Update setiap Selasa dan Sabtu. Get enjoyed!
***
“Rainy sinting aku hampir pintar mengelilingi asrama buat cari kamu!” sembur Astri saat wajah Rainy muncul di hadapannya. “Pas adzan aku bangun, lah kamu enggak ada di samping aku! Aku pikir kamu ke kamar mandi, tapi enggak ada. Udah nanya sama orang-orang pakai bahasa Indonesia, akhirnya aku kena punishment, dan kamu enggak ditemukan juga!” sambungnya. Sekarang ia tengah memijit kepalanya yang berdenyut.
“Iya, tapi ‘kan ….”
“Shut up! Anak kecil diam!” sergah Astri saat Ardan membuka mulutnya.
Rainy hanya mengulum senyumnya melihat Ardan yang langsung kicep mendengar sergahan Astri yang luar biasa. Padahal ini jelas-jelas salahnya, jadi laki-laki itu kena juga.
Astri mendelik ke arah Rainy, “Eh, sumpah ya, Rain! Kenapa kamu malah jadi senyam-senyum begini, hah? Kakiku pegal loh mencari kamu, sampai ke lobang WC, siapa tahu kamu betulan stress sampai berpikir masuk ke sana, tapi untungnya enggak.” Ia memutar bola matanya. “Karena enggak muat juga, ‘kan!”
Ardan menyemburkan tawanya, kelepasan.
“Eh, Ardan! Kamu ketawa, kena bogem loh, ya, nanti!” ancam Astri. Lagi-lagi Ardan kicep.
Astri mengarahkan matanya ke arah Rainy lagi, “Lagian kamu ke mana, sih? Jam empat subuh udah keluar, nanti kamu ketemu hantu, kuntilanak, digonggong anjing, dicopet, dibegal, diapa-apain, gimana, hah?” lanjutnya mengomel. “Terus, kenapa pula kamu pulang sama Ardan? Kamu ke tempat dia? Memangnya kamu tahu?”
Rainy dan Ardan kompak mengganggu, memberikan efek pening yang bertambah pada Astri. Ia membesarkan matanya. “Heh, KALIAN MELAKUKAN APA!?” teriaknya kaget. Teriakan yang memancing mata-mata orang lain mengarah kepada mereka.
“Astri, sekarang kita ada di luar loh! Orang-orang nanti heboh,” ingat Rainy.
“Iya, tapi ‘kan harusnya kamu enggak berdua sama dia sephmmmppp ….”
Rainy memilih untuk membungkam mulut Astri, sebelum gadis itu mengeluarkan kata-katanya. Kata-kata yang berpotensi menciptakan kegaduhan.
“Ardan pulang,” ujar Rainy.
Ardan mengedipkan matanya, “Okay, sweet heart, besok lagi, ya!” balasnya.
Dan, hasil dari balasannya tersebut adalah mata Astri yang semakin membesar karena kaget. Tangan gadis itu sudah mengepal ingin meninju Ardan saat ini juga. Sementara itu, Rainy masih membungkamnya sampai Ardan tak lagi terlihat di retinanya. Membawa masuk Astri yang tubuhnya sudah menegang.
“Rain, lepas!” bentak Astri saat mereka sudah ada di kamar. “What are you doing with him?” tanyanya menggunakan bahasa wajib mereka di asrama, takut terkena punishment lagi.
Rainy hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.
“Are you stupid, please! Tell me now, or I will ….”
“What? What are will you doing? Loving me?” ujar Rainy membungkam Astri.
Astri membesarkan matanya lagi dan lagi, “You’re so different, what did he do to you?”
“Nothing!”
“Rain!”
“Ya? Why are you so kepo, Tri?” goda Rainy. Ternyata menggoda Astri adalah hal yang mengasyikkan. “Saya enggak melakukan apa-apa sama dia,” sambungnya sedikit berbisik, takut mereka benar-benar akan kena punishment.
“You are lying!” bentak Astri. “There’s no way you don’t do anything with him. Tell me!” semburnya.
“It’s about intuition, Tri. I had a bad dream last night, and kaki saya justru membawa saya berlari, turun tangga, keluar asrama dan berlari sampai saya menemukan rumah warna merah tua. I’m also confused, why did I get there?” Rainy mengembuskan napasnya.
“But you don’t do anything with him, ‘kan?” tanyanya.
“Just talking about his life and my life also. Nothing bad, we are only see the sun rise. And I think, that’s the best part,” jawab Rainy, lalu ia tertawa melihat respon Astri yang ingin meninjunya.
“You are comfortable with him.”
“I don’t know,” ujar Rainy seraya mengedikkan bahunya. “I wanna take a bath first.”
“Don’t make us late, Rain!” teriak Astri. Rainy hanya bergumam dari balik kamar mandi. “Strange human,” sambungnya seraya geleng-geleng kepala.
***
CTAR!
“Happy birthday, Astri!”
“Selamat dua puluh satu tahun, Astri!”
“Selamat ulang tahun, Nenek Lampir!”
Astri mendelik, dia tahu siapa pemilik ucapan terakhir itu. Trias hanya cengengesan saat melihat mata tajam Astri menusuk ke relung jantungnya.
“Selamat ulang tahun, Nenek Lampir,” ujar Trias lagi. Dirinya yang memegang kue tart yang ia beli sendiri, dia sudah mengkoordinasikan dengan teman-temannya untuk acara ulang tahun Astri. Dan dia beruntung ternyata Ms. Leya tidak bisa masuk ke kelas pagi ini. “Maaf untuk segala kesan buruk yang selama ini gue ciptain buat lo,” ujarnya tulus.
“Apaan, sih!” sahut Astri. Baginya, sikap Trias ini begitu aneh.
“Eh udah deh, lo enggak usah ngomel dulu, Tri. Ini entar lagi mati dah ni lilin lo anggurin,” ucap Trias lagi.
Rainy hanya menahan senyumnya melihat dua orang ini. Astri yang selalu marah-marah atas apa yang dilakukan Trias, dan laki-laki itu juga akan ngegas cepat saat berbicara dengan sahabatnya. Kalau menjadi pasangan, mungkin hidup mereka akan dihiasi dengan pertengkaran yang seru.
“Eh, Pinter! Doa dulu,” ujar Trias. Ia gemas, Astri dengan buru-buru meniup lilin yang ada di kue yang ia bawa. “Ah, elu! Kagak pernah ulang tahun apa gimana, sih? Make a wish dulu, kek, apa kek. Asal tiup jigong aja, ah!” omelnya.
“Kok kamu ngomel-ngomel, sih!?” sungut Astri. “Kalau enggak ikhlas, ya, mending enggak usah. Aku juga enggak minta!” semburnya.
“Eh, lo enggak tahu terima kasih banget deh, Tri!” ujar Trias sengit.
Astri menggembungkan pipinya. “Emangnya aku minta? Enggak, ‘kan?”
“Eh, tolong dong siapa kek pegang ini kue sebelum gue lempar ke muka betina di depan ini,” ujar Trias, ia memberikan kuenya kepada Arga. “Jangan lo makan, Arga, tarok di meja!” serunya saat melihat tangan Arga dengan leluasa mencuil kuenya.
“Apa!?” tanya Astri saat Trias membesarkan bola mata untuknya.
“Eh, gue udah berusaha biar bisa baikan sama lo, ya! Kok lo enggak kooperatif banget, sih!? Coba kayak biar keren lo kaget gitu-gitu, bilang makasih, meluk gue, apa kek! Ini malah nyolot!”
“Najis!” Astri memutar bola matanya.
“Kayak nama pelawak.”
“Itu Aziz Gagap, Somplak!” teriak Wahyu. “Eh, lagian kenapa kalian jadi berantem, sih?” sungutnya. Sekarang Wahyu ada di dekat speaker, sesuai dengan intruksi Ardan bahwa dia harus menekan tombol merah saat Trias mengatakan: sekarang.
“Tri, bener deh sekarang gue mohon lo diem dan dengerin baik-baik omongan gue.” Trias memelas, dia sudah menangkupkan dua tangannya di depan d**a.
“Enggak! Telinga aku pengang kalau dengar suara kamu.”
“Ealah, please deh! Sekali ini aja kooperatif, Tri.”
“Ya udah, iya, apaan?”
Trias menarik napasnya dalam, sementara gadis yang memakai kemeja putih di depannya ini justru menyilangkan kedua tangannya di d**a. “Gue …,” ujarnya, ia menatap ke arah Astri dengan seksama. Ingin menelaah ke arah matanya, tetapi Trias justru tidak berani. Dia malah menjadi diam.
“Lah kenapa jadi patung?” ujar Astri.
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang,
Rumy.