Bersikukuh

1702 Words
Update Selasa dan Sabtu *** Satu minggu setelah hari pengakuan itu Ardan sedikit mengambil jarak dari Rainy. Karena ia masih memikirkan, dia akan melakukan apa? Namun, bukan mengambil jarak yang sebenarnya. Dirinya tetap saja dengan rela memberi atensi pada Rainy saat gadis itu sedang berbicara. Tiba-tiba akan menimbulkan bungkusan nasi pecel di atas meja miliknya atau di keranjang sepeda. Ardan juga acapkali menitipkan makanan untuk Rainy melalui Astri. Sementara Rainy, ia sama sekali tidak memusingkan jika Ardan mengambil jarak darinya. Karena baginya, artinya laki-laki itu sudah menyerah. Dia harus membiarkan Ardan, toh memang itu yang selama ini ia inginkan, ‘kan? Namun, perhatian-perhatian aneh yang diberikan oleh Ardan tetap saja sering menaut di pikirannya. Laki-laki itu maunya apa? Lain yang terjadi pada Ardan dan Rainy, akan lain pula kejadiannya untuk Astri. Dia kadang-kadang kesal dengan kelakuan dua orang yang memusingkan itu. Ardan yang terlalu sering meneriakinya, menanyakan kabar Rainy, apakah gadis itu sudah makan atau belum. Pernah beberapa kali dia ditelpon oleh laki-laki itu hanya untuk berkata: Tri, dekatkan telponnya sama Rain dong! Aku mau dengar suara dia. Kangen. Astri rasanya ingin membanting telpon genggamnya saat itu juga. Ketika ia memperhatikan sahabatnya, gadis itu terkadang mengulum senyum saat tiba-tiba ada nasi pecel di atas meja atau keranjang sepedanya. Atau, Rainy akan tertawa jika Astri berkata: Rain, ada titipan dari Ardan. Seraya memberikan bungkusan. Atau, tiba-tiba juga saja Rainy menyanyikan lagu yang pernah ia nyanyikan bersama Ardan saat malam-malam mereka di Blitar. Kalau jatuh cinta, ya, bilang! Kenapa harus ribet! Astri terlalu sering meruntuk di dalam hatinya. Kadang-kadang dia juga merasakan iri. Seperti saat ini, tiba-tiba saja Ardan muncul di depan wajah Astri. Hampir saja laki-laki mendapatkan tampolannya. “Rain mana, Tri?” “Mana kutahu!” Ardan mengulum senyumnya, “Dih? Kenapa kamu sok-sokan cuek begitu?” tanyanya. Astri memutar bola matanya, “Kesal sama kalian berdua.” “Iya iya, kesal iya!” jawab Ardan. “Timbang jawab Rain ada di mana juga masa ribet, sih, Tri?” protesnya. “Di lubang WC!” sahut Astri kesal. Ia mencium bau-bau titipan barang. “Malas banget libur Sabtu-Minggu, aku jadi enggak ketemu sama Rain!” gerutuk Ardan. “Timbang ajak ketemuan aja ribet banget, ah!” Astri mendengkus kencang, ia benar-benar ingin menampol Ardan. “Lagian kalian berdua kenapa, sih? Aneh banget! Kayak malu-malu kucing enggak jelas, enggak tahu mau ke mana. Kalau saling suka, ya, gas. Pakai acara berhenti, pakai agenda saling mendiami. Pakai aku segala yang jadi orang pos!” “Uluh-uluh, Tri, tapi aku mau ngomong sama kamu!” “Dari tadi juga kamu sudah ngomong sama aku!” “Tapi enggak di sini, Tri.” Ardan menggembungkan pipinya. “Ke Al Fazza, yuk?” Astri menggeleng. “Please? Ya?” “Imbalannya apa?” “Apa aja.” “Traktir?” “Nasi sayur sama es teh manis.” “Setuju!” *** Rainy masih dengan sibuknya bercengkerama dengan laptopnya, menuliskan kisah-kisah yang sudah bersemayam lama dalam benaknya. Kisah pahit, ia sedang mencoba untuk menuliskan kisah ini. Diberi sedikit bumbu tentang kisahnya, sedikit saja. Karena kalau terlampau banyak, tulisannya akan tidak berhasil, justru dia yang makin menggigil. CTING! Astri: Rain, aku keluar. males di kamar sama orang yang hobinya memesraan sama laptop. Rainy menyunggingkan senyumnya. Tidak apa-apa, artinya selama beberapa jam ke depan tidak akan ada omelan, keluhan, atau ajakan mengobrol dari Astri lagi. Dia akan menyumbangkan semua waktunya untuk buku yang rencananya akan naik cetak dua bulan lagi. Kasihan editor yang ditugaskan untuk menanganinya, sudah berkali-kali menjadi peneror di telpon genggam Rainy. Mbak Hilda: Rain, tolong banget novel kamu segera diedit, ya. Kita kejar tayang. Fansnya Bentang Samudera sudah memberontak menagih bukunya. Jangan sampai rumahku atau kantor yang jadi sasaran mereka melempar batu atau mengirim santet, ya! Tuh, ‘kan, benar saja apa yang ada di otak Rainy. Mbak Hilda sudah menerornya. Rainy: Haha, siap, Mbak. Sedang saya kerjakan. “Kasihku sampai di sini … kisah kita … jangan tangisi keadaannya … bukan karena kita berbeda ….” Rainy mengikuti lagu yang saat ini terputar di laptopnya. Untung saja, saat hari libur asramanya tidak mengaktifkan mode selalu berbahasa inggris. “Dengarkan … dengarkan lagu … lagu ini melodi rintihan hati ini … kisah kita berakhir di Januari ….” Rainy tersenyum. Ia suka lagu itu, lagu sakit yang dikemas dengan kalimat-kalimat yang menenangkan. Sekarang lagu yang terputar di playlist laptopnya ialah lagu dari Westlife yang berjudul You Raise Me Up. Lagu yang pernah dengan baik dinyanyikan oleh Bayu saat mereka duduk di kelas dua belas. Lagu semangat yang Bayu suarakan untuknya saat dia ternyata gagal dalam Try Out Ujian Nasional pertama mereka. Walaupun nilai Try Out itu tidak berpengaruh, tetapi tetap saja Rainy galau karenanya. Sekarang, air matanya melesak keluar. Tanpa pemberitahuan dan tanpa aba-aba. Ia tidak tahu persis apa makna dari air matanya yang meluruh tiba-tiba. Dirinya terlalu marah dan sakit untuk memikirkan alasannya. Namun, pemahaman tentang masa yang buruk kembali lagi terekam di dalam otaknya, karena ketika lirik dari lagu itu terputar, tanpa sengaja mulutnya juga ikut bersuara. Hanya ada satu jawaban yang tersedia, dia sedang menikmati remuk hatinya, lagi. “When I am down … and oh my soul deep weary … when troubles come … and my heart burdened be ….” Ia menyeka air matanya, lagu ini sedikit banyak mendeskripsikan perjalanan hidupnya. “Then I am still … and wait here in the silence … until you come … and sit awhile with me ….” Lalu, wajah Ardan masuk ke dalam pikirannya. Rainy menarik napasny penuh, “You raise me up … so I can stand on mountains … you raise me up to walk on stormy seas ….” Ia menyeka air matanya lagi, ia tidak tahu pasti lagu ini dinyanyikannya untuk siapa. Namun, ia hanya benar-benar ingin menangis saat ini. “I am strong … when I am on your shoulders … you raise me up … to more than I can be ….” Rainy berhenti bernyanyi, ia biarkan instrumen dari lagu itu menjadi pengiring air matanya yang mengucur. Lagi dan lagi ia sedang menikmati dan mencoba berdamai dengan semesta yang sudah menempahnya dengan besi panas hingga dia berada di sini. “You raise me up to more than I can be ….” Setelahnya, ia memejamkan matanya. Dunia gelap yang ia temui ini begitu menenangkan. Selain melamun, dia juga suka memejamkan mata. Membiarkan rasa sakit menghujam jantungnya. Bahkan, boleh saja jika ternyata setelah itu nyawanya dicabut. Ia sudah benar-benar bersahabat dengan sakit hati. *** “Rain sudah mengatakan tentangnya dengan kamu, Ar?” tanya Astri, saat mereka sudah selesai menandaskan santapan yang ada di depan mata. “I don’t know, she just said: Saya ibu dari dua orang anak kembar. Nama mereka Marun dan Senja.” Ardan memandang keluar saung, sawah yang sudah perlahan menguning langsung memanjakan matanya. Astri mengangguk, “Iya, that’s true, Ar. Dia memang diciptakan menjadi wanita sekuat itu.” “I know, dia bukan wanita yang gampang berbohong, ‘kan? Matanya begitu tulus, Tri, senyumnya juga.” Ardan mengembuskan napasnya. “Dia begitu sempurna menurutku, Tri. Jarang ada perempuan yang bisa bertahan di dalam badai yang seperti itu, tidak berhenti. Aku enggak tahu bagaimana jadinya jika perempuan itu bukan dia.” “Do you falling in love with her?” selidik Astri. “I think.” Ardan mengedikkan bahunya, “I don’t know, Tri. Aku enggak bisa memastikan rasa itu sekarang. Makanya, aku mencoba membuat jarak antara aku dan dia. Dia pernah bilang sama aku saat kita di Blitar, aku pernah menanyakan kenapa dia melamun, dan jawabannya selalu saja membuat aku menyadari bahwa dia adalah wanita yang luar biasa,” terangnya. “Dia menjawab karena dia menemukan dunianya di sana, Tri,” sambungnya. “Dunia yang sama sekali tidak bisa digapai?” tanya Astri. Ardan menjentikkan jarinya, lalu mengangguk. “Dia menjelaskan bahwa dunia itu seperti saat kita bertemu dengan satu orang yang kita cintai, kita selalu ingin bertemu dengannya, berbincang dan banyak hal yang kita lakukan untuk tetap berada di sana. Dan, itulah lamunan dia, ada dunia dia, dia sudah dijatuhkan pada dunia yang sepi itu. Dunia yang hanya dia seorang diri yang bisa memasukkinya,” terangnya, persis seperti yang Rainy bicarakan. “Dari dulu dia memang mempunyai dunianya sendiri, Ardan, dia selalu berhasil menciptakan dunia itu,” balas Astri. Dia langsung mengenang saat Rainy tiba-tiba memilih duduk di sudut kelas bersama dengan bukunya. Menuliskan apapun yang ingin ia tulis. “Dan dia duniaku, Tri,” sambung Ardan, Astri bergumam. “Iya, andai saja kamu tahu aku bahkan sudah tidak kuat menahan diri agar tidak berbicara dengannya. Sungguh, seminggu ini rasanya hidupku hampa sekali, Tri,” terangnya. “Tapi aku jijik mendengarnya, Ar!” Ardan menyemburkan tawanya, ia juga menyadari bahwa apa yang dia katakan tadi sungguh menggelikan. “But, siapa ayah dari anaknya?” Astri diam, “Sorry, Ar, untuk hal itu kayaknya bukan aku yang berhak menceritakannya. Tunggu saja Rainy yang menjelaskannya sama kamu, ya?” pintanya. Ardan mengangguk, “Okay, aku paham. Tri, tapi tolong yakin sama aku, if someday her feet can’t touch the ground and if someday her eyes can’t see my face. I’ll still carry here and be there for her anytime of day,” ujar Ardan. Astri tersenyum, “Semoga.” Lalu dia berdiri, karena baginya ia sudah cukup berbicara dengan Ardan. “Tolong, kalau memang kamu jatuh cinta sama dia. Jangan buat dia patah hati, ya?” pintanya. Ardan mengangguk. “Dia sudah terlalu bersahabat dengan patah hati itu.” *** “Together we can go far as long as you are with me … cause I will fall for you … no matter they say … I still love you … I still love you ….” “Kamu enggak perlu berjanji untuk selalu jatuh cinta sama saya atau tetap mencintai saya, Bayu,” ujar Rainy, saat kekasihnya sudah menghentikan nyanyiannya. “Aku bukan berjanji, Rain, tetapi aku melakukannya,” balas Bayu. Lalu, mereka sama-sama tersenyum. Seakan dunia ini adalah milik mereka berdua. *** Terima kasih karena sudah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD