Langkah kaki Alex menjauh meninggalkan kekosongan yang menyesakkan d**a Lea. Ia berdiri mematung di tengah ruang ganti yang megah, dikelilingi oleh pantulan dirinya sendiri yang terlihat asing. Kain sutra hitam yang melekat di tubuhnya kini tidak lagi terasa seperti pakaian, melainkan seperti kulit kedua yang beracun—sebuah tanda kepemilikan yang permanen. Dengan gerakan mekanis dan jemari yang kaku, Lea meraih gaun malam yang telah disiapkan di atas gantungan satin. Sebuah gaun velvet berwarna merah darah dengan potongan off-shoulder yang mengekspos tulang selangkanya yang menonjol. Gaun itu indah, sangat indah, namun saat Lea mengenakannya, ia merasa sedang membungkus dirinya sendiri dengan kain kafan yang mahal. Di luar, Alex sedang menunggu sambil meminum sebotol air mineral dengan

