea sebagai 'mainan' baru yang sebentar lagi akan dibuang setelah bosan. ​Cecil yang duduk di samping Lea, sudah tidak tahan lagi. Wajahnya merah padam menahan amarah. "Tutup mulut kalian semua! Kalian tidak tahu apa-apa!" teriaknya, namun suaranya justru ditenggelamkan oleh gelak tawa mengejek dari seisi kelas. ​Di bawah intimidasi publik yang begitu kejam, Lea merasa seolah-olah pakaiannya telah dilucuti di depan semua orang. Alex telah berhasil melakukan apa yang ia inginkan: mengisolasi Lea dari dunia sosialnya, memastikan bahwa tidak akan ada seorang pun yang akan membela 'gadis simpanan' sang pemilik kampus. Dosen yang berdiri di depan kelas tampak kehilangan kendali. Ia mengetukkan penggaris ke meja berkali-kali, namun suara riuh gosip murahan tentang "jalur khusus" dan "kursi belakang mobil" jauh lebih keras daripada otoritasnya. Sang dosen menatap Lea dengan pandangan dingin yang bercampur antara rasa jengah dan kecewa. ​"Saudari Lea," suara dosen itu memotong keributan, namun nadanya tidak mengandung pembelaan. "Kehadiran Anda di sini hanya menciptakan kegaduhan yang tidak produktif bagi mahasiswa lain. Sebaiknya Anda keluar dan selesaikan urusan pribadi Anda di luar jam kuliah saya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD