Pengakuan

1484 Words
Hai, guys! Kemungkinan dalam minggu-minggu ini Rumy unggahnya seminggu dua kali, Selasa sama Sabtu. Soalnya ada urusan di dunia nyata yang harus direalisasikan, hehe. Tapi, cerita ini pasti ditamatkan, Kok! Jangan lupa baca "Bukan, Kisah yang Harus Kamu Baca" dan "Biru, Sebuah Cerita pada Senja yang Akan Hilang", ya! Here we go! *** Liburan singkat di Blitar sudah berakhir dua hari yang lalu. Mereka sudah kembali ke Kediri, Pare, sore di dua hari yang lalu. Dan kemarin, kelas lanjutan program yang mereka ambil sudah dilaksanakan dengan kejutan banyak tugas di hari pertama yang diberikan oleh tutor-tutor mereka. Sekarang, Ardan dengan banyak modusnya berhasil mengajak Rainy untuk menemaninya belajar bersama di Al Fazza. Ya, belajar bersama hanya sebagai modus yang dilakukan laki-laki itu. Laki-laki itu memiliki rasa bersalah untuk Rainy akibat tragedi penamparan yang dilakukan Kasih sehari sebelum mereka pulang ke Kediri. Ardan sudah mencoba menjelaskan duduk masalahnya dengan Rainy, juga mengatakan kalau masalahnya dengan Kasih sudah dia selesaikan. Dan, respon terbaik yang bisa Rainy berikan hanyalah tersenyum dan mengangguk dua kali, lalu di akhiri dengan kata: Iya, saya tidak apa-apa. Al Fazza adalah salah satu kafe yang berdiri di Desa Tulungagung, Kecamatan Pare, Kota Kediri. Jika dari Jalan Brawijaya, kita cukup mencari salah satu gang kecil di samping toko buku, masuk ke gang tersebut dan ketika menemui persimpangan, maka kita belok kanan. Lurus, lalu akan ada plang nama Al Fazza di pinggir jalan. Al Fazza berdiri di tengah-tengah sawah yang menjadikannya tampak asri. Terdiri dari saung-saung yang dibuat dari bambu, juga ada tempat yang seperti kedai pada umumnya. Makanan yang disajikan pun adalah makanan yang biasa dijual pada umumnya. Namun, penyajiannya dibuat menjadi lebih estetik agar menarik. Terdengar hembusan napas dari Rainy, laki-laki di hadapannya ini hanya memandanginya tanpa bicara apa-apa. Ardan hanya membolak-balikkan bukunya, mencoret-coret tidak jelas, lalu tersenyum memandangi dirinya. Tiba-tiba, Rainy memunculkan sebuah pertanyaan yang selama ini bersemedi di otaknya. “Kenapa kamu mau dekat sama saya?” tanyanya gerah dengan diam yang tercipta. Ia mencoba menanyakan pertanyaan yang seharusnya tak perlu ditanyakan, hanya untuk mengetahui maksud dan tujuan laki-laki di hadapannya ini begitu intens mendekatinya. Ardan yang ditanyai hanya mengedikkan bahunya, sampai sekarang pun dia masih belum menemukan alasan kenapa dia ingin dekat dengan gadis yang ada di depannya. “Enggak tahu, mungkin saja aku sudah betulan jatuh cinta sama kamu?” jawabnya random, sengaja, supaya Rainy menjadi bingung. “Kalau aku ternyata sudah benar-benar dan dengan benar mencintai kamu, bagaimana, Rain?” sambungnya. Rainy mengernyit, lalu mengembuskan lagi napasnya, kali ini lebih kasar dari sebelumnya. “Saya lebih tua dua tahun dari kamu,” ujarnya. Mencoba menggali jawaban yang mungkin akan membuatnya kesal. Atau, mencoba mencari alasan untuk bisa membuat Ardan menjauh darinya. Ardan mendongak, menatap dalam ke arah mata Rainy. “Masalahnya apa?” Laki-laki itu lalu menggembungkan pipinya. “Aku delapan belas akan sembilan belas, kamu dua puluh menuju dua satu. Tidak ada masalah di sini.” Pembelaan yang dilakukan Ardan cukup membuat Rainy berpikir keras. “Kamu itu masih mahasiswa baru, sementara sebentar lagi saya mau tamat.” Ardan mendengus kesal, “Enggak masalah, ‘kan? Cinta bukannya tidak memandang umur, Rain?” bantahnya. “Lagi pula, kalau kamu mau bahas tentang perbedaan umur kita, aku enggak mau dengar!” Rainy hanya tersenyum, lebih tepatnya meringis, lalu mengedikkan bahunya. Ia membuang pandangannya dari Ardan dan menatap ke samping saung. Memandang persawahan yang menghijau dan membentang luas. Menyegarkan matanya dan mencari cara untuk berkata yang sebenarnya. Rainy mengembuskan napasnya sekali lagi, lalu kembali menatap dalam ke arah Ardan. “Sawahnya indah, ya.” “Iya, aku tahu.” “Tapi sepertinya kamu juga harus tahu sesuatu, Ardan,” ucap Rainy, lalu lagi-lagi menarik panjang napasnya. “Sebelum kamu mengambil langkah terlalu  jauh, sebelum akhirnya nanti kamu bakal lebih sakit, kalaupun kamu benar-benar menaruh hati sama saya,” sambungnya. Ia memejamkan matanya lama, mengumpulkan energi untuk memberitahu Ardan tentang yang sebenarnya. Ardan mengernyit, lalu diam sejenak. “Apa?” jawabnya pelan. Ia mencoba menebak-nebak apa yang akan selanjutnya diucapkan gadis di hadapannya ini. “Kamu sudah mencintaiku, ya?” Rainy membuka lalu memejamkan matanya lagi, berusaha menetralisir perasaannya saat ini. “Saya ini adalah seorang ibu dari sepasang anak kembar,” ujarnya dalam satu tarikan napas. Ardan tertegun, ia sama sekali tidak mengerti. Ia mundur dari duduknya saat ini dan memilih bersandar di bidai bambu. “Ibu sambung?” tanyanya kelu. Rainy mengembuskan napasnya, kemudian ia hanya menggeleng tanpa mengeluarkan suara. “Kamu sudah menikah?” Rainy masih menggeleng, sementara Ardan menjadi semakin bingung. “Lalu apa, Rain?” Rainy membuka telpon genggamnya, menunjukkan pada Ardan foto dari dua balita yang menjadi latar belakang telpon genggamnya. Balita dengan tawa yang memunculkan gigi susunya, dua balita yang menggemaskan. “Mereka,” ujar Rainy, lalu lagi-lagi menarik dalam napasnya. “Namanya Marun dan Senja adalah anak saya. Lahir dua tahun yang lalu dari Rahim saya,” terangnya. Ardan terperangah, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak tahu harus merespon bagaimana. Ia juga tidak menyangka, bagaimana bisa gadis yang masih muda seperti Rainy mempunyai anak kembar yang umurnya sudah dua tahun? Bagaimana bisa gadis itu sekarang tetap bisa tersenyum manis seperti biasanya? “Kok … kok bisa?” “Harus saya jelaskan, ya?” Ardan menarik dan mengembuskan napasnya berkali-kali demi menetralisir rasa keterkejutannya. “Anakmu betulan?” tanyanya tercekat. Berita ini begitu mengejutkan untuknya. “Bohongan kali!” Rainy mengangguk, mengernyit, lalu menggelengkan kepala. “Kenapa juga saya harus berbohong sama kamu, Ardan?” tanyanya masygul. Ardan mengedikkan bahunya, “Siapa tahu kamu melakukan itu karena kamu enggak mau aku dekat-dekat sama kamu, ‘kan? Siapa tahu kamu maunya aku jauh-jauh dari kamu, makanya kamu buat pengakuan seperti itu?” ujarnya. Rainy hanya tersenyum dan menggeleng. “Tapi … tapi ….” Ardan mengembuskan napasnya supaya lebih tenang. “Kenapa bisa kamu masih semuda ini, gadis, kuliah, tetapi mempunyai anak yang umurnya sudah dua tahun?” Rainy tersenyum, lalu berdiri dan berjalan ke tepi saung. Tangannya ia tempelkan ke tiang penyangga atap yang ada. Matanya menerawang jauh, tidak ingin menerawang ke masa lalu, melainkan menerawang dan merekam senyum anak-anaknya yang menggemaskan. “Kamu tahu semua manusia pasti melakukan kesalahan, ‘kan? Bahkan kesalahan yang mungkin amat fatal?” tanyanya. Ardan hanya bergumam sebagai balasan. Rainy tersenyum lagi, “Cara saya memiliki mereka itu adalah sebuah kesalahan, Ardan, tetapi Marun dan Senja adalah anak-anak sebagai hasil yang indah dari kesalahan yang pernah saya buat.” Ia membuang napasnya pelan, lebih tepatnya mendesah untuk menetralisir banyak energi yang ia lepaskan demi sebuah pengakuan. Ardan memijit keningnya, pening dengan tiba-tiba melanda kepalanya. “Maaf, mungkin terlalu seronok kalau aku menanyakan ini, Rain, tetapi ke mana ayah mereka?” Rainy memutar badannya, dan menatap ke arah Ardan yang masih saja memijit kepalanya. “Dia pergi,” ujarnya ringkas. “Jauh.” Lalu, ia kembali memejamkan matanya. Kenangan pahit itu kembali menghampiri hatinya. “Jadi?” “Jadi, saya adalah seorang ibu dari sepasang anak kembar yang menggemaskan. Sekarang, kamu mempunyai pilihan untuk pergi dan tidak dekat-dekat dengan saya lagi. Kamu sudah boleh mengambil pilihan itu.” Ardan membelalakkan matanya, “Enggak!” sergahnya. “Ngh,” sambungnya kelu, ia hanya menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. “Maksudku, aku belum mengerti bagaimana jalan ceritanya. Jadi, aku enggak tahu harus tetap memperjuangkan kamu atau menyerah saja.” Ardan mengembuskan napasnya kasar. “Lagi pula, kenapa kamu bisa sekuat itu? Menjadi orang tua tunggal di umur kamu yang sekarang?” tanyanya. Rainy tersenyum, senyum yang begitu ikhlas. “Saya hanya enggak mau terlihat lemah di mata orang lain. Lagi pula, saya sekarang sudah punya dua kekuatan. Marun dan Senja adalah kekuatan saya, mereka saja bisa tertawa seceria di foto itu, lalu kenapa saya harus murung?” “Aku takjub!” puji Ardan, matanya berbinar. Entah kenapa potongan cerita yang baru saja disampaikan oleh Rainy justru membuatnya semakin tertarik pada gadis itu. “Kamu keren, Rain!” “Tidak perlu.” “Suka-suka aku.” Rainy mengedikkan bahunya, “Ya sudah, saya duluan!” pamitnya. Lalu, ia berjalan turun dari saung dan menuju sepedanya, berjalan dengan perasaan yang lega sekaligus mengganjal di hatinya. Mengayuh sepeda itu dan pergi meninggalkan Ardan yang masih memasang muka terpesonanya. “Benar-benar luar biasa, di mana bisa aku temukan gadis setangguh dia?” gumam Ardan. Ardan hanya tersenyum, mengulas kembali ekspresi-ekspresi yang dimunculkan oleh Rainy untuk hal-hal absurd yang selama ini ia lakukan. Memutar kenangan bagaimana gadis itu terperangah saat mengetahui bahwa ia lebih muda dua tahun darinya. Memunculkan wajah kesal gadis itu saat tanpa sengaja ia menumpahkan es cincau hijaunya ke sepatu Rainy, padahal memang sengaja. “Kenapa gadis itu sangat menarik, ya? Ditambah pengalaman hidupnya yang luar biasa itu, kenapa aku malah semakin tertarik untuk mengetahui lebih banyak hal tentangnya?” gumam Ardan. Lalu ia tersenyum lagi, setelahnya tertawa sendiri. Ardan memang sudah seperti orang yang gila dan sinting. *** Terima kasih karena sudah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD