Rinai

1235 Words
Update setiap dua hari sekali. Betah-betah, ya. *** “Bu, perut Uya sakit!” keluh Rainy saat ia merasakan perutnya amat melilit. Ia sudah mandi keringat. “Argh!” “Uya, kenapa, Nak?” tanya Nur panik. “Perut Uya sakit, Bu, rasanya melilit-lilit tidak karuan,” adu Rainy lagi. Ia sudah berteriak berkali-kali. “Kita ke rumah sakit sekarang!” seru Ibu Rainy. Lalu, beliau menghambur keluar mencari Pak Muham. Meminta agar suaminya bisa mengantarkan Rainy ke rumah sakit sekarang juga. “Saya tidak mau, Nur!” bentak Pak Muham. “Kamu urus saja dia sendiri!” Hati Rainy hancur saat mendengar apa yang Ayahnya katakan. Ternyata apa yang sudah dia perbuat sudah benar-benar menghancurkan perasaan laki-lakinya itu. Air matanya mengucur deras, bukan hanya air mata menahan sakitnya kontraksi, tetapi juga air mata dari sakit hati yang ia rasakan selama ini. “Mas!” bentak Nur. “Kamu jangan terlalu egois! Dia itu anak kamu! Yang ada di kandungan dia itu cucu kita, Mas, cucu kamu!” “Terserah!” BRAK! Rainy tersentak saat suara pintu terbanting masuk ke telinganya, ia sudah tidak dapat membedakan antara sakitnya kontraksi dengan sakitnya hatinya sendiri. Ia sudah lupa bahwa ada janin yang harus dikeluarkan dari perutnya, ia menangis sesenggukan. “Ayo, Nak, Ibu bantu,” ujar Nur, ia menahan tangisnya agar tak luruh. Dirinya tahu bahwa anaknya mendengar apa yang suaminya katakan tadi. Ia juga tahu bahwa hati anaknya kini sudah babak belur. Nur hanya mampu memberikan penenangan untuknya. “Bu,” lenguh Rainy. “Uya melahirkan di rumah saja,” pintanya. “Jangan, kehamilan kamu berisiko, harus di rumah sakit.” “Tapi bagaimana ke sana, Bu?” “Ibu sudah memesan taksi online.” “Sabar, Nak, sabar. Sebentar lagi, Nak,” ujar Rainy seraya mengelus-elus perutnya. “Tuhan, maafkan saya, maafkan saya.” Saat ini mereka sudah berada di dalam taksi yang akan membawa mereka ke rumah sakit. Rainy terus-terusan meracau karena sakit di perutnya semakin menjadi-jadi. Apapun ia sebutkan, segala doa ia rapalkan agar rasa sakit ini berkurang. Rainy juga berulang kali menarik dan membuang napasnya, juga mengelus perutnya. Andai Ibu bisa, rasanya Ibu ingin memindahkan rasa sakit itu pada Ibu saja, Nak. Biar Ibu saja yang merasakan semua rasa sakit. Andai saja Ibu bisa, batin Nur. Perasaannya tak menentu ketika melihat sang anak yang ia kasihi menahan sakit yang tak bisa dirupakan bentuknya. Terlebih Rainy tak didampingi suami, juga tak dibersamai dengan ayahnya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, jika anaknya tak sekuat seorang Rainy. Nur meneteskan air matanya. *** Rumah Sakit, saat Marun dan Senja diizinkan untuk melihat dunia Mata Rainy menghitam, ia sudah tidak tahan akan sakit yang ia alami. Tubuhnya sudah amat lemah karena tenaganya sudah banyak yang habis. Ia sudah tak mampu membuka matanya lagi, Rainy hilang kesadarannya. “Sayang? Ibu mohon jangan memejam. Buka mata kamu, Sayang. ayo kita berbicara, mengobrol. Uya! Ibu mohon,” lirih Nur frustasi saat ia melihat mata anaknya yang sudah terpejam. “Suster, ini kenapa jauh sekali ruang bersalinnya? Kamu tidak lihat anak saya sudah amat lemas dan kehabisan banyak tenaga!? Bagaimana, sih, kinerja rumah sakit ini? Mau saya protes, hah!?” tanya Nur kalut. Ia amat kesal karena ia merasa anaknya begitu lama mendapat pertolongan. Sampailah mereka di ruang operasi, karena menurut dokter, Rainy akan sulit jika harus melahirkan secara normal. Terlebih kandungannya masih delapan bulan dan ia sudah banyak kehabisan tenaga. “Ibu bisa tunggu di luar saja, Bu?” ujar Suster saat Nur ingin masuk ke dalam ruang operasi. “Bagaimana kamu menyuruh saya menunggu di luar? Saya ini Ibunya, Sus!?” “Biarkan dokter bekerja dengan diam dan steril, Bu. Jaga suara dan Ibu harus tetap tenang,” saran Suster. “Kamu pikir saya ini kotor, hah!?” “Bu, saya mohon untuk bekerja sama.” Nur bungkam, ia takut. Ia lebih memilih untuk duduk di kursi tunggu, memandang lurus ke depan, melihat rinai hujan di luar sana. Malam ini terlalu gelap untuk hidup yang sudah amat kelam yang dilalui anaknya. Ia takut, Rainy tak bisa bertahan lebih lama lagi. Akhirnya, air matanya tumpah ruah, ia menangis sesenggukkan. *** Hujan kedua, hujan yang tidak akan saya nikmati dengan sebobrok hujan pertama. Sudah satu bulan berada di sini, semuanya tampak begitu terang dan baik-baik saja. Semoga akan selalu begitu, karena saya sudah bosan untuk membuat proposal perdamaian yang selalu ditolak oleh semesta. Semoga proposal perdamaian kali ini dapat membuat semesta membuka hatinya. Kamu butuh dijatuhkan berkali-kali untuk memantaskan dirimu menerima keberuntungan yang bertubi-tubi. Semesta, semoga memang begitu. Semoga tidak ada lagi jatuh yang menyenggol saya, semoga semuanya tetap baik-baik saja. -Rainy Rainy selalu terbangun saat rinai hujan bersentuhan dengan genteng dan melagukan alunan musik yang indah. Menenangkan, rasa tenang itu selalu ia dapatkan saat mendengarkan suara hujan. Ibunya berkata kalau ia lahir saat hujan, makanya diberi nama Rainy. Anak-anaknya juga dilahirkan saat hujan di malam hari. Ia memejamkan matanya, menenangkan diri lagi dan lagi. *** “Astaghfirullah!” “Mas?” tanya Nur kaget mendengarkan ucapan suaminya. “Kenapa malam-malam bangun dan beristighfar seperti itu?” “Saya memimpikan Uya,” aku Pak Muham. Istrinya hanya mengernyit mendengarkan pengakuannya. “Saya barusan memimpikan dia, mimpi yang tidak jelas, tapi apakah Uya baik-baik saja?” “Tadi sore Uya menelpon dan berbicara dengan anak-anaknya, ia terlihat baik-baik saja,” jawab Nur. “Saya menyesal, Nur, saya menyesal sudah memperlakukan Uya seolah dialah manusia paling salah di muka bumi ini,” ujar Pak Muham. Matanya sudah basah dengan air mata. “Saya bukanlah Ayah yang bijak untuk Uya. Saya terlalu tega membiarkan anak semuda Uya tiga tahun lalu untuk menghadapi dunia yang jahat ini seorang diri.” Bu Nur mengelus bahu suaminya, mencoba membuat agar suaminya menjadi lebih tenang. “Semuanya masih bisa kita perbaiki, Mas.” “Apa Uya masih bisa memaafkan saya?” “Mas mendidik anak itu dengan baik, Mas, dan sekarang Uya sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang membanggakan, dia adalah anak yang luar bisa. Dia masih butuh kita untuk tempat dia bersandar. Peluk dia lagi, Mas,” terang Nur. Saat ini, ia dan suaminya sama-sama sudah menjatuhkan air mata. Mereka tidak pernah bisa membayangkan hancurnya perasaan anak mereka selama ini. *** KRING! Bunyi telpon itu membuat Rainy tersadar dari lamunannya. Siapa tersangka yang menelponnya tengah malam begini? Ia meraih telpon genggam tersebut, melihat ke arah layar, ia mengernyit. “Ibu?” Rainy buru-buru menekan ikon hijau di telponnya, “Assalamualaykum, Bu, kenapa menelpon malam-malam?” tanyanya Terdengar helaan napas di seberang sana. “Waalaykumussalam, Nak, Ibu kangen. Tiba-tiba keingat sama kamu, ya, Ibu telpon,” jawab sang Ibu, dilanjutkan dengan kekehan. Samar-samar terdengar suara helaan napas lega di sana. “Uya belum tidur?” Rainy menggeleng, “Belum. Bu, di sini hujan.” “Oalah, ya sudah, Ibu cuma ingin mendengarkan suara kamu. Jangan tidur malam-malam, ya, Nak.” “Iya, Bu.” “Assalamualaykum.” “Waalaykumussalam, Bu.” Rainy meletakkan kembali telpon genggamnya. “Uya juga kangen, Bu, sama Ayah, sama Marun dan Senja, sama Ola dan Ina juga. Rindu pada hangat rumah yang selalu menenangkan.” Semakin malam, hujan juga kian menderas. Mulai menghadirkan kantuk di mata Rainy, ia menguap. Ia merapikan tempat tidurnya, lalu bersiap-siap untuk tidur. Merehatkan badan dan pikirannya dari semua hal yang menimpa. Memberikan jeda untuk hatinya agar tak semakin merasakan luka. KRING! Rainy lagi-lagi mengernyit, siapa lagi yang menelponnya tengah malam begini? Ia meraih lagi telpon yang baru saja ia letakkan dan mengernyit lagi. Nomor tidak dikenal? Dirinya ragu antara mengankat atau tidak. Siapa tahu ini penculik? Atau bahkan penipu? Tapi mana mungkin penipu menelpon malam-malam? Untuk mengakhiri penarannya, ia akhirnya mengangkat telpon itu. “Ha- ….” “Selamat tidur, Rain, semoga yang kamu mimpikan adalah aku!” TUT! “Eh?” Rainy hanya menggeleng, lalu menaruh telponnya ke tempatnya. Bersiap-siap tidur, kali ini semoga tidak ada telpon yang masuk lagi. Dan, iapun tertidur lelap. *** Terima kasih karena sudah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD