Update setiap Selasa dan Sabtu. Get enjoyed!
***
Trias menarik napasnya dalam, sementara gadis yang memakai kemeja putih di depannya ini justru menyilangkan kedua tangannya di d**a. “Gue …,” ujarnya, ia menatap ke arah Astri dengan seksama. Ingin menelaah ke arah matanya, tetapi Trias justru tidak berani. Dia malah menjadi diam.
“Lah kenapa jadi patung?” ujar Astri. Ia menatap ke dalam mata Trias, meski tatapan laki-laki itu terlihat kosong. Cukup aneh baginya makhluk seabsurd Trias menjadi orang yang ada di hadapannya seperti saat ini.
Trias mengerjapkan matanya berkali-kali, kenapa dia jadi cengo begini? “Gue mau minta maaf atas semua kejadian dan kejahilan yang selama ini gue lakuin ke lo, Tri.”
“Enggak!”
“Bused, gue belum selesai ngomong, Pinter!”
“Oh, belum?”
Trias mengangguk, “Gue mungkin salah karena terlalu kurang ajar ngejahilin lo berkali-kali. Sampai buat lo kayaknya empet banget sama gue, pengin nyakar muka gue juga mungkin.”
“Emang.” Astri melipat kedua tangannya di d**a. “Akhirnya lo nyadar juga!”
“Iya, Tri, dengerin gue dulu!” ujar Trias, sekarang ia sudah gemas bukan main. “Gue sayang sama lo.”
Satu …
Dua …
Tiga …
Hening. Mereka semua diam. Sebenarnya mereka semua sudah mengkoordinasikan ini sebelum hari Astri ulang tahun. Trias memang sudah menaruh hati pada gadis itu sejak pertama mereka bertemu dan berkelahi. Maka dari itu, hari ini ia berniat untuk menyatakan perasaannya. Tepat di hari ulang tahun Astri.
Semua susunan acara sudah diatur sedemikian rupa oleh Trias. Ia sudah meminta dukungan moril dari ketiga laki-laki lain yang ada di kelas mereka. Juga sudah berkali-kali mencuri waktu untuk menghubungi Rainy, menanyakan semua hal tentang Astri. Namun, hari ini ternyata semua tak sesuai dengan ekspektasinya. Perempuan yang berhasil membuatnya jatuh hati ini terlalu susah diajak berkompromi.
“Oh.”
Trias membesarkan matanya untuk merespon jawaban Astri. “Oh?” tanyanya linglung. “Tri, lo cuma bilang oh?”
“Itu pemberitahuan, ‘kan? Ya, terus aku harus jawab apalagi?”
Rainy mengulum senyumnya, sahabatnya ini selalu menasihatinya tentang cinta. Namun, akan menjadi kicep jika benar-benar di hadapkan dengan permasalahan cinta.
“Sekarang, guys, please !” ujar Trias, sebelum dia benar-benar frustasi.
Alunan instrumen lagu Beautiful in White yang dinyanyikan oleh Westlife berhasil diputar dengan baik oleh Wahyu. Akhirnya, atas segala rencana Trias, rencana untuk memutarkan lagu yang paling dia suka berhasil. Satu-satunya harapannya sekarang adalah bisa menyelesaikan agenda menyebalkan ini sesegera mungkin.
“Gue mungkin enggak bisa seromantis Ardan, Tri, tapi gue bisa pastiin kalau suara gue jauh lebih mendingan dari dia.”
“Eh, di script enggak kayak gitu, ya!” seru Ardan karena merasa ternistakan oleh perkataan Trias barusan.
Rainy hanya tersenyum ke arahnya.
Ardan menoleh saat melihat Rainy tersenyum, “Untung Rain senyum, kalau enggak udah gue pites lu!” sambungnya, lalu menatap dalam ke arah mata gadis itu. Sementara Mira, ia terbakar api cemburu yang luar biasa.
“Not sure if you know this … But when we first met … I got so nervous I couldn’t speak … In that very moment … I found the one and my life had found its missing piece ….”
Astri menutup mulutnya. Lagu yang sekarang dinyanyikan oleh Trias adalah lagu yang paling disukainya. Lagu sederhana yang berhasil membuatnya jatuh cinta hanya dengan mendengar dua bait pertama. Dan, dengan tidak sengaja Trias menyanyikan lagu itu saat ini untungnya, tepat di ulang tahunnya.
“So as long as I live I love you … will have and hold you … you look so beautiful in white … and from now ‘till my very last breath … this day I’ll cherish … You look so beautiful in white … today ….”
Mata Astri memanas.
Trias tersenyum saat mengakhiri lagunya, ia tak menyangka respon Astri seperti ini. Gadis itu menitikkan air matanya setelah mungkin sudah menahan sedemikian rupa.
“That’s my favorite song, Trias,” ungkap Astri dengan suara yang serak. “Thank you.”
Trias tak bisa lagi mengatakan apa-apa, kebetulan yang diberikan semesta sungguh tidak terduga. “Me too,” jawabnya. “I wanna ask you about something, Tri,” sambungnya.
“Ya?”
“Will you be the person I planned to accompany my future? Being the person I tell ‘bout my complaints. Menjadi orang yang selalu mendengarkan pendapat gue, berdiskusi, bahkan bertengkar. Sampai kita sadari, bahwa pertengkaran itulah yang membuat kita saling jatuh cinta.”
Trias menarik napasnya panjang. Matanya bergriliya ke sekeliling ruangan, menatap satu persatu teman-temannya yang sekarang juga sedang melihat ke arahnya. “Menjawab pertanyaan gue, mendebat gue, menggencarkan pertanyaan untuk gue. Sampai akhirnya kita ngaku, pertanyaan-pertanyaan itu adalah cara kita supaya kita tetap berbicara. Mengobrol hingga akhirnya kita sama-sama bingung, kita akan bahas apalagi?” ujarnya panjang. “Sebab dengan mendengarkan suara kita masing-masing adalah penyembuhan paling ajaib bagi kita berdua.”
Astri hanya menatap ke bibir Trias yang bergerak dengan bergetar, laki-laki di hadapannya ini sedang gugup. “Katanya enggak bisa romantis kayak Ardan?” tanyanya. Kemudian ia melihat ke arah Ardan. “Tapi memangnya Ardan romantis, ya? Dari segi mananya?”
“ASTRI MERUSAK SUASANA AJA, BUSED!” teriak Arga yang gemas bukan main.
“APALAGI LO!” sambar Ardan. Dia sudah geregetan bukan main.
“PADA DIEM!” seru Wahyu. Dia juga sudah muak dengan drama ini.
“Maukah kamu jadi kekasihku, Tri?” ujar Trias, ia sama sekali tidak mempedulikan teriakan dari teman-temannya. Sekarang, ia harus berani mendengar apapun yang dijadikan jawaban oleh Astri.
“Harus dijawab sekarang?”
“BESOK, TRI, ASTAGA!” sembur Arga lagi.
“ENTAR, PAS TAMAT DARI SINI, TRI!”
“BUJUG, PANAS GUA!”
“KENAPA ASTRI JADI LEMOT, SIH!?” tanya Wahyu. Sementara yang lain menahan mulutnya agar tidak menyemburkan tawa.
“Iya, Trias.”
“Iya apa?”
“LAH, NGAPA JADI TRIAS YANG LEMOT!” teriak Arga. “Yaa Allah, Arga lelah melihat drama keuwuan ini,” sambungnya.
“Arga, diam, deh!” seru Dea. “Ganggu!”
“Eh, iya-iya, maaf.”
“Nahkan, kena lu! Kicep-kicep, deh,” sahut Ardan.
Rainy tersenyum lagi.
“Ih, senyum Rain manis banget, sih?”
“Iya, aku mau jadi pacar kamu!”
“WOAH!” teriak Trias mendengar jawaban Astri.
“Akhirnya, Yaa Allah, kita pada enggak perlu lagi diteror sama Trias cuma untuk mendengarkan curhatan dia.” Arga melompat kegirangan demi mendengarkan jawaban Astri. Namun, saat sudah kembali ke bumi, tumpuan kakinya tidak terlalu kuat. Sehingga dia harus jatuh dan memalukan.
“Pfffttttt.”
“Bebas!” Wahyu menoleh ke arah Arga. “Dan, ngakak!” serunya kemudian tertawa kencang.
“Yeah!” Ardan juga menoleh. “Hiperaktif banget!” serunya saat melihat Arga yang meringis.
“SETAN LO PADA!”
Lalu, mereka semua tertawa dan memakan kue yang tadi sempat dianggurkan.
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang,
Rumy.