Tawanya sebagai Obat Mujarab

1185 Words
Hari ini adalah tepat sudah dua minggu mereka menimba ilmu Kampung Inggris. Berkenalan dengan banyak orang, mencari makan hingga ke Jalan Dahlia, menyusuri Jalan Anyelir, menandangi asrama atau kost-kostan teman sekelas dan masih banyak hal seru lainnya. Hari ini adalah jadwal mereka melakukan kegiatan belajar mengajar di luar ruangan, tempat tujuan mereka adalah Carambola Sun Flower Garden. Sayangnya, Rainy yang baik hati itu lagi-lagi terlambat bangun. Hal itu justru menambah kadar emosi pada Astri, juga menambah kadar oktaf untuk lengkingannya. “RAINY HULYA ARRUM!” teriaknya seraya menggoncang-goncangkan tubuh Rainy. “Eh, Rain, kamu kok kebo banget, sih?” runtuk Astri. Namun, sahabatnya itu tak juga kunjung membuka matanya. Parah memang. Astri menarik dalam napasnya, mengembuskannya perlahan. Menarik lebih dalam lagi, seraya mengumpulkan tenaga, dan, “RAINMPPPHHH.” Teriakannya dibekap oleh wanita yang ingin ia bangunkan. “Argh!” teriaknya saat tangan Rainy sudah terlepas dari mulut. “Berisik!” sungut Rainy. Astri membelalakkan matanya, satu bantal hampir saja melayang, “Eh, Unta Kesasar! Sadar diri dong, sekarang sudah jam berapa, hah!? Jam setengah tujuh, Rain, kita mau ke Carambolanya pakai sepeda, jauh tahu! Dan Rainy Hulya Arrum baru bangun sekarang, dan dia lebmphhh!” mulutnya lagi-lagi dibekap oleh Rainy. Setelah sukses membuatnya bungkam, gadis itu melompat dan menarik handuk, lalu ngacir ke kamar mandi. “Rainy kurang kerjaan!” umpatnya. TOK TOK! “Argh, apalagi, sih?” “Ms, you have to pay punishment to Ms. Lida. Thank you and don’t forget!” Astri hanya menganga saat gadis yang baru saja berbicara itu menghilang dari depan pintu kamar mereka. Apakah dia salah satu dari jenis kuyang? Ia menggeram, “Ini gara-gara Rainy!” gumamnya kesal. *** Carambola dengan jaraknya yang jauh dari asrama Rainy dan Astri. Untuk sampai ke sini waktu yang diperlukan sekitar dua puluh menit. Mereka berjalan ke arah berlawanan dari arah ke kelas mereka, ketika bertemu dengan simpang tiga, maka mereka belok kiri. Setelahnya, akan ada persimpangan untuk belok kanan. Lalu, ambil jalan lurus hingga bertemu dengan jembatan. Dari jembatan tersebut ambil jalan belok kiri dan lurus lagi sampai ada simpang empat. Dari simpang empat tersebut, maka mereka belok kiri. Dan lagi-lagi berjalan lurus. Ini adalah jalan lurus terakhir untuk mencapai Carambola. Di samping kanan terdapat persawahan yang membentang luas, lalu di samping kiri jalan ada sungai kecil dan banyak orang memancing ikan di sana. Setelah sungai terdapat rimba yang rindang, tidak seperti hutan dan tidak menakutkan. Setelah cukup lama, maka mereka akan menemukan persimpangan yang tembus langsung ke Carambola. Memarkirkan sepeda dengan tidak masuk sejumlah dua ribu rupiah. “Pyuh! Jauh juga,” keluh Astri sembari menyeka keringatnya. “Rain, kamu capek enggak?” Rainy hanya menggeleng, “Enggak, saya sudah biasa jadi capek, sampai lupa bagaimana esensi capek itu sendiri,” ujarnya rancu. Astri hanya terperangah. BRUK! “Eh!” “Eh!” Rainy dan Astri sontak kaget saat mendengar sesuatu jatuh, mereka langsung saja menolehkan kepala ke arah sumber suara. Sekarang, terpampang di hadapan mereka seorang laki-laki yang tumpang tindih dengan sepedanya dan juga dengan sepeda lainnya yang terparkir. Siapa lagi kalau bukan Ardan. Rainy membekap mulutnya untuk menahan tawa. Sementara Astri sudah tertawa lebar sejak pertama kali ia melihat korban. “Help me, please!” lirih Ardan, dia meringis. Rainy dan Astri masih saja menatap ke arahnya, tidak merespon permintaan tolongnya. “Rainy, please!” ujarnya lagi. Rainy tersadar, lalu langsung bergerak ke arah Ardan yang masih saja betah bermesraan dengan sepedanya. Rainy membantu laki-laki itu berdiri dan mendirikan sepedanya, juga sepeda-sepeda yang menjadi korban keganasannya. Setelah itu Ardan tersenyum manis ke arah Rainy. Astri hanya berdecih, “Kentara banget modusnya, padahal dia bisa bangun sendiri tuh!” sindirnya. Ardan tertawa, “Great, Astri, tebakan yang luar biasa.” Dia tertawa, sementara Rainy hanya mengernyitkan keningnya. “Dan, Rain, thanks karena sudah menolong saya,” ujarnya. Lalu, laki-laki yang sudah berhasil membuat malu dirinya sendiri ini tersenyum kepada Rainy. Niatn Ardan ingin membuat Rainy terpesona kepadanya, tetapi respon gadis itu di luar dugaan, ia justru meringis dan tak terlalu peduli. Sekarang, Rainy justru menarik tangan Astri dan mengajaknya memasuki kawasan Carambola. Meninggalkan Ardan yang lagi-lagi mengulum senyumnya. Astri menahan tawanya, ingin tertawa terbahak-bahak, tetapi dia malu karena di sini banyak orang. Apalagi banyak laki-laki tampan yang tampak semakin elegan ketika melihat muka mereka yang sedang serius belajar. Entah menghapal vocabulary, entah mencoba mengingat bagaimana cara tidur karena selama ini tidur mereka kurang baik berkat vocabulary yang selalu menghantui mereka. “Itu si Ardan jayus banget, sih, Rain!” seru Astri saat mereka sudah jauh dari Ardan. Rainy hanya tersenyum, lalu menolehkan kepalanya ke arah Ardan. Laki-laki itu masih saja betah berdiri di posisinya dengan senyum yang masih bertahan. “Mungkin dia sedang bejalar jadi pelawak, Rain,” balasnya. Astri menyenggol bahu sahabatnya itu dan berniat menggodanya, “Eh cie, iya, deh, yang udah kesemsem sama Mas Ardan,” ledek Astri. Pipi Rainy bersemu merah, bukan karena ia malu-malu, melainkan karena cuaca di Carambola ini cukup panas. “Tuh, pipinya merona, ei!” seru Astri lagi. Lalu, ia berlari meninggalkan Rainy sebelum gadis itu justru mencincangnya. “Eh, saya enggak kesemsem, ya! Ini udaranya panas sekali!” seru Rainy seraya mengejar Astri, ia tertawa karena guyonan sahabatnya itu. Tawa Astri meledak, sudah tidak peduli dengan tatapan laki-laki tampan. “Kejar aku coba, Rain! Kamu lupa, ya, kalau aku ini adalah pelari di zaman kita SMA dulu?” ledeknya. “Enggak lupa! Tapi mungkin kamu juga lupa kalau kamu tidak bisa mengalahkan larinya Bu Sukma saat dia mengejar kamu karena kamu bolos kelasnya!” seru Rainy, lalu ia juga tertawa. “Rain, tapi ‘kan- ….” “Eh, aduh!” Rainy dengan naasnya tersandung batu di jalan menuju saung yang sudah ada teman-temannya di sana. Ia sudah memejamkan matanya saat menyadari keningnya akan bertumpang tindih dengan bebatuan. Satu detik, dua detik, lima detik, Rainy tak juga bersentuhan dengan batuan runcing itu. Dan, ia merasakan ada tangan yang menahan tubuhnya. Tangan yang menahan? Rainy membuka matanya dan mendapati wajah Ardan tepat di hadapan mukanya. Kaget, dan ia berusaha melepaskan tangan laki-laki itu. Untung saja, Ardan tetap menyeimbangkan badannya. Kalau tidak, ia akan benar-benar berciuman dengan batu-batu yang sudah melambai itu. Rainy meringis, “Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanyanya. “Kenapa pula aku harus tidak berada di sini? Kamu lupa bahwa aku juga ada di Carambola?” Rainy memutar bola matanya, “Maksud saya, kenapa kamu bisa menangkap saya?” ralatnya. Laki-laki itu hanya menatap dalam ke arah Rainy, menatap ke arah mata sendu yang mempesona. “Aku juga bisa terbang kalau yang berada di dalam keadaan berbahaya itu kamu, Rain,” ujarnya menggombal. “Enggak jelas!” sungut Rainy. Lalu, ia berjalan ke arah Astri yang sudah memasang ekspresi yang sangat menyebalkan untuk Rainy. “Iya, sama-sama,” teriak Ardan. “Oh iya, Rain, yang panas itu cuaca bukan udara!” serunya. Sukses membuat Rainy ingin menimpuknya dengan batu-batu yang hampir saja ia tindih tadi. Kelas mereka berjalan seperti biasa, seru dan mengasyikkan. Terlebih, materi yang disampaikan oleh Mr. Noah adalah materi yang tidak membuat mereka mengantuk. Pun, Mr. Noah menyampaikannya dengan asyik, seperti itulah keahlian tutor Warm for Speaking mereka itu. Kelas berakhir pada pukul sepuluh dan akan dilanjutkan pada pukul satu siang, akhirnya mereka tetap memilih untuk berdiam di Carambola sampai jam siang tiba. Karena tutor selanjutnya juga akan melaksanakan kelas di luar ruangan, dengan berbagai macam pujukkan, akhirnya mereka berhasil memujuk Ms. Jihan untuk belajar di Carambola saja. *** Terima kasih karena sudah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD