Al Fazza

1458 Words
Update tiap dua hari sekali. Betah-betah, ya. *** Bintang malam katakana padanya Aku ingin melukis sinarmu di hatinya Embun pagi katakana padanya Biar kudekap erat waktu dingin membelenggunya Tahukah engkau wahai langit? Aku ingin memeluk membelai wajahnya ‘kan kupasang hiasan angkasa yang terindah Hanya untuk dirinya “Semuanya tangan di atas!” Lagu rindu ini kuciptakan Mata Ardan menatap dalam ke mata Rainy saat lagu yang berjudul Lagu Rindu dari Krispatih itu ia nyanyikan dengan petikkan gitar. Mungkin, jika dengan perempuan lain lagu ini dinyanyikan, mereka akan terpesona padanya. Namun, perempuan lain itu bukan Rainy. Dia gadis yang hanya menanggapi sekedarnya tatapan dalam yang diberikan Ardan. Hanya untuk bidadari hatiku tercinta Ardan tersenyum, ia tidak tahu apakah lagu ini mewakilkan perasaannya yang sama sekali tidak ia mengerti untuk Rainy. Namun, saat ia menyanyikannya ia merasakan nyaman, sama seperti saat dia memandang mata gadis itu. Nyaman. Semudah inikah dia merasakan nyaman? Walau hanya nada sederhana Izinkan kuungkap segenap rasa dan kerinduan JENG JENG JENG! Suara Ardan berhenti bersamaan dengan getaran senar gitar yang memelan. Suara laki-laki itu tidak terlalu bagus, juga tidak buruk. Sedang, menengah, membuat kuping tetap baik-baik saja saat mendengarnya. Ia menaruh gitarnya ke sudut saung yang ia gunakan untuk konser di depan Rainy, juga di depan teman kelasnya yang lain. “Yah, Ardan kok udahan? Lagi dong, tapi nyanyinya jangan lihat ke Rain yang sama sekali enggak balas tatapan kamu, kamu lihatnya ke aku aja,” rayu Mira dengan suara yang ia buat mendayu-dayu. Ardan mengernyit, “Aku cuma mau nyanyi satu lagu malam ini dan lagu itu untuk Rainy,” jawabnya cuek. Mira menggerutu dibuatnya. “Rain, bahasa inggrisnya rak buku apa deh?” tanya Dea, tanpa peduli dengan percakapan yang dilakukan oleh Ardan dan Mira. Rainy mengernyit, mencoba mengingat bahasa inggris dari kata yang ditanyakan Dea. “Bookself, ah itu doang lama amat, Rain, jawabnya,” sela Mira. Rainy tersenyum, “Thank, Mira, but I think what you mean is bookshelf not bookself, different pronunciation, right?” ralatnya. Mira kian menggerutu karena. “Bookshelf, Rain?” Rainy mengangguk. “Okay, thanks for your information.” “With my pleasure, De.” Ardan hanya menatap Rainy yang sibuk menjawab pertanyaan teman-temannya. Terkadang gadis itu membuka kamus, menelusurinya untuk memastikan apakah jawaban yang baru saja diberikannya itu benar. Tertawa saat mendengar lidah sahabatnya keseleo sewaktu menyebutkan vocabulary yang agak rumit pronunciationnya dan banyak hal yang gadis itu ekspresi. “Awh!” lenguh Rainy tiba-tiba saat secangkir kopi tanpa sengaja disenggol oleh Mira dan tumpah di atas pahanya. “Oh my God, are you crazy, Mira?” tanya Astri, ia kaget saat mendengar pekikkan Rainy. “I am sorry, aku enggak sengaja,” balas Mira. Ardan buru-buru menarik Rainy yang berada di antara keributan Astri dan Mira. Ia membawa gadis itu ke toilet umum, menyuruhnya membersihkan roknya agar tidak terlalu panas, sementara dia menunggu di luar. Dia juga berlari menemui pemilik dari kedai Al Fazza, meminta tisu dan es batu. “Finish? Pahamu masih panas?” ujar Ardan saat melihat Rainy keluar dari toilet umum dengan roknya yang basah. “Aku bawa es batu, bisa kamu kompres supaya enggak terlalu panas.” “Tapi es batu dingin, Ardan, sekarang sudah malam,” sela Rainy. Ardan menepuk keningnya, lalu tertawa. “Sorry, I’m just worried about you,” ujarnya. “Ya sudah, pakai tisu saja untuk mengelap sisa airnya, ya?” sambungnya, lalu memberikan tisu yang tadi ia minta kepada Rainy. Rainy mengelap basah yang ada di roknya agar sedikit lebih kering, lalu membuang bekasnya ke kotak sampah. “Terima kasih, Ardan,” ujarnya. “With my pleasure,” balas Ardan, ia membungkukkan dirinya dengan dramatis, membuat Rainy tertawa sebentar karena. “Tadi aku lihat di sana ada kolam, kita ke sana, yuk?” ajaknya, tangannya menunjuk ke arah belakang dari bangunan ini. “Berenang?” “No, but kita harus menghindari diri kita dari percekcokan Astri dan Mira. Kepalaku bisa pusing dibuatnya,” jawab Ardan. Lalu ia tertawa. “Yuk!” Semilir angin malam langsung menyapa tengkuknya saat Rainy keluar dari gedung utama kedai ini. Sekarang di depannya adalah kolam renang yang di kelilingi oleh bangku-bangku, beberapa lampu taman juga di taruh di sana, dijadikan sebagai penerangan. Pemandangan di kola mini tampak indah dan menyejukkan mata, utamanya untuk Rainy adalah ketenangan dan kedamaian bisa ia dapatkan di sini. “Bagus sekali ternyata di sini, Rain,” puji Ardan, Rainy mengangguk menyetujui. “Duduk di sana mau?” ajaknya. Rainy lagi-lagi mengangguk. Kolam ini dikelilingi oleh dinding yang terbuat dari bambu dan atap jaring. Di atap tersebut diberikan aksen bintang-bintang yang kalau malam berkemerlapan, cantik sekali. Di dinding bambunya juga ditaruh lampu led berbagai warna, menjadi penampilan yang indah saat malam hari. Kolam ini terlalu indah jika hanya sebagai kolam. “Coba tadi aku bawa gitar, ya?” ujar Ardan, membuyarkan lamunan Rainy. “Jadi aku bisa nyanyi buat kamu di sini tanpa gangguan Mira, tanpa omelan Astri dan tanpa pertanyaan-pertanyaan tentang vocabulary dari teman-teman,” sambungnya, lalu ia tertawa. “Bernyanyi tanpa gitar memangnya tidak bisa?” tanya Rainy. Ardan tersenyum, “Jadi kamu mau mendengarkan aku bernyanyi?” ujarnya sumringah. “No, I mean like bukannya bernyanyi itu enggak wajib pakai gitar, ya? Kenapa kamu menyesal saat tidak membawa gitar ke sini?” Ardan mendengus, “Kalau pakai gitar suaraku jadi mendingan, Rain.” Rainy mengangguk, “Denting piano, kala jemari menari.” Ia bernyanyi, suaranya bagus dan membuat Ardan terpukau. “Nada merambat pelan di kesunyian malam saat datang rintik hujan,” sambung Ardan. “Bersama sebuah bayang, yang pernah terlupakan.” “Bersama sebuah bayang, yang pernah terlupakan.” Lalu, mereka sama-sama tertawa. “Hati kecil berbisik untuk kembali padanya.” “Seribu kata menggoda, seribu sesal di depan dada.” “Seperti menjelma, waktu tertawa, kala memberimu dosa.” “Seperti menjelma, waktu tertawa, kala memberimu cinta.” “Kenapa liriknya kamu ubah?” tanya Rainy saat lirik terakhir dari lagu Iwan Fals yang berjudul Yang Terlupakan itu Ardan ubah dari dosa menjadi cinta. “Karena yang aku beri sama kamu itu cinta, Rain, bukan dosa,” gombal Ardan. Rainy mencibir, lalu mereka lagi-lagi tertawa. “Do you like Iwan Fals?” tanyanya. “Fanatic, I mean aku suka semua lagu-lagu lawas, lagu yang dinyanyikan dari hati.” “Artinya kamu juga suka sama lagu yang aku nyanyikan tadi?” Rainy mengernyit. “Karena lagu rindu itu aku nyanyikan dari hati, Rain,” sambung Ardan. Rainy mengedikkan bahunya. Mereka membicarakan banyak hal, mulai dari pelajaran masing-masing di bangku perkuliahan, suka duka Ardan yang masih menjadi praktikan di praktikum, ceritanya mengenai asisten praktikum yang garangnya mengalahkan dosen pengampu, organisasi kampus dan banyak hal seru lainnya. Rainy terkadang tertawa, terkadang juga dia tiba-tiba merenung atau menatap ke langit-langit yang dihiasi bintang-bintangan. Sementara Ardan, dia tidak pernah bosan memandangi semua ekspresi yang gadis itu tunjukkan. Tawa dan gigi gingsul yang muncul sedikit. Matanya yang sayu dan lembut, juga bercampur dengan ketegasan. Terkadanga, rambut Rainy menjadi berkibar diterpa angin. Menambah pesona gadis itu. Tiba-tiba ada tangan yang menarik Rainy, menggeretnya dan mendorongnya ke kolam. Dingin langsung merambat dan merajai tubuh mungil dan rentan miliknya. Kakinya berusaha menggapai dasar dari kolam renang. Namun sayang, tampaknya kolam renang ini airnya cukup dalam. BYUR! “Rain!” teriak Ardan saat Rainy mulai mengepak-kepakkan tangan di permukaan. Rainy tenggelem. PLAK! Itu tamparan keras dari Astri untuk Mira yang tega-teganya membuat sahabatnya masuk dengan paksa ke kolam renang. Mira yang sedari tadi gelisah karena Rainy dan Ardan tidak kunjung kembali ke saung mereka pergi menyusul. Dia mendapati dua orang itu sedang bersenda gurau dan membahas banyak hal di samping kolam renang. Ia cemburu, pitamnya naik. Maka, dengan sengaja ia menarik tangan Rainy dan mendorongnya ke sungai. “LO SINTING, HAH!?” teriak Astri seperti orang kesetanan. “RAIN BARU SEMBUH DARI SAKITNYA SEMINGGU YANG LALU, DAN LO DENGAN BODOHNYA NYEBURIN DIA KE KOLAM SAAT MALAM KAYAK GINI!” teriaknya lagi. Mira membelalakkan matanya. “TEMEN LO YANG KEGATELAN, NGAPAIN JUGA DIA BERDUAAN SAMA ARDAN MALAM-MALAM DI TEMPAT SENYAP GINI!” balasnya tak kalah kencang suaranya. “Heh! Kalau temen gue gatel, terus lo apa, hah? Biang kegatelan? Tahu diri, Mir! Mereka enggak ngapa-ngapain di sini. Ada lo lihat mereka ngapa-ngapain, hah!?” tanya Astri. Ingin rasanya ia menggampar sekali lagi muka orang yang ada di hadapannya ini. “Tri, tolong aku buat nyambut Rainy, dia kayaknya lemah banget,’ ujar Ardan dari dalam kolam. “Rain,” panggil Astri. Lalu, ia berlari ke tepi kolam, sama sekali tidak memedulikan Mira yang mungkin tanduknya sudah naik atas perkataannya. “Tri …,” lirih Rainy lemah. “Aku di sini,” balas Astri, lalu ia mengangkat tubuh sahabatnya itu dari kolam dengan susah payah. Akhirnya tubuh Rainy berhasil dinaikkan, ia sudah lemas bukan main. Ia menggigil dan mukanya sudah pucat pasi. Ardan buru-buru meraih jaketnya di sandaran kursi yang sempat ia sampirkan tadi dan melingkupi tubuh Rainy dengan jaketnya. Dengan bantuan Astri, Rainy berdiri dan dipapah berjalan meskipun ia sempoyongan. “Gue berhenti ngomong sama lo, Mir,” ujar Ardan penuh penekanan. Saat ini gemuruh marah dan khawatir di hatinya saling bersahut-sahutan. “Perbuatan lo barusan bener-bener enggak bisa dimaafkan, lo enggak ngotak!” serunya. “Tapi, Ardan!” seru Mira yang sudah ditinggalkan oleh Ardan. “Ah, sial!” raungnya di kolam sendirian. *** Terima kasih karena sudah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD