Tuan Atas Setiap Inci Kulitmu

2181 Words
Di balik pintu kayu yang mengelupas, Lea meringkuk di lantai kamar mandi yang lembap. Ia menyalakan keran air hanya untuk meredam suara tangisnya agar tidak terdengar oleh Melinda. Setiap kali air membasahi luka di bibir dan pergelangan tangannya, Lea meringis. Namun, rasa perih itu tidak sebanding dengan hancurnya harga diri saat menyadari bahwa ibunya sendiri baru saja menguliti batinnya dengan kata-kata yang lebih tajam dari sembilu. ​“Kau sudah ketagihan dengan sentuhannya?” ​Pertanyaan itu berputar di kepala Lea seperti kutukan. Ia membenci Alex, ia takut pada Alex, tapi ia tidak punya kekuatan untuk lari. Dan sekarang, ibunya justru mendorongnya lebih dalam ke lubang hitam itu demi sebuah kemewahan. Suara gemericik air yang menghantam lantai ubin menjadi satu-satunya melodi yang menemani kesunyiannya. Ia membiarkan air dingin mengguyur kepalanya, berharap rasa sejuk itu bisa memadamkan api penghinaan yang disulut oleh kata-kata Melinda dan perintah obsesif Alex. Getaran nyaring berasal dari ponsel yang Lea letakkan di atas tutup kloset. Layar ponsel itu menyala terang, menampilkan deretan angka tanpa nama yang sudah Lea hafal di luar kepala. ​Alexander Emir Baskara. ​Tubuh Lea menegang seketika. Dengan jemari yang dingin dan gemetar, ia menggeser ikon hijau. ​"Halo?" suara Lea nyaris tidak terdengar, serak oleh tangis yang tertahan. ​Hening sejenak di seberang sana. Hanya terdengar suara napas yang berat dan teratur, namun entah bagaimana, Lea bisa merasakan aura d******i yang kuat hanya melalui gelombang suara. ​"Kenapa suaramu begitu?" suara Alex mengalun rendah, sedingin es, namun ada nada kepemilikan yang tajam di dalamnya. "Kau sedang menangis?" ​Lea menggigit bibir bawahnya yang pecah, menahan isakan yang hampir lolos. "Tidak, aku... aku hanya baru bangun tidur." ​"Jangan berbohong padaku, Arabella," potong Alex tajam. "Aku bisa mendengar suara air. Kau di kamar mandi? Menangisi nasibmu atau menangisi kenyataan bahwa kau merindukan sentuhanku?" ​Lea memejamkan mata erat-erat, kata-kata Alex terasa seperti belati yang menusuk lukanya kembali, persis seperti yang baru saja dilakukan ibunya. "Alex, kumohon... aku sudah di rumah. Biarkan aku tenang sebentar saja." ​"Kau tidak akan pernah tenang selama kau masih menjadi milikku," desis Alex. "Dengar, aku baru saja mentransfer sejumlah uang ke rekening pribadimu. Aku tidak ingin melihatmu kusam dan menyedihkan saat aku menjemputmu nanti." ​Lea terdiam sejenak. Sebuah notifikasi pesan masuk dari bank menyusul, menampilkan angka yang nominalnya jauh lebih besar dari seluruh biaya hidupnya selama setahun. ​"Untuk apa uang sebanyak ini, Alex?" tanya Lea dengan nada getir. ​"Gunakan itu untuk membersihkan dirimu. Pergi ke salon, hilangkan jejak-jejak lelah di wajahmu itu," ucap Alex dengan nada yang tidak menerima penolakan. "Dan satu lagi... beli beberapa lingerie baru. Aku sudah mengirimkan daftar merek dan toko yang aku inginkan ke pesan singkatmu. Pastikan kau memilih bahan yang paling tipis. Aku ingin melihat setiap jengkal kulitmu yang sudah kutandai di balik kain itu nanti malam." ​Lea tersedak oleh rasa mual yang tiba-tiba naik ke tenggorokannya. Uang itu terasa panas, seolah-olah sedang membakar tangannya. "Kau memperlakukanku seperti... boneka pajangan." ​"Kau memang milikku, Arabella," desis Alex dengan nada posesif yang mengerikan. "Setiap helai pakaian yang menempel di tubuhmu adalah urusanku. Aku tidak ingin kau mengenakan pakaian murah dari pasar itu lagi. Aku ingin kau terlihat seperti perhiasan yang pantas kusandingkan, namun juga terlihat menggoda saat hanya ada kita berdua. Jangan membuatku kecewa, atau aku sendiri yang akan menyeretmu ke toko-toko itu dan menelanjangimu di sana untuk mencobanya." ​Klik. ​Sambungan terputus. Lea menatap layar ponsel yang perlahan menggelap. Di sana, sebuah pesan berisi daftar toko pakaian dalam mewah muncul, masing-masing adalah tempat yang bahkan tidak berani ia lirik pintunya. ​Ia merosot ke lantai kamar mandi, menatap saldo rekening di layar ponselnya dengan tatapan kosong. Uang itu adalah rantai emas yang baru saja dipasang Alex di lehernya, memastikan bahwa ke mana pun ia melangkah, ia tetaplah tawanan yang didandani dengan indah. Lea menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang masih tercecer di lantai kamar mandi. Ia membasuh wajahnya berkali-kali dengan air dingin, berharap rona merah di matanya sedikit memudar. Setelah mengenakan pakaian yang paling layak dari lemari tuanya, ia memulas sedikit bedak untuk menutupi lebam tipis di sudut bibir. ​Keluar dari kamar mandi ia menatap pemandangan asing di matanya; ada wagyu steak dengan siraman saus mengkilat dan hidangan laut segar yang biasanya hanya ia lihat di iklan televisi. ​"Duduklah, Lea," suara Melinda terdengar manis, namun ada nada otoritas yang dingin di sana. Melinda menyesap segelas anggur merah dengan gerakan anggun, seolah-olah kemewahan ini adalah hak alaminya. ​Lea menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Ia melirik ibunya, lalu beralih ke deretan makanan yang tampak seperti perjamuan terakhir baginya. "Dari mana semua ini, Bu?" ​Melinda tidak langsung menjawab. Ia memotong sepotong kecil daging, mengunyahnya dengan perlahan, seolah sedang menikmati kemenangan. "Makanlah dulu. Kau butuh tenaga untuk malam ini." ​"Ibu..." Lea tidak menyentuh alat makannya. Pikirannya melayang pada saldo di rekeningnya dan daftar belanja gila dari Alex, lalu melihat pesta di meja makan ini. "Uang siapa yang Ibu pakai untuk memesan semua ini? Dari mana Ibu mendapatkan uang sebanyak ini dalam sekejap?" ​Melinda menghentikan denting pisau dan garpunya. Ia mendongak, menatap Lea dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukannya menjawab dengan kata-kata, sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang penuh rahasia—sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Lea meremang. ​Senyum itu tidak hangat; itu adalah senyum seorang pemenang yang baru saja menyelesaikan sebuah transaksi besar. ​"Jangan banyak tanya, Lea," ucap Melinda akhirnya, suaranya lembut namun mengandung ancaman. "Cukup nikmati saja. Anggap ini perayaan kecil karena kau akhirnya mengerti bagaimana cara menjadi 'berguna' bagi keluarga kita." ​Lea merasa mual. Senyum ibunya adalah konfirmasi yang paling pahit. Ia tahu sekarang bahwa ia tidak hanya terjerat oleh obsesi Alex, tetapi juga telah dikemas dan disajikan dengan rapi oleh ibunya sendiri di atas piring perak kemewahan ini. Lea melangkah keluar dari taksi dengan kaki yang terasa berat, seolah setiap langkahnya menyeret rantai yang tak terlihat. Di depannya, sebuah butik pakaian dalam mewah berdiri dengan etalase kaca yang berkilauan. Papan namanya, yang tertulis dalam huruf emas timbul, memancarkan kesan eksklusivitas yang membuat Lea merasa kecil dan kusam. ​Begitu ia mendorong pintu kaca yang berat, denting lonceng kecil menyambutnya, diikuti oleh aroma parfum mawar dan vanila yang pekat. Seorang pelayan butik dengan seragam hitam rapi segera menghampirinya. Matanya menyapu penampilan Lea—kaus lama dan jeans pudar yang terlihat sangat tidak selaras dengan kemewahan ruangan itu. ​"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya pelayan itu, suaranya sopan namun terselip nada meremehkan yang tipis. ​Lea tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan jemari yang masih gemetar, ia menunjukkan layar ponselnya—pesan singkat dari Alex yang berisi daftar barang dan instruksi khusus. ​Seketika, raut wajah pelayan itu berubah. Ia menegakkan punggung, senyumnya mendadak menjadi sangat manis. "Ah, Anda tamu Tuan Baskara. Silakan lewat sini, Nona. Kami sudah menyiapkan ruangan khusus untuk Anda." ​Lea digiring ke sebuah ruangan VIP yang dikelilingi cermin besar dari lantai hingga langit-langit. Di atas sofa beludru, pelayan itu mulai membentangkan beberapa helai kain yang nyaris transparan. Sutra, renda halus, dan pengait emas. ​"Tuan Baskara secara spesifik meminta bahan yang paling tipis," ucap pelayan itu sembari mengangkat selembar negligee berwarna hitam pekat yang tampak seperti jaring halus. "Beliau juga memesan garter belt ini untuk dipasangkan." ​Lea menatap pantulan dirinya di cermin. Ia melihat seorang wanita muda yang tampak hancur di balik cahaya lampu kristal yang terang. Tangannya menyentuh kain renda yang dingin itu, dan seketika ia teringat ucapan Alex: “Aku ingin melihat setiap jengkal kulitmu yang sudah kutandai.” ​Rasa mual kembali menghantamnya. Uang di rekeningnya, makanan mewah di meja makan ibunya, dan sekarang kain-kain mahal ini... semuanya terasa seperti perlengkapan untuk menghias seekor hewan kurban. ​"Silakan dicoba, Nona. Tuan meminta kami untuk memastikan ukurannya sempurna. Jika ada yang sedikit longgar, kami harus segera menyesuaikannya sebelum beliau menjemput Anda." ​Lea masuk ke dalam ruang ganti dengan d**a yang sesak. Di bawah lampu yang menyorot tajam, ia mulai menanggalkan pakaiannya, merasa bahwa dengan setiap helai pakaian yang jatuh ke lantai, martabatnya ikut luruh bersamanya. Lea berdiri di depan cermin besar di dalam ruang ganti yang kedap suara. Ia baru saja mengenakan selembar kain sutra hitam transparan yang hampir tidak menutupi apa pun. Renda-renda halus itu terasa dingin di kulitnya, seolah-olah tangan Alex sendiri yang sedang meraba tubuhnya. ​Ia menatap pantulannya dengan benci. Di bawah lampu sorot yang terang, lebam biru di pergelangan tangannya dan luka kecil di sudut bibirnya terlihat begitu kontras dengan kemewahan kain yang ia kenakan. ​"Kau bukan lagi Lea," bisiknya pada bayangan di cermin. Air mata jatuh, membasahi kain mahal itu. Ia merasa seperti sebuah komoditas, barang dagangan yang sedang dipoles agar terlihat cantik sebelum dikonsumsi. Setiap inci kulitnya yang kini terekspos terasa seperti penghinaan terhadap dirinya sendiri. ​Tiba-tiba, suara denting lonceng di depan butik terdengar, diikuti oleh keheningan yang mencekam. Langkah kaki yang berat dan berwibawa mendekat ke arah ruang VIP. Jantung Lea seolah berhenti berdetak saat ia mendengar suara rendah yang sangat ia kenali. ​"Di mana dia?" ​Itu suara Alex. ​Lea panik. Ia berusaha meraih gaun lamanya untuk menutupi tubuh, namun pintu ruang ganti yang tidak terkunci itu perlahan terbuka. Alex berdiri di sana, masih mengenakan setelan jas gelapnya yang sempurna. Ia tidak masuk dengan kasar, namun kehadirannya saja sudah memenuhi ruangan sempit itu dengan aura d******i yang menyesakkan. ​Mata tajam Alex menyapu tubuh Lea, dari ujung kaki hingga berhenti di matanya yang sembab. ​"Sesuai dugaanku," gumam Alex pelan. Ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya, mengurung Lea di antara dirinya dan cermin. "Hitam memang warna yang paling pantas untuk kulit pucatmu, Arabella." ​Alex mengulurkan tangan, jemarinya yang hangat menyentuh pundak Lea yang telanjang, perlahan turun mengikuti garis tali lingerie tersebut. Lea gemetar hebat, punggungnya menempel pada cermin yang dingin. ​"Kenapa kau bergetar?" bisik Alex di dekat telinganya. "Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau mau? Uang, makanan mewah untuk ibumu... kau sudah dibayar mahal untuk terlihat seperti ini di depanku." ​Alex mencengkeram dagu Lea, memaksanya menatap pantulan mereka berdua di cermin. "Lihat dirimu. Kau terlihat sangat cantik sekaligus menyedihkan. Dan aku sangat menyukai kombinasi itu." ​Lea membelalak, rasa mual yang sedari tadi bersarang di perutnya kini berganti menjadi api amarah yang membakar dadanya. Ia menyentak wajahnya, melepaskan cengkeraman tangan Alex pada dagunya meskipun tubuhnya masih terhimpit di antara pria itu dan cermin dingin. ​"Makanan itu..." suara Lea bergetar, namun kali ini bukan karena takut. "Hidangan mewah di meja makan tadi... kau yang memberikan uangnya pada ibuku? Kau membayar ibuku untuk semua ini?" ​Alex hanya menaikkan satu alisnya, ekspresinya tetap datar seolah-olah ia baru saja membahas transaksi bisnis kecil yang tidak berarti. Ia menyandarkan satu tangannya di bingkai cermin, mengurung Lea lebih rapat. ​"Aku tidak memberinya uang, Arabella," jawab Alex dengan nada dingin yang tenang. "Aku hanya memberikan apa yang dia minta sebagai 'jaminan' karena telah mendidikmu dengan baik. Ibumu tahu persis berapa harga kenyamanan hidupnya, dan dia tahu siapa yang bisa memberikannya." ​"Kau menyogoknya!" teriak Lea tertahan, air mata kemarahan kini mengalir deras. "Kau membelinya agar dia membiarkanmu menyiksaku? Dia ibuku, Alex! Bagaimana bisa kau..." ​"Bagaimana bisa aku menggunakan keserakahannya?" Alex memotong dengan tawa kecil yang sinis. Ia memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "Jangan naif. Ibumu tidak perlu dipaksa. Dia datang padaku bahkan sebelum aku sempat menawarkan. Dia menjualmu dengan harga yang sangat murah, Arabella. Hanya seharga beberapa piring makanan mahal dan saldo rekening yang tak seberapa." ​Dunia seolah runtuh di bawah kaki Lea. Kenyataan bahwa Melinda tidak sekadar menerima, melainkan aktif "menjualnya", terasa lebih menyakitkan daripada luka di bibirnya. ​"Jadi itu sebabnya dia tersenyum..." gumam Lea lirih, suaranya pecah. "Dia tersenyum melihatku hancur karena dia tahu dia akan kenyang malam ini." ​"Tepat sekali," bisik Alex, tangannya kini beralih mengelus leher Lea, merasakan denyut nadi gadis itu yang berpacu liar. "Hanya aku yang kau miliki sekarang. Ibumu sudah melepaskan haknya atas dirimu sejak ia menyentuh uang itu. Jadi, berhentilah menangisi wanita itu dan fokuslah pada tugasmu malam ini." ​Alex mencengkeram pinggang Lea dengan sentakan kasar, menyeret tubuh yang nyaris tanpa pelindung itu hingga menabrak kaku jas mahalnya. Aroma maskulin yang tajam dari tubuh Alex seolah mengunci udara di sekitar Lea, membuatnya sesak. ​"Sekarang, pakai gaun yang sudah kupilihkan di luar," desis Alex. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan maut yang merayap di tengkuk. "Kita tidak punya banyak waktu sebelum makan malam dimulai." ​Ia merunduk, menyejajarkan wajahnya hingga napasnya yang dingin menyapu telinga Lea. Cengkeramannya mengeras, memberi penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan selanjutnya. ​"Dan aku harap kau tidak melakukan satu kesalahan kecil pun—sekecil apa pun itu. Karena malam ini, Arabella, aku tidak sedang dalam suasana hati untuk mentoleransi kegagalan." ​Ia melepaskan Lea begitu saja, seolah gadis itu hanyalah benda mati yang baru saja selesai ia periksa, lalu melangkah menuju pintu dengan keangkuhan yang membekukan ruangan. ​"Ingat satu hal," Alex berhenti sejenak tanpa menoleh. "Makan malam nanti bukan sekadar tentang makanan. Ini tentang siapa yang akan melihatmu sebagai milikku. Jangan buat aku harus menghukummu di depan mereka."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD