Laki-laki Jenaka

1410 Words
“Rain, bangun!” Astri menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya yang sudah digulung dengan selimut berwarna biru muda. “Sudah jam setengah tujuh, Rain! Nanti terlambat kelasnya Ms. Leya!” Astri hampir saja frustasi saat mata Rainy tak kunjung membuka. “Rain, enggak mati, ‘kan?” Terdengar Rainy mengerang kencang. “Ish, jorok! Bangun, ih!” Rainy membuka matanya, lalu langsung menyipitkan mata. Mengerjapkan mata untuk menetralisir cahaya yang sudah terang benderang masuk ke kornea matanya. Ia mengangkat tangan dan menggeliat, perbuatan yang membuat Astri naik pitam. “Jam berapa, Tri, kok sudah terang sekali?” tanyanya. Astri tersenyum jahat, “Eh, Sinting! Sekarang sudah jam setengah tujuh. Mampus kamu nanti terlambat kelasnya Ms. Leya!” sahutnya. Rainy terperanjat dan langsung melompat duduk, kepalanya tiba-tiba jadi pening. “Astri kenapa enggak membangunkan saya lebih awal?” tanyanya, mukanya sudah pucat pasi. “Istri kinipi inggik mimbinginkin siyi libih iwil?” ulang Astri dengan bibir yang dimaju-majukan. “I have shaked your body like milk shake, but you still ngorok and berpelukan with your pillow. Dah! Sana mandi, nanti telat beneran.” “I don’t wanna take a bath, I just gosok gigi.” Astri tertawa terbahak-bahak. “Mati aja, Rain!” sahutnya, lalu ia melanjutkan memakai lipstik yang tadi baru ia poles setengah. *** “Kok sepi?” celetuk Astri saat mereka sudah di depan kelas. “Apa kelasnya sudah bubar, ya, Rain?” Rainy mengedikkan bahunya, lalu berjalan untuk masuk ke kelas. “Eh, Rain! Jahat banget, sih, ya ampun! Hobi banget enggak nanggepin aku!” sungut Astri. Rainy masuk ke dalam ruangan kelas, benar-benar sepi. Teman-temannya yang kemarin belum datang, Ms. Leya juga belum ada di bangkunya. Yang tersedia adalah seorang laki-laki yang sedang asyik dengan bukunya. Namun, Astri dan Rainy sama sekali tidak mengenali laki-laki itu. “Rain, ini beneran kelas au-au, ‘kan?” tanya Astri yang lagi-lagi tidak ditanggapi oleh Rainy. Ia hanya berjalan mendekat ke arah laki-laki yang sepertinya tidak menyadari kehadiran mereka. “Astaga, bener-bener tuh orang!” sungut Astri lagi. Rainy memperhatikan laki-laki itu dengan seksama, seperti pernah bertemu, tetapi tidak tahu di mana. “Mas, kita pernah bertemu, ya?” celetuknya. Laki-laki itu menatapnya, menghentikan kegiatan membacanya. “Aha! Mas yang fotoin saya sama Astri kemarin sewaktu di Gumul!” serunya girang. “Ardan,” ujar laki-laki itu mengenalkan diri. Rainy tersenyum, “Ardan Firdaus?” tanyanya. Laki-laki itu hanya tersenyum, setelahnya melanjutkan agenda membacanya. Rainy hanya mengangguk-angguk, lalu kembali ke mejanya. “Haha, mampus dicuekin, ‘kan!” seloroh Astri yang daritadi memperhatikan Rainy yang berinteraksi dengan laki-laki itu. Namun, ucapannya sama sekali tidak ditanggapi oleh Rainy lagi dan lagi. *** “Ms. Rainy make conversation with Mr. Ardan, okay?” Rainy mengernyit. Bagaimana bisa membuat percakapan dengan laki-laki cuek itu? batinnya. “No problem, Mr,” sahut Ardan. Rainy langsung mengarahkan pandangannya pada laki-laki itu. Enteng sekali dia menjawab permintaan dari tutor mereka. Setelah ketercengangannya, akhirnya Rainy memandangi Ardan yang berpindah duduk dan mendekat kepadanya. Laki-laki itu tidak cuek lagi, dia banyak bertanya dan tertawa. Tertawa yang persis seperti kuda yang tertawa. Kesan cuek langsung hilang dari wajahnya. “Time is enough!” ujar Mr. Noah. “Ms. Rainy and Mr. Ardan, please!” sambungnya. Rainy hanya melihat Ardan yang dengan entengnya maju ke depan kelas. Mengerlingkan matanya sejenak ke seisi ruang kelas, lalu menatap ke mata Rainy dengan tatapan yang dalam. Suasana kelas menjadi riang dan penuh tawa dengan pembawaan Mr. Noah yang ceria dan menyenangkan. Pelajaran yang disampaikan juga ringan dan mudah dicerna oleh mereka yang memiliki latar belakang yang berbeda. Kelas terakhir di setiap hari yang mereka ikuti adalah kelas Warm for Speaking atau kelas yang merangkum dan mempraktekan materi dari kelas Vocabulary, Grammar dan Pronunciation. Jadi, mereka harus menerapkan pembelajaran mereka dari pagi di kelas ini. “Okay, guys! Time is enough, bahkan sudah berlebih, ya! I think teman-teman sudah pada gerah dan letih. So far, saya menangkap proses teman-teman sudah baik dan enjoy, ya!” Kelas mereka mengangguk senang. “Still in your progress, guys, see you tomorrow!” pamit Mr. Noah. “See you, Mr.” “Oh iya, I am forget. Besok kita kelas outdoor, ya? Carambola Sun Flower Garden, who knows?” tanya Mr. Noah. Astri menunjuk tangannya dengan semangat, “I know, Mr,” jawabnya. “Good, Ms. Astri! Saya harap kamu bisa share ke teman-teman jalan ke sana, ya!” Astri dengan riang mengangguk. “Or, you guys can pergi ke sana together. How?” Kelas mereka kompak mengangguk dengan memasang wajah yang sumringah. “Oke, good, once again, see you tomorrow with very full happiness, guys!” pamit Mr. Noah, lalu ia merapikan buku-buku yang dia bawa dan pergi meninggalkan kelas. Sepeninggalnya Mr. Noah, kelas mereka tetap ramai dengan berbagai macam bahasan. Rata-rata pengisi kelas adalah orang-orang yang baru saja menamatkan kuliahnya, fresh graduate, yang berasal dari berbagai macam disiplin ilmu. Ada yang agribisnis, agroekoteknologi, akuntansi, hubungan internasional, hukum tata negara, pendidikkan dan yang lainnya. Pembahasan mereka juga bukan hanya seputar pendidikkan masing-masing, melainkan isu Indonesia terkini, masalah politik hingga ke bahasan yang amat digemari para wanita, produk kecantikkan. “Astri, kamu tahu Carambola dari mana?” celetuk Mira, mahasiswi terapis gigi asal Bandung. Dia sama dengan Rainy dan Astri, sama-sama masih kuliah. Astri menoleh ke arah Mira dan tersenyum simpul, “Aku pernah pergi ke sana,” jawabnya. Jawaban yang menghasilkan kernyitan di kening Rainy. “Kapan?” “Pertanyaan kamu klise banget, Rain, kamu lupa kalau aku sering keluar semenjak kita sampai di Pare?” tanya Astri, Rainy masih saja mengernyit bingung. “Kamu, sih, terlalu betah b******u sama laptop di rooftop, sampai enggak tahu kalau aku pergi-pergi,” sambungnya. Rainy terdiam sebentar, lalu mengedikkan bahunya. “Sudah, ah, saya mau pulang, Tri. Perut saya sudah memberontak,” adunya. Astri mengangguk, lalu membereskan buku-bukunya. Teman sekelas mereka yang lain juga melakukan hal yang sama, karena senja sudah akan bertemu peraduannya. Kelas mereka berakhir di jam lima sore, tetapi Mr. Noah yang terlalu asyik mengajar menyebabkan kelas keluar terlambat tiga puluh menit. Dan sekarang, jam di dinding sudah hampir menyentuh pukul enam tepat. Astri menaiki sepedanya, goyah, dan hampir jatuh lagi. “Hati-hati, Tri, nanti jatuh lagi!” seru Rainy seraya menahan tawanya. Astri meringis, “Untung enggak jatuh,” ucapnya. Rainy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka sama-sama mengayuh sepedanya untuk kembali ke asrama. Di jalan juga banyak anak-anak dari tempat kursus yang lain juga berjalan pulang, juga ada yang singgah membeli makanan atau makan di tempat makan seraya berdiskusi banyak hal. Utamanya adalah mengenai Bahasa Inggris. Rainy melihat ke samping kiri dan kanan, menyaring makanan yang akan dia beli. Ingin menemukan makanan baru dan mencobanya, sepertinya makanan di Pare ini banyak ragam dan asalnya. Dan tampaknya, semuanya enak-enak. “Jangan planga-plongo, nanti nabrak,” ujar seorang laki-laki. Rainy memberhentikan sepedanya, lalu menolehkan kepalanya untuk menemui sumber suara. Ia mengernyit saat mendapati Ardan ada di belakang sepedanya, dan laki-laki itu tersenyum. “Kamu barusan ngomong sama saya?” tanya Rainy. Ardan mengangguk, lalu menstandar sepedanya. Laki-laki itu tampak mengambil bungkusan yang tergantung di sepedanya, mendekat ke arah Rainy dan menyodorkan bungkusannya. “Nih,” ujarnya. Rainy hanya memiringkan kepalanya sebagai respon. “I don’t know why I bought this pecel, but pecel ini untuk kamu,” sambungnya. Sekarang Rainy meluruskan kepalanya lagi, dan mengernyit bingung. “Rainy! Aku udah nyampe depan asrama, tapi kamu enggak ada. Aku pikir kamu hilang!” seru Astri dengan napas yang ngos-ngosan. Rainy dan Ardan kompak menoleh ke arahnya, “Eh, sorry, I am disturbing, ya?” tanyanya. “Ya sudah deh, aku cabut!” Astri buru-buru membelokkan lagi sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat seraya menahan tawanya. Rainy hanya bengong, “Kamu mau bengong dengan posisi seperti ini terus, atau bagaimana, Hujan?” tanya Ardan menyadarkan Rainy. “Hujan?” “Rain, artinya hujan, ‘kan?” Rainy lagi-lagi mengernyit, “Tapi nama saya Rainy, bukan hujan,” bantahnya. Ardan hanya mengangguk, “It’s okay, this one, for you, please!” ujarnya, seraya tetap menyodorkan bungkusan nasi pecelnya. “Ini ada racun?” tanya Rainy polos. Ardan hanya tertawa, “Enggak, tenang saja, ini aman,” ujarnya, lalu tersenyum. Rainy mengedikkan bahunya, “Okay,” ujarnya, lalu mengambil bungkusan yang disodorkan Ardan. “Saya terima, terima kasih, ya!” ucapnya, lalu menaruh bungkusan itu ke rantang sepedanya. “Saya duluan!” pamitnya, lalu kembali mengayuh sepedanya. Ardan tersenyum, “Kenapa aku malah kasih nasi pecel aku untuk gadis itu, ya?” gumamnya seperti orang linglung. *** “Cie cie, yang dikasih nasi pecel sama Mas Mas, wahahahaha!” goda Astri saat melihat Rainy membuka bungkusan yang baru saja ia dapatkan. “Cocok, sih, kamu sama dia, Rain. Sekalian move on dari Bayu, ‘kan?” Rainy menoleh, dan menunjukkan muka garangnya kepada Astri. “Saya lagi mau makan, jangan bahas Bayu!” omelnya. Astri menaik-naikkan alisnya, “Iya, deh, iya! Silakan Nona Rainy memakan nasi pecel yang diberikan oleh Tuan Ardan,” ujarnya. CTING! Satu pesan masuk di telpon pintar Rainy. “Astri, tolong bukain dong!” ujarnya. Astri mengangguk, lalu hampir menyemburkan tawanya saat membaca pesan yang nangkring di w******p Rainy. “Rainy, tadi nasi pecelnya lima ribu.” Rainy tersedak tempe goreng, lalu buru-buru meraih air minumnya. “Dari siapa?” tanyanya. Astri mengecek nomor si pengirim dengan membuka profilnya, “Gendeng! Dari si Ardan,” ujarnya. Lalu, tawanya menjadi tumpah ruah. “Eh, Rain, pesannya dihapus nih!” Rainy hanya mengedikkan bahunya, sudah hilang selera makannya. Astri juga turut mengedikkan bahunya, ia juga tidak mengerti kenapa pula Ardan mengirimkan pesan itu pada Rainy? Dia tidak ikhlas atau bagaimana? Astri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Bingung. *** Terima kasih karena telah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD