Update setiap dua hari sekali.
***
Hari terakhir di Blitar mereka habiskan untuk berkunjung ke Kesambi Trees Park Blitar. Kesambi Trees Park sebenarnya masih berada dalam satu kawasan dengan Penangkaran Rusa Maliran, pintu masuk dan tiket masuknya juga sudah jadi satu hanya saja kawasannya berada di area hutan sekitar kandang rusa yang ada di penangkaran. Tepatnya di sebelah utara kandang rusa yang super duper besar itu. Dari pintu masuk penangkaran rusa maliran tinggal ambil ke kiri dan menyusuri jalan.
Sebelum masuk kawasan Kesambi Trees Park, kita akan disambut oleh dua patung rusa dari kayu, kemudian menyusuri jalan menuju sebuah gapura kecil dari kayu. Ada semacam pagar pembatas dari kayu yang tak beraturan membuatnya tampak lebih bagus. Sesekali tampak rusa yang bergerombol di dalam kandang super besar itu. Di sepanjang jalan Kesambi Trees Park tampak beberapa spot untuk berfoto, seperti frame kayu yang tergantung, ayunan hingga mini teater kecil.
Selain itu juga ada kawasan outbond untuk bermain anak-anak dibawah usia 14 tahun. Untuk bermain di kawasan ini, anak-anak membutuhkan perhatian orang dewasa. Untuk orang dewasa jangan ikut bermain, cukup dampingi dari dekat saja sehingga fasilitas untuk anak-anak ini bisa lebih terawat. Mereka bisa mencoba untuk memanjat dinding kayu, bisa juga memanjat tali bahkan melatih keseimbangan dengan jembatan tali.
Yang perlu dikhawatirkan, ketika mereka tidak mau diajak pulang karena banyaknya permainan yang tersedia di kawasan outbond anak ini. Untuk menikmati fasilitas ini, anak-anak tidak perlu membayar lagi karena sudah termasuk dalam tiket masuk yang dibayar sebelumnya. Kesambi Trees park ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata di Blitar yang cocok untuk keluarga dan anak-anak.
Jalan menuju Kesambi Trees Park sama dengan cara menuju ke penangkaran rusa maliran. Dari kota Blitar ambil arah ke ediri melalui srengat. Setelah tikungan desa jatilengger, ada gapura di sebelah kanan jalan, ikuti jalan hingga nanti bertemu degan penangkaran rusa maliran. Kesambi Trees park ini berada dalam 1 area dengan penangkaran tersebut.
(Sumber: https://jelajahblitar.com/kesambi-trees-park/)
Tempat ini begitu dingin dan menenangkan, terdapat banyak pohon-pohon yang menjulang dan didampingi dengan suasana lembab. Benar-benar cocok untuk menjadi objek wisata bagi para perempuan pemakai skincare. Berjalan di sini tidak akan menghitamkan wajah mereka. Apalagi terdapat pondok-pondok yang digunakan sebagai tempat istirahat, walau saat ini pondok-pondok tersebut sudah diisi oleh ibu-ibu dengan tikar dan rantang makanannya.
“Mas Aar!” teriak suara wanita. Teriakan yang berhasil membuat ketiga belas orang yang sedang asyik memandangi kelestarian hutan itu menoleh.
Gadis itu tersenyum, “Mas Aar,” sapanya.
Ardan mengernyit, “Kasih?” jawabnya bingung. Iya, dia bingung, kenapa dia akhirnya bertemu lagi dengan teman masa kecilnya itu? Bertemu di tempat yang menurutnya mustahil jika mereka bertemu tanpa sengaja. Bahkan, Blitar seolah menjadi tempat yang dirancang untuk pertemuan mereka.
Kasih mengabsen semua teman Ardan satu persatu, “Di sini ada yang namanya Rainy?” tanyanya tiba-tiba.
Rainy mengernyit, ada perihal apa perempuan ini menanyakan dia? “Saya Rainy,” jawabnya.
Kasih langsung memfokuskan perhatiannya menuju gadis yang tadi baru saja menjawab pertanyaannya. Mempertajam penglihatannya, kemudian menelisik gadis itu dari atas hingga ke bawah, lalu kembali ke atas. Menimang apa yang membuat Ardannya sampai tidak menatap dirinya saat berbicara.
Sementara Rainy, ia yang mendapatkan atensi seperti itu justru risih. Untuk apa pula gadis di depannya ini memandanginya dengan sebegitunya? Ia mengernyitkan dahi demi menunggu kelanjutan kalimat Kasih, perempuan yang sepertinya sempat beberapa kali dia jumpai.
Kasih maju beberapa langkah untuk berada tepat di depan perempuan bernama Rainy tersebut, “Oh, kamu yang namanya Rainy!?” serunya.
PLAK!
“KASIH!” teriak Ardan.
“RAIN!” teriak para wanita yang menyaksikan tangan gadis yang bernama Kasih itu dengan ringannya mendarat di pipi Rainy. Teriakan yang paling keras tentu saja diwakilkan oleh Astri.
Mira membelalakkan matanya, hingga biji matanya nyaris keluar. “WOW!” serunya senang. Lalu, dia dengan ringannya bertepuk tangan. “KEREN KEREN!”
“Lo apaan sih, Mir?” bentak Dea.
Sementara Mira hanya tersenyum sinis sembari memutar bola matanya.
Rainy membesarkan matanya, lalu ia arahkan tangannya menuju pipi kanan tempat Kasih mendaratkan telapak tangannya. Dia kaget bukan main menerima serangan tak terduga. Lagi pula, kenapa perempuan di depannya ini menamparnya? Memangnya mereka pernah bermasalah? Jangankan untuk bermasalah, bercakap saja tidak pernah. Rainy mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba menelaah apa yang sedang terjadi. Ini kejutan apalagi?
Ardan menyentak tangan Kasih hingga gadis itu mundur beberapa langkah, “KASIH, KAMU APA-APAAN!?” bentaknya, yang membuat Kasih menatap semakin nyalang ke arah Rainy.
Kasih melepaskan tangannya dari cengkraman Ardan, ia menunjuk Rainy dengan tegas. “Ini perempuan yang bernama Rainy ‘kan, Mas? Perempuan yang merebut kamu dari Kasih? Perempuan yang membuat kamu kabur, sampai lupa mengabari Kasih!” teriaknya. Untung saja mereka berempat belas sedang ada di tempat yang lumayan sepi. “Perempuan yang enggak tahu malu!”
“Kasih, kita sudah pernah bahas ini. Tolong!” bentak Ardan lagi. “Kamu enggak dengar apa yang sempat aku ucap- ….”
Kasih terengah-engah, “Mas Aar diam!” teriaknya, emosi sudah menguasainya. Sekarang ia membesarkan matanya ke arah Rainy lagi. “DAN KAMU! PEREMPUAN JAHAT!”
“WOWWW!!!” pekik Mira lagi. Drama ini sangat seru untuknya. “GILA INI, MAH, GILA BANGET!”
Tangan Kasih mengacung lagi dan kali ini tepat di depan wajah Rainy. “APA KAMU PERNAH BERPIKIR KALAU MAS AAR ITU PUNYA PEREMPUAN, HAH!?” tanyanya.
Rainy semakin bingung, memangnya dia kenapa? Sangkut pautnya dengan dia apa?
Kasih mendengkus kencang, “Aku sudah menunggu Mas Aar dari lama. Menunggunya pulang, mendoakan dia agar bisa memberi kabar untukku. Dan kamu justru hadir dan merusak semuanya!” teriaknya lagi.
“Hei …,” ujar Rainy pelan. Ia mengerti apa yang dimaksud perempuan ini. “Kamu salah paham,” sambungnya lembut. Dirinya mencoba untuk meredamkan emosi Kasih yang sepertinya sudah berada di titik terpanas.
Kasih maju, memangkas jarak antara dia dan Rainy. “Salah paham bagaimana, hah?” tanyanya.
PLAK!
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Rainy lagi hingga membuatnya meringis. Kali ini tamparan yang dilayangkan Kasih lebih sakit dari tamparannya yang pertama. “Kamu salah paham ….” Ia menggeleng lemah.
“DIAM KAMU!” bentak Kasih.
“Kasih, kamu yang seharusnya diam!” bentak Ardan lagi. Dia sangat tidak tega melihat Kasih memperlakukan Rainy sekejam itu. Gadis itu tidak salah apa-apa, bahkan mungkin Rainy tidak memahami apa yang sudah terjadi.
“Mas Aar juga diam!” Kasih berbicara ngos-ngosan, ia mencoba menarik dan mengembuskan napasnya perlahan. “Apa kamu sebagai perempuan enggak menyelidiki dulu lika-liku kehidupannya Mas Aar? Apa kamu enggak mikirin bagaimana sakitnya perasaan seorang perempuan yang begitu mencintai Mas Aar saat mengetahui kalau laki-laki yang dicintainya memiliki perempuan lain, hah!??”
Kasih mendorong tubuh Rainy dengan keras, hingga ia terjatuh. “Dan perempuan lain itu kamu! Kamu jahat!”
“OH, YA, MEMANG!” sahut Mira.
Dea menyikut Mira dengan cukup keras, “Kamu bisa diam atau Dea yang bungkam mulut kamu sama kaoskakinya Arga?” ancamnya.
Mira lagi-lagi menyeringai.
Rainy memejamkan matanya, menahan emosinya agar tidak ikut-ikutan memuncak. “Saya Rainy, bukan perempuan lain,” ujarnya pelan.
Kasih membelalakkan matanya, ia amat kesal mendengarkan jawaban dari Rainy. “Iya, kamu Rainy si w*************a!”
“Heh, perempuan gila!” seru Astri.
Astri kesal dengan perempuan yang mengamuk seenaknya seperti ini. Dia rasanya ingin menjambak Kasih sekarang juga. Kadar kesalnya bertambah saat semua orang yang ada di sini sama sekali tidak membela Rainy. Ardan pun bergeming, tidak ada perbuatan yang dia lakukan untuk menghentikan kegilaan perempuan yang sedang dibakar cemburu ini.
Kasih menoleh pada Astri dengan tatapan garang, “APA!?”
Astri sudah mengepalkan tangannya hendak membalas perempuan yang sudah menyakiti sahabatnya ini. Namun, tangannya digenggam oleh tangan Rainy. Tangan sahabatnya itu sudah bergetar, tanda bahwa Rainy juga sudah tersulut emosinya.
Dea dan Lyla mendekat ke arah Rainy dan membantunya untuk kembali berdiri. Mereka berdua dan teman-temannya sama-sama bingung dengan apa yang mereka saksikan. Tiba-tiba wanita yang bernama Kasih, yang memanggil Ardan dengan sebutan Mas Aar muncul. Menanyakan siapa yang bernama Rainy, lalu drama itu pecah. Mereka sama sekali tidak mengerti titik dari masalah yang ada.
Setelah berdiri, Rainy menarik napasnya berulang kali. Mencoba meredam emosi yang ada di hatinya saat ini. Juga berusaha untuk berdamai dengan tudingan-tudingan yang dilayangkan oleh Kasih. Ia harus sabar, dia pernah melewati masalah yang lebih berat dari ini. Masalah yang tidak tertebak, bahkan ia mampu melampauinya.
Rainy menyunggingkan senyumnya, “Saya enggak seperti yang kamu tudingkan ….”
PLAK!
“KASIH! BERHENTI!” Ardan sudah mencapai puncak emosinya. Kali ini, perbuatan Kasih sudah tidak bisa dia maafkan.
“HEI!” bentak Rainy yang membuat Kasih kaget.
Rainy mengatur napasnya agar bisa tetap tenang dan tidak gegabah, “Sebagai seseorang yang berjenis kelamin perempuan saya amat mengerti apa yang kamu rasakan, tetapi itu bukanlah alasan kamu meluapkan emosi tanpa tuan kamu itu kepada saya! Kamu terlalu bar-bar untuk menyerang perempuan yang bahkan tidak tahu apa salahnya. Lagi pula, darimana kamu mendapatkan inforamasi tidak jelas kalau saya ini merebut Ardan dari kamu, hah!?” tanyanya.
Rainy memejamkan mata, emosi yang seperti ini terlalu menghabiskan banyak energinya. Ia sudah tidak bisa mengolah kesabarannya sekarang. Namun, ia tetap menjaga keeleganannya untuk berbicara pelan dan dalam. Kemudian, dia membuka matanya lagi. “Kamu sangat diperbolehkan untuk cemburu, tetapi kamu tidak diizinkan untuk mengekspresikan cemburu itu dengan cara yang menjijikkan seperti ini.”
Ardan semakin menaruh kagum pada Rainy, ia tidak pernah melihat gadis itu seemosi itu. Namun, meskipun sedang emosi Rainy tidak mengeluarkan kata-kata kasarnya, juga tidak memainkan tangannya. Dia tetap berusaha tenang dan mengendalikan keadaan.
“Apa kamu sudah menanyakan pada Ardan, saya ini sebagai apa di hidupnya? Apa kamu sudah mencari tahu lebih jauh hubungan yang saya dan Ardan bangun? Apa kamu pernah menemui saya dan mengonfirmasi semuanya? Pernah?” tanyanya pelan.
Kasih hanya menggeleng lemah, walau egonya tersentil mendengarkan ucapan Rainy.
Rainy melepaskan napasnya sekali lagi, “Jangan menjadi manusia bar-bar yang bersumbu pendek, Kasih. Kamu sangat boleh mencintai laki-laki, tapi jangan membuat diri kamu menjadi bodoh dan hati kamu menjadi dengki!” sambungnya.
“Tapi kam- ….”
“Sudah, saya sudah menjelaskan dari sudut pandang saya. Saya mohon jangan menambah-nambahi masalah saya, saya sudah banyak masalah. Jangan membuat saya berpusing ria lebih lama. Kalau saja kamu tahu, mungkin pengalaman hidup saya dalam mencintai itu lebih sakit dari apa yang kamu rasakan.” Rainy mengembuskan napasnya pelan. “Tapi sekarang saya sedang mencoba memposisikan diri saya menjadi kamu, dan saya tahu kamu pasti sakit sekali. Namun, bukan begini seorang perempuan yang dewasa menyelesaikan masalahnya!” ujarnya penuh tekanan.
“Rain … sabar …,” bisik Astri. Dea mengelus bahu Rainy, sementara Lyla menggenggam tangannya.
“Kita kembali ke penginapan, Tri,” putus Rainy. Lalu, ia memutar badannya.
“Eh, Rain!” cegat Ardan.
“Selesaikan apa yang seharusnya kamu selesaikan, Ardan, jangan menyakiti hati perempuan lebih dalam.”
Rainy mengajak teman-temannya untuk kembali ke penginapan mereka, meninggalkan Ardan bersama dengan Kasih untuk menyelesaikan masalah mereka berdua. Setelah deru mobil yang dikendarai Trias sudah hilang, barulah Ardan mengajak Kasih duduk. Masalah ini sudah benar-benar harus diselesaikan.
“Mas …,” lirih Kasih.
“Aku kecewa sama kamu, Kasih,” ujar Ardan pelan.
“Tapi, Mas ….”
“Bukan seperti itu teman masa kecil yang aku kenal selama ini. Bukan sebagai perempuan yang sudah lupa akan kelembutannya. Aku minta maaf, aku benar-benar tidak bisa bersama dengan kamu, Kasih. Aku harap kamu mengerti,” ujar Ardan.
“Mas Aar, Kasih minta maaf,” ujar Kasih di sela-sela tangisnya. “Kasih sekarang sudah tahu apa yang membuat kamu jatuh hati pada perempuan itu.”
Ardan bingung, dia tidak mengerti dengan apa yang Kasih bicarakan.
“Dia cocok sama kamu, Mas, maafkan sikap Kasih yang berlebihan. Kasih pamit. Assalamualaykum.” Kasih bangkit dari duduknya dan menyeka air matanya, mencoba ikhlas atas patah hati yang ia rasakan.
“Waalaykumussalam,” jawab Ardan.
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang,
Rumy.