Update setiap dua hari sekali, enjoy, ya!
***
Blitar di malam ke dua mereka mengirup udara di sekitarnya ternyata sangat seru. Malam ini, mereka tidak memilih untuk bermain gitar, bernyanyi, saling meneriaki, atau dengan tiba-tiba mengganggu kucing yang sedang ingin beranak-pinak. Pilihan mereka jatuh pada perjalanan mengelilingi Blitar di malam hari. Ternyata bisa dijadikan opsi untuk orang-orang yang hobinya melancong ke sana ke mari.
Ide yang tumben sekali menjadi ide yang benar yang ditawarkan oleh Trias. Menerima banyak anggukkan yang mendominasi saat ide itu diluncurkan, dan laki-laki itu senang dibuatnya. Ia akan membawa teman-temannya mengelilingi Kota Blitar yang indah. Pilihan mereka malam ini ialah wisata kuliner, selain jalan-jalan, mereka juga bisa mengisi perutnya yang kelaparan.
Blitar tak hanya dipenuhi dengan destinasi tempat wisatanya, tetapi juga banyak sekali tempat kuliner di Blitar yang menyajikan makanan enak dan siap untuk menggoyang lidah. Di sudut-sudut yang dicari pun pasti ada gerai makanan yang buka, juga menyajikan dagangannya yang beragam. Rasanya ingin mereka beli semua, tetapi ingat pada kapasitas perut yang tidak bisa ditambah.
“Mau ke mana?” tanya Trias yang tetap dipercayai sebagai supir mereka. Mereka tidak kapok dengan perjalanan ke dan dari Tambakrejo hari ini. Karena di antara empat laki-laki yang ada, hanya Trias yang bersedia. Sisanya hanya menggeleng dan meringis, masih kelelahan.
“Sok-sokan nanya, padahal juga nanti dia bawa kita ke mana pun dengan seenaknya!” sahut Astri tanpa melihat ke arah Trias. “Nanti kalau dijawab terserah, malah marah-marah.”
Trias memutar bola matanya, “Kalian dengar suara kuntilanak enggak?” balasnya, setelah itu dia mendengkus kencang. Mengisyaratkan pada Astri sebuah peperangan dingin yang akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Astri menoleh dan menatap tajam pada Trias, “Heh! Yang kamu maksudkan dengan kuntilanak itu siapa?” tanyanya lebih ke teriakan atau auman singa betina.
“Yang barusan teriak!” Trias juga menoleh ke arah Astri, jadilah sekarang mata mereka bertatapan. “Yang. Suaranya. Kayak. Singa.,” sambungnya penuh dengan penekanan.
“Kam- ….”
“Kalian enggak bisa apa gitu ngomongnya enggak saling ngegas?” ujar Kinan gemas. “Heran, sejak pertama ketemu selalu saling gas, entar saling nabrak, terus saling jatuh cinta, tahu rasa!”
“ENGGAK!”
“ENGGAK MAU!”
“Tuhkan!!!”
“Dia duluan, Nan!” teriak Trias.
“Malah nyalah-nyalahin perempuan, laki-laki macam apa kamu!” balas Astri, ia menyilangkan kedua tangannya di d**a.
Trias menoleh ke arah Astri lagi, kemudian menatap gadis itu dengan tajam. “Lo tuh ap- ….”
“Shut up!” teriak Dea frustasi, dia menutup kedua telinganya. “Dea sudah terlalu pusing dengan pertengkaran kalian, ya. Atau kalian pisah mobil aja, deh, biar Kak Wahyu yang ngemudiin mobil ini. Kalian selesaikan dulu masalah rumah tangganya kalian,” usulnya yang membuat mata Astri dan Trias membesar. “Kalau urusan rumah tangga Astri dan Trias sud- ….”
“DEA!” teriak Trias.
“Apaan, sih! Lo apa-apaan bentak Dea, hah?” sembur Arga.
“Dea lo tuh yang apaan!” sahut Trias.
“Kamu juga apa-apan, Trias! Kalau mau nyetir, ya, udah nyetir aja. Enggak usah teriak-teriak,” balas Astri.
“Eh, lo yang ngajarin gue teriak-teriak, ya!”
“Kamu betah banget bentak cew- ….”
“HEIAAHHH!” teriak Kinan histeris, ia menggerakkan tangannya selayaknya pendekar. “Kalian mau makan makanan atau aku sumpalin sama kaoskakinya Arga yang udah enggak dicuci selama tiga hari, hah?”
“Lah, kenapa gue lagi, sih, yang kena?” keluh Arga. Semuanya tertawa seketika melihat muka melas Arga, termasuk di dalamnya Trias dan Astri.
“Kita ke Soto Daging Bok Ireng saja,” ujar Rainy tanpa mempedulikan pertikaian teman-temannya. Ardan di sampingnya hanya tersenyum, Rainynya memang memiliki ide yang cemerlang.
“Ar, enggak usah senyam-senyum jijik gitu! Sepet mata gue lihatnya,” sungut Tuti. Sekarang ia sudah ingin memuntahkan isi perutnya lagi.
“Ya sudah, Trias, kita ke Soto Daging Bok Ireng,” ujar Wahyu, menengahi keributan yang mungkin akan muncul lagi.
“Jijik banget, giliran Rainy yang ngomong aja pada manut,” gumam Mira, tetapi sangat didengar oleh Astri.
“Kasihan banget yang enggak dianggap.” Astri menahan gejolak tawanya.
Soto Daging Bok Ireng merupakan kuliner di Blitar yang sudah sangat popular dan masih tetap eksis sampai saat ini. Di warung sederhana yang terletak di perempatan jalan Semeru Kota Blitar ini pembeli dapat menemukan soto yang dijual dengan model klasik dan memiliki cita rasa yang tetap sama. Di warung kecil ini, soto masih dimasak dengan periuk tanah dengan kayu bakar untuk memanaskannya.
***
“Eh, betulan ‘kan jalan ke Kampung Coklat enggak semengerikan jalan ke Pantai Tambakrejo?” tanya Tuti. Pertanyaan yang sudah ia ulang berkali-kali. Dia sudah trauma dengan perjalanannya yang kemarin. “Seriusan, ‘kan?”
“Enggak, Tut, kamu tenang saja.” Rainy menggeleng-geleng. “Kemarin kita melewati Kampung Coklat kok saat mau ke Tambakrejo, jalannya enggak ada yang jelek,” sambungnya mencoba menenangkan ketakutan Tuti.
“Eh, kamu jangan bawa mobil kayak orang sinting, ya, Trias!” seru Astri. “Bukan masalahnya apa, cuma takut kalau kecelakaan atau apa, bahaya,” sambungnya sedikit lebih lembut.
“Tri, peduli dengan satu orang bisa dimanipulasi dengan alasan peduli pada banyak orang,” balas Trias cuek.
Rainy mengulum senyumnya, ia mengerti dengan jelas makna yang disisipkan Trias pada kalimat itu. Bahkan, sikap Trias sangat terbaca olehnya.
“Enggak denger!” sahut Astri mengembalikan kejudesannya. Sekarang sudah giliran dia untuk masuk ke mobil.
Susunan dari mobil mini bus tersebut cukup menyesakkan. Di depan ada Trias sebagai supir dan Wahyu sebagai supir pengganti, jika saja sewaktu-waktu Trias tiba-tiba lupa akan kegilaannya. Di bangku belakang supir bisa diisi dengan tiga orang, dan penghuni tetapnya adalah Pita, Tuti dan Kinan. Sementara di samping pintu mereka adalah pintu masuk penumpang di mobil ini.
Untuk bangku belakang terdapat dua bangku panjang yang bisa di isi dengan empat orang pada masing-masing bangkunya. Bangku pertama diisi oleh Rainy, Ardan, Arga dan Dea. Untuk bangku paling belakang dihuni oleh Astri, Ruri, Lyla dan Mira. Maka, yang terancam kepalanya adalah Rainy, Dea, Astri dan Mira.
“Siap, guys?” tanya Trias.
“Yap!”
“Meluncur!”
PLETAK!
“AAAAAAAAA!”
“HEH, TRIAS GILA!”
Teriakan histeris dari para wanita yang ada di mobil mini bus tersebut langsung menguar dan memekakkan. Rainy menutup mukanya, Dea berteriak dengan mata yang terpejam. Sementara itu, Pita, Tuti dan Kinan saling berpelukkan dan menguatkan. Lyla dan Ruri pun saling memagut. Sedangkan Mira rasanya ingin memutus urat leher Trias saat itu juga.
Dan Astri, “Trias, pelan-pelan, Kambing!” teriaknya dari bangku terbelakang. Teriakan yang sukses membuat telinga Ardan pengang.
“Siapa kambing, hah, siapa?”
“LO!”
“Yang nanya?”
“g****k sia mah!”
***
Wisata Edukasi Kampung Coklat di Blitar menarik banyak pengunjung. Tidak hanya warga Blitar saja yang datang ke tempat ini, karena tidak sedikit warga luar kota yang datang ke tempat ini bersama keluarganya. Wisata kampung coklat Blitar memang bisa dibilang menarik, karena memanfaatkan gudang dan kebun coklat sebagai tempat wisata untuk keluarga yang belum ada di sekitar Blitar. Kampung coklat merupakan salah satu referensi wisata di Blitar yang baru-baru ini populer.
Kampung coklat berada di wilayah Kabupaten Blitar, tepatnya di Jl. Banteng Blorok 18 Desa Plosorejo Kademangan Blitar. Untuk anda yang berangkat dari Kota Blitar, membutuhkan waktu sekitar 15 – 20 menit untuk mencapai lokasi ini dengan menggunakan rute ke arah pantai tambak rejo melalui Kademangan. Untuk lebih jelasnya, anda bisa melihat peta di bawah ini untuk menemukan lokasi wisata kampung coklat.
Begitu memasuki area wisata kampung coklat, anda akan mencium semerbak aroma coklat di sekitar area. Anda akan mendapati area penjemuran coklat di depan tiket masuk. Untuk masuk ke area ini anda diharuskan membayar retribusi untuk pengembangan area wisata sebesar 5 ribu rupiah per orang.
Setelah membeli tiket seharga 5 ribu rupiah anda bisa langsung masuk dan langsung mendapatkan suguhan pemandangan kebun coklat yang sudah ditata sedemikian rupa dan terdapat beberapa outlet-outlet yang menyediakan aneka olahan coklat seperti ice coklat, ice cream coklat, hingga mie coklat. Selain itu juga ada pilihan menu makanan yang lain.
(Sumber: https://mblitar.net/wisata-edukasi-kampung-coklat-di-blitar/)
Ardan menggenggam tangan Rainy sedari mereka turun dari mobil, genggaman yang membuat Mira ingin menjambak Astri. Sementara Arga tetap saja melancarkan modusnya kepada Dea dan Wahyu dengan senang hati selalu mendekatkan dirinya pada Kinan. Tuti sudah muntah dua kali, meskipun jalan ke Kampung Coklat tidak semengerikan jalan ke Pantai Tambakrejo. Tetap saja yang mengemudikan mobil mereka adalah Trias, maka tetap saja Tuti akan mabuk perjalanan.
“Tri, bener deh, kalau kamu masih bawa mobilnya ugal-ugalan, aku sama Tuti pulang ke penginapan naik taksi online aja,” ancam Astri. Sekarang dia sedang memegangi Tuti yang sudah lemas bukan kepalang. Isi perut gadis malang itu sudah keluar dan tersisa.
Trias menoleh dengan tatapan tak acuh, “Ya sudah, enggak apa-apa, mobil jadi agak lapang, ‘kan?” balasnya kemudian. Sukses menaikkan puncak emosi Astri terhadapnya.
Astri membesarkan matanya, ingin menimpuk laki-laki di depannya saat ini juga. Namun, tangannya dicegat oleh Tuti.
“Tri, kalau kamu bersedia, kita pulang saja sekarang, ya?” pinta Tuti. Matanya sudah panas, badannya sudah tidak enak.
“Iya, Tut, ayo!” sahut Astri, ia tidak tega melihat muka Tuti yang pucat pasi. Lalu, mereka berdua putar badan dan meninggalkan rombongan.
Tuti rasanya ingin menangis, karena kepalanya benar-benar pusing saat ini. Badannya lemas, sarapan yang sudah ia makan tadi pagi sudah tak mendiami perutnya lagi. Apalagi dengan respon Trias yang seperti tidak mempedulikannya.
“Kita naik apa, Tri?” tanya Tuti, sekarang dia merasa tidak enak karena sudah merepotkan Astri.
“Taksi on- ….”
Satu tangan mengambil Tuti dari Astri, menghentikan kata-kata yang ingin Astri ucapkan. Tangan itu adalah tangan milik Trias. “Gue antar.”
Astri menggeleng kencang, “Enggak perlu!” sahutnya.
Trias memutar bola matanya, baginya dengan Astri yang seperti ini justru akan memperlama. “Jangan jadi ribet banget, Tri!”
“Kamu tuh jahat, Tri! Kalau kamu yang mengantarkan kami, terus kamu ngebut-ngebut, Tuti bisa jadi apa, hah!?” bentak Astri. “Gulali gulung?”
Trias menggeleng tegas, “Enggak, gue enggak bakal ngebut. Janji!”
“Enggak percaya!”
“Tri, please, deh, enggak usah drama, ya?”
“Lo yang banyak nyiptain drama!”
“Tri ….”
BRAK!
Tuti kehilangan kesadaran dirinya.
Mata Astri membelalak saat Tuti sudah ambruk ke lantai. “’Kan kamu, Trias!” teriaknya panik.
“Udah, diam, bantuin gue buka mobil. Kita bawa Tuti ke klinik sekarang.” Astri mengangguk.
***
“Tuti di bawa ke klinik, guys!” ujar Dea heboh. Ia baru saja menerima telpon dari Astri.
“Kok bisa, De!?” tanya Kinan. “Tuti kenapa?”
“Dia pingsan. Kita ke klinik sekarang?” tanya Dea. Semuanya kompak mengangguk, kecuali Mira.
“Kita baru sampai loh! Sayang uang lima ribunya,” ujar Mira.
“Ya sudah, sono lo tinggal di sini aja. Ribet!” seru Kinan.
“Trias on the way ke sini, dia bakal jemput kita,” ujar Dea lagi. Semuanya mengangguk dan dengan kompak melangkahkan kakinya untuk keluar dari kampong coklat.
***
“Tuti enggak apa-apa, dia cuma pingsan sama kehilangan energi, jadinya lemas.”
Astri memberikan keterangannya saat teman-temannya menerornya dengan banyak pertanyaan. Saat ini mereka sudah ada di mobil lagi, Tuti sudah boleh dibawa pulang dan diberikan suplemen agar energinya segera kembali. Mendengarkan keterangan Astri, sontak saja semua mata menuju ke arah Trias.
“Gara-gara kamu, Tri!” seru Pita.
“Iya, gue salah.”
“Kalau besok kamu masih saja membawa mobil ugal-ugalan, biar Kak Wahyu saja yang mengendarai mobil ini,” usul Rainy yang disambut dengan anggukkan teman-temannya. Rainy juga kesal saat mendengarkan kabar Tuti kehilangan banyak energi, tersangka utama jelaslah Trias yang membuat Tuti jadi mabuk. “Kamu enggak perlu jadi egois untuk membuktikan kalau kamu hebat, Trias,” sambungnya.
“Lo enggak harus membuktikan kalau lo ada untuk dianggap ada, Tri,” sahut Ardan, mendukung apa yang Rainy katakan.
Trias hanya mengangguk lemah, sekarang sudah ada penyesalan yang terbit di hatinya. “Maaf,” ujarnya tulus. “Maafin gue.”
“Apalagi hanya untuk membuktikan sama Astri tentang kehebatan lo,” ujar Arga.
“Arga, apaan, sih!”
“Arga, apaan, sih!”
Astri dan Trias dengan tanpa sengaja menyahut apa yang diucapkan Arga secara bersamaan. Hal tersebut membuat seluruh teman-temannya menutup kuping mereka. Peperangan antara Astri dan Trias akan segera meledak. Satu … dua … tiga ….
“Kok kamu nyama-nyamain, sih?” sahut Rainy.
“Kok lo gi- ….”
“Trias, kalau kamu masih menyahut, aku akan bungkam mulut kamu sama kaoskakinya Arga beneran!” bentak Kinan.
“Gue lagi ….”
Keputusan yang tepat sebelum Trias menyelesaikan ucapannya, sebelum Astrinya membalas dengan teriakan lagi. Sebelum peperangan di antara dua orang yang memiliki nama yang sama hurufnya ini tumpah ruah dan memakan korban. Korban yang paling naas adalah keselamatan telinga para penumpang.
***
Episodenya panjang ... hehe ...
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini,
Salam sayang,
Rumy.