Fajar

1620 Words
Update setiap Selasa dan Sabtu. Get enjoyed! *** “Percuma cantik, tapi enggak bisa jaga diri dari sentuhan laki-laki!” “Percuma pintar, kalau nyatanya murahan!” “Mana tuh Bapaknya yang selalu membangga-banggakan anaknya? Rusak gini!” “Usir aja dari sini, malu-maluin aja!” “Pak RT, usir dong!” “Nanti enggak kebayang anaknya jadi apa kalau ibunya begini!” “Memalukan!” “Anak enggak tahu diuntung!” “Betulan Rainy hamil sama Bayu? Enggak nyangka, ternyata pasangan favorit kita sebusuk itu.” “Rainy malu-maluin banget, malu-maluin sekolah! Untung dia udah tamat.” “Katanya mereka mau menikah.” “Iya? Tapi kudengar Bayu kabur.” “Naas banget nasib Rainy, makanya jadi perempuan jangan gampangan.” “Jangan terlalu bangga sama diri sendiri juga, akhirnya jatuh ‘kan? Karma itu nyata.” “Enggak nyangka banget, dong, bener-bener enggak ada di pikiran gue kalau mereka bakal begitu.” “Emang terkadang yang polos itu lebih menyakitkan perbuatannya.” *** Tubuhnya bereaksi sebelum pikirannya sempurna bekerja. Ia membelalakkan mata, pening langsung menimpa kepala. Mimpi buruk itu datang lagi dengan senang hati menghampiri malamnya. Kenapa saat semua dirasa sudah baik-baik saja, bayangan masa lalu justru mampir kembali dengan serta merta? Apa Semesta memang begitu baik, hingga berkali-kali memberikannya kesempatan untuk menyerah pada hidupnya? Tiba-tiba ia berlari keluar kamarnya, yang ternyata di luar sana masih gelap gulita dan dingin masih meraja. Dia melangkahkan kakinya tanpa tahu arah, turun tangga, berlari, keluar dari asrama dan kakinya sudah menyentuh jalanan. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang membuat kakinya tetap berlari, meski hatinya terlampau perih. Ia berlari menuju kegelapan sana, kegelapan yang hanya bisa membuatnya bersahabat bersama jeri yang sudah terjadi. “Huh huh huh ….” Rainy berhenti di ujung jalan, napasnya terengah-engah. Sesak tiba-tiba. Kelembapan dari jalanan menyerang kakinya yang tak beralaskan, merayap menggelayuti hatinya. Dingin menyergap tubuhnya tanpa ampun, embusan angin dengan sengaja menggigit tulangnya. Namun, ia tidak berhenti, Rainy tetap melangkah dan sesekali berlari. Berharap pelariannya kali ini membuatnya pergi dari semua masalah hidupnya. Di mana? Sekarang dia di mana? Dia harus ke mana? Melangkahkan kaki ke arah yang mana? Di mana arah yang benar itu? Rainy terduduk lemah di tengah jalan, tidak peduli seandainya akan ada mobil yang menabraknya dari belakang. Tidak takut bila bisa saja setan memunculkan penampakannya dari depan. Rainy hanya ingin berlari sejauh yang ia bisa, menemukan tempat yang tidak memusingkan masa lalunya, tetapi menerima dan bersedia berproses bersama dengannya. Selanjutnya yang dirinya tahu adalah ia sudah sampai di teras sebuah rumah berwarna merah tua, rumah yang sangat besar dan sepertinya memiliki tingkat atas. Rainy sudah pegal, lelah, capai, untuk pelarian dan juga hidupnya. Ia kedinginan dan kehabisan napas, tetapi berlari tak kunjung menghilangkan bayangan masa lalu yang tiba-tiba terungkit lagi. Dia ingin berteriak sekencang-kencangnya, tetapi tidak mungkin melakukannya dengan taruhan membangunkan banyak orang, ‘kan? Rainy terduduk, bersender pada tiang rumah, menumpuhkan badannya ke sana, jika bisa mungkin ia juga sudah menumpahkan beban hidupnya. Kembali mengulas masa lalu, artinya kembali menarik hatinya untuk kembali merasakan sakit yang kurang ajar. Kembali ke masa yang sudah menjadi mimpi buruk. Yang pernah mengurungnya sebagai tersangka terjahat di muka bumi. Dirinya harus mengakui, titik tersebut memang menjadi titik sakit yang amat parah di hidupnya. Rainy dipaksa untuk kembali bergelut dengan bayangan-bayangan masa lalunya. Di saat seharusnya semuanya masih baik-baik saja, ternyata semesta lebih memilih untuk menariknya kembali. Menarik pada titik cerita-cerita lama itu terulas kembali. Menariknya dengan paksa di atas semua penerimaan dari dirinya untuk kehadiran orang baru, Ardan. Seakan-akan masa lalunya memilih agar dia tidak benar-benar menjatuhkan hati kepada laki-laki itu, dan kemungkinan terbesar memang begitu. Di saat dia berpikir, setelah pengakuannya tempo hari untuk Ardan, semuanya akan baik-baik saja. Semesta akan benar-benar berdamai dengannya, meneken kontrak perdamaian atas proposal yang selama ini Rainy ajukan. Sepertinya semesta memang sedang ingin mengajak dia bercanda, selalu bercanda untuknya. Selalu ada-ada saja cara semesta membuat dia berpikiran untuk menyerah. “Ardan …,” gumamnya, nama laki-laki itu menjadi nama paling favorit saat ini untuk melintas di pikirannya. “Kamu benar-benar salah saat memilih menjerumuskan hidupmu dan mempertaruhkannya untuk saya.” Ia mengembuskan napasnya, “Gadis yang masih betah hidup di masa lalunya.” Rainy memejamkan matanya, gelap lebih baik untuk hidupnya yang kelam saat ini. Terang tidak cocok untuknya, terlalu silau, terlalu dengan baik hati menghadirkan bayangannya. Bayangan hidup buruknya, bayangan masa lalu yang tidak berhenti jadi hantu: menghantuinya. Kesadaran Rainy hilang separuh, membiarkan dirinya tertidur di tempat yang tak dia kenal mungkin suatu kekonyolan, saat bangun dia akan bingung. Namun ia melakukannya, sesekali mencoba untuk tidak mengenali diri sendiri mungkin lebih baik. Atau bisa menjadi ha yang lebih baik adalah dia benar-benar lupa akan siapa dirinya. Maka, hal tersebut akan membuatnya lupa pada masa lalunya, ‘kan? *** “Rain?” Rainy menjengit saat ada tangan yang mengelus pipinya, ia membuka mata dan ternyata masih gelap. Apa tadi dia tidak jadi tertidur? “Kenapa masih gelap?” “Baru jam setengah lima, aku baru pulang dari masjid.” “Kamu hantu, ya?” “Aku Ardan.” “Ardan atau hantu? Hantu saja, saya lebih terbiasa bertemu dengan hantu daripada dengan Ardan.” Rainy meracau seraya mengerjapkan matanya berkali-kali, perih, sepertinya ia baru saja menangis. Ardan tertawa, ia bingung sebenarnya. Tingkah Rainy kali ini tidak pernah ditemuinya. “Bagaimana kalau Ardan yang menghantuimu?” “Kenapa kamu ada di sini?” “Karena asramaku di sini.” “Kamu tidur di masjid?” “Enggak, aku baru pulang dari masjid.” “Kenapa kamu baru menemukan saya? Kenapa tidak sewaktu kamu mau pergi?” “Aku pergi jam setengah empat, belum ada gadis yang bersandar di sini.” “Kenapa saya bisa ada di sini?” “Harus aku yang menjawabnya, Rain? Aku enggak tahu kenapa kamu ada di sini.” “Saya mimpi buruk.” “Kita duduk di kursi saja bagaimana?” tawar Ardan. Rainy mengangguk, “Saya lupa, saat ini saya sedang kedinginan.” Ia merapatkan kedua tangannya di d**a, menggosok-gosok untuk mencari kehangatan. Ardan mengembuskan napasnya, lalu menggapai tangan Rainy dan membawanya duduk di kursi yang ada di beranda asrama tersebut. “Sebentar, aku ambilkan selimut.” Rainy hanya mengangguk lemah. Ardan kembali dengan selimut berwarna merah muda dengan gambar kuda poni. Rainy menyemburkan tawanya. “Apa motivasi kamu punya selimut seperti ini?” tanyanya. Ardan juga ikut tertawa seranya mengulurkan selimut itu ke tangan Rainy. “Punya adikku.” “Saya enggak percaya.” “Harus percaya, karena memang benar!” seru Ardan. “Dia bilang kalau Mas Aarnya enggak boleh kedinginan di Malang maupun di sini, makanya dia merelakan selimut kesayangannya untuk aku bawa.” “Adik yang romantis.” “Masnya juga lebih romantis.” “Oh, ya?” tanya Rainy dengan ekspresi pura-pura tertarik. “Mau mencoba? Dengan bunga atau sepatu kaca?” tanya Ardan. Dari pada menjawab, Rainy lebih memilih tertawa. Hatinya menghangat saat menyadari ternyata langkah kakinya tanpa sengaja membawanya ke tempat Ardan. Walaupun itu berimbaskan untuk otaknya menjadi memikirkan, bagaimana bisa begitu? Tawa dari laki-laki itu belum menjelma candu, tapi sudah bisa ia kait-kaitkan dengan rindu. “Oh iya!” seru Ardan. “Kenapa kamu bisa ada di sini?” “Intuisi.” “Masa? Bukannya sudah rindu, ya?” “Mungkin.” “IH!” seru Ardan, Rainy terlonjak kaget dibuatnya. “JAWABAN KAMU MEMBUAT AKU DEG-DEGAN LOH!” sambungnya, ia memegang jantungnya. “Sebentar lagi kamu akan diteriaki dengan penghuni asrama ini, Ardan.” “Ups!” Ardan menutup mulutnya dengan tangan. “Lagian, karena kamu yang membuat aku kaget.” “Lingkungan mempengaruhi seseorang, ‘kan?” “Hah?” “Siapa yang selalu mengagetkan saya, ya, berhasil mengajarkan saya bagaimana cara untuk membuat orang lain kaget.” Ardan tertawa. “Sudah pintar, ya, anda!” ujarnya. Rainy menyambut tawanya. Tanpa terasa ternyata mereka mengobrolkan banyak hal, menceritakan sesuatu dengan ringannya. Ardan menceritakan lebih mendalam tentang Kasih dan Rainy hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala. Sementara Rainy, lebih banyak menceritakan tentang pengalaman menulisnya pada laki-laki itu, dan Ardan sangat tertarik. Fajar dengan lugasnya menyingsing, menghadirkan matahari dari belahan timur bumi. Membungkam suara mereka berdua dan memilih untuk menyaksikan pementasan matahari pagi ini. Perlahan, jingga itu menarik keluar, memancarkan cahanya ke segala penjuru. Membuat silau sekaligus menambah kekaguman atas kehebatan Sang Pencipta. “Indah sekali, Rain,” puji Ardan. “Untuk kali ini saya setuju sama kamu.” “Lebih indah karena aku menikmatinya bersama kamu.” “Ardan, saya enggak dengar kamu berkata apa.” Ardan tertawa, “Nanti kalau tiba-tiba tidak dengar betulan, mingkem kamu!” balasnya. “Eh, kamu enggak pulang, Rain?” “Kamu mengusir?” “Bukan begitu, kamu pasti bisa membayangkan seperti apa keadaan otak Astri sekarang, ‘kan?” Rainy membesarkan matanya, “Oh, iya!” teriaknya. Dia baru sadar, “Ardan kamu punya kapas?” “Hah? Untuk?” “Menyumbat telinga, pasti Astri akan mengeluarkan suara dengan volume seratus oktaf.” Ardan tertawa terbahak-bahak mendengarkan omongan Rainy yang ini. “Saya pulang dulu, Ardan!” ujar Rainy. Lalu, ia berlari dari beranda tersebut. “Hati-hati!” teriak Ardan. Lalu, ia memungut selimut naasnya yang dibiarkan oleh Rainy jatuh dan terkulai ke lantai. Ardan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya atas perilaku gadis itu, yang tiba-tiba saja menjadi menggemaskan seperti itu. Ia ingin masuk kembali ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap mengikuti kelas pagi ini. “Ardan ….” Ardan mengernyit. Suara Rainy? Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, mana mungkin gadis itu ada di sini, ‘kan? “Ardan ….” Ardan menolehkan kepalanya, benar, ada Rainy di sana. “Kenapa?” “Saya enggak tahu jalan pulang.” Ardan menepuk keningnya. “Astaghfirullah!” *** Terima kasih karena sudah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD