Kesepakatan Tanpa Penolakan

1142 Words
Alex melangkah keluar dari ruangan itu dengan senyum smirk yang bertahan di sudut bibirnya. Senyum yang tak pernah benar-benar ramah, ia menyimpan sesuatu di baliknya, sebuah maksud yang hanya ia sendiri tahu artinya. Lampu-lampu gemerlap bangunan itu perlahan tertinggal di belakang ketika langkah kakinya semakin mantap. Malam menyambutnya dengan sunyi yang dingin. Alex masuk ke dalam mobil mewahnya, menutup pintu dengan satu gerakan tenang, lalu mesin dinyalakan. Mobil itu melaju, membelah kesunyian malam, meninggalkan bangunan bercahaya itu sebagai siluet di kejauhan. Di dalam kabin yang hening, Alex mengeluarkan ponselnya. Jemarinya bergerak cepat, menekan satu nama yang sudah lama tersimpan. Panggilan itu berdering, detik demi detik berlalu, seolah mengulur ketegangan. Tak lama kemudian, seseorang di seberang sana akhirnya mengangkat telepon itu. "Aku tertarik pada Arabella,” ucap Alex datar, suaranya rendah namun sarat tekanan. “Aku menginginkannya besok malam. Persiapkan dirinya dengan baik.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada dingin, “Soal harga, atur saja. Yang jelas… aku tidak menerima penolakan.” Di seberang sana terdengar helaan napas pelan, disusul tawa tipis yang mengandung perhitungan. “Semua hal ada harganya, Tuan Alex,” balas suara itu tenang namun licin. “Terlebih Arabella—dia bukan barang biasa. Sangat langka di tempatku.” Nada bicaranya merendah, seolah sedang membisikkan godaan berbahaya. “Banyak pria rela melakukan apa saja hanya untuk ditemani olehnya. Jadi pertanyaannya…” Ia berhenti sejenak, memberi jeda yang disengaja. “Apakah Tuan Alex benar-benar yakin dengan nominal yang akan aku pasang untuk Arabella?” Apa kau meragukanku?” ucap Alex dingin, meski senyum simpul justru terpatri di wajahnya. Senyum yang sama sekali tak mengandung kehangatan. Nada suaranya merendah, berbahaya. “Kau tahu aku bisa membuat klub milikmu menutup pintunya—malam ini juga.” Ia terkekeh pelan, bukan tawa, lebih seperti peringatan. “Jadi jangan bandingkan itu dengan sekadar membeli seorang wanita untuk menghangatkan ranjangku,” lanjutnya santai, seolah tengah membicarakan hal sepele. “Bagiku… itu terlalu mudah.” Keheningan sejenak menyusup di antara sambungan telepon, menandai bahwa Alex tidak sedang bernegosiasi, ia sedang memastikan kendali sepenuhnya berada di tangannya. Namun tawa renyah terdengar jelas dari seberang sana, memecah ketegangan yang sempat menggantung di udara. Tawa itu terdengar ringan, tapi sarat makna, seolah menutupi kehati-hatian yang terlatih. “Bukan maksudku meragukan kekuasaanmu, Tuan Alex,” ucapnya akhirnya, nadanya kini lebih halus namun tetap penuh perhitungan. “Aku hanya ingin menegaskan satu hal…” Ia sengaja memberi jeda, membiarkan kata-katanya meresap. “Arabella bukan gadis seperti kebanyakan yang pernah kau temui.” Nada suaranya merendah, hampir seperti bisikan rahasia. “Karena itu, harganya tentu berbeda.” Terdengar desahan kecil sebelum ia melanjutkan, “Namun jika Tuan Alex menyetujuinya, aku akan mempersiapkan dirinya dengan sebaik mungkin untuk besok malam.” Senyum samar seolah terselip di balik suaranya. “Aku yakin… Tuan tidak akan kecewa.” "Kau atur saja,” ucap Alex datar. Nada suaranya dingin, tanpa emosi, namun justru itulah yang membuatnya terdengar mengancam. Ia berhenti sejenak, seolah memberi waktu agar setiap kata berikutnya benar-benar dipahami. “Ingat satu hal,” lanjutnya pelan namun penuh tekanan. “Aku tidak suka penolakan.” Kalimat itu meluncur tanpa perlu penekanan berlebih, namun cukup untuk menjadi peringatan yang tak bisa diabaikan. Percakapan di telepon itu pun berakhir pada sebuah kesepakatan. Diam-diam, rapi, dan terkunci rapat di balik layar kekuasaan. Sebuah kesepakatan yang disusun tanpa suara, tanpa saksi dan tanpa sepengetahuan Lea, yang tanpa sadar telah dijadikan alat dalam transaksi kotor itu. Madam Rose tersenyum puas begitu panggilan dari Alex terputus. Sudut bibirnya terangkat anggun, namun sorot matanya berbinar tajam dan penuh hitungan dan keserakahan yang tak ia sembunyikan. Dalam benaknya, angka demi angka berkelebat, membentuk bayangan keuntungan besar yang akan ia raup. Arabella… nama itu kini terdengar seperti emas berjalan.. “Kau benar-benar membawa peruntunganmu sendiri, gadis cantik,” gumam Madam Rose dengan senyum puas yang perlahan mengembang. Nada suaranya lembut, namun sarat makna tersembunyi. “Melinda memang tak pernah keliru,” lanjutnya lirih, seolah sedang memuji keputusan masa lalu. “Membawamu ke hadapanku adalah langkah yang sangat tepat.” Ia melangkah mendekat, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan mata berbinar. “Arabella…” nama itu meluncur perlahan dari bibirnya. “Berawal dari sekadar jaminan utang, kini kau akan menjelma menjadi primadona di klub malam milik Madam Rose.” Senyumnya kian mengeras. Dan malam pun seolah ikut mengamini, bahwa takdir Arabella telah berubah, tanpa pernah ia dimintai persetujuan. Tok… tok… Ketukan pelan terdengar di balik pintu, memecah lamunannya. Senyum Madam Rose belum sepenuhnya pudar ketika sebuah suara menyusup dari luar. “Permisi, Madam,” ucap seseorang dengan nada hati-hati. “Melinda ingin bertemu.” Madam Rose mengangkat alisnya tipis, lalu tersenyum samar—senyum yang tak pernah sederhana. “Biarkan dia masuk,” jawabnya tenang, seolah sudah menanti kedatangan itu sejak awal. Seorang wanita berbalut gaun seksi melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Langkahnya tenang namun sarat kesombongan, seolah setiap hentakan hak tingginya adalah pernyataan kemenangan. Tatapannya lurus ke depan, tajam dan percaya diri. Senyum tipis terpatri di bibirnya, senyum penuh kepuasan, seakan ia tahu persis posisi yang kini ia menangkan dalam permainan ini. Tanpa menunggu dipersilakan, wanita itu langsung mengambil tempat duduk di hadapan Madam Rose. Gerakannya santai namun angkuh, seolah ruangan itu memang miliknya sejak awal. Tas mahal meski tampak telah usang oleh waktu, ia letakkan begitu saja di atas meja, tanpa ragu, tanpa sungkan. Tatapannya terangkat, menembus Madam Rose dengan penuh kepercayaan diri. Tak ada rasa sungkan di sana. Yang ada hanyalah keyakinan mutlak—bahwa ia datang bukan sebagai tamu biasa, melainkan sebagai penagih janji dan penuntut kepastian. "Aku yakin Madam Rose tahu apa maksud kedatanganku kemari,” ucapnya dengan nada ramah. Tatapannya lembut, senyumannya pun terukir manis. Namun di balik keramahan itu, terselip maksud tersembunyi tajam, penuh tuntutan, dan sama sekali tak bisa dianggap remeh. Madam Rose membalasnya dengan senyum smirk sambil menatap wajah Melinda lekat-lekat. Senyum itu tajam, menghunus seperti pisau—siap melukai siapa pun yang berani membaca maknanya terlalu dalam. Madam Rose menyandarkan punggungnya ke kursi, sorot matanya menyipit di balik kepulan asap yang perlahan membentuk tirai tipis di antara mereka. Senyum di bibirnya tak pernah benar-benar hangat, lebih seperti senyum seseorang yang tahu ia memenangkan permainan sebelum kartu terakhir dibuka. “Kesepakatan,” ulangnya pelan, seolah mengecap kata itu. Ujung jarinya mengetuk asbak kristal, menyingkirkan abu rokok dengan gerakan malas namun terukur. “Menarik bagaimana kau kembali dengan wajah setenang itu. Biasanya orang yang datang kemari membawa kegelisahan… atau keputusasaan.” Ia mengangkat dagu sedikit, menatap lurus lawan bicaranya. “Jadi katakan padaku,” lanjut Madam Rose, suaranya rendah dan halus, “kau datang untuk menagih janji—atau bersiap membayar harga yang tertunda?” Asap kembali mengepul, menggantung di udara seperti peringatan yang tak pernah diucapkan. Dan saat itulah Melinda mengerti— apa pun jawaban yang sempat ia simpan, harga yang harus dibayar telah ditentukan jauh sebelum ia melangkah masuk ke ruangan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD