Rencana

1268 Words
Update setiap dua hari sekali, betah-betah, ya. *** Senyap dan sepi merambat masuk, membentuk pola-pola rindu yang abstrak. Terbentur dalam tanya yang absurd, untuk jawab yang abstral. Merangkak, meniti dan menyusun kepingan teka-teki yang tak kunjung bertemu dengan ujungnya. Menarik kesimpulan dari serpihan kaca yang sudah retak seribu. Menarik makna dari benang kusut yang sudah tak bisa diluruskan. Ribet. Dalam hati ingin bertanya lebih banyak, tapi perut sudah kian meraung kelaparan. Semua hal sudah dicari, ditelusuri dan dimaknai. Namun, ujung-ujungnya yang ditemui adalah jalan buntu yang tak tentu ke mana lagi baiknya melanjutkan perjalanan. Hari ini perpisahan, tetapi tidak ada yang berpisah. Periode pertama yang dilalui Rainy dan teman-teman sekursusnya sudah berakhir dua hari lalu, saat tepat dua minggu. Maka hari ini adalah perpisahan yang mereka rencanakan. Libur panjang sudah tiba. Libur lima hari dalam lingkungan Kampung Inggris sudah bisa dikategorikan sebagai libur panjang.   “Bagaimana dengan Jombang?” “Tidak buruk, aku sudah pernah ke sana. Namun, jika ada penawaran yang lebih seru aku mungkin akan lebih memilih itu.” “Bojonegoro?” “Yang kau maksudkan adalah kotaku?” Semua mengangguk. “Kalau kotaku masuk ke dalam pilihan terakhir, aku menyutujuinya. Namun, kalau menjadi yang pertama, sepertinya tidak dulu.” “Lalu kita ke mana?” “Terserah.” “Argh!” Itu adalah raungan frustasi yang disuarakan oleh tiga laki-laki yang ada di kelas mereka. Jawaban terserah dari perempuan adalah momok yang sudah ada dan turun temurun sepertinya. “Kalau kalian menolak semua kota, lalu ditanyakan keputusan kalian dan kalian menjawab terserah. Bisa-bisa Arga gue tembak mati, deh!” seru Wahyu frustasi. “Lah kenapa gue?” sahut Arga heran. “Lagian apa, sih, masalah untuk kalian para cewek-cewek? Kenapa dah hobinya jawab terserah? Kayak enggak ada jawaban lainnya,” sambungnya. “Apa sih salahnya kalian itu menyuarakan pendapat, rekomendasi dan lain sebagainya?” sambar Trias. Dia adalah mahasiswa Ilmu Politik di salah satu kampus ternama di Indonesia, tetapi tetap saja ia terpaksa klenger jika sudah menerima jawaban terserah dari perempuan. “Mengatakan terserah itu juga pendapat, Yas,” sahut Rainy tiba-tiba. Sebenarnya dia bukanlah perempuan yang termasuk ke dalam perempuan yang menggaungkan kata terserah tadi, tetapi menurutnya kata terserah itu merupakan sebuah pendapat. Ardan hanya memandangi muka polos Rainy yang tiba-tiba mendapatkan hujaman tatapan dari para laki-laki di kelas mereka. Juga mendapatkan binar persetujuan dari para perempuan, bagi para perempuan suara Rainy adalah suara hati mereka. “Lagi pula ketika perempuan menjawab terserah itu artinya mereka belum nyaman dengan tawaran yang kalian berikan. Kalian harus berusaha membuat perempuan nyaman dan mengatakan iya atau mengangguk setuju,” ujar Rainy lagi. Arga menarik kasar rambutnya, ia hampir saja membenturkan kepalanya ke dinding ruangan. Wahyu hanya terperangah, heran kenapa gadis sediam Rainy tiba-tiba mengucapkan kalimat panjang. Apakah ini salah satu pembelaannya sebagai kaum perempuan? Sementara Trias rasanya ingin mencakar Ardan yang tiba-tiba menyemburkan tawanya karena ucapan Rainy. Padahal dalam kalimat gadis itu tidak mengandung unsur lucu. Dan dengan gilanya Ardan malah tertawa, kencang pula. “Eh, anak bungsu! Lo mau diam atau gue santet?” seru Trias sebal. “Oke, Rain, lo benar. Nih, gue mau menawarkan tempat lagi nih ke kalian, ya.” Ia menarik napasnya, mencoba untuk menambah rasa sabar. “Bagaimana kalau Surabaya?” “Panas.” “Bising.” “Sumpek.” “Okay, kita ganti! Kalau Surabaya panas, bagaimana dengan Malang?” “Dingin.” “Nanti hipotermia.” Arga sudah mengembuskan napasnya kencang seperti sapi yang kelelahan. “Ntar dulu, gue istighfar dulu. Astaghfirullah, Yaa Allah, ampuni dosa Arga,” ujarnya. “Gresik?” “Kejauhan.” “Iya, lama di jalan nantinya.” “Allahu Akbar!” pekik Wahyu, ia sudah sangat-sangat frustasi saat ini. “Yaa Allah, betina cuma ada sembilan di kelas ini, kenapa semuanya malah terlalu ribet!” ia meraung. Ingin menangis. Dehaman keluar dari mulut Ardan, ia mencoba menenangkan ketiga temannya sebelum akhirnya mereka dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Ia menatap sembilan gadis itu satu persatu dan tatapan untuk Rainy adalah tatapan yang paling lama, sekalian modus. “Okay, Girls, you are so beautiful right now!” serunya, utamanya menatap ke arah Rainy. “Menurutku kita bisa membuat keadaan ini jauh lebih sederhana dengan sependapat pada penawaran terakhir ini, right?” ujarnya. Entah magis apa yang dikeluarkan oleh Ardan, semua perempuan, kecuali Astri dan Rainy, mengangguk begitu saja. “Eh, lah kayak lagi dihipnotis dah mereka!” seru Arga keheranan, ia menerima anggukan persetujuan dari Wahyu dan Trias. “Bagimana kalau Blitar?” tawar Ardan takut-takut. Rainy tersenyum, bukan karena ia menyetujui Ardan, melainkan karena dia cukup tertarik dengan cara laki-laki itu membuat teman-temannya diam. Dirinya memperhatikan lagi Ardan dengan baik, matanya yang dalam mengelurkan aura yang berbeda, juga senyum tipisnya, termasuk pula alis tebalnya. Saat ini, laki-laki itu tampak lebih dewasa dari umurnya. Satu menit, belum ada respon yang keluar sama sekali. Tidak seperti penawaran yang dilakukan oleh Arga, Wahyu dan Trias. Kali ini tampaknya para perempuan di kelas mereka tengah berpikir. Suasana tiba-tiba hening seperti akan mendapatkan hasil raport sewaktu sekolah. “Setuju!” Suara Lyla memecah suasana. “Sama!” sahut Tuti. Dea mengangguk, “Dea accepted!” Disusul Kinan, “Tawaran yang bagus!” “Keputusan yang menggembirakan!” Itu seruan Ruri. “Aku jadi tidak sabar,” sambung Pita. “It’s okay,” ujar Mira pelan, tidak berselera. Ia masih kesal karena setelah kejadian dia mendorong Rainy ke kolam renang, Ardan benar-benar berhenti berbicara dengannya. “Ealah, sama Ardan aja langsung manut ini para betina!” seru Wahyu. Sebagai laki-laki yang dituakan di kelasnya, egonya merasa tersentil saat ternyata yang jauh lebih muda darinya bisa mengambil atensi dari kelas mereka. “Rain bagaimana?” tanya Arga, dia ingat bahwa Rainy belum menjawab. “Saya ikut ke manapun yang disetujui oleh kelas.” “Lo, Tri?” tanya Trias. Astri hanya mengangguk sebagai jawaban.  “Alhamdulillah!” seru Arga, Wahyu dan Trias bersamaan. Akhirnya ketegangan ini berakhir juga. “Kita naik kereta?” tanya Rainy setelah euforia kebahagiaan tiga laki-laki di kelas mereka berakhir. “Menurut gue kereta memang paling efektif untuk membawa kita ke Blitar karena kalau naik travel kita bakal butuh dua mobil dan esensi petualangannya enggak bakal dapet,” jawab Wahyu. Ia tetap mencoba agar wibawanya ada. Semuanya dengan kompak mengangguk, syukurlah tidak perlu ada perdebatan sengit lagi. “Perginya kapan?” Setelah bungkam dan asyik menonton drama yang diperankan kelas mereka tadi, akhirnya Astri terdengar juga suaranya. “Besok?” tanya Trias. “Kalau kita perginya besok, artinya siang ini gue sama yang lain udah bisa mesan tiket kita bertiga belas, supaya besok enggak gelabakan,” sambungnya. Semuanya mengangguk setuju lagi. “Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya tidak ada perdebatan lagi,” kelakar Trias. Lalu ia membuat gerakan menengadahkan kedua telapak tangan ke atas, lalu menangkupnya ke wajah. PLAK! Kepala Trias mendapatkan keplakan hebat dari Arga, “Somplak lo anak FISIP!” serunya. Lalu, mereka tertawa karena masing-masing sadar akan kegilaannya. *** “Rain, makan siang di mana?” tanya Ardan saat mereka sudah keluar kelas. Masing-masing sudah memiliki rencana mereka sendiri di siang ini. Ada yang langsung pergi ke Al-Amin untuk membeli beranekan jajan yang bisa di makan di dalam kereta. Ada segerombolan yang lebih memilih untuk menyantap makan siang terlebih dahulu karena perut mereka sudah meraung kelaparan. Ada pula yang pulang ke asrama, dengan semangat merapikan baju-baju yang akan mereka bawa. Rainy mengedikkan bahunya untuk merespon pertanyaan Ardan, “Enggak tahu, belum ada ide,” jawabnya. Lalu, ia menoleh ke samping untuk melihat Astri. “Ke mana, Tri?” “Ayam geprek lima ribu, yuk!” sahut Astri. Ardan mengangguk setuju, begitu pula dengan Rainy. Mendapatkan respon seperti itu, Astri langsung memacu sepedanya untuk sampai ke tempat tujuan. “Rain,” panggil Ardan. “Ya?” “Kadang-kadang ada kejadian yang menimpa seseorang dan mereka tidak siap menghadapinya,” ujar Ardan. Rainy mengernyit bingung. “Itu kalimat di dalam novel kedua The Hunger Games: Catchung Fire. Aku tiba-tiba saja ingin bilang itu ke kamu,” terang Ardan. Lalu, laki-laki itu turut memacu sepedanya dan menyusul Astri. “Lalu, hubungannya dengan saya apa?” tanya Rainy bermonolog, tidak ada yang mendengarnya. Suara itu hanya ditelan angin, lalu dilepaskan lagi sebagai udara. *** Terima kasih karena sudah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD