Update setiap dua hari sekali, betah-betah, ya.
***
Carambola masih dengan kesejukkannya yang menenangkan. Sepoi angin menerpa wajah, membelai rambut hingga ia terbang tak tentu, mendera bulu mata, menciptakan kantuk seketika. Pohon-pohon jambu mungkin sudah lebih tinggi beberapa mili, seminggu yang lalu. Begitu pula bunga-bunga matahari, mungkin saja beberapa bijinya sudah dipetik dan disulap menjadi kuaci.
Segelas es cincau hijau yang disiram dengan gula aren cair tampak lebih memesona dibandingkan batu-batu di setapak jalan. Di tambah dengan sebongkah es batu, mungkin juga dibumbui sedikit rindu. Dan, tidak ketinggalan beberapa sendok santan kelapa, yang mungkin kelapanya dihasilkan dari doa-doa baik penanamnya, pemanjatnya, pengantarnya, pembukanya dan pemarutnya, serta yang terakhir ialah ibu-ibu yang menyiramnya ke gelas saat ini. Cincau hijau, gula aren, es batu dan santan kelapa menjadi karya yang sangat menarik hasrat saat ini, terutama hasrat dahaga.
Sepiring rujak dengan isian buah-buahan juga tak kalah menggugah selera. Ada komponen utama rujak, di antaranya adalah buah manga dan buah nanas, tidak lupa pula ada bengkoang, semangka, timun, kedondong, dan bahkan mungkin ada yang jahil, menambahkan stroberi di dalamnya. Jangan pernah lupa komponen pelengkap dari rujak buah ialah kuah kacang yang kental, apalagi ditambah gilingan cabe rawit. Mungkin cukup untuk memecahkan lambung di siang yang terik ini.
Rainy menatap ke sekelilingnya, sepi, siang ini Carambola lumayan senyap. Atau memang dirinya yang duduk di saung yang agak jauh dari keramaian? Beberapa orang terlihat sedang memetik jambu, jauh dari pandangannya, tetapi tetap tertangkap oleh mata. Sebenarnya ia juga ingin turut nimbrung memetik jambu, tetapi dirinya terlalu malas untuk beranjak dari saungnya. Lebih nyaman jika duduk dan menikmati sepoi angin.
Rainy memejamkan matanya setelah puas menatap ke sekeliling. Mencoba untuk bermeditasi, menenangkan diri, berdamai dengan semua hal yang pernah terjadi. Lagi-lagi ia meruntut kisah-kisah yang pernah dilaluinya, dari awal. Ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) ia adalah salah satu murid berprestasi dan dikenal guru. Ia aktif dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), bahkan sempat menjadi sekretaris di satu periode. Dirinya juga aktif sebagai anggota Palang Merah Remaja (PMR) yang selalu ditugaskan berjaga-jaga sewaktu upacara bendera.
Meraih prestasi hingga piala-pialanya menjadi satu baris khusus untuknya di lemari piala sekolah. Mengikuti banyak perlombaan, baik akademik maupun nonakademik. Ia sangat menyukai matematika. Pernah menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti olimpiade matematika di tingkat regional, tetapi sayang ia hanya berdiri di posisi ke dua sehingga tidak bisa ikut ke tingkat nasional.
Sewaktu SMA, sewaktu belum mengenal Bayu, ia juga sering mengikuti berbagai lomba, terutama di bidang matematika. Ia mengikuti klub matematika, pernah menjadi ketua dan diidolakan oleh adik-adik tingkatnya. Pernah menjadi Queen of Semester sebanyak dua kali karena begitu banyak yang mengidolakan sosoknya. Lembut sekaligus tegas, pintas dengan tambahan rendah hati, cantik dan mata yang tajam, begitu banyak kelebihan yang diberikan-Nya untuk Rainy.
Namun, ketika kabar ia hamil menjadi sentral di lingkungannya, hingga merambat ke sekolah, semuanya menjadi hancur seketika. Orang-orang membencinya, memandangnya dengan tatapan jijik, mengata-ngatakannya dengan kalimat yang di awali kata percuma. Percuma cantik, tapi hamil di luar nikah. Percuma pintar, tapi mau-maunya di pegang laki-laki. Dan, masih banyak segudang kalimat menyakitkan lainnya. Mengalahkan gudang prestasinya.
“Aku sudah mencari kamu ke mana-mana.” Satu kalimat yang diucapkan melalui suara itu menginterupsi lamunannya. Mengganggu konsentrasinya dalam mengurut cerita hidupnya yang tiba-tiba berbanding terbalik.
“Lalu, kenapa bisa tahu saya ada di sini?”
“Intuisi.”
Kening Rainy berlipat, ia sangat mempercayai intuisi. “Baik, saya percaya.”
“Ngapain kamu di sini sendirian?”
“Ngapain kamu datang dan mengganggu kesendirian saya?”
Rainy masih asyik memejamkan matanya, walaupun suara Ardan menginterupsi lamunannya. Ia tak lagi mendengar suara laki-laki itu, mungkin saja dia sudah tahu diri dan memilih pergi. Rainy mencoba mengembalikan konsentrasinya, tetapi konsentrasi itu mungkin sudah malu untuk datang lagi. Mungkin ia butuh menenggak es cincau hijau dan mengunyah beberapa potong rujak buah.
Ia membuka matanya, menoleh ke samping dan ternyata Ardan masih ada. Duduk di sebelahnya dan memejamkan mata juga sepertinya tadi. Rainy mengernyit, apa yang laki-laki ini lakukan?
“Kenapa kamu masih di sini?”
“Memangnya aku harus pergi?” jawab Ardan. Ia masih memejamkan matanya.
“Dan, kenapa kamu memejamkan matamu?”
“Karena kamu juga memejamkan mata, siapa tahu aku bisa nimbrung ke duniamu yang lain, ‘kan?”
“Tidak ada pintu untuk masuk ke sana.”
“Aku bisa hilang dan tiba-tiba ada di sana.”
“Mana mungkin?”
“Mungkin saja, buktinya aku bisa menemukanmu di sini melalui intuisi.”
“Kenapa jawaban kamu selalu aneh-aneh?”
“Kamu sudah membuka mata, ya?” tanya Ardan.
“Ya, dari tadi.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Kenapa tidak tanya?”
“Keahlianmu itu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, ya?”
“Mungkin juga keahlianmu.”
Ardan membuka matanya dan langsung menoleh ke arah Rainy. Mata mereka bertemu selama lima detik, lalu saling memalingkan muka. Jantung Rainy berdetak sedikit lebih kencang, sementara hati Ardan awut-awutan.
“Duh, mataku perih!” adu Ardan.
Rainy ingin tertawa, “Siapa suruh kamu ikut-ikutan memejamkan mata?”
“Memangnya mata kamu tidak perih, Rain?”
“Memangnya saya mengadu kalau mata saya perih?”
“Ah, enggak tahu! Lagi pula kenapa kamu yang biasanya irit bicara jadi tiba-tiba cerewet, sih?” keluh Ardan, ia kaget dengan kalimat-kalimat Rainy yang tiba-tiba untuk membalas kalimatnya yang tiba-tiba.
“Lingkungan mempengaruhi seseorang, ‘kan?” tanya Rainy.
Ardan mengernyitkan keningnya, lalu ia menopang dagunya dengan tangan, berpikir. “Astri?” Rainy mengangguk, dan mereka sama-sama tertawa. “Terserah, deh, aku mau pesan dulu!” ujarnya. Rainy mengangguk lagi.
Rainy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, bahkan ia sendiripun tidak mengerti kenapa bisa menjelma menjadi dirinya yang lebih cerewet dan dengan begitu lancar menjawab perkataan-perkataan Ardan. Ia akhirnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tak ingin ambil pusing. Karena sesungguhnya hidupnyapun sudah cukup lama berada di katagori memusingkan.
Sepiring rujak buahnya tampak menjadi lebih menggiurkan. Akhirnya ia lebih memilih untuk menikmati rujaknya dibandingkan memikirkan apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Ia sudah capek menjadi orang yang pemikir, ia ingin hidupnya lebih santai.
“Rain, kenapa kamu kepikiran untuk duduk sendirian di Carambola? Padahalkan asramamu lumayan jauh dari sini,” ujar Ardan yang membawa sepiring rujak dan segelas es cincau hijau. Perkataan yang lagi-lagi menginterupsi kegiatan Rainy.
“Kenapa kamu juga kepikiran untuk menyusul saya ke sini?” jawab Rainy.
“Ini pertanyaan yang serius, jadi jawabnya juga harus serius.”
“Okay, karena saya ingin.”
“Oh, boleh tidak kalau salah satu keinginanmu itu adalah menginginkanku?” tanya Ardan.
“UHUK!” Rainy tersedak rujaknya karena kaget dengan pertanyaan aneh yang diluncurkan Ardan. Seharusnya dia sudah mulai terbiasa dengan keanehan laki-laki itu, tetapi tetap saja perkataan Ardan tidak pernah tertebak.
Ardan tertawa terbahak-bahak. “Rain, kamu enggak perlu salah tingkah gitu, deh!” serunya di tengah-tengah tawa.
Rainy mengernyit, “Enggak lucu!” ketusnya.
Ardan lebih memilih untuk duduk dengan tangan kiri memegang es cincau hijau dan tangan kanannya memegang sepiring rujak. Ia menaruh dengan hati-hati makanan yang baru saja ia beli, yang ingin dinikmatinya bersama dengan senyum Rainy. Setelah sukses duduk dan menaruh makanannya, Ardan menenggak es cincau hijaunya. Memang benar-benar menyegarkan.
“Rasa es cincau hijau di sini berbeda dengan es cincau hijau yang ada di Bengkulu,” celetuk Rainy tiba-tiba di antara kunyahan mereka. “Yang ini lebih segar.”
“Karena kamu menikmatinya bersamaku,” jawab Ardan cepat. “Coba kalau bukan bersamaku, seperti kamu menikmatinya di Bengkulu, jadi enggak terlalu enak, ‘kan?” tanyanya, ia sudah mengembangkan senyumnya lagi.
“Tiba-tiba jadi pahit!” seru Rainy dan menjauhkan gelasnya. Lalu, gadis itu berekspresi berpura-pura muntah.
“Muka kamu ternyata punya banyak eskpresi, Rain, selain diam dan irit senyum,” aku Ardan. “Seharusnya tadi aku mengambil gambarmu, supaya jenaka itu bisa aku abadikan.”
Semilir angin mengejutkan Rainy yang termenung saat mendengarkan ucapan Ardan. “Kalau kita berfoto berdua saja bagaimana?” usulnya.
Ardan membesarkan matanya, lalu ia lupa cara bagaimana untuk menyetujui usulan Rainy. Dirinya sukses dibuat bingung oleh gadis di depannya kini. “Ba … ik …,” ujarnya terbata setelah beberapa saat.
Ardan mengambil telpon pintar yang ada di saku celananya, membuka persis di bagian kamera. Lalu, ia mengarahkan telpon genggam itu ke arah mereka berdua. Berhitung, satu, dua, tiga.
CEKLEK!
“Satu saja,” ujar Rainy saat melihat tangan Ardan ingin mengambil gambar lagi.
“Eh, tapi, ADUH!” adu Ardan saat tanpa sengaja tubuhnya hilang keseimbangan, ia hampir jatuh dari saung mereka.
Rainy membelalakkan mata dan menangkap tangan Ardan, tetapi sayang ia tak cukup punya tenaga untuk menahan tubuh laki-laki itu. Akhirnya, mereka sama-sama ambruk. Untungnya tubuh mereka tidak tumpang tindih. Rainy hanya jatuh terduduk, sementara Ardan terlentang.
Ardan menghamburkan tawanya dengan kencang, Rainy hanya mengulum senyum. Adegan seperti ini sangat persis dengan film roman picisan yang biasa dia tonton dulu, sebenarnya menggemaskan, tapi kalau dia sendiri yang mengalami rasanya justru menggelikan.
“Rain!” seru Ardan, Rainy hanya menggumam. “Bagaimana kalau aku sudah benar-benar menaruh hati sama kamu?”
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang,
Rumy.