Update setiap dua hari sekali, betah-betah, ya
***
Tidak seperti banyak kejadian di Pare, di Blitar ternyata Rainy berhasil bangun lebih pagi dari Astri. Dengan keberuntungan yang diberikan semesta, ia dan sahabatnya berhasil ditempatkan di satu kamar. Saat ini, Astri sedang bergelung dengan selimutnya, memang udara di pagi ini sedang dingin. Tempatnya, di subuh ini.
Rainy meregangkan tubuhnya, lalu bergerak dan membuka pintu. Udara yang dingin dan menyegarkan langsung masuk ke dirinya. Rainy memilih untuk keluar kamar dan berjalan ke bawah pohon jambu yang menjadi pemandangannya semalam. Jambu air dan banyak yang matang, sayangnya dia tidak terlalu menyukai jambu air.
Suasana di pinggir Blitar masih sangat terasa damai dan tenteramnya. Guest house sederhana yang dikelilingi dengan persawahan ternyata menjadi pilihan yang baik untuk menenangkan jiwa dan pikiran. Terlebih jiwa dan pikiran mereka sempat tergunjang saat ujian akhir periode yang mereka lalui kemarin.
“Hei!”
“Aaaa!” Rainy kaget saat suara dan tepukkan tangan berhasil mengusiknya.
BUGH!
“Awh!” seru Ardan kaget atas respon Rainy yang tiba-tiba meninjunya. “Kamu belajar memukul dari Astri? Keras juga!” serunya lagi sambil memegang bahunya yang baru saja menjadi samsaknya Rainy.
“Maaf,” ujar Rainy. “Lagi pula kamu harus belajar terbiasa muncul secara normal, Ardan,” sambungnya.
“Enggak, bukan aku. Sepertinya kamu yang lebih harus berusaha terbiasa dengan kemunculanku yang tiba-tiba, Rain,” kelakar Ardan.
Rainy mendengus, lalu menggembungkan pipinya, tak lupa ia juga memicingkan mata. “Sepertinya saya juga harus sudah terbiasa menghadapi hantu, ya?” tanyanya geram.
Ardan tertawa, perempuan di depannya ini memang lebih suka menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Ia mengangguk, “Sepertinya, iya, hantu yang akan menghantuimu.” Rainy bergumam. “Masih pagi begini kenapa kamu sudah bangun dan keluar? Memangnya tidak dingin?”
“Memangnya kamu bagaimana?” balas Rainy, membalikkan pertanyaan yang Ardan berikan.
Laki-laki itu hanya mengulum senyumnya, “Aku melihat kamu dari jendela kamar, aku pikir kamu mau kabur.” Ardan menengadahkan wajahnya ke langit, semburat matahari sepertinya sebentar lagi akan muncul di sana.
Rainy mengangguk, lalu mengukir senyum miring di wajahnya. “Saya sudah berusaha kabur, Ardan.”
“Hah?”
“Dari semesta yang sudah terlalu sering memberikan saya kejutan.”
Rainy melengkapai wajahnya dengan senyuman, lalu memutar badan dan kembali ke kamarnya. Ardan yang ditinggalkan sendirinya hanya mampu untuk menjadi bingung, Rainy terlalu penuh dengan teka-teki. Menjelma menjadi pertanyaan yang akan sulit mendapatkan jawaban. Ardan hanya menyunggingkan senyumnya, memasukkan tangan ke kedua kantung celananya dan ikut kembali ke kamarnya, bukan kamar Rainy. Bisa-bisa dia diterjang bebas oleh Astri.
***
Daftar perjalanan mereka di hari kedua ialah Pantai Tambakrejo yang berada dalam satu jalur dengan penginapan yang mereka pilih. Menggunakan mobil mini bus yang sudah lawas untuk mencapai Pantai Tambakrejo ternyata cukup untuk membuat perempuan-perempuan di mobil tersebut berteriak karena cemas, juga berhasil memuluskan modus Arga pada Dea dan Wahyu untuk Kinan. Semenatar Trias hanya tertawa-tawa, baginya medan untuk mencapai Pantai Tambakrejo ini adalah tantangan tersendiri. Terlebih sekarang dia sedang membawa dua belas penumpang.
Blitar terletak di sebelah selatan pulau jawa, maka tidak heran apabila Blitar memiliki banyak sekali pantai yang bisa dikunjungi, baik yang sudah terjamah maupun pantai yang belum terjamah. Biasanya, pamor suatu pantai akan naik seiring dengan akses jalan menuju lokasi tersebut, karena kesulitan medan untuk mencapai sebuah pantai akan membuat orang malas untuk berkunjung. Namun pantai seperti ini biasanya diminati banyak traveler. Wisata pantai yang ada di Blitar yang terkenal dengan nama pantai Tambakrejo.
Pantai Tambakrejo terletak di desa Tambakrejo Kecamatan Wonotirto Kab. Blitar Indonesia. Membutuhkan sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Blitar ke selatan untuk mencapai tempat ini. Dengan jalanan meliuk-liuk khas perbukitan yang tampak indah. Terutama apabila anda sudah tidak terlalu jauh dari pantai. Terdapat beberapa titik turunan yang cukup tinggi dan panjang. Untuk pengendara roda 4 atau lebih disarankan untuk menggunakan kendaraan yang benar-benar kuat untuk tanjakan, selain itu pastikan pengemudi sudah bisa mengemudi di area pegunungan. Karena sering ada mobil yang tidak kuat untuk mendaki tanjakan yang cukup tinggi ketika pulang dari pantai ini.
(Sumber: https://mblitar.net/wisata-pantai-tambak-rejo-di-blitar-selatan/)
“Seharusnya kita banyak menggali informasi mengenai tempat wisata di Blitar, apalagi lokasi Pantai Tambakrejo sebelum mengiyakan semua ide gilanya Trias,” sungut Astri. Dia sangat kesal karena kepalanya sudah berkali-kali terbentur dengan dinding mobil. “Kalau enggak siap, ya, mempertaruhkan para kepala manusia yang duduk di pinggir untuk benjol-benjol,” sambungnya.
Ardan yang berada di belakang setir menyemburkan tawanya, “Harusnya kalian bahagia! Kita seperti naik wahana di Dufan dengan hadiah pemandangan pantai yang indah!” serunya yang masih bersahabat dengan setir mobilnya.
Dea melemparkan botol akua miliknya ke arah Trias. Dan, telak mengenai tengkuk laki-laki itu. “Mbahmu bahagia, kepala Dea udah benjol-benjol karena kebentur-bentur, Trias!” sungutnya yang menjadi korban kebrutalan Trias dalam mengendarai mobil. Terlebih dengan dukungan medan yang mereka lalui yang meliuk-liuk, turun naik, dan jalan yang tak begitu mulus.
Untungnya pemandangan yang memanjakan mata mereka saat sudah sampai ke Tambakrejo sangatlah indah. Ada jajaran batuan kapur yang sudah permanen di samping kirinya, ada juga yang membentuk gua dan menambah keindahan Pantai Tambakrejo itu sendiri. Baru dilihat dari kejauhan saja, pantai tersebut sudah berhasil membuat jatuh cinta.
“Trias, buruan, ih!” teriak Astri sudah tidak sabar.
“Sabar kali, Tri!” sungut Trias. Sedari tadi Astri memang sudah banyak mengomel, apalagi saat Tuti dengan lucunya muntah karena mengalami mabuk perjalanan. Siapa lagi yang akan Astri salahkan kalau bukan Trias yang menjadi sumber dari ide gila ini?
“Eh,” cegah Pita. “Aku baru menyadari sesuatu, deh!” serunya riang.
“Apaan?” tanya Dea penasaran. “Kayak apa aja deh istilahnya menyadari sesuatu.”
“What?” sahut Kinan.
“Apaan, sih?” sungut Mira yang hatinya tersiksa melihat kemesraan Ardan untuk Rainy yang semakin menjadi. Apalagi saat laki-laki itu dengan romantisnya melindungi kepala Rainy agar tidak bermesraan dengan dinding mobil.
“Kalian pada engeh enggak kalau nama Astri dan Trias itu cuma dibalik-balik suku katanya?” tanya Pita, membuat teman-temannya berpikir. “Triastri, Astrias, pada sadar enggak?” tanyanya lagi.
Lyla menjentikkan jarinya, “Oh iya!” serunya riang. “Kok baru sadar, ya? Terus juga Astri sama Trias sering berantem di kelas, ‘kan?” ujarnya mengkonfirmasi.
“Apaan, sih!?” sungut Astri. Dia mendengus sebal. Sementara Rainy yang ada di dekat Ardan hanya mengulum senyum.
“Gue jadi curiga sama lo deh, Tri!” seru Wahyu. “Jangan-jangan nama lo bukan Trias, lo sengaja ganti biar bisa sama dengan si Astri.”
“Apaan, sih! Enggak jelas banget gue kalo gitu,” sahut Trias.
“Nah, balasnya sama-sama apaan sih lagi!” sambung Ruri. “Udahlah, kalian berdua ngaku aja.”
“Apaan woi!” seru Astri lagi. Sekarang mukanya sudah seperti kentang rebus karena panas dan kesal.
“Tri, kalau lo pikir gue senang dikayak gituin sama lo, pikiran lo salah!” seru Trias di balik kemudi.
“Mending diam deh, Trias! Kamu fokus nyupir aja,” balas Astri. “Jangan meleng, nanti nab ….”
BRAK!
“’Kan, Trias!” teriak Astri heboh. “Kamu tuh udah nyetir ngebut-ngebut, sekarang malah nabrak!”
“Gara-gara lo teriak-teriak, Astri!”
“Gue cuma mau ngingetin lo!” seru Astri emosi. Emosinya meletup-letup. Apalagi mobil yang dipilih Trias ini adalah mobil yang memanfaatkan AC alam untuk pendinginan.
“DIAM!” bentak Kinan. Dia juga tipe orang yang mengidap mabuk jalanan, sekarang kepalanya pusing tujuh keliling. Apalagi ditambah dengan pertengkaran antara Astri dan Trias. “Astrias kalau kalian mempunyai masalah, mending bahas berdua aja, deh! Enggak usah bawa ke publik, enggak baik urusan rumah tangga diketahui banyak orang,” sambungnya seraya mengulum senyum.
“WOI!” teriak Astri.
“NGAJAK RIBUT?” sambar Trias.
“HAHAHAHAHA!” Mereka semua tertawa.
“Astaga, perut Dea sakit!” keluh Dea yang sudah berlinangan air mata.
***
Memandangi deburan ombak dengan duduk di atas batu karang memanglah menjadi pilihan yang baik untuk menenangkan diri, itulah yang menjadi pilihan bagi Astri. Ia ingin menenangkan diri sejenak dari hiruk pikuk dan kebisingan yang ia hidupkan. Memang, ia menyukai keramaian, tetapi tetaplah senyap adalah ketenangan untuknya.
Ardan semakin menggencarkan modusnya kepada Rainy. Laki-laki itu membuntuti ke manapun sahabatanya pergi. Astri sedikit risih, jadilah ia memilih untuk memisahkan diri. Hanya melihat sahabat dan teman-temannya bermain-main di bawah sana. Mereka tertawa dan Astri bahagia.
“Terkadang kita memang butuh sendirian untuk memaknai kehidupan, ya, Tri?” Astri mendengus saat suara Trias tiba-tiba tercerna di otaknya.
“Kalau kamu tahu, kenapa kamu justru ke sini?” protes Astri. “Ganggu!” sungutnya.
Trias justru duduk di dekatnya, yang membuat gadis itu mengambil jarak. “Gue cuma takut kalo lo tiba-tiba punya kepikiran buat bunuh diri, Tri!” jawabnya.
Astri memutar bola matanya. “Bunuh diri di sini enggak guna kali! Enggak akan hanyut juga, mentok-mentok badan sakit nambrak batu karang. Nyiksa diri aja!” balasnya.
“Lo kenapa dah jutek amat kalo ngomong sama gue?” tanya Trias. “Eh, enggak ding! Perasaan gue lo jutek ke semua orang.”
“Kecuali Rainy.”
“Ya, gue tahu, Rainy ‘kan sahabat lo.” Trias berdiri dari duduknya, ia sadar bahwa Astri merasa terganggu dengan adanya Trias. “Gue cabut, ya!”
“Aku juga enggak peduli.”
“Tri ….”
“Apaan, sih?”
“Kurang-kurangin deh jutek lo, siapa tahu di sini ada yang udah naksir sama lo!” seru Trias, lalu ia turun dari gundukkan batu karang tersebut.
Astri memutar bola matanya, “Ha ha,” ujarnya seperti membuang napas dengan mengejek.
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang,
Rumy.