Update tiap selasa dan sabtu. Get enjoyed!
***
Mata bening itu menengadah, menatap langit pagi yang membentang, sebelum matanya kembali lekat pada surat yang ada di genggamannya. Surat yang berhasil membuatnya menitikkan air mata tadi malam. Surat itu yang tiba-tiba menyeret jiwanya ke dalam pusaran ramai yang tak ia kenali, dan bayangan demi bayangan lesap seketika ke dalam benaknya. Sebenarnya, dia tidak pernah menanti saat jantungnya kembali berdegub lebih kencang seperti saat ini. Esensi itu sudah hilang dari ingatannya entah sejak kapan tahu.
“Huh huh huh huh ….”
Pada bagian awal di pagi ini, ia temukan sesuatu yang baru pada dirinya sendiri. Sesuatu yang belum ia kenali, atau mungkin bisa jadi sesuatu yang sudah lama tak dirasakan olehnya. Sungguh, sebenarnya hal yang paling membahagiakan adalah ketika kita dicintai sedemikian rupa. Lalu, apakah saat ini dia sedang dicintai dengan seseorang?
Ia menatap lagi surat yang ada di genggamannya. Surat undangan tanpa tempat dan tanpa jam janjian. Bagaimana? Dia akan datang ke mana? Di mana tempat perjanjian itu digalakkan oleh si empunya surat? Lalu, kenapa hingga hari ini tibapun semesta selalu saja memberikannya pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban?
Rainy tertegun, kemudian menghela napasnya. Dirinya tidak bisa memahami bagaimana kelanjutan eksekusi dari surat beramplop merah muda ini? Atau, apakah lebih baik dia pejamkan mata kembali? Melanjutkan mimpi yang terputus-putus karena tiba-tiba saja dia menjadi lebih sering bangun di tengah malam, merasakan denyut nadinya yang semakin kencang berdetak.
Lagi-lagi Rainy memejamkan matanya, melipat kembali kenangan-kenangan yang sudah tercipta selama ini dan membiarkan dirinya terseret arus kenangan yang dengan terserah mau membawanya ke kenangan yang seperti apa. Ia pernah kehilangan dan berharap Tuhan menguatkan hatinya, dia harus kuat. Dirinya pernah kehilangan seseorang yang begitu berarti, tetapi ia tetap berusaha tegar manakala kepedihan mengancam jiwanya. Lalu, apakah dia akan kehilangan lagi? Kehilangan siapa?
“Rain, kamu terlalu banyak berpikir.” Dengan baik hati ternyata suara Astri menggaung di pendengarannya. “Kamu enggak harus memikirkan apakah kamu menjawab iya atau tidak untuk penawaran Ardan. Kamu cukup turun dan menemuinya.”
“Menemuinya di mana, Tri? Di surat ini tidak ada keterangan tempat dan jam.”
“Artinya kamu sudah berniat bertemu dengannya, ‘kan?”
Rainy mengedikkan bahunya, “Saya enggak tahu, tetapi seingat saya saat pelajaran agama di sekolah pernah mengatakan bahwa kita wajib memenuhi sebuah undangan. Iya, ‘kan?”
“Lalu, apakah kamu berpikir dengan berdiam di sini kamu akan mendapatkan jawaban yang kamu cari?” Astri menjawab seraya mengelus bahu Rainy sebentar.
“Memangnya saya sedang mencari jawaban, ya?” tanya Rainy polos. Gadis puisi itu terkadang dengan tidak sengaja terlalu sering memunculkan pertanyaan-pertanyaan polosnya.
“UHUK!” Astri tersedak s**u yang diminumnya. “Lalu, apakah kamu pikir dengan berdiam di sini, memegang surat yang diberikan Ardan itu artinya bukan mencari jawaban? Kamu pasti punya banyak pertanyaan di benak kamu, Rain, dan kamu tidak mengetahui cara bagaimana memplotkannya menjadi pertanyaan-pertanyaan yang sejenis.”
“Kamu pernah belajar jadi peramal, ya?” tanya Rainy random. Dengkusan napas terdengar dari gadis di sampingnya.
“Kamu terlalu banyak pertanyaan, Rain. Ardan pernah bilang ke aku, kalau kamu itu selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.”
“Karena saya sedang berusaha untuk memplotkan pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pertanyaan yang sama jenisnya.”
“Sekarang keahlian kamu sudah bertambah, suka mengembalikkan apa yang aku ucapkan, ya?” tanya Astri. Ia mendelikkan matanya.
Rainy tertawa, akhir-akhir ini ternyata ia juga sering tertawa. Tertawa yang ringan dan renyah, bukan tertawa sumbang yang menjadi lambang kesakitan. Namun di balik itu semua, dia juga semakin sering menangis untuk alasan yang tidak bisa ia simpulkan.
***
Esok untuk hari setelah ia menelaah surat yang diberikan Ardan. Kali ini Rainy dengan berbaik hati mengikuti arah Astri yang menyuruhnya untuk turun ke bawah dengan segera. Dirinya menatap lekat pantulannya yang ada di kaca asrama, kaca yang terletak di dekat tangga tengah untuk turun ke bawah. Tumben sekali ia memberikan atensinya untuk kaca tersebut?
Pagi itu, ketika ia dengan langkah pelan-pelan berhasil menuruni tangga dan berjalan dengan baik-baik saja hingga ke gerbang asramanya. Matahari sudah tinggi dan jalanan telah ramai. Lalu ia bingung, dia akan melangkahkan kakinya ke arah mana?
“KEJUTAN!”
Rainy membelalakkan matanya saat kakinya menginjak jalan di depan asrama yang dihuninya. Dia kaget dengan kemunculan Ardan yang tiba-tiba. Seharusnya, ia sudah mengantisipasi hal ini akan terjadi. Minimal dia harus menyiapkan pentungan yang setidaknya bisa membuat Ardan pingsan, ‘kan?
“Kenapa kamu bisa muncul di sini?” tanya Rainy sengit. Dia masih memegang dadanya, memeriksa jantung yang sekarang berdetak lebih kencang. Bukan karena pertemuannya dengan Ardan, melainkan akibat dari perbuatan aneh laki-laki itu.
“Memangnya di sini ada palang yang bertuliskan Ardan Firdaus dilarang muncul di sini?” tanya Ardan. Ia tertawa saat melihat muka Rainy yang sebal karena ulahnya. “Aku cuma enggak mau kamu mencari aku, Rain, ‘kan aku enggak kasih tahu kamu di mana kita akan bertemu, ‘kan?” sambungnya.
Rainy tanpa sengaja memeletkan lidahnya, mengejek Ardan. “Saya enggak pernah mencari kamu.”
Melihat ekspresi gadis di depannya yang tiba-tiba menggemaskan, membuat Ardan tertegun sebentar. Rainy sangat manis untuk semua kisah pahit yang ia lalui. Setelah lama berdiam, ia akhirnya sadar dari lamunannya karena tangan Rainy melambai-lambai di depannya.
“Kamu masih Ardan dan di sini, ‘kan?” tanya Rainy
“Dengan kamu bilang seperti itu saja aku sudah bisa menarik kesimpulan kalau kamu sudah berhasil aku buat merindukan aku. Yeyay!” pekik Ardan kegirangan.
Rainy hanya memutar bola matanya sebagai respon.
Ardan tersenyum, “Untuk hadiahnya aku akan membawa kamu ke suatu tempat yang lucu, mau?” tawarnya.
“Kebun binatang?”
“Bukan.”
“Katanya lucu?”
“Aku bilang lucu karena aku akan membawa gadis manis untuk bermain di sana. Mau, ‘kan?”
“Enggak.”
“Pembohongan publik! Kalau kamu enggak mau, kamu enggak mungkin keluar untuk menemui aku!”
“Memangnya saya bilang kalau saya mau menemui kamu?”
“Mata kamu yang bilang, Rain.”
Rainy bungkam.
“Oh, iya! For your information, aku sudah menunggu kamu sejak subuh.”
“Karena?”
“Pengin aja.”
“Harus percaya atau enggak?”
“Enggak” Ardan menggeleng. “Karena aku enggak mau kamu yang mencari atau menunggu aku, Rain!”
“Ha ha ha.”
“Ya sudah, naik!”
“Katanya pakai sepeda?” protes Rainy. Ia ingat pada bagian surat tersebut, keterangannya mereka akan pergi menggunakan sepeda.
“Kalau pakai sepeda sungguhan, betisku bisa potel. Pakai sepeda motor saja, ya? Enggak apa-apa, ‘kan?” Ardan tersenyum. “Sama-sama ada sepedanya juga, ‘kan?”
“Enggak sesuai ekspektasi, tapi ini bisa dimaafkan.”
“Artinya kamu sudah memikirkan akan pergi denganku, Rain?”
Rainy diam, ia sadar bahwa ia sudah salah berbicara. Kakinya langsung melangkah ke arah motor Ardan dan naik sebagai boncengan. Lalu, menepuk bahu laki-laki itu tiga kali, seperti kepada tukang ojek. Ardan sampai tertawa terbahak-bahak dibuatnya.
***
Di bawah siraman cahaya matahari yang panasnya sedikit terhalangi dengan rimbunnya daun-daun pohon, seorang gadis mengusap wajah, menyeka air mata yang seketika menggenang di pelupuk mata. Ia teringat akan semua hal yang terjadi di dalam hidupnya, tatapan teman-temannya yang semula adalah tatapan kagum berubah menjadi tatapan benci, seolah serempak menghujamkan hujatan. Padahal, ia sendiri tidak tahu darimana kekalahan itu bermula. Semuanya menjadi salah di mata mereka dengan serta-merta. Namun, semua itu belumlah cukup, semesta memaksa nasibnya menjadi lebih memperhatinkan dan memaksanya untuk menerima kenyataan yang tak terbayangkan.
Di langit, pementasannya begitu indah dan cemerlang. Perempuan itu sudah menempuh perjalanan panjang yang penuh dengan lika-liku cahaya, dididik dengan kejutan-kejutan yang tak terduga dan tumbuh diiringi dengan banyak warna cahaya. Maka, ia tak ingin tenggelam lebih lama, mesti berjuang lebih gigih, seperti apa yang selama ini ada di pikirannya.
“Rain … di sini kamu boleh menangis sepuasmu, jika kamu ingin aku bersembunyi pun aku akan melakukannya,” ujar Ardan. “Atau, mungkin menjadi pilihan terbaik untuk kita berdua adalah kamu menangis di pelukanku saja, bagaimana?”
“Kalau pilihan terbaik adalah menangis di pelukanmu, artinya kamu enggak perlu jauh-jauh bawa saya ke air terjun, Ardan,” balas Rainy di tengah-tengah rinai tangisnya, tangis yang berlomba dengan gemericik air terjun.
“Artinya kamu mau menangis di pelukan aku?”
Rainy tidak menjawab, ia sibukkan matanya untuk memandang kucuran air terjun yang berdentum ke bawah. Telinganya dibiarkan untuk terlalu asyik dengan suara air terjun. Pikirannya terlalu sibuk untuk tenggelam dalam semua hal yang harus dan tak harus dia pikirkan. Untuk kali ini, ia berhasil tak mengacuhkan Ardan.
Sekarang mereka sedang berada di Air Terjun Dolo berkat ide Ardan yang ingin menghibur Rainy. Air Terjun Dolo adalah salah satu tempat wisata air terjun yang terletak di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Air terjun ini berada di bagian timur lereng Gunung Wilis, yang memiliki ketinggian 125 meter dan 1800 meter di atas permukaan laut.
“Rain …,” panggil Ardan setelah diamnya Rainy yang begitu lama. “Aku sudah boleh berbicara belum?”
“Memangnya ada yang melarang kamu berbicara?” tanya Rainy.
“Kamu tiba-tiba diam dan hanya memandang air terjun, aku pikir itu isyarat untuk aku supaya diam.”
“Kamu memiliki kadar kepekaan yang cukup tinggi.”
“Jadi, sekarang aku sudah boleh berbicara, ‘kan?” tanya Ardan lagi.
Rainy mengangguk sebagai jawaban.
“Aku punya penawaran untuk kamu!”
“Barang?”
“Kehidupan.”
“Hmmm …?”
“Kamu akan selalu dihadapkan pada dua sisi mata koin yang berseberangan, bukan artinya tidak layak untuk bersama karena tidak saling menatap, tetapi untuk membuktikan bahwa ketidaksamaan itulah yang membuatnya menjadi lengkap.”
“Penawarannya adalah …?”
“Aku menawarkan untuk kamu boleh saja mencintaiku di setiap lembar buku yang terbaca olehmu. Di lembar terakhir, aku lebih setuju. Sebagai penutup petualanganmu, sebagai pemberhenti rasa penasaranmu. Sebagai tempat yang menerimamu kembali, untuk mencintaiku.”
“Penawarannya berhak menerima penolakan, ‘kan?”
“Dengan menjawab seperti itu artinya kamu tidak menolak, Rain.”
“Mengesankan.”
Ardan tertawa mendengar jawaban Rainy yang menurutnya sangat lucu.
Setelah kembali menjadi diam, Ardan mengeluarkan suaranya. “Aku pernah jatuh cinta,” ujarnya.
“Mustahil kalau ada orang yang tidak pernah jatuh cinta,” balas Rainy.
Ardan menatap air terjun, seperti yang dilakukan Rainy. “Dulu, aku sempat berpikir untuk apa aku mencintai seseorang kalau pada akhirnya seseorang itu dihilangkan dari hidupku?” ujarnya. “Ternyata benar, dia benar-benar dihilangkan dari hidupku, Rain.”
Rainy mengembuskan napasnya pelan, “Dan kamu … patah hati?”
“Sangat, tetapi mungkin patah hatimu kemarin lebih pahit dari patah hatiku.” Ardan menoleh ke samping tepat saat Rainy mengedikkan bahunya. “Aku tersesat sendiri, aku tidak menemukan jalan pulang, terperangkap dalam bayangan dia yang tidak hilang-hilang. Aku selalu berharap dia tiba-tiba datang dan menarik aku untuk terbang.”
“Harapan orang patah hati memang begitu.”
Ardan mengangguk, “Sekarang aku ubah pola pikir itu, aku ingin mencintai seseorang yang tidak boleh dihilangkan dari hidupku. Aku ingin tersesat bersama dia dengan senang, semakin masuk ke dalam. Menemui hutan dan sama-sama memetik dedaunan, merasakan euforianya bersama. Sama-sama melukis dengan kata, menciptakan dunia yang hanya milik kita.”
“Kita?”
“Kamu, Rain, aku berharap bisa tersesat dengan kamu.”
“Saya terlalu tandus untuk kamu ajak tersesat ke hutan yang rimbun, Ardan.”
“Tapi kita bisa menemukan jalan keluar bersama.”
“Dan kamu, bisa saja menerbangkan sayapmu, Ardan.” Rainy menggeleng. “Ke langit ke tujuh bahkan, kenapa harus meminta saya?”
“Kalau sayapnya adalah kamu, aku harus tetap terbang sendirian? Timpang, Rain.”
“Artinya kamu teralu memaksakan, Ardan.”
“Karena aku senang terjebak dan tersesat bersamamu, Rain.”
“Namun, keputusan itu adalah beban untuk saya, Ardan.”
Ardan mengembuskan napasnya, Rainy menolaknya. Bukan, ia tidak menerima penolakan dari gadis itu. Rainy hanya ingin ia terbang jauh tanpa membawanya. Gadis itu tak ingin menjebaknya, gadis itu dengan baik hati merelakannya.
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang,
Rumy.