“Kenapa Bayu enggak ada kabarnya, ya, Bu?” tanya Rainy gusar saat sudah berkali-kali telponnya tidak diangkat oleh sang pujaan hati.
Ibunya hanya tersenyum seraya mengelus rambut Rainy, mencoba merasakan kekhawatiran yang sedang anaknya rasakan. “Mungkin dia butuh tenang, Nak, namanya juga ‘kan kalian mau menikah,” ujar Sang Ibu.
“Bu, Uya takut,” adu Rainy. Rasanya ia sekarang ingin menangis kencang, ia sangat-sangat takut menghadapi dunia setelah ini.
Ibunya hanya mengela napas, “Takut apa, Nak? Ada Ibu.” Rainy semakin mengencangkan pelukannya kepada sang Ibu.
***
“ARGH!”
“Rain!” seru Astri kaget mendengarkan teriakan Rainy yang kencang sekali. “Ya ampun, kepalaku pusing,” adunya.
Astri menoleh ke samping dan melihat Rainy sedang meringkuk di dalam selimutnya, mundur tepat ke ujung tembok yang berbentuk siku-siku. Wajah gadis itu pucat pasi, jika dilihat lebih dekat maka akan tampak keringat sebesar butir jagung di wajahnya.
“Hei, kamu kenapa?” ujar Astri, lalu menghambur ke dekat Rainy.
Tubuh Rainy bergetar kencang, ia menangis, tangis yang tertahan, giginya beradu, seperti ada trauma yang lagi-lagi menghampirinya. Astri bingung, ia tidak mendapatkan ide ia harus melakukan apa terhadap kondisi sahabatnya yang seperti ini.
“Istighfar, Rain, istighfar,” ujar Astri mengingatkan. Ia takut akan terjadi apa-apa dengan sahabatnya ini.
“As … Tri …,” panggil Rainy terbata-bata. “Bayu … Bayu … ninggalin saya, kita tamat sekolah, dia pergi,” sambungnya.
Astri mengernyit, ia belum mengerti ke arah mana pembicaraan Rainy ini nantinya. Ia melihat jam di telpon genggamnya, pukul dua dini hari. Ia hanya mengembuskan napas, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk merespon apa yang tadi Rainy ucapkan.
“Dia pergi saat seminggu lagi seharusnya kami menikah,” sambung Rainy. Astri hampir saja terperanjat saat mendengar penuturan sahabatnya ini. Pantas saja Rainy sering melamun saat ia mendengarkan nama Bayu, dia ditinggal menikah. “Saya hamil sama dia, dan ….”
“RAIN!” pekik Astri karena kaget. Rainy bungkam seketika. Hamil? Menikah? Bagaimana bisa? Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul bagai balon udara yang dilepas landaskan. “Hamil?”
Rainy mengangguk, tangisnya semakin kencang. Di saat semuanya harus ia ceritakan, maka di saat itu pulalah ia harus menerima dan mengulang luka yang sama. Luka ditinggalkan itu tidak benar-benar sembuh, justru semakin mengakar di setiap harinya.
Rainy mengangguk cepat, tubuhnya masih bergetar hebat. “Saya dan Bayu melakukan kesalahan yang sangat fatal sehingga menyebabkan saya hamil.” Ia memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam untuk menetralisir rasa sakit yang saat ini menikam hatinya. “Saya sudah meminta pertanggung jawaban Bayu, lalu kami sepakat untuk menikah dan menghadap ke Ayah,” sambungnya.
***
“ANAK KURANG AJAR! TIDAK TAHU DIUNTUNG” teriak Pak Muham saat mendengar penuturan anak gadisnya bersama dengan kekasih hati. “Mau kamu buang ke mana muka saya dengan perbuatan tidak bermoral kamu itu, Rainy!?” sambungnya.
“Ma … af …, Uya enggak sengaja, a ….”
PLAK!
“Mas Muham!” seru Nur, Ibu dari Rainy. “Uya boleh saja melakukan kesalahan, tapi bukan berarti Mas berhak menampar dan memakinya seperti itu, Mas!” sambungnya. Ucapan yang sangat ampuh untuk menarik naik emosi Pak Muham.
“Dan kamu!” Pak Muham menarik Bayu yang sudah cemas bukan main.
BUGH!
“Saya sudah menitip Rainy baik-baik dengan kamu, kenapa kamu justru merusaknya, hah!?”
“Ampun, Pak, saya akan bertanggung jawab.”
BUGH!
“Ayah!”
“Mas!”
“Bertanggung jawab, hah!? Kamu pikir dengan kamu bertanggung jawab, maka masa depan anak saya akan baik-baik saja. Kamu pikir dengan kamu meminta maaf, maka anak saya tidak jadi hamil dan dia bisa melanjutkan sekolahnya, hah!?” teriak Pak Muham. Ia sangat-sangat murka.
“Tapi setidaknya saya sudah berani tanggung jawab, Pak.”
Pak Muham tertawa dengan keras, baginya apa yang barusan diucapkan oleh kekasih anaknya ini adalah sesuatu yang amat sangat lucu. “HEI!” teriaknya, “Setidaknya? Kamu berkata setidaknya?”
BUGH
Rainy maju, berusaha melindungi kekasihnya dari amukan sang Ayah.
“Rainy, minggir!”
“Yah, cukup, di sini bukan cuma Bayu yang salah, Uya juga salah.”
“Rainy, minggir!!!”
Rainy menggeleng keras, “Enggak, Ayah! Kalau Ayah mau memukul Bayu, maka Ayah juga harus memukul Uya,” ujarnya.
PLAK!
“Mas Muham, saya mohon cukup, Mas!” teriak Nur, ia sudah tidak sanggup menyaksikan suaminya begitu murka seperti ini. “Saya mohon jangan pukuli mereka, saya sakit, Mas. Saya juga sakit ketika mengetahui anak saya berbuat hal yang tidak pernah ada di pikiran saya. Saya juga sakit hati, Mas,” sambungnya. Ia bergerak ke arah sang suami yang di dadanya masih menggebu banyak amarah dan kecewa. Nur memeluk erat suaminya, berusaha menenangkannya.
“Saya kecewa, Nur, saya kecewa,” ujar Pak Muham tercekat, sekarang sudah ada bulir-bulir air mata di pipinya. Melihat bulir itu luruh, maka hancur pula hati Rainy.
“Saya juga kecewa, Mas, tapi apakah kita pernah instropeksi diri bahwa kesalahan yang dilakukan Uya ini juga kesalahan kita yang tidak becus jadi orang tua?”
Rainy menggeleng keras. Tidak, orang tuanya sudah sangat pandai mendidiknya dan adik-adiknya. Hanya saja dirinyalah yang terlalu tidak tahu diuntung malah mencoreng nama kedua orang tua dan membuat malu keluarga.
“Saya tidak tahu, Nur, saya angkat tangan saja. Terserah kamu, mau kau apakan mereka ini.” Pak Muham memutar badannya, lalu pergi meninggalkan ruang keluarga yang baru saja berubah menjadi neraka.
***
Rainy masih menangis dengan posisi ia sedang dipeluk oleh Astri. Astri sudah mendengar seluruh ceritanya. “Semenjak hari itu Ayah berhenti berbicara dengan saya, Tri. Ayah diam seribu bahasa, bahkan untuk melihat wajah saya saja Ayah tidak sudi. Ayah sangat kecewa dengan saya, Tri.”
Astri mengangguk, sekarang ia juga sudah bercucuran air mata. Betapa pahitnya hidup sang sahabat selama tiga tahun ini. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana respon masyrakat kepada Rainy saat tahu ia hamil di luar nikah. Bagaimana pengorbanan sahabatnya untuk melahirkan anak dan hidup tanpa pertanggung jawaban yang seharusnya.
“Aku enggak bisa berkata apa-apa, Rain, kecuali aku mau bilang satu hal,” ujar Astri, lalu terjeda sesaat. “Mungkin apa yang kamu alami itu adalah pengalam terburuk yang pernah aku dengar, tetapi kamu harus tahu bahwa kebahagiaan yang besar akan datang setelah rasa sakit yang luar biasa.”
Rainy mengangguk, lalu melepaskan pelukannya. “Kamu mau lihat anak saya, Tri?” tawarnya, mencoba mengembalikan situasi yang seharusnya baik-baik saja.
Astri mengangguk semangat, “Mau! Pasti mereka lucu sekali, ya, Rain?”
“Anak saya lucunya berkali-kali, Tri,” balas Rainy seraya memberikan telpon genggamnya kepada Astri.
“Kembar, Rain?” Rainy mengangguk, satu tetes air mata luruh lagi dari telaganya. “Ih, sepasang?” ujar Astri gemas. “Lucu banget, Rain, kayak aku!”
Rainy memukul bahu Astri, lalu mereka tertawa. Berusaha menyebuhkan rasa sakit. “Iya, anak saya kembar dan mereka sepasang, Tri, yang laki-laki namanya Marun Timur Samudera, dipanggil Marun,” terangnya, lalu menunjukkan foto anak laki-lakinya sendiri.
“Warna kesukaan kamu!” seru Astri, Rainy mengangguk lalu tertawa.
“Adiknya perempuan, namanya Senja Bentang Nusantara, dipanggil Senja,” sambung Astri.
“Scene favorit kamu di dunia, senja. Nama anak-anak kamu kok keren-keren banget, Rain?”
“’Kan Ibunnya saya,” ujar Rainy bangga.
“Iya, deh, iya, Ibu yang kuat. Aku jadi pengen nyubit mereka deh, Rain!”
“Enak saja! Saya dipanggil Ibun, Tri, bukan Ibu,” ralat Rainy. Astri hanya mencibirnya, lalu menggeser foto-foto anak dari sahabatnya. Mulai dari mereka bayi hingga mereka berumur dua tahun, sangat menggemaskan. “Itu waktu mereka ulang tahun yang ke dua tahun, Tri, bulan Desember kemarin.”
“Iya? Loh, sama dong sama bulan lahir kamu?”
“Kita lahirnya bersama-sama, Tri, sama-sama di tanggal sebelas Desember. Jadi, saat saya berulang tahun yang ke delapan belas tahun, mereka lahir ke dunia, diberikan Tuhan sebagai kado terindah.”
“Kamu harus semangat, Rain, kamu punya dua kekuatan yang menggemaskan sekarang,” nasihat Astri.
Rainy mengembuskan napasnya, “Mungkin karena ada mereka, makanya saya melakukan bunuh diri sampai sekarang,” ujarnya.
BUGH!
“Sakit, Tri,” adu Rainy.
“Lagian kamu ngomongnya enggak difilter, lain kali jangan ngomong kayak gitu. Ada aku di sini, kalau mau cerita, cerita sama aku. Jangan membuat hal-hal yang menyebabkan kamu viral, tapi kamu udah enggak ada nyawa!” ingat Astri.
Rainy hanya tertawa mendengarnya. Ia merasa beruntung dipertemukan lagi dengan sahabat masa SMA yang begitu mengerti akan dirinya ini. Ia tiba-tiba saja memeluk erat ke arah Astri, lalu mereka berdua serentak tertawa. Seolah beban yang ada di punggung masing-masing menjadi sirna saat mereka tertawa. Berharap ketika senyum itu mereka terbarkan untuk dunia, maka rasa sakit hati juga hilang untuk selamanya.
“Dah, tidur sana! Besok kelas Ms. Leya pagi-pagi.” Astri mengangguk. Mencoba mendamaikan rasa terkejutnya malam hari ini.
Rainy sudah membaring di tempatnya, memejamkan mata, mencoba memberikan istirahat bagi pikirannya yang sedang berkecamuk ria. Ia juga sedang mencoba untuk memaafkan lagi dan lagi dirinya di masa lampau yang membuat hidupnya seberantakan sekarang.
Astri hanya memandang muka lelap sahabatnya itu, mengingat kenangan masa SMA mereka yang isinya seru luar biasa. Rainy yang pendiam, tiba-tiba menjadi periang saat mendengarkan guyonannya. Rainy yang jarang berinteraksi dengan laki-laki, dengan paksaannya akhirnya berhasil berpacaran dengan Bayu. Iya, Astri menyesal.
“Maafin aku, Rain, karena sudah mengenalkan kamu dengan laki-laki sejahat Bayu.”
***