Langkah kaki terdengar mendekat sebelum Lea sempat berpaling. Pintu kecil di sudut ruang rias terbuka kembali, kali ini disertai aroma parfum berat yang tak asing. Madam Rose muncul dengan senyum tipis yang selalu berhasil membuat orang merasa sedang dinilai, bukan disambut.
“Sudah siap,” katanya, lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.
Lea mengangguk singkat. Jantungnya berdetak tidak teratur, namun wajahnya tetap tenang. Tenang yang dipelajari, bukan lahir alami.
Madam Rose berjalan di depan, hak sepatunya berdenting pelan menyusuri lorong sempit yang diterangi lampu temaram. Setiap langkah terasa seperti menjauhkan Lea dari dirinya sendiri.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu gelap, lebih tebal dari yang lain. Madam Rose mengetuk sekali, singkat, lalu membuka pintu tanpa menunggu jawaban.
Di dalam, suasana jauh lebih senyap. Musik dari klub meredup menjadi dengung jauh. Seorang pria berdiri membelakangi pintu, menatap jendela besar yang menampilkan kilau kota di bawah sana. Posturnya tegap, jas mewahnya jatuh rapi, seolah ruangan itu memang disiapkan untuknya.
“Ini Arabella..." ucap Madam Rose, suaranya halus namun tegas. “Teman yang Anda minta.”
Pria itu berbalik perlahan.
Tatapannya langsung tertambat pada Lea. Tidak terburu-buru, tidak juga kasar. Hanya tenang, terlalu tenang, seperti seseorang yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan tanpa perlu mengulurkan tangan. Lea merasakan tengkuknya menegang, naluri waspada bangkit tanpa permisi.
“Terima kasih, Madam Rose,” kata pria itu akhirnya.
Madam Rose tersenyum tipis, lalu melirik Lea sekilas. “Bersikaplah baik,” ucapnya pelan, entah sebagai nasihat atau peringatan. Setelah itu, ia melangkah keluar dan menutup pintu, Meninggalkan bunyi kunci yang berputar pelan.
Kini hanya ada mereka berdua.
Pria itu melangkah mendekat satu langkah. Jarak di antara mereka menyempit, cukup untuk membuat udara terasa berat.
“Kau tidak perlu berdiri setegang itu,” ucapnya ringan, seolah situasi sepenuhnya berada dalam kendalinya. “Aku hanya ingin berbincang.”
Lea menelan ludah. Di balik gaun hitam yang membungkus tubuhnya dengan anggun, telapak tangannya terasa dingin. Ia mengangkat dagu, memaksa matanya tetap bertahan pada sorot di hadapannya. Malam ini, ia sadar, bukan tentang siapa pria itu, melainkan tentang seberapa jauh ia mampu bertahan tanpa kehilangan dirinya sendiri.
“Kemarilah…” ucap pria itu sambil menepuk sofa kosong di sampingnya.
Lea melangkah perlahan, mengikuti arah yang seolah telah ditentukan sejak awal. Kepalanya menunduk, bukan karena mengalah, melainkan karena rasa risih yang merayap saat menyadari tatapan pria itu. Tatapan yang tidak sekadar melihat, melainkan menimbang, menelusuri, seakan ingin menelanjanginya tanpa sentuhan. Hingga akhirnya, tubuhnya mendarat di sofa di samping pria tersebut.
“Kau mau minum?” tanyanya.
Jemari pria itu bergerak terampil, mengisi gelas kosong di atas meja. Aroma wine yang manis sekaligus getir menyeruak, memenuhi indra penciuman Lea, membuat dadanya terasa semakin sempit.
“Siapa namamu?”
Lea terdiam sesaat sebelum menjawab singkat, “Arabella, Om.”
Pria itu menoleh, senyum tipis terbit di sudut bibirnya—bukan senyum yang ramah.
“Om?” ulangnya pelan. “Jangan panggil aku seperti itu.”
"Alex.. panggil aku Alex.. bukan Om atau apapun."
Pria itu terkekeh pelan. Bukan tawa yang hangat, melainkan bunyi singkat yang mengandung penilaian. Tangannya berhenti sesaat di udara setelah menuang wine, lalu perlahan menggeser gelas itu ke arah Lea.
“Baiklah,” katanya ringan. Namun sorot matanya tak pernah benar-benar ringan.
“Arabella.”
Nama itu ia ucapkan perlahan, seolah mengecap rasanya di ujung lidah.
Lea tidak segera menyentuh gelas tersebut. Punggungnya tegak, bahunya kaku. Jarak di antara mereka terasa terlalu sempit, meski masih ada ruang di sofa. Ia bisa merasakan panas tubuh pria itu. Kehadiran yang terlalu nyata untuk diabaikan.
“Aku tidak menggigit,” lanjutnya, senyum tipis terukir di sudut bibir. “Kecuali kau memberiku alasan.”
Lea mengangkat pandangan, hanya sepersekian detik. Cukup untuk menunjukkan bahwa ia mendengar. Cukup singkat untuk tidak memberi celah.
“Aku baik-baik saja tanpa minum,” ucap Lea tenang, meski suaranya harus melewati tenggorokan yang terasa kering.
Pria itu mengangkat bahu, lalu menarik gelasnya sendiri. Ia bersandar santai, seolah situasi sepenuhnya berada dalam kendalinya.
“Kau berbeda dari yang lain,” ucapnya tiba-tiba. “Kebanyakan akan berusaha menyenangkan aku.”
Lea menggenggam jemarinya di pangkuan. Kukunya menekan telapak tangan sendiri, menahan gemetar yang nyaris muncul.
“Aku tidak terbiasa menyenangkan orang yang tidak kukenal.”
Senyum pria itu melebar. Kali ini lebih jelas, bukan karena senang, melainkan karena tertarik. “Kalau begitu,” katanya pelan, mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya, “Malam ini kita saling mengenal.”
Lea menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, sejak duduk di sofa ini, tak ada lagi ruang untuk mundur dengan mudah. Namun satu hal masih ia pegang erat, dirinya sendiri. Dan ia tidak berniat menyerahkannya. Pada siapa pun.
Alex tersenyum... senyum yang menyimpan makna lebih dari sekadar keramahan. Ia mengangkat gelasnya setinggi d**a, cahaya lampu klub menari di permukaan cairan di dalamnya.
“Minumlah,” katanya pelan, nyaris seperti bisikan. “Anggap saja ini tanda pertemuan kita.”
Ia menahan gelas itu di udara, menunggu, seolah waktu ikut berhenti di sela detik yang menggantung. “Ayo… angkat gelasmu,” lanjutnya, nada suaranya ringan namun sarat isyarat. “Atau kau menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar minum?”
Senyumnya kembali mengembang, tipis namun tajam. “Kalau itu maumu,” tambahnya, “aku akan dengan senang hati melayanimu.”
Kata-kata itu meluncur tenang, tapi menyisakan gema—sebuah tantangan halus yang menggantung di antara mereka, menunggu untuk dijawab.
Lea tak segera menyentuh gelas itu. Pandangannya meluncur turun, menangkap kilau cairan bening yang memantulkan cahaya lampu klub, sebelum perlahan terangkat kembali ke wajah Alex. Senyum pria itu terlalu tenang untuk sekadar ajakan ringan—terlalu terkendali. Ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya, seperti ujian kecil yang sengaja dilemparkan untuk melihat reaksinya.
Ia akhirnya mengangkat gelas tersebut, namun berhenti di udara, tak menyentuh bibirnya.
“Kau terlalu cepat menarik kesimpulan,” ucapnya datar. Nada suaranya tenang, tapi sorot matanya menyimpan kewaspadaan yang tak disamarkan.
“Bagiku, minum tetaplah minum. Tidak lebih.”
Alex terkekeh singkat. Bukan tawa yang mengejek, melainkan seulas respons yang lahir dari ketertarikan. “Menarik,” gumamnya. “Kebanyakan orang di tempat ini berharap pada lebih.”
“Dan kebanyakan orang lupa pada batas,” balas Lea tanpa ragu. Ia mengetukkan bibir gelasnya perlahan ke gelas Alex—sebuah bersulang yang nyaris simbolis. Dentingnya tipis, tenggelam oleh dentuman musik, namun maknanya jelas bagi mereka berdua, jarak masih dijaga.
Alex menyesap minumannya lebih dulu. Tatapannya tak beranjak dari wajah Lea. “Aku menghargai orang yang tahu apa yang ia mau,” katanya. “Atau setidaknya, tahu apa yang tidak ia mau.”
Lea akhirnya menyesap sedikit. Sekadar formalitas, cukup untuk menutup celah yang mungkin terbuka. Hangat alkohol menyentuh tenggorokannya, namun pikirannya tetap jernih, dingin.
“Kalau begitu kita sepakat,” ucapnya. “Malam ini soal mengenal, bukan memiliki.”
Alex menyandarkan tubuhnya, seolah mundur setengah langkah—namun hanya setengah. “Untuk sementara,” katanya ringan.
Satu kata itu membuat perhatian Lea mengeras. Ia meletakkan gelas di meja kecil di samping sofa. “Tidak semua hal perlu dilanjutkan,” ucapnya tenang.
“Benar,” sahut Alex. “Tapi ada pertemuan yang memilih jalannya sendiri.”
Dari kejauhan, Madam Rose kembali melirik ke arah mereka. Senyum tipis terpatri di bibirnya, penuh perhitungan. Ia tahu betul—dua orang itu sedang berdiri di garis yang sama. Belum melangkah, namun sudah saling mengukur jarak. Dan di klub miliknya, garis semacam itu jarang bertahan lama.